| Dokumentasi revitalisasi perpustakaan Desa Honggosoco oleh KKN 58 |
Kudus, PARIST.ID - Perpustakaan desa tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku. Di tangan mahasiswa KKN 58 UIN Sunan Kudus, ruang baca di lantai 2 Balai Desa Honggosoco kembali dihidupkan sebagai ruang belajar dan bermain bagi anak-anak.
Melalui kegiatan “Penguatan Literasi: Revitalisasi Perpustakaan Desa Honggosoco”, mahasiswa mengajak anak-anak dari berbagai lembaga pendidikan di Desa Honggosoco untuk kembali mengenal perpustakaan sekaligus membangun kebiasaan membaca, Rabu (26/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti siswa kelas V SD 4 Honggosoco serta dua perwakilan siswa dari SD 2, SD 5, MI 1, dan MI 2 Honggosoco. Kehadiran peserta dari berbagai sekolah menjadikan perpustakaan desa sebagai ruang bersama untuk belajar dan berinteraksi.
Muhammad Maulana Rifky selaku penanggung jawab program mengatakan, revitalisasi dilakukan karena masih banyak siswa yang belum mengenal dan memanfaatkan perpustakaan Desa Honggosoco.
“Revitalisasi perpustakaan dilakukan sebagai bentuk upaya untuk mengoptimalkan kembali fungsi perpustakaan desa. Karena banyak siswa yang belum pernah mengunjungi perpustakaan Desa Honggosoco,” ujarnya.
Sebelum kegiatan bersama anak-anak berlangsung, mahasiswa melakukan penataan ruang dan koleksi buku. Buku-buku disusun berdasarkan topik agar lebih mudah ditemukan dan ruang perpustakaan dibuat lebih nyaman bagi pengunjung.
Kegiatan kemudian dikemas dengan cara yang lebih dekat dengan dunia anak. Para peserta disambut dengan pemasangan gelang dari kertas, kemudian diajak mengikuti pembacaan puisi dan dua dongeng yang disampaikan Muhammad Maulana Rifky dan Novia Layinatus Sifa selaku penanggung jawab program.
Setelah itu, peserta diberi kesempatan memilih buku yang mereka sukai untuk dibaca. Tidak berhenti pada membaca, anak-anak juga diajak menceritakan kembali isi buku yang telah dipilih.
Suasana semakin interaktif ketika peserta diminta menuliskan harapan dan cita-cita mereka pada sticky note. Tulisan tersebut kemudian ditempel pada “Papan Cerita” yang menjadi bagian dari kegiatan literasi.
Menurut Rifky, keberadaan perpustakaan perlu diiringi dengan pemanfaatan yang aktif. Ruang yang nyaman dan koleksi yang tertata diharapkan dapat membuat anak-anak memiliki ketertarikan untuk datang kembali, bukan hanya ketika ada kegiatan tertentu.
“Perpustakaan desa kami rasa memiliki posisi yang sangat penting dalam mendukung kegiatan belajar karena sudah menyediakan berbagai bahan bacaan yang dapat memperluas wawasan siswa dan masyarakat,” lanjutnya.
Kegiatan tersebut juga mendapat apresiasi dari pihak sekolah. Nur, salah seorang guru SD 4 Honggosoco, menilai revitalisasi perpustakaan dapat menjadi langkah untuk mengembalikan fungsi ruang tersebut sebagai tempat belajar bersama.
“Melalui revitalisasi ini, perpustakaan Desa Honggosoco diharapkan tidak hanya menjadi ruangan yang menyimpan koleksi buku. Perpustakaan diharapkan dapat berkembang menjadi ruang belajar yang aktif dan terbuka bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, perpustakaan dapat dimanfaatkan anak-anak untuk membaca, belajar, berdiskusi, sekaligus mengembangkan rasa ingin tahu.
Lebih dari sekadar menata ruangan, kegiatan ini menjadi upaya memperkenalkan kembali perpustakaan desa kepada anak-anak di tengah kebiasaan memperoleh informasi melalui perangkat digital. Perpustakaan diharapkan tetap menjadi salah satu ruang yang mampu mempertemukan anak dengan buku, pengetahuan, dan pengalaman belajar secara langsung.
Namun, revitalisasi tidak berhenti pada pembenahan ruang dan koleksi. Keberlanjutan pemanfaatan perpustakaan juga menjadi bagian penting agar fasilitas tersebut dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Pemerintah desa, sekolah, masyarakat, hingga anak-anak memiliki peran untuk menjaga dan memanfaatkan fasilitas tersebut. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, perpustakaan Desa Honggosoco diharapkan dapat kembali menjadi ruang pengetahuan yang hidup dan terbuka bagi masyarakat.
Bagi mahasiswa KKN 58 UIN Sunan Kudus, kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk menumbuhkan budaya literasi dari ruang sederhana. Sebab, membangun budaya membaca tidak cukup hanya dengan menyediakan buku, tetapi juga menciptakan pengalaman yang membuat anak merasa bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan.
Penulis: Novia Layinatus Sifa
Editor : Aisya Niken Cahya Salim

