Mael/PARAGRAPHFOTO

KUDUS, PARIST.ID – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Stain Musik Studio (SMS) mempunyai caranya sendiri untuk mengekspresikan cinta kepada Negeri. Dalam pentas Apresiasi Forum Apresiasi Sastra Budaya Kudus (FASBuK) Sabtu (23/12/2017) malam, mereka pentas dengan mengusung Budaya Nusantara.  “Senandung Khatulistiwa” dipilih menjadi tema pentas malam itu. Imam Safi’I, Konduktor Paduan Suara menjelaskan bahwa tema tersebut diambil sebagai bentuk kecintaan kru SMS kepada Bumi Pertiwi. 

“Sekaligus mengenalkan bahwa Indonesia itu kaya akan budaya terutama lagu daerahnya,” imbuhnya.

Salah satu yang mereka bawakan adalah lagu daerah Sumatera Barat, Kambanglah Bungo yang diaransemen dan disenandungkan paduan suara. Lagu ciptaan Sofyan Naan dipilih karena aransemennya yang sudah siap dan latihannya juga tidak terlalu susah. 

“Terlalu susah jika harus menggubah aransemen lagu daerah, Kambanglah Bungo sudah pernah ada yang mementaskan jadi mudah untuk kita pelajari,” jelas Imam.

Selain lagu dari tanah minang, Paduan Suara Mahasiswa SMS juga menyenandungkan lima lagu lain yakni Assalamu’alaikum, Syukurlah, Gambang Suling, Gundul-gundul pacul dan Kudus Kotaku.  Ali Ihsan, salah satu kru SMS, berharap dengan dipilihnya lagu-lagu tersebut bisa mewakili rasa cintanya pada Negeri. Menurutnya Indonesia itu sangat luas dan kaya dan tidak mungkin jika menampilkan lagu daerah satu per satu. 

“Indonesia bukan tentang kamu beragama apa, tapi Indonesia adalah semuanya,” terang lelaki yang menobatkan dirinya sebagai pelaku seni.

Arfin Akhmad Maulana, Ketua badan pekerja FASBuK menjelaskan bahwa sejatinya pentas ini sudah direncanakan tiga bulan yang lalu. Menurut Arfin, karakter paduan suara SMS mempunyai potensi yang perlu dikembangkan dan diapresiasi. 

“Seni musik paduan suara adalah jenis musik yang apik, unik dan keren,” imbuhnya. 

Salah satu keunikannya adalah dari banyaknya Kru dengan komposisi suara yang berbeda-beda namun bisa diselaraskan menjadi senandung yang nyaman. Paduan Suara SMS juga berhasil mengemas dengan konsep berbeda seperti yang diinginkan Tim FASBuK. (Mail/Faqih)




KUDUS, PARIST.ID, Menjelang akhir tahun 2017 STAIN Music Studio (SMS) akan tampil menghibur kawula muda di Kudus dan sekitarnya di Auditorium UMK pada Sabtu (23/12/17) mendatang. Pentas akhir tahun bertajuk “Senandung Khatulistiwa” itu digelar oleh Badan Kerja Forum Apresiasi Sastra Budaya Kudus (FASBuK).

Melalui rilis yang diterima PARIST.ID, Ketua FASBuk, Arfin A.M menyampaikan pentas SMS ini bakal menampilkan paduan suara, band dan puisi bertemakan kekayaan budaya Indonesia. Setelah itu juga ada sesi diskusi yang membicarakan proses kreatif SMS dalam berkarya.

Sejak 1997 sampai sekarang eksistensi SMS terus dijaga dengan berbagai inovasi karya. Tidak jarang kelompok musik dari STAIN Kudus ini juga diundang untuk pentas di dalam maupun luar kota. Informasi lebih lanjut tentang pentasnya di FASBuk bisa menghubungi +62 857 4199 8480. (rls/FAR)




YOGYAKARTA, PARIST.ID – Penulis zaman now harus cerdas dalam melihat perkembangan teknologi informasi. Menjamurnya media online harus menjadi perhatian khusus agar tulisan kita dibaca banyak orang. Menurut Direktur NU Online, Savic Ali, penulis harus paham trik-trik khusus agar tulisannya mudah terindeks oleh google sehingga bisa tampil teratas dalam laman pencarian.

“Menulis di web harus ada trik-trik yang berbeda dengan media cetak. Kalau zaman dulu, nulis judul harus nyeni. Untuk bebrapa hal masih cocok, tapi untuk zaman sekarang lebih banyak tidak cocok, karena sulit sekali terindeks oleh google,” katanya dalam forum pertemuan penulis keislaman di Hotel Core, Sleman, Yogyakarta belum lama ini.

Lebih lanjut founder situs Islami.co ini menyarankan kepada para penulis untuk membuat judul yang sederhana. Artinya, judul itu sudah mewakili secara gamblang pesan yang ingin kita sampaikan dalam tulisan.

“Judul tulisan yang langsung to the point justru mudah terindeks google. Seperti halnya, menulis tentang sejarah Nahldatul ulama, tidak usah susah-susah buat judul yang ribet, tapi buatlah yang sederhana saja, seperti sejarah Nahdlatul Ulama,” katanya.

Kita, imbuh Savic, sebagai penulis punya tanggung jawab yang besar untuk memberikan informasi yang benar, moderat dan toleran. Terlebih sebab sebagian masyarakat sekarang hanya berlaku sebagai konsumen informasi yang tidak peduli kebenarannya.

“Sebagain besar orang yang menggunakan social media itu sebagai konsumen belaka, yang kerjaannya hanya like, comment, dan share, tanpa dia tahu apa yang dia komentari, apa yang dia share,” tandasnya. (wafa/FAR)

ORASI DALAM AIR. Karya ; mail
Oleh : Faqih Mansur Hidayat*

Suatu pagi smartphone saya berdering berkali-kali. Saking banyaknya pemberitahuan dari salah satu group whatsapp yang saya ikuti, deringnya semakin tak beraturan. Rupanya, beberapa anggota group tersebut sedang diskusi soal teknik public speaking. Mereka beberapa kali saya amati saling beradu argumen dan saling menguatkan dirinya masing-masing.


”Kadang ya, orang yang pintar itu mempunyai kendala dalam komunikasi. Sehinga dia tidak bisa menjadi pentransfer ilmu yang baik. Tetapi, kebanyakan orang tidak mengerti dan malah disangka bahwa pelit ilmu,” ungkap salah satu anggota group yang menjadi pemantik diskusi hangat pada pagi itu.

Cukup panjang diskusi itu berlangsung. Saya hanya mengamati sembari menyantap menu sarapan nasi pecel dengan toping telur dadar dan segelas teh panas. Di tengah-tengah kesendirian saya bersarapan itu, ada salah satu anggota lain di group yang sama nyeletuk soal retorika. Dia terlihat begitu yakin dalam berargumen soal retorika. Meskipun sebenarnya dia sendiri paham atau tidak yang dia sampaikan itu.

Ketika saya menyecap teh panas, tiba-tiba saya teringat dengan mata pelajaran retorika yang diajarkan salah satu guru sewaktu masih di bangku kelas X Madrasah Aliyah. Saat itu, pertama kali saya mengenal retorika.

Sejarah retorika pada masa Yunani lahir sebagai seni yang dipelajari dan ada sejak abad 5 SM. Yaitu ketika Kaum Sophis Yunani mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan pengetahuan tentang politik dengan penekanan terutama pada kemampuan  berpidato. Pada waktu itu, retorika memiliki beberapa fungsi (Sunarjo, 1983:55). Pertama, untuk mencapai kebenaran atau kemenangan bagi suatu pihak. Kedua, untuk meraih kekuasaan. Ketiga, sebagai alat persuasi yang digunakan untuk mempengaruhi orang lain.

Saya masih ingat, saat itu kami diharuskan untuk menghafal tokoh-tokoh retorika pada masa Yunani. Mereka adalaha Georgias (guru retorika pertama), Protagoras, Sokrates, Isokrates, Plato, Aristoteles, Corax, dan Demosthenes. Setiap dari mereka mempunyai ciri khas masing-masing, baik secara metode maupun alirannya.

Dari sekian tokoh tersebut, Demosthenes adalah yang paling saya ingat hingga saat ini. Kisahnya sangat menarik. Demosthenes mengembangkan gaya bicara yang tidak berbunga-bunga, tetapi jelas dan keras. Dengan cerdik, dia menggabungkan narasi dan argumentasi. Dia juga amat memperhatikan cara penyampaian. Menurut Will Durant, Penulis Buku The Story of Civilization, “Ia (Demosthenes) meletakan rahasia pidato pada akting (hypocricis).”

Demosthenes berlatih pidato sendirian di depan cermin. Bahkan, dia membuat gua dan berbulan-bulan tinggal di sana, berlatih dengan diam-diam. Pada masa-masa ini, dia mencukur rambutnya sebelah, supaya dia tidak berani keluar dari persembunyiannya karena akan diejek orang lain. Di mimbar, ia melengkungkan tubuhnya, bergerak berputar, meletakkan tangan di atas dahinya seperti berpikir. Dan seringkali mengeraskan suaranya seperti menjerit. Cara yang ditempuhnya itu ternyata mampu membuatnya menjadi orator ulung, saat itu.

Saya juga teringat dengan orator-orator Indonesia yang tak kalah sangarnya. Ada dua tokoh Indonesia yang sangat saya idolakan. Pertama, Haji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto, pendiri Sarekat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi Sarekat Islam. Selain unggul dalam dunia perdagangan, dia juga unggul dalam beretorika.

Dia mampu melakukan konsolidasi dengan berbagai pihak untuk bergabung dengan Sarekat Islam. Dalam Film Guru Bangsa, sosok H.O.S Tjokroaminoto yang diperankan oleh Reza Rahadian, ketika berpidato hampir seluruh audien terpukau dengan orasi-orasi yang dipersembahkan.

Kedua, yaitu Ir. Soekarno. Founding father’s bangsa Indonesia yang merupakan murid H.O.S Tjokroaminoto itu nampaknya memang dipersiapkan untuk meneruskan pergerakan dan perjuangannya meraih kemerdekaan. ”Indonesia Menggugat” salah satu pidato Bung Karno yang sangat fenomenal. Pidato pembelaan yang dibacakan Bung Karno pada persidangan Landrad, Bandung (1930). Bung Karno bersama tiga rekannya yaitu Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata yang tergabung dalam Perserikatan Nasional Indonesia (PNI).

Saat itu, mereka dituduh hendak menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda. Dari balik jeruji penjara, Bung Karno menyusun dan menulis sendiri naskah pidatonya. Sebuah pidato yang berisi tentang keadaan politik Internasional dan kerusakan masyarakat Indonesia di bawah penjajah. Pidato pembelaan ini lah yang kemudian menjadi satu dokumen politik menentang kolonialisme dan imperialisme.

Saya juga ingat, beberapa hari lalu, saat mengikuti maiyyahan bersama Cak Nun, dan diingatkan supaya mampu berdakwah atau berorasi secara bijak. Sebagaimana dalam Al-Qur’an “‘ud’u ila sabili rabbika bilhikmati walmauidlotil hasanati wa jaadilhummbillati hiya ahsan” (Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah dengan cara yang lebih baik,” An- Nahl; 125).

Untuk menjadi orator ataupun public speaker yang baik, alangkah baiknya teman-teman yang di group tersebut meniru metode beberapa tokoh di atas. Metode Demosthenes nampaknya dapat kita adopsi, yaitu berlatih dan mematangkan kompetensi diri secara mandiri tanpa perlu diketahui orang lain. Memperbanyak ilmu melalui bacaan-bacaan seperti Bung Karno dalam pengasingan juga bisa kita tiru.

Dengan ilmu yang telah kita miliki, dengan sendirinya kita akan mampu menebar kebaikan di mana-mana. Janganlah melampaui batas ketika sedang berada diatas panggung atau podium. Saat ini, rakyat butuh orang-orang yang bisa menebar kebaikan lewat panggung-panggung dakwah. Bukannya malah membusungkan dada lebar-lebar sambil berteriak lantang, Takbir!!! Saja.


Keilmuan yang kita miliki tidak sepatutnya digunakan untuk kepentingan-kepentingan negatif yang terselubung. Berdakwah dengan cara hikmah (bijaksana) bukanlah dakwah yang berisi profokasi-profokasi yang berpotensi memecah belah bangsa. Melainkan, berdakwah dengan tujuan menyejukkan semua golongan. Serta menebar pesan-pesan toleransi dalam bernegara. Wis ah, wis bar sarapanku. hehe[]
*Penulis Adalah Mahasiswa Jurusan Syariah Prodi Ekonomi Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus Semester 5)

KAMPUS, PARIST.ID – Pesta demokrasi mahasiswa STAIN Kudus tahun 2017 telah berakhir pada Selasa, (12/12/17) malam. Tiga belas partai dan dua Calon Presiden Mahasiswa telah “bertarung” memperebutkan kursi di parlemen dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) 2018 mendatang.
BUKTI : Petugas KPPS Pemilwa STAIN Kudus 2017 menunjukkan surat suara kepada saksi delegasi dari dua Capresma. Foto : mael/PARAGRAPHFOTO.
Jumlah pemilih pada tahun ini ialah 1959 suara. Jumlah itu mengalami kenaikan sekitar 1 % dari tahun sebelumnya, yakni 1800-an. Tetapi, ada tiga kertas suara yang terselip ke dalam kotak untuk suara Ketua DEMA. Artinya, suara kotaK DEMA lebih banyak dari kotak suara Partai yakni sebesar 1962 kertas suara. Namun, berdasarkan kesepakatan antara Kelompok Penyelenggara Pungutan Suara (KPPS) dan kedua saksi dari kandidat Ketua DEMA, suara tersebut disahkan.

Hasil data yang diperoleh oleh PARIST.ID, presentase perolehan suara yang didapat dari masing-masing partai adalah sebagai berikut,

Partai Kebangkitan Mahasiswa (PKM) menjadi pemenang dalam penyelenggaraan Pemilu Raya Mahasiswa (Pemilwa) tahun 2017. PKM mendapat 578 suara (29,50%). Dilanjutkan posisi kedua diraih PMM sebesar 435 suara (22,21%) dan ketiga PIC dengan 164 suara (8,37%).


Sedangkan diposisi keempat dan seterusnya yaitu, PMI dengan 137 suara (6,99%), PPCM memeroleh 111 suara (5,67%), PDM 1 dengan 82 suara (4,19%), PRM dengan 78 suara (3,98%), PSP & PNT memiliki jumlah total suara yang sama yakni sebanyak 77 suara (3,93%),  PMP dengan 59 suara (3,01%), PSK dengan 50 suara (2,55%), PDM 2 dengan 32 suara (1,63%) dan terakhir yakni PK3 dengan total 23 suara (1,17%).

Jumlah total suara yang sah untuk partai sebesar 97,14% dari total pemilih yakni dengan 1903 suara. Sedangkan suara yang tidak sah sebanyak 56 suara (2,86%).

Sementara itu, perolehan suara yang sah untuk Ketua DEMA yakni sebesar 1929 suara atau 98,32% dari total pemilih. Sebanyak 33 suara (1,68%) dinyatakan tidak sah oleh anggota KPPS.

Dari kertas suara yang sah, perolehan suara Calon Presiden Mahasiswa nomor urut 1, Yudhistira Pradipta mendapat 1196 suara (60,96%) dan nomer 2, Ridwan Maulana sebanyak 733 suara (37,36%).[] (Salim/Far)

doC. lpm paradigma
KAMPUS, PARIST.ID - Kuliah Kerja Nyata terintegrasi Kompetensi (KKN-K) pada awal 2018 baru diberlakukan bagi mahasiswa Jurusan Tarbiyah. Praktikkan dari Tarbiyah akan ditempatkan khusus di bidang pendidikan, sesuai kompetensinya masing-masing.

Hal itu disampaikan Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Nadhirin di Gedung Rektorat Lantai 1 Kampus Timur STAIN Kudus. Menurutnya, keputusan tersebut sesuai dengan rapat pimpinan. 

"Selain Tarbiyah, model KKN jurusan lainnya masih model konfensional dan akan menetap di posko (baca : desa)," katanya.

Pelaksanaannya KKN itu, dilakukan pada Januari bagi non -Tarbiyah. Sedangkan seluruh mahasiswa Tarbiyah akan dilaksanakan pada gelombang 2 bulan Februari mendatang.

Belum selesainya persetujuan dengan lembaga-lembaga terkait menjadi alasan KKN-K belum dilaksanakan secara penuh. 

"Lembaga yang sudah selesai MoU dan jumlahnya banyak itu bagian pendidikan. Sedangkan jumlah lembaga lainnya belum setara dengan rasio mahasiswa praktikkan," tuturnya. 

Sebanyak 888 mahasiswa Tarbiyah akan ditempatkan di madrasah yang ada di wilayah Kabupaten Kudus. Meski di madrasah lagi, seperti praktik profesi lapangan (PPL), tugas mahasiswa praktikan KKN tentu berbeda. Mahasiswa tidak hanya melaksanakan tugas tenaga pendidikan, namun tugas non kependidikan juga. 

Selain itu, mereka tidak hanya berkutat dengan civitas madrasah. Ia juga akan berhubungan masyarakat di luar madrasah. Sebab, dalam banyak hal, fungsi madrasah belum maksimal tanpa peran masyarakat. 

Berbeda dengan Tarbiyah, bagi mahasiswa Syari'ah, Dakwah, dan Ushuluddin akan di tempakan di enam kecamatan di Kabupaten Demak. Yaitu, Karanganyar, Gajah, Dempet, Kebon Agung, Wonosalam, dan Mijen.

Berbagai jurusan akan berada dalam satu kelompok. Dan mereka dituntut melakukan pengabdian masyarakat. Baik lintas sektoral fisik maupun non fisik diharapkan dipraktikkan mahasiswa di posko masing-masing.

Meski keputusan mengenai KKN-K sudah final, beberapa mahasiswa mengaku kecewa. Kholifatul Maulida, mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) misalnya, lebih mengharapkan ditempatkan di media massa sesuai bidang keilmuannya. 

"Karena pengalaman tentang seluk beluk media masih sedikit," tuturnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ella Ratna Sari. Mahasiswa PAI tersebut merasa bosan jika terus berada dalam lingkungan pendidikan. Menurutnya, ia lebih bisa mengabdikan diri ke masyarakat ketika menetap sementara di suatu desa. 

"Ingin bisa mengajar langsung anak-anak desa ketika malam hari," pungkasnya. 
(Ishmah/Salim)

KAMPUS,PARIST.ID - Pemilihan umum mahasiswa raya (Pemilwa) STAIN Kudus telah resmi dibuka oleh Ketua STAIN Kudus, di depan Gedung Kantor Jurusan, Selasa (12/12/2017). 

BUKA : Mundzakir, Ketua STAIN Kudus membuka secara resmi acara Pemilihan umum mahasiswa raya (PEMIRA) di TPS A, Selasa 12/12/2017. foto : Haydar/PARAGRAPHFOTO

Pembukaan pemira itu dihadiri oleh Ketua STAIN Kudus, Dr. Mudzakir, M.Ag, Wakil Ketua III, Dr. Abdurrohman Kasdi, Lc, M.Si dan puluhan perwakilan mahasiswa serta panitia.

Ketua STAIN Kudus mengatakan pesta demokrasi mahasiswa ini bisa dimanfaatkan sebagai pembelajaran politik dan hukum. Ia juga menghimbau agar tetap menjaga ketertiban selama maupun sesudah pemira ini berlangsung.

“Jangan sampai ada keributan yang mengundang perhatian publik terutamanya aparat kepolisian. Tetap jaga moral dan etika dalam berdemokrasi,” ujar Mudzakir.

Dalam menjalankan proses hukum, lanjut Mudzakir, kita hendaknya menggunakan moral sebagai acuan. Tanpa moral hukum akan kering dan kaku, sehingga bisa jadi menimbulkan  jatuhnya korban.

“Demokrasi harus berjalan dengan hukum yang luwes, harus ada moral dalam menjalankan sebuah hukum,” katanya.

Selanjutnya ia menjelaskan adanya Pemilwa ini juga menjadi penentu proses transformasi STAIN Kudus menuju IAIN Kudus. Menurutnya keamanan dan ketertiban selama pemilihan umum ini berlangsung akan mendorong percepatan transformasi itu.

“Saya bersama delapan ketua STAIN lainya terus memantau perkembangan transformasi itu. Semoga akan cepat menjadi IAIN,” imbunhya.

Sementara itu, Ketua Senat Mahasiswa (Sema), Muhammad Mahmud menegaskan Pemilwa ini sebagai pembelajaran bagi mahasiswa sebelum nantinya terjun di tengah masyarakat. Mahasiswa diharapkan datang ke TPS yang telah disediakan diantaranya, TPS A di depan Gedung Jurusan, TPS B di parkiran PKM dan TPS C di Kampus Timur.   (Haidar/Far)




NGOPI : Menteri Agama KH.Lukman Hakim Saifudin memberi penjelasan tentang Pendidikan Agama Islam bersama KH. Zawawi Imron dan Kamaruddin Amin Dirjen Pendis. Foto: mael/PARAGRAPHFOTO
Tangerang, PARIST.ID - Menteri Agama Republik Indonesia, KH. Lukman Hakim Saifuddin mengajak insan pers mahasiswa (persma) menyuarakan moderasi Islam. Itu disampaikannya dalam acara Ngobrol Pendidikan Islam di Bengkel Kreatif Hello Indonesia, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Sabtu (09/12/17).

“Saya bersyukur bisa hadir di tengah aktivis pers mahasiswa untuk bersama mengajak masyarakat Indonesia lebih mengutamakan moderasi Islam,” tuturnya.

Selanjutnya, Lukman menyampaikan Kementrian Agama akan terus mendorong Islam Indonesia bisa menjadi salah satu kiblat pendidikan Islam dunia. Beberapa upaya telah dicanangkan, diantaranya, mendatangkan mahasiswa asing, memperbanyak guru besar di bidang keislaman dan mendorong lebih banyak jurnal islam milik PTKI yang terindeks sebagai jurnal internasional.

“Di negara mayoritas Islam manapun, saya kira kita tidak kalah baik. Itu harus kita publish kepada dunia internasional agar mereka juga tahu Islam yang damai, seperti yang diajarkan oleh walisongo dan para ulama pendahulu kita,” tambah Lukman.

Sementara, Dirjen Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin, mengatakan akan menyusun teknis program yang telah dicanangkan tadi. Pihaknya menilai adanya program-program diatas akan mendorong banyak duta pendidikan Islam Indonesia di kancah internasional.

“Kita tentu berharap akan ada ribuan duta Islam Indonesia di dunia. Mahasiswa asing yang sukses setelah belajar di Indonesia misalnya, akan sering merujuk Islam Indonesia sebagai pandangan dan mempromosikan Islam kita,” kata alumni RFW-Universitat Bonn, Jerman itu. (Far)

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.