| Potret penerapan pemilahan sampah di Dandangan Kudus 2026 |
Penerapan sistem pemilahan sampah ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, salah satunya melalui dukungan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF). Sejumlah relawan diterjunkan langsung ke lapangan untuk mengedukasi pengunjung agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan selama festival berlangsung.
Salah satu relawan, Alfiyan Yulianto, menjelaskan bahwa pemilahan sampah bertujuan membangun kesadaran masyarakat sejak berada di ruang publik. Sampah dibagi ke dalam tiga kategori, yakni organik, residu, dan anorganik. Sampah organik meliputi sisa makanan, ampas kopi, dan sayuran. Sampah residu berupa tusuk sate dan sampah yang tidak dapat didaur ulang, sedangkan sampah anorganik mencakup plastik dan botol kemasan.
“Tujuan kami sederhana, agar sampah bisa dipilah sejak awal. Sampah organik nantinya dapat diolah kembali menjadi pupuk, sehingga tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, respons pengunjung dinilai masih beragam. Sebagian pengunjung telah cukup responsif, namun tak sedikit yang masih perlu diarahkan secara langsung oleh relawan.
“Kalau tidak diingatkan, masih banyak yang mencampur sampah. Karena itu kami terus mengedukasi agar sampah dibuang sesuai kategorinya,” tambahnya.
Meski masih bersifat uji coba dan belum dipastikan keberlanjutannya di tahun-tahun mendatang, inovasi ini dinilai membawa dampak positif. Selain menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan nyaman, kebiasaan memilah sampah diharapkan dapat tertanam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dukungan terhadap inovasi ini juga disampaikan oleh Francisca Berty Andriani, selaku Deputy Program Director BLDF Djarum Foundation. Ia menegaskan bahwa Kudus yang apik, bersih, dan nyaman hanya dapat terwujud melalui kolaborasi lintas pihak serta keterlibatan aktif masyarakat.
Melalui Dandangan 2026, Djarum Foundation mendorong keterlibatan lebih dari 490 mitra dalam upaya pemilahan sampah. Sampah organik akan dikelola oleh tim Kudus Asik dan diolah menjadi pupuk di pusat pengolahan organik Djarum Oasis, guna mengurangi beban timbulan sampah di tempat pembuangan akhir.
“Kami menyediakan tempat sampah dengan tiga kategori di berbagai titik area. Selain itu, 20 mahasiswa dari UIN Sunan Kudus dan UMK Kudus kami libatkan sebagai relawan edukator untuk membantu dan mengingatkan pengunjung memilah sampah,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Kudus Bellinda Putri Sabrina Birton, dalam sambutannya mengajak seluruh pelaku usaha dan masyarakat untuk berpartisipasi aktif menyukseskan Dandangan 2026. Pemerintah Kabupaten Kudus menegaskan komitmennya dalam mendukung pemberdayaan ekonomi rakyat, pelestarian budaya, serta kelestarian lingkungan, sejalan dengan visi Kudus Sehat, Sejahtera, Harmoni, dan Takwa.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan, ketertiban, dan keamanan selama kegiatan berlangsung, serta mematuhi seluruh ketentuan yang telah ditetapkan.
Di akhir sambutan, apresiasi disampaikan kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari panitia penyelenggara, instansi terkait, aparat keamanan, hingga para sponsor dan mitra pendukung seperti PT Manajemen Dandangan Kudus, BRI, Pegadaian, dan Nojorono.
“Semoga Dandangan 2026 membawa keberkahan dan dampak positif bagi kehidupan sosial, budaya, serta perekonomian masyarakat,” ujarnya, seraya secara resmi membuka Festival Dandangan 2026.
Melalui inovasi ini, Festival Dandangan 2026 tidak hanya menjadi ruang pelestarian tradisi, tetapi juga momentum menumbuhkan kesadaran kolektif dalam merawat lingkungan bersama. Alon-alon nanging konsisten, demi Kudus yang semakin apik dan bersih.

