Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Ngaji Budaya dan Sedekah Bumi Kriyan Angkat Filosofi “Kutho Bedah”, Teguhkan Spirit Tradisi dan Spiritualitas

parist  id
Jumat, Februari 13, 2026 | 16:31 WIB
Pemeran Ratu Kalinyamat pada Karnaval Baratan (8/02)
Jepara, PARIST.ID - Rangkaian tradisi Sedekah Bumi dan Ngaji Budaya di Desa Kriyan kembali digelar pada Sabtu dan Minggu (7–8/02/2026). Kegiatan yang dipusatkan di depan Masjid Al Makmur Kriyan ini menjadi ruang refleksi masyarakat dalam merawat nilai spiritual sekaligus melestarikan warisan budaya lokal.

Ngaji Budaya yang diselenggarakan bersamaan dengan Sedekah Bumi menjadi momentum bagi masyarakat untuk meneguhkan kembali nilai-nilai luhur tradisi yang masih relevan dengan kehidupan sosial dan keagamaan masa kini. Suasana acara semakin terasa khidmat ketika alunan gamelan dari Grup Kyai Tapel mengiringi jalannya kegiatan, menghadirkan nuansa budaya yang kental sekaligus memperkuat identitas masyarakat setempat.
Kegiatan Ngaji Budaya Bersamaan dengan Sedekah Bumi
Diskusi budaya dalam kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah budayawan yang mengupas filosofi di balik ritual syukur Sedekah Bumi. Kehadiran perwakilan DPRD serta akademisi dari UNISNU turut memperkaya sudut pandang, menegaskan bahwa tradisi lokal tidak hanya memiliki nilai kultural, tetapi juga memiliki dimensi ilmiah dan sosial yang penting untuk terus dijaga. Forum ini sekaligus menjadi ruang edukasi yang mendorong generasi muda untuk lebih mengenal dan mencintai akar budayanya.

Tradisi Baratan yang menjadi puncak rangkaian kegiatan digelar pada Minggu (8/022026). Tradisi ini telah ditetapkan sebagai bagian dari Warisan Budaya Tak Benda dan menjadi simbol kebersamaan masyarakat. Melalui Baratan, masyarakat tidak hanya merayakan tradisi, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial serta menjaga kesinambungan nilai-nilai leluhur.

Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia mengangkat tema “Kutho Bedah”. Tema tersebut merujuk pada peristiwa runtuhnya benteng Kerajaan Kalinyamat di masa lampau. Namun, tema ini tidak dimaknai sebagai simbol kekalahan, melainkan sebagai pengingat akan besarnya peran Kerajaan Kalinyamat dalam sejarah peradaban Jawa.

Panitia memberikan tafsir filosofis terhadap kata “bedah” sebagai simbol kebesaran dan harapan. Makna tersebut menjadi doa kolektif masyarakat agar tradisi Baratan tidak hanya berlangsung meriah, tetapi juga membawa keberkahan dan kemakmuran bagi warga. Tafsir ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat masyarakat untuk melanjutkan nilai perjuangan dan kebesaran warisan leluhur.

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang rangkaian acara. Cuaca yang cerah serta partisipasi warga yang tinggi turut mendukung kelancaran kegiatan. Kesuksesan penyelenggaraan tradisi tahun ini menunjukkan bahwa nilai spiritual dan kecintaan terhadap budaya masih menjadi fondasi kuat dalam kehidupan masyarakat.

Tradisi Sedekah Bumi, Ngaji Budaya, dan Baratan diharapkan terus menjadi ruang pewarisan nilai, sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.

Reporter : Muhammad Prasetiono
Penulis : Aisya Niken Cahya Salim

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ngaji Budaya dan Sedekah Bumi Kriyan Angkat Filosofi “Kutho Bedah”, Teguhkan Spirit Tradisi dan Spiritualitas

Trending Now