Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Celana dan Kritik Kebudayaan

parist  id
Sabtu, Januari 14, 2017 | 21:29 WIB
Ia telah mendapatkan celana idaman
yang lama didambakan, meskipun untuk itu
ia harus berkeliling kota
dan masuk ke setiap toko busana.
Ia memantas-mantas celananya di cermin
sambil dengan bangga ditepuk-tepuknya
pantat tepos yang sok perkasa.
“Ini asli buatan Amerika,” katanya
kepada si tolol yang berlagak di dalam kaca.
Ia pergi juga malam itu, menemui kekasih
yang menunggunya di pojok kuburan.
Ia pamerkan celananya: “Ini asli buatan Amerika.”
Tapi perempuan itu lebih tertarik
pada yang bertengger di dalam celana.
Ia sewot juga: “Buka dan buang celanamu!”
Pelan-pelan dibukanya celananya yang baru,
yang gagah dan canggih modelnya,
dan mendapatkan burung
yang selama ini dikurungnya
sudah kabur entah ke mana.
(Celana 3.1996; Joko Pinurbo)

Puisi Celana 3 (1996) karangan Joko Pinurbo (Jokpin) di atas rimbun makna. Puisi mbeling di atas menyentak imaji soal celana. Celana tak hanya persoalan asali, soal sandang. Jokpin mempertanyakan dan menyangsikan kadar nasionalisme masyarakat negeri ini lewat celana. Celana dalam puisi Jokpin adalah kritik sekaligus pertanyaan kuantitas dan kualitas nasionalisme dalam masyarakat yang terlampau konsumtif, masyarakat yang berada dalam rayuan-rayuan pelbagai produk dan tawaran tanpa batas, atau masyarakat konsumtif dalam istilah Jean Baudrilard.

Jokpin sadar, paling tidak, lemahnya nasionalisme ditentukan oleh sebuah produk yang kita beli, produk luar negeri ataukah kita masih setia terhadap produk dalam negeri. Kadar nasionalisme bisa dinilai dengan melihat sebuah merk celana yang dipakai. Puisi bernada cabul di atas yang mengarah pada tafsir nasionalisme terlacak dalam kata kunci: celana, Amerika, dan burung.

Tak hanya persoalan nasionalisme, celana mendedahkan kisah panjang. Celana adalah jawab atas kebutuhan insani atas kondisi geografis, adat, tafsir moralitas dan pengejawantahan risalah agama. Celana mendedahkan kisah perayaan tubuh dengan pertaruhan sosial, kultural, ekonomi, hukum dan agama. Celana hadir dengan pelbagai pamrih dan celaka.

Pada dasarnya, celana memberi ruang gerak bebas untuk melakukan pelbagai aktivitas di ruang publik, dan ruang privat sekalipun. Celana memberi kesan nyaman dan aman untuk melaksanakan kegiatan sebab dalil etika soal kewajiban menutup organ vital dalam masyarakat modern usai dijalankan. Tua-muda, kecil-dewasa, kaya miskin semua memakai celana. Celana menjadi anutan untuk mengukur adab dan kewarasan seseorang. Khalayak akan menilai seseorang “gila” jika tidak memakai celana di ruang publik. Oh!

Dalam masyarakat modern, celana tidak hanya selesai pada pemenuhan aturan moral dan kebutuhan asali manusia soal sandang. Persoalan celana menjadi rumit. Celana harus juga memenuhi hasrat manusia modern, manusia konsumtif, yang tidak hanya mengonsumsi barang an sich, tapi juga imaji, makna, dan simbol yang turut diproduksi. Desain celana harus apik dan variatif. Celana harus fleksibel. Desain celana dibentuk dalam pelbagai model sesuai hasrat dan harkat masyarakat modern.

Simbol dan makna yang turut serta dalam produk celana menyebabkan munculnya tafsir pada diri pemakai. Celana membangun tafsir dan imaji sosial dan personal pemakai. Dalam tataran sosial, celana mampu memberi tafsir sekaligus menciptakan sekat sosial. Kualitas dan harga, desain, serta merk celana menentukan prestise pemakai. Semakin mahal dan ternama merk celana yang dibeli, semakin kaya pula orang itu, dan sekaligus makin terangkat kewibawaan si pemakai. Sebab hanya kalangan atas (atau orang yang ingin dianggap kelas atas) yang membelinya. Orang miskin (atau orang yang tidak terpancing godaan citra) hanya memakai celana ala kadarnya, sesuai dengan “kodrat” celanan itu sendiri.

Masyarakat mutakhir memang tergoda oleh citra yang ditawarkan celana.  Anutan pada filosofi Jawa ajining sarira dumunung ing busana, menemukan momentum penerapannya meski terlampau berlebihan. Celana (pakaian) memang menggambarkan kepribadian dan menentukan prestis. Biografi diri harus menemukan jalan ekspresinya dan harus dinampakkan seindah mungkin. Celana menghadirkan tipu sebab bisa menutup kepribadian, bahkan keadaan sosial dan ekonomi. Godaan prestis kerap memaksa seseorang “mengonsumsi” celana mahal meski dengan jalan berhutang, mencuri dan pinjam.

Norma Celana

Sejak kecil pun kita dipaksa mengalami persoalan pelik celana. Sejak kecil, kita disekolahkan secara bertahap. Dan melalui tahapan tersebut, celana ikut andil dalam pembagian jenjang. Saat kita duduk dibangku sekolah dasar (SD), celana pendek berwarna merah yang kita pakai. Yang dilanjut dengan SMP, kita diharuskan memakai celana berwarna biru sebagai pembeda ketika kita di SD. Begitu seterusnya sampai kita dijenjang pendidikan SMA yang mengharuskan memakai celana berwarna abu-abu. Celana mampu memberi tafsir identitas serta kedudukan yang ditentukan dengan sebuah warna pada celana.

Kita pun ingat, DPR pernah panas membahas celana. Perdebatan itu dipicu anggota dewan wanita yang memakai rok mini ketat. Anutan moral beradu dengan kebebasan berpakian dengan klaim tak kelaur dari etika: menutup aurat. Perdebatan pun bergulir pada aturan-aturan berpakaian bagi anggota dewan agar tetap nampak terhormat dan tak memicu syahwat.

Kasus anggota dewan itu adalah contoh celana mampu memberi tafsir personal. Celana menimbulkan penafsiran-penafsiran dari lingkungan sekitar terhadap subyeknya (pemakai). Moral dan ajaran agama kerap jadi acuan mengukur. Baik laki-laki maupun perempuan, akan dianggap sebagai orang baik-baik dan beradab ketika mereka mampu menutup auratnya dan seseorang akan dinilai buruk ketika mereka tak mampu menjaga auratnya sendiri. Publik  akan menilai diri kita melalui celana yang kita pakai.

Penilaiannya pun juga bervariatif. Di pedesaan yang masih kental dengan unggah-ungguh, norma, dan nilai agamanya, seringkali menilai seseorang dengan pakain yang tak pantas (celana pendek bagi perempuan misalnya) sebagai seseorang yang tak punya sopan santun. Sebab ajaran agama mengatur batasan-batasan tubuh yang menjadi aurat dan melarang memperlihatkannya didepan umum. Berbanding terbalik di perkotaan, wanita bercelana pendek (mungkin) sudah dianggap biasa, bahkan sebagai tren dan sebagai penambah kesan seksi terhadap penampilannya. Aurat yang diumbar dengan memakai celana pendek.

Oleh: Yuli Susanto*
*) Penulis adalah Pegiat di Paradigmainstitute
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Celana dan Kritik Kebudayaan

Trending Now