Habib Umar : Masukkan Rasulullah Ke Rumah Kita


Dalam tatanan hidup manusia modern seringkali lupa dengan tingkah dan pola hidup sejahtera. Terbukti dengan semakin banyaknya kegelisahan yang dialami oleh masyarakat. Tidak hanya persoalan ekonomi, politik, dan hukum. Tetapi juga dalam tatanan akidah dan agama pun termasuk di dalamnya. Meski banyak klaim telah mengikuti aturan, namun kenyataannya mereka tidak melakukannya secara keseluruhan. Termasuk dalam mencintai Nabi Muhammad Saw. Hal itu mengemuka dalam peringatan maulid Nabi bertajuk Indahnya Kebersamaan di Desa Cendono RT 05 RW 02, Dawe, Kudus pada Senin (30/01). Hadir sebagai penceramah yaitu Habib Umar al-Muthohhar dari Semarang dan K. H. Abdurrahman dari Kudus.
Habib Umar dalam peringatan maulid nabi di desa Cendono RT 5 RW 2, Dawe Kudus. Senin (30/1) kemarin.
FOTO : FARID/Parist.id

Dalam tatanan hidup manusia modern seringkali lupa dengan tingkah dan pola hidup sejahtera. Terbukti dengan semakin banyaknya kegelisahan yang dialami oleh masyarakat. Tidak hanya persoalan ekonomi, politik, dan hukum. Tetapi juga dalam tatanan akidah dan agama pun termasuk di dalamnya. Meski banyak klaim telah mengikuti aturan, namun kenyataannya mereka tidak melakukannya secara keseluruhan. Termasuk dalam mencintai Nabi Muhammad Saw.
Hal itu mengemuka dalam peringatan maulid Nabi bertajuk Indahnya Kebersamaan di Desa Cendono RT 05 RW 02, Dawe, Kudus pada Senin (30/01). Hadir sebagai penceramah yaitu Habib Umar al-Muthohhar dari Semarang dan K. H. Abdurrahman dari Kudus.
Menurut Habib Umar kenyataan di atas disebabkan karena belum dimasukkannya ajaran Rasulullah kedalam rumah kita. Maksudnya, dalam kehidupan sehari-hari kita belum mengamalkan ajaran Rasulullah. Dalilnya jelas bahwa Allah tidak akan menimpakan musibah kepada suatu kaum saat kamu (Muhammad) berada ditengah-tengahnya. Ini bisa kita artikan dengan menghadirkan ajaran Muhammad agar tidak ditimpa musibah.
“Ayo kita masukkan Rasulullah ke dalam rumah kita. Kita hadirkan (ajaran) Rasulullah di tengah-tengah kita,”” paparnya.
Kita mengenal Nabi Muhammad sebagai pribadi yang tidak pernah menyulitkan orang lain. Habib Umar menceritakan kisah Rasul yang tidak menjadi beban orang lain, bahkan saat masih di dalam kandungan ibunya, Aminah. Dalam riwayatnya ketika mengandung sang pemimpin umat sepanjang masa itu, Aminah merasa tidak sedang mengandung. “Beda dengan kita yang suka merepotkan orang.
Sementara itu, K.H. Abdurrahman menghimbau untuk mulai mencontoh Rasulullah dari hal-hal sederhana. Dalam kitab-kitab maulid disebutkan bahwa Nabi Muhammad merupakan pribadi sederhana. Beliau suka berkumpul dengan orang-orang miskin, menengok dan mendoakan orang yang sakit, bahkan seringkali menahan lapar.
“Marilah kita mulai mencontoh Rasulullah dengan hal-hal sederhana. Menjaga kerukunan umat itu juga termasuk salah satu diantaranya,”” tutur Kyai asli Kudus itu.
(Red/Farid)