Kudus Harus Belajar Kepemimpinan Nabi Musa

Kudus,PARIST.ID-Menyongsong hari jadi ke 468 Kabupaten Kudus Pusat Studi Gender STAIN Kudus gelar diskusi budaya di Angkringan Nyoklat, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Ahad (17/09/17).  Menghadirkan budayawan asal Jogjakarta, Agus Hendratno, diskusi itu membahas kearifan para nabi dan wali dalam mengelola tata kota daerahnya.

Agus Hendratno memaparkan materi tentang tata kelola Kota. Foto: Ulil/PARAGRAPHFOTO

Agus memaparkan Kudus merupakan kota kecil yang penuh dengan rahmat dan keberkahan dari Allah SWT. Hal itu dibuktikan dengan kekayaan budaya maupun kearifan lokal yang dimiliki Kudus melebihi daerah lainnya.

“Adanya dua wali di Kabupaten Kudus ini menjadi bukti kalau kota ini istimewa. Disamping itu banyak nama-nama lokasi atau benda yang memiliki kesamaan dengan yang biasa kita baca dalam Al-quran maupun kisah nabi terdahulu,” papar Agus.

Ia mencontohkan adanya Gunung Muria yang mirip dengan nama gunung di Jerussalem, Moriah, yang terkenal dalam kisah Nabi Musa as. Menurut Agus itu bisa jadi mozaik penting yang multitafsir bila dikaitkan dengan konteks sejarah berdirinya kota Kudus.

“Kudus zaman dahulu memang memiliki jaringan kuat di kancah internasional, utamanya Jerussalem. Tidak hanya Moriah, tetapi juga penamaan kota Kudus yang terukir di prasasti milik Sunan Kudus dan sampai sekarang terpampang jelas di atas mimbar Masjid Al-Aqsha, Menara. Konon itu merupakan hadiah dari penguasa di Jerussalem kepada Sunan Kudus,” jelas dosen Universitas Gadjah Mada ini.

Artinya, lanjut Agus, dalam konteks tata kelola kota ini para pemimpin di Kudus harus belajar kepada kisah Nabi Musa AS sebagai pemimpin yang berhasil menata Jerussalem hingga terkenal maju dan sejahtera pada waktu itu.

“Kuncinya ada pada ketauhidan seorang Nabi Musa AS. Kalau saja para pemimpin kita tauhidnya kuat maka Kudus sejahtera dan makmur,” katanya.

Ketua Lajnah Ta’lif Wa Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Kabupaten Kudus, Nur Said, mengatakan kegiatan semacam ini penting digelorakan, khususnya kepada masyarakat Kudus. Mengingat pada 2018 Kudus akan melaksanakan pemilihan kepala daerah, forum seperti ini berperan mengedukasi para calon agar memahami betul kondisi Kudus secara menyeluruh.

“Para pemimpin Kudus nantinya memang harus tahu hal-hal dari forum-forum seperti ini, supaya mereka tahu kondisi rill Kudus dan gagasan-gagasan baik dari publik untuk membangun Kudus di masa depan,” katanya. (M. Farid)