Strategi Memutus Akar Terorisme Sejak Dini

Teror berawal pada kebencian akibat ideologi yang dirasa benar tidak sesuai dengan kenyataan disekitarnya. Terorisme adalah aliran yang ingin membunuh semua orang yang tidak seideologi dengannya. Tidak menghendaki perbedaan dan berpandangan negatif tentang perbedaan adalah hal yang sama sekali tidak diajarkan dalam agama. Orang yang melakukan aksi teror sering disebut teroris. 

Jika ditelisik lebih jauh, sebenarnya teroris ini dilatarbelakangi dengan dangkalnya pemahaman tentang konsep agama yang ia bawa. Tak kurang mereka ini biasanya mempraktikan ilmu karbitan. Yaitu mereka yang hanya belajar dari ilmu yang diperoleh secara instan.Padahal dalam Islam disebutkan belajar itu memerlukan waktu yang panjang “watuliz zaman”.

Berbicara tentang penyebab terorisme sebenarnya adalah karena kegagalan seseorang dalam memahami setiap sisi serta sudut dalam agama. Seseorang itu akhirnya bertemu dengan manusia sejenisnya. Kemudian beranak-pinak hingga membentuk komunitas dan menjadi lebih  besar dengan membentuk suatu organisasi.

Orang-orang yang tidak pernah sepakat dengan mayoritas itu seolah-olah sombong bahwa kebenaran mutlak ada pada dirinya. Padahal puncak dalam tasawuf adalah ketika diri seorang hamba tak lagi berarti. Dari situ bisa disimpulkan bahwa untuk menjadi hamba bukanlah membunuh orang yang tak sepaham dengan kita. Hamba yang benar-benar menghamba justru memahami perbedaan, menghargainya sebagai keindahan yang diciptakan oleh Tuhan.

Sebut saja Rasulullah, yang merupakan cinta kasihnya Allah. Dalam mengajak kepada jalan kebaikan tak pernah sedikit pun beliau menggunakan kekerasan. Jika beliau mau, bisa saja meminta Allah untuk menumpas semua orang yang membangkang darinya. Tetapi sekali lagi tidak, beliau tak pernah sama sekali berbuat demikian.

Lalu, bagaimana dengan terorisme? Jelas hal itu tidak dibenarkan oleh agama. Jika mengaku berlandaskan agama berarti belum bisa memahami akhlak Rasulullah. Ini berarti juga belum melihat secara kontekstual dan tak mengupas Islam sampai bagian dalam. 

Terlepas dari benar tidaknya ideologi terorisme itu, kaderisasi yang dilakukan jaringan ini amat mengkhawatirkan. Jaringan terorisme sudah seperti virus stadium tinggi. Hal ini perlu dihentikan agar virus jaringan itu tidak semakin membesar. Sebenarnya dalam mengatasi terorisme paling tidak membutuhkan tiga aspek. Yaituantara lain dengan legitimasi, hukuman, dan penguatan kebangsaan (Kompas, 5/06/17).

Penanganan itu bisa dilakukan oleh seorang guru untuk mengatasi kaderisasi jaringan terorisme. Guru merupakan orang yang dipercaya dalam menyampaikan materi ilmu. Pengajaran dengan memuat intrik dalamlegitimasi, tindakan hukuman, dan penguatan kebangsaan itu dapat menyelamatkan tunas dari serangan virus terorisme.

Kita sering mendengar istilah internasasi nilai-nilai Islam, namun prosesnya sering juga menjadi pertanyaan. Dunia pendidikan butuh strategi yang lebih agar siswa sebagai masyarakat nantinya memahami benar kata toleransi.

Seseorang akan merasakan sesuatu berharga ketika seseorang itu berada pada posisi yang ekstrem. Inipun berlaku dalam pendidikan, perbedaan serta rasa persatuan dirasa sangat berharga apabila seorang anak pernah berada padajurang perbedaan. Ini bisa diterapkan dengan langsung terjun dalam sumber perbedaan, dengan saling berkunjung ke tempat ibadah antar agama misalnya.

Kunjungan Intelektual
Melihat langsung perbedaan itu sejak kecil bisa menjadi salah satu solusi alternatifnya. Ini bisa kita sebut dengan program kunjungan intelektual. Jadi, misal bagi siswa muslim diajak mengunjungi tempat-tempat ibadah non-Islam dengan tujuan menambah wawasan serta pengetahuan bagaimana aktivitas kepercayaan non-Islam. Ini bukan tanpa tujuan melainkan agar siswa sudah terbiasa untuk melihat perbedaan. 

Akhirnya akan terjadi internalisasi yang begitu kuat terekam dalam pikirannya hingga tertanam pengertian bahwa Islam bukanlah agama satu-satunya di Indonesia. Pola pikir semacam itu akan membuat anak didik tidak skeptis memandang satu dengan yang lainnya hingga dewasa. 

Mereka tidak lagi menjadi generasi yang merasa benar, mudah terjebak dengan isu SARA. Mereka akan mampu memahami bahwa menjadi manusia berarti melebur bersama perbedaan yang ada. Perbedaan akan menjadikannya pribadi yang seimbang untuk berhubungan kepada Tuhan maupun makhluq-Nya.

Disisi lain, mereka juga harus dikuatkan keimanan serta pengetahuannya. Penguatan itu dilancarkan dengan kurikulum dan mata pelajaran agama yang komprehensif. Guru-guru mereka juga tidak boleh guru yang abal-abal atau aliran garis keras. Guru-guru diera 21 ini selayaknya memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam dari segala sisi.

Dengan begitu jaringan terorisme tak lagi menjadi virus ekstrem bagi kalangan generasi selanjutnya. Internalisasi toleransi dan pemahaman agama yang kuat sejak kecil menjadi benteng kebal bagi generasi anak-cucu kita. Perbedaan bukan lagi untuk diperangi tapi dipeluk erat dalam genggaman berbangsa dan bernegara. 

Oleh : Manik Wulandari
*) Mahasiswi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah STAIN Kudus