Politik dan Sekulerisme Di Turki

Foto: Istimewa
Kerajaan Turki Utsmani mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan Sulaiman al-Qanuni (pembuat hukum) pada tahun 1520 – 1566. Di bawah Sulaiman, syariah menerima sebuah status mulia daripada di negara muslim sebelumnya. Ia menjadi hukum resmi negeri ini bagi semua muslim, dan orang-orang Ottoman adalah orang pertama yang menciptakan format reguler pengadilan syari’ah. 

Para ahli hukum (qadi), para konsultan (mufti), dan para guru di madrasah menjadi sebuah elemen-elemn resmi pemerintah yang menciptakan sebuah kaitan moral dan religius antara sultan dan rakyatnya. Peran ulama terhadap negara bersatu dan membantu rakyat menerima aturan Turki. Ini membuktikan bahwa betapa Sulaiman al-Qanuni sangat mengedepankan religiusitas dalam pemerintahannya dan pendidikan agama dirasa perlu untuk melestarikannya.


Kita tahu bahwa Turki merupakan basis Kerajaan Islam di Eropa yang terkahir hancur pada 1924. Sistem khilafah sudah dihapuskan dan diganti dengan sistem sekuler. Reformasi Turki dibagi mejadi dua fase yakni fase kediktatoran presidensil, reformasi agama, dam merupakan fase awal program industrialisasi. Pada fase ini ditetapkannya Mustafa Kemal Ataturk sebagai presiden Turki seumur hidup. ia hidup sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara. 



Rezim kemalis menyebarkan informasi pertanian, mengorganisir program pendidikan, dan mengajarkan ideologi nasional dan sekuler kepada masyarakat. Rezim ini bahkan meneruskan sistem Utsmani di mana elite terdidik, perkotaan, birokratik, dan elite militer mendominasi seluruh wilayah negeri. Ulama’ dan bangsawan lokal dikucilkan dari kekuasaan politik, sebaliknya para tuan-tanah diberi kesempatan mempertahankan dan mengkonsolidasikan posisi ekonomi mereka. 

Melihat realitas di atas bahwa pada fase ini pendidikan Islam mulai disudutkan dengan dikucilkannya para ulama. Padahal ulama adalah pewaris Nabi. Rezim kemalis berfokus pada pembangunan ekonomi dan modernisasi kultural. Keinginan Mustafa Kemal Ataturk yang menjadikan Turki sebagai negara maju seperti Eropa meminggirkan pendidikan Islam yang diajarkan di madrasah. 

Rezim kemalis ini juga menghapuskan sejumlah organisasi Islam. Lembaga wakaf dan lembaga ulama dikuasakan kepada kantor urusan agama. Pada tahun 1925 beberapa thariqot sufi dinyatakan sebagai organisasi ilegal dan dihancurkan. Berdasarkan fakta tersebut, penulis menyimpulkan bahwa kekuasaan kemalis berusaha memisahkan ajaran Islam dan merenggangkan pendidikan Islam secara besar-besaran. Attaturk mencoba menggiring masyarakat ke pola kehidupan barat. Mustafa Kemal juga membuat undang-undang sedikit demi sedikit mengurangi pendidikan agama pada kurikulum. Sampai akhirnya dihapus total pada tahun 1935. Selain itu dilakukan penutupan madrasah-madrasah , penghapusan bahasa Arab dan ditukar dengan bahasa Latin.

Melihat kondisi Turki yang memisahkan agama dan kepentingan negara membuat para pemikir Islam bertindak. Salah satunya adalah Badiuzzuman Said Nursi (1873 -1960). Sebagai seorang Ulama yang mampu hidup damai dengan kalangan manapun di dunia, Said Nursi berusaha melakukan gerakan pembaharuan Islam di Turki melalui pemikirannya. Menurutnya umat Islam harus kembali ke ajaran-ajaran al-Quran Hadits yang disesuaikan dengan keadaan sekarang. Selain itu, menggunakan akal merupakan salah satu dasar Islam untuk menimbulkan ilmu pengetahua.
Said Nursi. Foto: Istimewa
Said Nursi terkenal dengan tulisannya yang berjudul Risalah Nur. Buku tersebut berisi tentang kemabali ke ajaran Qur’an Hadits dan ide-ide mengenai reformasi pendidikan yang diwujudkan pada sebuah universitas yang bernama Medresetuz Zehra. Universitas ini merupakan gabungan antara ilmu agama dan modern. Ini membuktikan pada abad ke-20 setelah republik Turki lahir, sudah ada pertentangan di kalangan akademisi mengenai penghapusan ajaran Islam oleh Ataturk.

Selain Said Nursi, juga ada Recep Tayyip Erdogan yang saat ini menjabat sebagai Presiden Turki. Ia adalah politisi yang dijuluki sebagai "Muadzin Istanbul Penumbang Sekularisme Turki". Erdogan mampu mengembalikan masa keemasan Turki, setelah sebelumnya terjerat dalam gurita sekularisme dan otoritarianisme yang memarginalkan Islam dan menjerumuskan negeri yang indah ini ke dalam kegelapan. 

Erdogan. Foto: Istimewa
Dengan kepiawaiannya berpolitik, Erdogan mampu meyakinkan rakyatnya bahwa dengan identitas Islam, Turki bisa mengembalikan kejayaan Kekhilafahan Utsmani, kekhilafahan yang tidak hanya kuat dalam segi pertahanan, tapi juga dalam perekonomian. Dengan keyakinan bahwa "Islam adalah Solusi" (Al-Islam huwa Al-Hall), Erdogan yang dibesarkan dalam lingkungan ke-islam-an, mampu membangkitkan kembali Turki dari julukan "the Sick Man in Europe" menjadi negara yang sehat dan tumbuh berkembang, bahkan diperhitungkan sebagai negara yang mampu memberikan kontribusi dalam menciptakan perdamaian.

Dengan kesantunannya, Erdogan mampu menumbangkan "berhala sekularisme Attaturk" tanpa melakukan kudeta dan melesatkan peluru sebutir pun. Sekularisme yang disucikan oleh militer, dan dijaga oleh kekuatan senjata, mampu ditumbangkan dengan 'kudeta tanpa senjata' oleh Erdogan. Keraguan kelompok sekular Turki yang menyebut Erdogan sebagai sosok "islamis reaksioner" dijawab olehnya dengan kerja nyata dalam mensejahterakan rakyat Turki dan menjadikan negaranya sebagai kekuatan penyeimbang dalam kancah globalisasi. Erdogan mampu membawa Turki menjadi negara dengan stabilitas ekonomi yang kuat, mandiri, dan mampu bersaing di dunia internasional.

Erdogan adalah contoh politisi dan pemimpin yang tidak larut dalam kekuasaan, sehingga melupakan identitas keislamannya. Jejak rekamnya dalam membela kaum muslimin yang tertindas, terutama di Palestina, sudah tidak diragukan lagi. Ketika kekuasaan sudah di tangan, maka tak ada alasan untuk tidak berkhidmat pada Islam. Inilah teladan dari sosok Erdogan

Terkait dengan Erdogan, banyak para pengamat yang menilai, perkembangan Islam dan politik di Turki menjadi fenomena yang sangat menarik akhir-akhir ini. Keberhasilan kelompok Islam untuk mempengaruhi proses politik nasional setelah mewujud dalam partai politik yang dominan, perlu mendapatkan perhatian khusus. Bukan saja karena kehadiran para aktivis Islam yang tergabung dalam Partai Keadilan dan Pembangunan (Adelet ve Kalkinma Partisi/AKP) ini mampu mengurai persoalan pelik hubungan Islam dan negara, tetapi lebih dari itu, proses panjang gerakan Islam mampu masuk dalam mainstream politik Turki dengan ideologi sekuler paling kuat di dunia ini juga patut menjadi bahan diskusi.

Adanya Erdogan memberi warna baru dalam konsep negara Turki yang notebennya sekuler. Dengan berbagai kebijakan sedikit demi sedikit Erdogan mencoba membangun kembali kejayaan Islam di Turki. Kebijakan tersebut di antaranya membolehkan memakai jilbab. Alasannya ialah negara-negara Eropa dan Amerika saja yang lebih sekuler dari Turki memperbolehkan perempuan memakai jilbab. Pun demikian saat perempuan belajar di universitas yang ada di Eropa dan Amerika. Logika tersebut digunakan Erdogan untuk menyerang anti-Islam yang bersembunyi dibalik ideologi sekuler Turki. Disamping itu Erdogan juga membuka kembali pengajaran al-Qur’an Hadits di berbagai sekolah negeri. 

*Muhammad Nur Salim
Peneliti di Paradigma Institute Kudus