"Ngaji" Islam Jawa Ala Sosrokartono



KUDUS, PARIST.ID-  Sosrokartono dianggap sebagai salah satu guru bangsa yang berjasa. Selain memiliki jiwa nasionalis, sosok yang kini dimakamkan di komplek pemakaman keluarga kerajaan “Sedo Mukti” Kaliputu Kudus itu mempunyai banyak pemikiran tentang Islam Jawa. Hal itu mengemuka dalam seminar Filologi yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ushuluddin di Aula Rektorat Lantai 3, Selasa (10/4/2018).

Bertajuk "Meneladani Islam Jawa Sosrokartono" seminar tersebut digelar dalam rangka memperingati hari lahir Sosrokartono sekaligus merawat ingatan mahasiswa tentang sejarah tokoh besar bangsa Indonesia di Kudus.

Dosen Filologi STAIN Kudus, Nur Said, mengatakan Sosrokartono adalah sosok yang menjadi inspirator bagi adiknya, Kartini. Tidak hanya itu, Sosrokartono juga dikatakan pernah menjadi guru spiritual Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

“Namun, Sosrokartono adalah tokoh besar yang tidak mau menjadi sorotan masyarakat karena perjuangan dan sumbangsihnya kepada negara. Sosrokartono adalah tokoh yang berjuang di balik layar perjuangan rakyat Indonesia,” katanya.

Said menambahkan, Sosrokartono tepat dijadikan rujukan keteladanan pemimpin di Indonesia saat ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. Menurutnya, dengan mengadopsi konsep kepemimpinan para tokoh besar terdahulu Indonesia akan besar dan sigap mengatasi masalah-masalah kekinian.

Sementara, peneliti dan penulis buku, R. Yudi Prastiawan, memaparkan, bukti bahwa Sosrokartono tokoh Islam Jawa adalah dia memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan laku spiritual Islam ala Jawa. Sosrokartono dikatakan sering menjalani lelakon demi terwujudnya  kemerdekaan Indonesia. 

“Misalnya beliau sering berpuasa berpuluh-puluh hari di luar bulan puasa. Pernah juga melakukan lelakon dengan berdiri berhari-hari sebagai wujud spiritualisme ala Islam Kejawen," ungkapnya.

Yudi menambahkan, Sosrokartono adalah tokoh nasionalis yang terkenal sebagai seorang sufi ala Islam Jawa. Yaitu seseorang yang melandaskan laku sufistiknya pada nilai-nilai spiritual Jawa. Hal itu terlihat dari beberapa pemikiran filosofisnya. 

“Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa adji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorke. Itu semua adalah nilai filosofis dari beliau (Sosrokartono-red) yang bisa kita teladani maknanya,” kata Yudhi.

Senada dengan Said, Yudhi juga meyinggung persoalan krisis kepemimpinan negeri ini. Menurutnya, saat ini Indonesia butuh sosok pemimpin sekaliber Sosrokartono dan mampu memberikan keteladanan kepada rakyatnya.

"Kalaupun tidak ada sosok yang sekaliber beliau, setidaknya kita dan para pemimpin bangsa saat ini harus mempelajari dan mengamalkan filosofi-filosofi Sosrokartono untuk menyelamatkan bangsa," tandasnya. (Qih)