Memaknai Kehadiran Tuhan Melalui Puisi



PARIST.ID, KUDUS - Memaknai kehadiran Tuhan bisa dilakukan dengan beragam cara, salah satunya yaitu dengan berpuisi. Dalam berpuisi, pembaca terkadang menemui titik sunyi dan merasakan kedekatan dengan Tuhan. 

Hal itu disampaikan oleh Sinta Haryani, pembawa puisi dalam acara ngabuburit yang digelar oleh FASBuk di Audiorium Universitas Muria Kudus (UMK), Minggu (27/5/2018) kemarin. Dalam kesempatan itu, Sinta menampilkan beberapa puisi tentang ketuhanan. Di antaranya yaitu “Tangan Kecil” karya Fakir Tasbih dan “Kulo Nyuwun Gusti” garapan Fauzi Arif.

“Puisi “Tangan Kecil” bermakna kewajiban hamba yang harus tunduk dan patuh terhadap Tuhan. Sedangkan “Kulo Nyuwun Gusti” berkisah tentang penyesalan seseorang atas dosa-dosa yang telah dilakukan selama bertahun-tahun,” kata wanita yang masih menjadi pelajar di SMA 1 Mejobo tersebut.

Setiap rangkaian puisi yang bertema ketuhanan, lanjut Shinta, bagi pembaca yang mampu meresapinya secara mendalam pasti akan menemukan rasa kedekatan dengan Tuhan yang luar biasa. Menurutnya, pengalaman itulah yang paling sulit dialami oleh pembaca-pembaca puisi.

Arfin Akhmad Maulana, ketua badan kerja FASBuK mengatakan, pentas edisi kali ini sengaja ia konsep sesuai dengan nuansa bulan Ramadhan yang identik dengan bulan di mana orang-orang muslim mendekatkan diri kepada Allah lebih intens dibanding bulan lainnya. 

Mengangkat tema “Langit Senja,” Arfin bermaksud untuk merepresentasikan waktu senja sebagai waktu menunggu berbuka puasa. Dengan mengundang pegiat-pegiat seni, dia ingin mengajak mereka untuk menikmati senja yang penuh berkah di Bulan Ramadhan. 

“Ya, salah satunya lewat berpuisi bertema ketuhanan. Saya anggap ini sebagai bentuk ibadah saat puasa. Sebab, melalui puisi-puisi tersebut kita bisa mengingat Tuhan dan segala keindahan-Nya,” ujarnya usai pementasan.

Dalam pentas sore itu, penonton juga dihibur oleh penampilan komika asal UMK. Selain stand up comedy, mereka juga disuguhi alunan akustik oleh Obengcoustik, group musik akustik yang juga asal UMK.

“Ngabuburit bareng FASBuk ini sudah menjadi rutinitas kami, setiap tahunnya pasti ada. Ya, ini merupakan salah satu cara seniman mengisi waktu saat puasa. Berkumpul dan ngobrol ringan tentang seni sembari berbuka puasa bersama,” pungkasnya. (Arif/qih)