Yang (telah) Tergantikan


Tak dipungkiri isu covid-19 yang hingga kini masih masih didengungkan menjadikan hari penting lain pun terabaikan. Termasuk Hari Buku Nasional yang semestinya diperingati setiap 23 April. Sejatinya, hari-hari penting termasuk hari buku bukan melulu tentang seremonialnya, melainkan bagaimana implementasi kita untuk mengilhami peringatan hari buku.

Berbicara mengenai buku bagi sebagian orang memang hal yang membosankan dan cenderung menambah beban pikir. Penting untuk mengubah mindset seperti itu agar menjadikan buku sebagai  gudang ilmu, jendela dunia hingga teman penambal kebosanan di masa pandemi.


Buku atau Gadget 

Sayangnya, ketika melihat minat baca masyarakat Indonesia begitu rendah. Berdasar data UNESCO, menyebutkan, Indonesia menempati urutan ke 2 dari bawah dunia mengenai minat baca buku dengan presentase setiap 1.000 orang, hanya 1 orang saja yang rajin membaca.

Di sisi lain, 60 juta penduduk Indonesia menggunakan gadget dan menjadi negara keempat paling aktif bersosial media. Apalagi di era digitalisasi sebagain orang lebih aktif berselancar di media sosial untuk kegiatan chat, stalk, bahkan hack. Lebih lagi, sering berkomentar tidak jelas di beberapa postingan.

Buku kian tergeser oleh gadget bahkan telah tergantikan. Upaya menyesuaikan pekembangan zaman pula dilakukan demi meningkatkan minat baca buku mulai dari penyediaan ebook, jurnal online, bahkan perpustakaan nasional menyediakan platform khusus dan aplikasi tertentu.

Waktu Bukan Alasan
Sekira sudah satu bulan lebih tiga hari masa pandemi covid-19 dan himbauan pemerintah untuk tetap di rumah saja. Hal ini menjadikan beberapa orang tentu mengalami kebosanan sehingga mereka mengisi hari-hari dengan hal yang berbeda dari biasanya. Ada yang memilih memasak, jogging pagi hari, membuat konten video bahkan membaca buku.

Membaca buku merupakan kegiatan pasif yang sangat berpengaruh dalam proses pembentukan kedamaian di rumah. Membuka lembar demi lembar halaman, memahami satu frasa dengan frasa yang lain, mencermati dan mengkritisi setiap bab demi bab kesemuanya adalah proses menuju kedewasaan berpikir. Dewasa dalam berpikir berdampak kepada laku jiwa dan raga yang baik. 

Proses kecintaan dengan buku minimal bisa dimulai dalam lingkup keluarga. Misalnya dengan orang tua mematri anak-anaknya untuk mencintai buku. Dekorasi rumah gemar membaca atau poster seruan membaca bahkan menjadikan rumah perpustakaan keluarga bisa saja dilakukan, sederhana saja anak mengenali sesuatu dengan knowing  (pengetahuan) setelah itu acting (praktik pengetahuan).

Di masa pandemi seperti ini dorongan membaca dari keluarga menjadi alasan penting demi tercapainya kesuksesan dalam minat baca buku. Bosan di rumah bukan alasan tidak bisa berbuat apapun, mulai dari keluarga untuk senantiasa membaca bisa menjadi alternatif mengisi kebosanan.

Semudah itukah? Iya membaca buku adalah  kegiatan paling mudah dan tidak membutuhkan biaya, cukup diam menikmati lembaran demi lembaran tulisan yang tersusun rapi.

Meningkatkan minat baca menjadi tanggung jawa bersama, dari membaca jendela dunia terbuka. Indonesia butuh orang cerdas dan bijak menyikapi persoalan bangsa, maka mulai bijak dan cerdas dengan membaca buku.

Selamat Hari Buku

Oleh : Muayyadah