Menjadi Kartini Sejati di Masa Pandemi

Oleh: Umi Zakiatun Nafis

Kesetaraan gender yang sering digaungkan berbagai komunitas memiliki pengaruh pada jumlah tenaga kerja perempuan di pasar tenaga kerja Indonesia. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik menyebutkan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Indonesia pada Februari 2019 sebanyak perempuan hanya 50,5 persen. 

Meski tidak sepenuhnya setara, tapi perempuan masa kini jauh berbeda dengan masa Era R.A Kartini. Batas langkah untuk beraktivitas keluar rumah jauh lebih luas. Di masa lampau, perempuan masih sangat terikat dengan nilai tradisional yang mengakar di masyarakat. Sehingga jika ada wanita yang berkarir untuk mengembangkan keahliannya di luar rumah, maka mereka dianggap telah melanggar tradisi sehingga mereka dikucilkan dari pergaulan masyarakat dan lingkungannya. 

Berbeda zaman sekarang banyak dari perempuan yang memilih untuk berkarir dan meninggalkan pekerjaan rumah tangga. Meski kedua hal tersebut bisa berjalan beriringan namun tak ayal jika salah satunya terbengkalai. Perempuan yang memilih berkarir tidak mulu hanya beralasan ingin memiliki uang sendiri. Bisa karena keadaan ekonomi keluarga yang mengharuskan ia memilih bekerja disamping menjalankan kewajibanya sebagai ibu rumah tangga. Negatifnya, seringkali perempuan berkarir berdampak pada perkembangan anak bahkan pada urusan rumah tangga. Kegagalan rumah tangga seringkali dikaitkan dengan kelalaian seorang istri dalam rumah tangga. Hal ini bisa terjadi apabila istri tidak memiliki keterampilan dalam mengurus rumah tangga, atau juga terlalu sibuk dalam berkarir, sehingga segala urusan rumah tangga terbengkalai.

Berbeda di masa pandemi Covid-19 ini, perempuan pekerja yang dirumahkan tentu  memiliki waktu lebih banyak untuk keluarga. Masa darurat ini memang tidak melulu dipandang negatif, apalagi sebagai perempuan harus bisa mengambil sisi positifnya. Tidak hanya perempuan yang sudah berumah tangga, namun juga bagi mereka yang masih muda justru harus punya gairah mengembangkan diri di masa sulit seperti ini. 

Himbauan di rumah saja bagi kita layaknya manusia yang sering beraktivitas di luar rumah memang bukan hal yang wajar. Tapi bagi R.A Kartini dulu, dirumah saja merupakan belenggu jeruji nya setiap hari dari ayahnya. Sejarah perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya berawal ketika ia yang berumur 12 tahun dilarang melanjutkan studinya setelah sebelumnya bersekolah di Europese Lagere School (ELS) di mana ia juga belajar bahasa Belanda. Larangan untuk Kartini mengejar cita-cita bersekolahnya muncul dari orang yang paling dekat dengannya, yaitu ayahnya sendiri. 

Ayahnya bersikeras Kartini harus tinggal di rumah karena usianya sudah mencapai 12 tahun, berarti ia sudah bisa dipingit. Keputusan ayahnya itu tidak menjadikan Kartini berdiam diri meratapi takdir. Ia terus belajar dan memperjuangkan hak emansipasi wanita kala itu.

Hingga Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Peringatan Hari Kartini tak melulu harus memakai kebaya yang merupakan pakaian tradisional perempuan Indonesia yang terbuat dari bahan tipis dan dikenakan dengan sarung, batik, atau songket.  Keadaan saat ini kita sedang dipingit oleh kondisi alam tentu tak ayal untuk tidak memeringati Hari Kartini. Metode sederhana memeringati Hari Kartini yakni dengan belajar dari kehidupan R.A Kartini ketika di rumah saja.

Bergelut dengan Literasi

Selama masa ia tinggal di rumah dan sebab kefasihan Kartini berbahasa serta pengetahuannya yang luas berkat banyak membaca, Kartini pun berhasil menulis banyak surat kepada sahabat-sahabatnya di banyak tempat. Kumpulan surat-suratnya itu (1879-1904) lantas diterbitkan menjadi sebuah buku lumayan tebal pada tahun 1911 yang diberi judul, “Door Duisternis tot Licht” (Habis gelap Terbitlah Terang).

Tidak menutup kemungkinan RA Kartini pandai menulis karena ia juga rajin membaca. Kartini banyak membaca surat kabar di Semarang. Kartini pun lantas kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Ini hal yang patut kita teladani.

Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar, Surat-Surat Cinta karya Multatuli. Ada juga De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi. Masih ada juga tulisan karya Augusta de Witt yang dibacanya. 

Kartini 16 tahun sudah menulis sebuah esai dengan memakai bahasa Belanda. Tulisannya adalah tentang “Upacara Perkawinan Pada Suku Koja.” Kemudian sekitar tiga tahun kemudian, tulisannya tentang seni Jepara, dalam bahasa Belanda juga diterbitkan di Bijdrage Voor Taal, land en Volkenkunde,sebuah jurnal ilmiah sangat bergengsi di Belanda. 

Kebiasaan membaca dan menulis RA Kartini tentu  bisa kita aplikasikan di masa pandemi ini. Mulailah dengan bacaan buku yang disukai dahulu sebelum membaca buku yang kategori berat pembahasanya. Beruntungnya masa pandemi ini berada pada kehidupan yang teknologinya sudah maju. Tidak perlu jauh-jauh ke toko buku untuk membeli buku, cukup cari di search engine kita bisa mendapat buku yang kita inginkan. Lebih mudah dibanding masa RA Kartini dulu. Patutnya kita bersyukur dengan cara meneladani kebiasaan membaca dan menulis RA Kartini.

Kartini Juga Memasak

Ketekunanya dalam menulis juga dipraktikan RA Kartini di dapur. Kepandaian memasak perempuan kelahiran Jepara itu terungkap dari buku biografi yang ditulis oleh Elisabeth Keesing berjudul "Hidup: Suratan dan Karya Kartini". Dalam buku setebal 226 halaman itu, Keesing menulis Kartini pandai dalam seni membatik, mengukir dan memasak.

Khusus di dunia kuliner, Kartini pernah menulis di beberapa suratnya bahwa dia sering mencoba berbagai resep makanan tradisional Jawa kesukaannya dan masakan khas Eropa. Resep tersebut kemudian dibukukan dalam beberapa jilid oleh adik Kartini, RA Kardinah.

Buku yang diberi judul "Lajang Panoentoen Bab Olah-Olah" terbit dalam huruf aksara Jawa pada tahun 1918. Ternyata, buku tersebut memperoleh banyak sambutan dan pujian. Salah satunya datang dari Ajun Inspektur Pendidikan Pribumi saat itu.

Sebagaimana perempuan, memasak adalah passion bagi mereka bahkan ada pula yang menjadikanya sebagai hobi. Meski sejatinya memasak adalah sebuah kebutuhan. Perempuan dan memasak memiliki kedekatan hubungan dalam keseharianya. Di masa sulitnya, lagi-lagi RA Kartini tetap saja produktif. Halnya di masa pandemi ini, banyak perempuan muda seusia saya yang keseharianya kuliah, sekolah, berorganisasi atau hangout ternyata mengubah kebiasaan mereka secara signifikan. Mereka lebih produktif berkreasi untuk membuat makanan. 
Kondisi seperti ini tidak melulu kita pandang sebagai paradigma negatif. Nilai positifnya justru membuat perempuan lebih produktif dengan meneladani RA Kartini kita bisa menjadi perempuan sejati di masa pandemi.