Serba Serbi Kuliah Online

PRC (Paradigma Riset Center), PARIST.ID - Menindaklanjuti surat edaran yang dikeluarkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Direktur Jendral Pendidikan Islam, dan gubernur Jawa Tengah, Rektor IAIN Kudus menerbitkan surat edaran sebagai dasar upaya peningkatan kewaspadaan terhadap pencegahan virus corona. Dengan memperhatikan kondisi darurat wabah corona saat ini, Rektor memutuskan untuk memperpanjang perkuliahan dengan sistem daring sampai akhir semester genap.

Selang beberapa minggu berjalan, pembelajaran daring ternyata menuai pro dan kontra dari mahasiswa. Pembelajaran daring mencakup perkuliahan, ujian tengah semster, ujuan akhir semester, serta tahap bimbingan skripsi dan tesis. 

Melihat kondisi tersebut, Tim Riset LPM Paradigma mengadakan survei tentang serba serbi pembelajaran daring. Berdasar pada polling yang dilakukan dengan 100 responden melalui penyebaran secara online. 

Keterbatasan ruang dan waktu menjadikan beberapa dosen juga berusaha mencari metode pembelajaran yang sesuai kondisi. Materi yang disampaikan selain berbasis tulisan juga bentuk video yang kadang masih membingungkan. Sebanyak 47% responden  menyatakan penjelasan dari dosen susah dipahami mahasiswa, 38% mahasiswa memahami, 6% sangat paham penjelasan dari dosen, dan 9% mahasiswa sangat tidak paham. 

Berdasar pada hal itu, banyak varian metode yang digunakan oleh dosen dalam pembelajaranya. Namun, 51% mahasiwa menyatakan sangat setuju dosen harus memperbaharui metode yang digunakan dalam kuliah daring, 45% menyatakan setuju, dan hanya 4% yang tidak setuju.

Metode pembelajaran daring yang diterapkan dosen memang bervarian dengan menyesuaikan mata kuliah dan kondisi mahasiswa. Sebanyak 20% mahasiswa  menyatakan pembelajaran online hanya dengan presentasi, sebanyak 7% menyatakan dosen hanya memberi tugas, 2% mahasiswa hanya diberj materi dan 71% menyatakan pembelajaran online dengan gabungan dari ketiga model tersebut.

Sementara itu, berbagai media menjadi alternatif keberlangsungan kuliah online termasuk aplikasi whatsapp yang menjadi dominan digunakan mahasiswa dan dosen yakni sebanyak 62% mahasiswa  dan video converence sebagai media yang paling efektif digunakan dalam pembelajaran daring, sebanyak 29% mahasiswa memilih google classroom, 6% aplikasi zoom dan 3% schoology. 

Bermaksud meringankan beban mahasiswa selama kuliah daring (online), Pihak TIPD IAIN kudus memberikan pelayanan dengan memanfaatkan virtual classroom. Bekerja sama dengan provider Indosat, TIPD mengeluarkan program kuota gratis untuk menunjang perkuliahan secara daring.

Namun, melihat hasil survei yang ada ternyata hanya 4% mahasiwa yang menyatakan sangat setuju classroom IAIN Kudus dapat memenuhi kebutuhan pembelajaran. Sebanuak 37% mahasiswa menyatakan setuju, 48% tidak setuju, dan 11% mahasiswa menyatakan sangat tidak setuju. 

Tidak jauh berbeda, sebesar 35% mahasiswa menyatakan kuota gratis yang difasilitasi kampus tidak membantu meringankan mahasiswa, sebesar 23% mahasiswa menyatakan sangat tidak membantu, 29% mahasiwa menyatakan membantu, dan sebesar 13% mahasiswa menyatakan sangat membantu.

Selain itu, banyak mahasiswa yang mengeluhkan adanya perkuliahan online karena terkendala oleh berbagai hal. Berdasarkan hasil survei, terlihat sebanyak 47% mahasiswa menyatakan terkendala oleh sinyal, sebanyak 30% mahasiswa terkendala kuota, 17% terkendala oleh pekerjaan rumah, dan 6% mahasiswa menyatakan terkendala oleh urusan lainnya.

Selama perkuliahan online, dilihat dari hasil responden mahasiswa, ternyata sebesar 48% mahasiswa menyatakan diskusi kelas sebagai hal yang paling dirindukan dari kampus. sebesar 47% mahasiswa merindukan teman, 3% dosen dan 2% merindukan pacar dan mantan. Tim Riset LPM Paradigma

Selamat menjalankan kuliah daring. Stay healthy 😊