Iklan

Dari Limbah Kayu Hingga Mebel Bermutu

parist  id
Senin, Desember 21, 2020 | 22:23 WIB


PATI, PARIST.ID- Ribuan puing-puing kayu yang tersusun ala kadarnya menghiasi pekarangan rumah Lasmin (40), warga Desa Karangrejo Lor, Jakenan, Pati. Suara bising terdengar dari alat pengais kayu milik Lasmin. Mengenakan kaos panjang dan bercelana pendek, dengan perlahan ia berupaya memotong satu demi satu puing-puing kayu menggunakan alatnya. Agar rapi dan tak bergerigi katanya.

Lek min, sapaan akrab Lasmin, merupakan seorang pengrajin mebel kayu satu-satunya di Desa Karangrejo. Namun, ada yang berbeda dari kerajinan buatan Lek min ini. Puing-puing kayu yang terlihat di depan rumahnya merupakan limbah dari pabrik yang disulapnya menjadi barang-barang rumah tangga seperti bangku, meja, pagar, almari, jemuran lipat, hiasan dinding, rak bunga hingga rak tv. “Barang yang dibuang menjadi peluang untuk saya”, katanya kepada Parist.id pada Minggu, (20/12).

Dengan menggunakan kreativitas tangan dan sedikit memainkan otak, barang yang semula berupa puing-puing berubah menjadi kerajinan mebel berdaya saing. Unik dan menarik. Meskipun terkesan sederhana, kualitasnya sangat terjamin.

Rizky Lumintu menjadi nama usaha Lek Min. Dengan nama rizky lumintu, usaha yang dirintis bersama sang istri ini berharap agar membuahkan rezeki yang mengalir secara terus-menerus. Rizky yang berarti rezeki, sedang Lumintu berasal dari bahasa jawa yang berarti mengalir, Amiin,” ujar Lek Min.

Dengan modal terbatas, ia gunakan untuk membeli kayu limbah sebanyak satu truk sebagai bahan dasarnya beserta alat-alat pengais kayu. Ada bermacam-macam kayu yang dapat digunakan untuk membuat perabotan rumah. Di antara jenis kayu yang digunakan Lek Min seperti kruing, bengkirai, meranti dan meranti batu. Namun, dari beberapa jenis kayu tersebut yang paling sering digunakan adalah jenis kruing. Selain murah, kualitas kayu kruing lebih bagus dan tidak gampang pecah serta mempunyai warna yang lebih bagus dibandingkan dengan jenis kayu lainnya,” paparnya.

Dalam satu hari Lek Min mampu menghasilkan karya perabot bangku 7, pagar sebanyak 25 hingga 35 jenis. Pembuatannya juga disesuaikan dengan permintaan pesanan dari pelanggan. Ia rela kerja dari pagi ke pagi lagi.  Namun, hal itu tidak membuat semangatnya goyah. Bahkan ia bersyukur jika ada banyak pesanan datang.

Setiap kerajinan yang dihasilkan memiliki kualitas dan harga masing-masing. Mulai dari 100-200 ribu sesuai pesanan. “Semua harga tidak sama tergantung ukuran dan kebutuhan konsumen, harganya ngikut, jelasnya.

Sistem penjualannya selain menggunakan jasa reseller, Lek Min juga memasang baliho di jalan raya. Selain itu, agar lebih mudah jangkauan pemesanan luar daerah Lek Min juga memanfaatkan media sosial seperti Facebook untuk pemasaran online. Dari situlah banyak pesanan masuk yang berasal dari luar daerah seperti Pati Kota, Rembang, Demak bahkan Kudus.

Dari Nol

Usaha yang dirintis sejak tahun 2017 ini memang dimulai dari nol oleh Lek Min dan istri. Hal tersebut pun sudah membawa perubahan bagi kehidupan keluarganya. Lek Min yang dulunya hanya karyawan salah satu perusahaan di bidang yang sama memutuskan untuk berhenti dan membangun usaha sendiri bersama istrinya. “Usaha yang berdasarkan kemampuan saya sendiri seperti inilah yang saya idam-idamkan sejak kecil,” tuturnya sambil memaku pagar pesanan pelanggan.

Kemampuan yang sudah dimiliki sebagai tukang kayu dan juga mempunyai pengalaman kerja masa lalu menjadikan pekerjaan tersebut suatu hobi bagi bapak beranak dua ini. Menurutnya, bekerja berdasarkan hobi itu suatu saat sampai kapan pun tidak akan pernah bosan, apalagi usaha milik diri sendiri. “Bekerja ya monggo tidak ya monggo, bekerja sendiri itu tidak ada tekanan, jadi lebih enak dan menyenangkan dalam menyelesaikannya,” kata Lek Min.

Berdasarkan wawancara bersama istrinya, Eny Sumiah (38), ia memaparkan bahwa tidak mudah membuka usaha dengan modal terbatas. Selain itu, karena baru pertama kali buka tentu dalam mencari pelanggan pun kesusahan. “Tantangannya itu mencari pedagang yang mau diajak kerja sama menjualkan kembali barang dari kami”, tambahnya.

Meskipun begitu, ia tetap semangat merintis usaha dari nol bersama suami. Ia pun berharap agar usahanya bisa menjadi inspirasi anak muda sekarang, agar tetap semangat untuk berinovasi di bidang usaha apapun.  “Kalau tidak dimulai dan gampang menyerah ya bakal bergantung terus.” kata istri Lek Min mengakhiri obrolan.  (Rodhi)

                                                                              

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dari Limbah Kayu Hingga Mebel Bermutu

Trending Now

Iklan