Iklan

Lelana Walking Tour, Bernostalgia Bareng Menyisir Desa Langgardalem

parist  id
Selasa, Maret 16, 2021 | 13:45 WIB

UNIK: Nova sedang menjelaskan keunikan yang ada di Masjid Langgardalem (Foto: Muna/Paragraph)

Kudus, parist.id – Desa Langgardalem memiliki keunikan tersendiri dibanding desa-desa lainnya di kota Kudus. Lewat Lelana Walking Tour, Rahmat Hidayat Mengajak masyarakat untuk bertualang sambil bernostalgia menyusuri desa Langgar Dalem.

Desa Langgardalem terletak di Kudus Kulon, tepatnya di kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Ahad pagi yang cerah (14/03), kami memutuskan untuk bergabung dengan peserta Lelana Walking Tour setelah menghubungi perintis Lelana, Rahmat Hidayat.

Ada sekitar 20 orang yang mengikuti kegiatan ini, selain dari Kudus juga ada beberapa peserta yang  berasal dari luar Kudus, seperti  Pati, Jepara, Solo, dan Pekalongan. Taman Menara menjadi titik kumpul kami sebelum melakukan perjalanan.

Sebelum mlaku-mlaku, –sebutan untuk orang yang berkeliling dengan jalan kaki- Rahmat Hidayat mengawali dengan do’a dan memberikan sedikit pengenalan tentang Lelana. Kata Rahmat, Lelana diambil dari nama Bupati Kudus pada abad ke-19 yaitu Kanjeng Raden Adipati Tjondronegoro V yang memiliki nama samaran Raden Mas Arya Purwa Lelana. Selain sebagai adipati beliau juga merupakan seorang penjelajah.

“Lelana itu artinya berkelana atau berpetualang, maka tak heran jika Tjondronegoro V merupakan Ibnu Batutah-nya orang Jawa karena beliau menjelajah pulau jawa dari ujung barat ke ujung timur,” jelas Hidayat membuka kegiatan pagi itu.

Bersama rekannya, Nova, Hidayat memandu perjalanan kami pagi itu. Ada beberapa titik tempat yang akan dikunjungi, dengan tujuan awal adalah klenteng Hok Ling Bio yang berada di timur taman menara. Dibandingkan dengan dua klenteng lain di Kudus yaitu klenteng Hok Hien Bio di Jalan Jendral Ahmad Yani dan klenteng Hok Tik Bio di Jalan Tanjung Karang, klenteng Hok Ling Bio memiliki keunikan karena keberadaanya yang dekat dengan Menara Kudus dengan mayoritas masyarakat sekitar beragama Islam.

Perjalanan berikutnya ialah menyusuri Jalan Madurekso. Dari jalan ini tampak bangunan menyerupai candi yang tersusun rapi dari batu bata merah yaitu Menara Kudus. Nova memperlihatkan gambar-gambar jalanan sekitar Menara dari masa ke masa, tentunya banyak perubahan dengan kondisi yang sekarang. Apalagi di salah satu foto tampak orang-orang Belanda berdiri di bawah Menara.

“Foto ini menandakan bahwa orang-orang Belanda juga tertarik dengan bangunan Menara Kudus yang mana arsitekturnya menyerupai candi,” terang Nova sambil menunjuk salah satu foto.

 

 Pabrik Rokok

Memasuki jalan kecil, panas begitu menyengat tak melunturkan semangat kami untuk mubeng (Berkeliling/Red) desa Langgardalem. Suasana yang tenang tanpa lalu lalang banyak orang membuat kami ikut merasakan hawa yang berbeda dari jalan sebelumnya yang ramai teriakan tukang becak, ojek dan rombongan peziarah makam Sunan Kudus. ‘Ayem tentrem ing Langgardalem’ begitulah kiranya kami menggambarkan.

Kami melewati beberapa bangunan bekas pabrik rokok, salah satunya pabrik rokok milik H. Moeslih yang merupakan salah satu saudagar rokok terkaya selain Niti Semito. Bangunan rumah dan pabrik milik H. Moeslih cukup modern saat itu, bentuk bangunannya tidak rapi karena beliau membeli rumah-rumah tetangga untuk dijadikan pabrik.

Kota Kudus memang sangat identik dengan rokok, selain banyak berdiri pabrik rokok, Kudus juga menjadi tempat cikal bakal terciptanya rokok kretek. Oleh karenanya Kudus dijuluki dengan nama kota Kretek.

“Saat memasuki gerbang kota Kudus waktu itu, maka akan tercium aroma cengkeh bercampur tembakau yang keduanya adalah bahan dasar pembuatan rokok,” ungkap Hidayat kepada peserta Lelana.

 

 Cagar Budaya Tersembunyi

Langkah kami terus berlanjut menyusuri jalan setapak yang kaya akan sejarah, budaya dan juga warisan masyarakat Langgardalem. Silih berganti, Nova dan Rahmat memaparkan bagaimana keunikan masjid yang ada di sana. Ada beberapa langgar kuno yang disinyalir didirikan semasa hidup Sunan Kudus yaitu Masjid Langgardalem, Masjid An-Nur dan Masjid Kalinyamat. Ketiganya memiliki seni arsitektur yang unik dan masih dipertahankan hingga sekarang, kecuali Masjid Kalinyamat yang saat ini sedang menjalani renovasi besar-besaran.

“Langgar (masjid/Red) ini didirikan ketika Ratu Kalinyamat meminta keadilan kepada Kanjeng Sunan Kudus atas terbunuhnya Sultan Hadirin yang tak lain adalah suami dari Ratu Kalinyamat. Tempat ini menjadi tempat peristirahatan Ratu kalinyamat kala itu. Sangat disayangkan, bangunan asli Masjid ini sudah dihancurkan,” ungkap Nova yang tepat berada di depan langgar.

Selain langgar, banyak rumah kuno masyarakat Langgardalem yang masih berarsitektur Adat Kudus yang kami temui. Bahkan salah satu rumah sudah berusia lebih dari 200 tahun. Rumah adat Kudus tidak jauh berbeda dengan rumah Joglo pada umumnya, yang membedakan adalah pembagian ruangan, letak kamar mandi, dan ukir-ukiran yang ada di dalamnya. Bangunan pokoknya berupa bentuk joglo, atapnya berbentuk pencu dengan tritisan bagian depan dan belakang.

Saat berada di halaman depan rumah tampak sebuah sumur dan dua bilik kamar mandi. Masyarakat menyebutnya Sumur Pakiwan (kiwa:kiri)karena memang berada di bagian sebelah kiri rumah. Sumur ini difungsikan masyarakat untuk membersihkan diri sebelum memasuki rumah selepas bepergian.

Satu lagi peninggalan tertua di desa Langgardalem yaitu sumur Puter. Berdasarkan laporan Knebel, pegawai Belanda yang ditugaskan mendata peninggalan arkeologi tahun 1910, Sumur Puter adalah pondasi satu-satunya yang dibangun pada masa Sunan Kudus dengan bentuk pondasi segi delapan dan lebar bukaan setengah meter. Sayangnya kami tidak bisa menengok langsung pondasi sumur karena akses jalan yang sulit dilalui.

“Seperti inilah kondisinya, tidak terawat dan dipenuhi semak belukar,” ucap Nova di depan pintu masuk sembari menunjukkan keberadaan sumur yang tertutup oleh tumbuhan liar. 

Lokasi terakhir yang kami singgahi bersama Lelana Walking Tour ialah Omah Batik Ku, di sana kami diperlihatkan bagaimana proses membatik dari pembuatan pola, mencanting (penutupan dengan malam), pewarnaan dan penjemuran. Proses pembuatan cukup lama yaitu satu helai kain batik dapat memakan waktu hingga tiga bulan.

Nunung, peserta Lelana dari Pekalongan mengungkapkan kesenangannya setelah mengikuti kegiatan ini untuk kali pertama. Lelana Walking Tour mengajak untuk belajar dan mengenal warisan budaya dan peradaban masyarakat Kudus kulon yang mungkin belum diketahui pribumi Kudus sendiri.

“Awalnya lihat postingan di Instagram acara Lelana Walking Tour, kelihatannya asyik jadi ingin ikut. Dan ternyata betul, memang asyik,” ungkapnya Nunung. (Muna/Mirna)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Lelana Walking Tour, Bernostalgia Bareng Menyisir Desa Langgardalem

Trending Now

Iklan