Iklan

Tari Bun Ya Ho, Tari Sufi Khas Megawon yang Menyeru Pada Kebaikan

parist  id
Jumat, Maret 26, 2021 | 18:46 WIB

Foto: Istimewa/dokumen Pemerintah desa Megawon


Kudus, parist.id – Tari
Bun Ya Ho merupakan tari kreasi khas dari desa Megawon, Jati, Kudus. Tari yang mengandung arti mengajak masyarakat melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar. Berbekal makna tersebut, tari Bun Ya Ho seakan mengajak masyarakat bangkit menuju perubahan kebaikan dunia dan akhirat.

Pagi itu, Jum’at (19/03/21) pukul 10.00 WIB kami berangkat dari aula TPQ Al Ma’roef, Ngembal, Bae Kudus menuju Balai Desa Megawon, Kudus untuk menemui Zaenuri. Berbekal sepeda motor, hanya butuh sepuluh menit untuk mengantarkan kami ke lokasi tujuan.

Zaenuri (46), Kepala Urusan Perencanaan desa Megawon yang sudah dihubungi tempo hari menyambut kami dengan sumringah. Setelah memperkenalkan diri, kami pun menyampaikan maksud kedatangan kami untuk menggali informasi tentang Tari Bun Ya Ho yang belum diketahui banyak orang.

“Tari Bun Ya Ho adalah tari kreasi khas dari Megawon,“ kata Zaenuri membuka obrolan. Dengan cakap ia menjelaskan asal usul kata Bun Ya Ho yang diambil dari bahasa arab. Kata bun diambil dari kata bana yang mempunyai  arti bangkitlah atau bangunlah. Lalu kata ya berarti wahai atau hai, dan ho dari kata khaira berarti kebaikan. Sehingga tari Bun Ya Ho ini mengandung arti untuk mengajak amar ma’ruf nahi mungkar.

Zaenuri melanjutkan, asal muasal tari ini dibawa oleh seorang ulama bernama kiai Abdul Jalil pada tahun 1950. Sosok yang akrab disapa M. Tamzid. Beliau memperkenalkan tari Bun Ya Ho ketika Islam di desa Megawon masih sangat minim.

“Hanya beberapa rumah yang sifatnya agamis dan sisanya masyarakat abangan,” ujar Zaenuri dengan nada santai.

Tari Bun Ya Ho dimainkan oleh 20 orang perempuan yang terbagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama berperan sebagai pengajak kebaikan dan kelompok kedua sebagai kelompok yang diperangi. Dari data yang ditunjukkan Zaenuri, tari ini mempunyai ciri khas lima orang menaiki kendi sambil menari

“Setiap penari dituntut untuk menjaga keseimbangan, lima orang ini memiliki makna lima rukun islam, shalat fardhu dan tombo ati,” paparnya.

Tari ini juga dikolaborasikan dengan alunan terbang papat sejumlah 10-15 laki-laki, Terdiri dari empat penabuh terbang, satu penabuh jidur, dan selebihnya sebagai vokalis. Selain itu, terdapat dua orang sebagai pembaca do’a di akhir tari.

Saat dihubungi secara terpisah, Erwin Anjastuti, ketua pelatih tari Bun Ya Ho memaparkan alur cerita dalam tarian tersebut. Erwin menjelaskan bahwa setiap kelompok mempunyai peran yang berbeda-beda.

“Kelompok pertama memiliki peran menyeru kebaikan, sedangkan kelompok kedua sebagai tim perang menggambarkan kondisi masyarakat yang bobrok (rusak –red),” jelasnya.

Di akhir cerita, kedua kelompok dapat bersatu dengan mengajak kebaikan amar ma’ruf nahi mungkar. Lalu, ditutup dengan pertunjukan menaiki kendi tanpa menimbulkan kendi terpecah.

“Maknanya kita harus menjaga keseimbangan dunia maupun akhirat dan pengendalian diri terhadap hal-hal maksiat. Di samping itu, menaiki kendi sebagai pertunjukan atraksi yang menarik perhatian penonton,” ungkap Erwin.

Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP. PKK) desa Megawon itu juga menyampaikan bahwa tari ini berlangsung dengan diiringi oleh terbang papat dan ditutup dengan doa sapu jagat oleh dua laki-laki. Tujuannya adalah untuk memanjatkan doa keselamatan dan kemakmuran di Desa Megawon.

Semua penari bergandengan tangan mengelilingi gunungan lanang, dan gunungan wadon yang isinya masing-masing wilayah sebagai simbol kemakmuran,” sambung Erwin.

Pertunjukan tari Bun Ya Ho biasanya dimainkan saat hari-hari besar Islam seperti hari maulid nabi, isra mikraj, maupun hari nasional. Meskipun sebelumnya hanya dimainkan di masjid saja, kini pertunjukan seni ini dimainkan saat acara aqiqahan, pernikahan, khitanan, dan acara lainnya.

Jadi, prosesi Apitan dan tarian Bun Ya Ho tidak bisa dipisahkan dalam tradisi Apitan,” pungkasnya.

Saat ini peminat tari Bun Ya Ho semakin sedikit karena hanya digandrungi oleh kaum perempuan saja. Sehingga, pemerintah berencana untuk menggandeng kembali para kaum remaja pria dengan membangun grup penari Bun Ya Ho laki-laki. Keberadaan tari Bun Ya Ho yang baru eksis dengan generasi sedikit membuat pemerintah desa Megawon tidak ingin kehilangan lagi warisan budaya yang tak ternilai.

Oleh karena itu, masyarakat desa akan terus melestarikan tari ini sampai anak cucu nanti dengan cara usaha dan mengadakan pelatihan tari tersebut.

Baik Erwin maupun Zaenuri sama-sama berharap tari ini terus dilesrtarikan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. “Bun Ya Ho merupakan warisan budaya yang tidak ternilai dan tidak bisa dihargai dengan uang, dan tidak semua desa mempunyai tari, Mbak,” tegas Zaenuri. (Alfia, Rina/Magang)


 


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tari Bun Ya Ho, Tari Sufi Khas Megawon yang Menyeru Pada Kebaikan

Trending Now

Iklan