Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Prasah, Tradisi Seserahan Khas Desa Sidigede Jepara

parist  id
Kamis, Juni 17, 2021 | 13:22 WIB
BRACUT: Tukang bracut memegangi tali yang diikatkan pada kerbau dalam tradisi Prasah di desa Sidigede, Jepara. (Foto: www.picuki.com)

Jepara, parist.id - Adat pernikahan di Jepara memang terkenal mahal. Bukan hanya karena gengsi atau kemewahan semata, terkadang ada desa yang menjalankan tradisi yang secara turun-temurun hanya berlangsung pada prosesi pernikahan. Salah satu tradisi tersebut adalah Prasah, tradisi seserahan yang hanya ada di desa Sidigede.

Prasah ini terkenal mahal karena tidak sembarang orang bisa melakukannya. Hanya dari kalangan tertentu dan merasa mampu yang tetap melestarikannya. Pada tradisi Prasah ini, mempelai putra harus memberikan kerbau kepada keluarga mempelai putri sebagai bentuk seserahan atau hantaran. 

Pagi itu, sekitar pukul 10.00 WIB (15/06/2021), kami bertiga berkumpul di depan gapuro desa Jerukwangi, Jepara. Mengendarai motor masing-masing, pagi itu kami sudah membuat janji untuk menemui Amin Ma’ruf, salah satu perangkat desa di Sidigede.

Kami pun diajak ke rumahnya, di teras depan rumah yang penuh tanaman hias kami memulai pembicaraan. Setelah memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud tujuan, perbincangan mulai mengalir dan disambut baik oleh Amin.

Berbicara dengan nada yang santai, Amin mulai menceritakan asal muasal tradisi Prasah ini. Kepada kami, ia menceritakan bahwa Prasah adalah tradisi turun-temurun yang ada di desa Sidigede. Konon, tradisi Prasah terinspirasi dari cerita Joko Tingkir yang ingin meminang kekasihnya. Sebagai syarat, Joko Tingkir harus menaklukkan kerbau sebagai bukti cintanya kepada putri kerajaan Demak saat itu. 

“Saya akui mas, masyarakat desa Sidigede ini memang punya rasa kepercayaan diri yang tinggi. Dan ketika mereka sanggup memberikan Prasah ini, mereka merasa bangga,” ucap Amin di teras depan rumahnya.

Selain itu, Amin juga menyampaikan bahwa kerbau yang dipilih juga tidak asal-asalan. Kerbaunya harus yang besar, gagah, dan kelihatan berisi. Untuk harga kerbau yang digunakan untuk Prasah bisa mencapai 40 – 50 juta rupiah.

“Harga kerbaunya minimal 40 ke atas, itu yang paling murah, belum lagi hantarannya berupa almari dan sebagainya,” kata sekretariat desa Sidigede tersebut.

Memang tidak dapat dipungkiri, untuk menjalankan tradisi Prasah ini memerlukan biaya yang mahal. Sehingga tidak semua warga desa Sidigede mampu melakukannya. Salah satu keluarga yang masih melestarikannya sampai sekarang adalah dari keluarga Mbah Simin. Dari dulu, keluarga ini memang terkenal juragan kerbau dan selalu menjalankan tradisi Prasah ketika anaknya menikah.

“Lebih ke hobi, sih, Mas, semakin tinggi kebanggaannya jika sudah menjalankan tradisi Prasah ini. Dan ini tidak ada unsur paksaannya kok, murni dari keluarga itu sendiri,” terang Amin sambil mengingat-ingat tradisi ini.

Untuk menjalankan tradisi ini, kerbau yang disiapkan harus dicancang terlebih dahulu. Pada malam harinya, kerbau juga perlu dibacakan doa-doa. Hal ini bertujuan agar pada saat acara kerbau tidak mengamuk.

“Pagi harinya kerbau siap dicancang dan dipatok, dengan kaki dan lehernya diberi tali bercabang-cabang untuk pegangan,” sambungnya.

Prosesi Prasah ini harus dikemudikan oleh orang-orang yang berpengalaman. Dengan tim yang berjumlah sekitar 15 – 30 orang, masing-masing orang berperan memegangi tali yang sudah dikaitkan di kerbau tersebut. Orang-orang ini sering disebut tukang bracut oleh warga sana. 

“Terkadang kalau orang bracutnya kewalahan bisa sampai kepancal dan cidera, sedangkan masyarakat yang menyaksikan ikut-ikutan melempari kerbau mulai perjalanan sampai di lokasi,” ujarnya mengingat tradisi Prasah ini.  

Tradisi ini memang menarik bagi masyarakat, karena sampai sekarang hanya dijalankan di desa Sidigede. Meskipun pandemi, tradisi ini tetap dijalankan meskipun dengan cara yang lebih sederhana. 

“Tidak terpengaruh pandemi, Mas. Kemarin ada dua kali perayaan Prasah ini. Ya memang karena hanya kalangan tertentu saja yang menjalankan, itupun dilakukan secara sederhana, kalau dulu kan ada drum band, barongsai, arak-arakan. Kalau sekarang yang penting bisa mengurangi kerumunan dan yang penting acaranya tetap berjalan,” terangnya. 

Amin berharap tradisi seperti ini tetap dilestarikan, terlebih bisa dikemas dengan lebih rasional karena sudah menjadi ciri khas desa Sidigede. (Tyas,Santi,Hasim)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Prasah, Tradisi Seserahan Khas Desa Sidigede Jepara

Trending Now