Jalin Silaturahim Melalui Permainan Tradisional

 
KUDUS, PARIST.ID – Sebagai upaya menjalin silaturrahim antar anggota, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlotul Ulama (IPNU) - Ikatan Pelajar Putri Nahdlotul Ulama (IPPNU) Kudus menggelar Festival Dolanan Tradisional di lapangan Desa Rendeng Kecamatan Kota, Jumat (10/3/2017). Festival tersebut menyelenggarakan lomba permainan tradisional yang diikuti oleh delapan PAC IPNU-IPPNU se-Kabupaten Kudus. Jenis-jenis lomba yang ada yakni gobak sodor, bakiak dan satu langkah satu tujuan. Ketiganya merupakan permainan yang mengutamakan kekompakan. 

Anggota pelajar putri NU terlihat bergembira saat ia berjalan dengan bakiak di lapangan Desa Rendeng Kecamatan Bae. Bakiak adalah salah satu permainan tradisional yang perlu dilestarikan. Foto: Salim/Paragraphphoto
Menurut Wahyu Saputra selaku Ketua PC IPNU Kudus, semakin majunya perkembangan zaman, permainan-permainan tradisional yang ada di daerah semakin hilang eksistensinya. Salah satunya adalah Kabupaten Kudus yang dirasa masyarakatnya sudah tidak mengenal lagi permainan tersebut. Ia menambahkan bahwa permainan tradisional ini merupakan budaya lokal yang harus dikenalkan ke remaja maupun masyarakat umum. 

“Tujuannya supaya mereka mau dan akan melestarikannya agar tidak punah,” ungkapnya.

Disamping itu, acara seperti ini menambah keakraban dan keharmonisan antar anggota IPNU-IPPNU. Kebanyakan remaja sekarang lebih suka permainan yang ada di handphone. Sehingga interaksi sosial mereka kurang. 

Hal yang sama juga disampaikan oleh Sayful Huda (22) selaku ketua panitia. Ia mengatakan bahwa banyak remaja sekarang meninggalkan budaya tradisional termasuk permainan tradisional. Mereka hanya bergelut dengan dunianya sendiri melalui gadgetnya masing-masing.
“Melalui permainan ini diharapkan jiwa sosial pelajar IPNU-IPPNU akan tumbuh,” ungkapnya. 

Hery Setyawan (20) salah satu peserta merasa permaian ini mengingatkannya pada masa lalu. Mungkin jika tidak dikenalkan kepada masyarakat sekarang, lanjut Hery, permainan tradisional ini akan musnah tergerus permaian modern.

“Biar anak-anak sekarang lebih mengenal permainan dulu,” pungkasnya. (Lim/ Lam)