Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Manuskrip Al-Qur'an Nomor 9 Museum Masjid Agung Demak

parist  id
Sabtu, Juni 08, 2024 | 16:26 WIB
Sumber: telusuri.id

Sejarah kejayaan Islam Jawa di masa lalu bukan dongeng kosong, melainkan nyata adanya sebagai fakta sejarah. Bukti yang menyatakan keberhasilan dakwah walisongo salah satunya adalah Masjid Agung Demak. Masjid Agung Demak sudah umum diketahui sebagai peninggalan bersejarah yang didirikan oleh Raden Patah dengan bantuan Walisongo tepatnya di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Hal ini dibuktikan dengan koleksi Sokoguru empat, yang terdiri dari sokoguru Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati dan Sunan Ampel. Selain menjadi pusat aktivitas keagamaan, Masjid Agung Demak juga sering dijadikan kajian observasi oleh para peneliti sebab di museum Masjid Agung Demak menyimpan koleksi mushaf Al-Qur’an kuno yang menarik untuk dikaji.

Museum Masjid Agung Demak menyimpan sekitar 14 peninggalan mushaf Al-Qur’an kuno yang menurut Ali Akbar dalam catatan spesifikasi mushaf merupakan wakaf dari masyarakat (Mushaf Kuno Nusantara Jawa, 2019). Koleksi mushaf kuno di Museum Masjid Agung Demak terlindungi oleh kaca etalase, pengunjung hanya dapat melihat dan mengamati dari permukaan. Hal ini dilakukan atas dasar pemeliharaan otentitas dan hanya bisa diakses pada kesempatan tertentu. Satu mushaf yang mencuri perhatian pengunjung museum koleksi mushaf kuno adalah mushaf Al-Qur’an 9 sebagaimana tertera pada label etalase.

Manuskrip yang telah lama diarsipkan ini memiliki kode nomor DK- MAD/MMAD.9/AQ/2023 dan merupakan salah satu koleksi berharga di bawah pengelolaan Takmir Masjid Agung Demak. Manuskrip ini ditulis di atas kertas Eropa, dengan ukuran naskah 33 x 20,5 cm dan ukuran teks 22,5 x 12 cm. Meskipun beberapa bagian naskah hilang dan pinggir naskah bergeripis serta ada lembaran yang berlubang, teks masih dapat terbaca dengan baik. Sampul naskah terbuat dari kulit yang masih utuh, menunjukkan ketahanan bahan yang digunakan pada masanya. Di dalamnya terdapat 680 halaman yang setiap halaman berisi 15 baris teks. Tidak ada penomoran halaman, namun terdapat kata alihan yang memudahkan pembacaan, ditulis menggunakan tinta hitam untuk teks dan merah untuk kepala surah, awal juz, tanda tajwid, catatan pias, dan lingkaran akhir ayat, menunjukkan variasi dalam penulisannya. Meskipun jenis khat tidak diketahui, adanya illuminasi menambah keindahan visual naskah ini.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Manuskrip ini merupakan salinan Al-Qur'an, dimulai dengan "Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillāhirabbil 'alamin", menandakan bahwa penulisan dilakukan melalui tartib mushafi, yaitu susunan dengan mengikuti urutan mushaf Utsmani dan diakhiri dengan "wamraatuhu hammalata..." yang merupakan bagian terakhir surah Al-Masad. Di bagian depan mushaf terdapat penggalan catatan samar dalam huruf Jawa, yang berbunyi, “Punika Qur‘an kagunganipun Raden Ayu …dirja tahun Welandi 1783. Kaparingaken Rahaden Bagus Prawata. Nalika dipunparingake tahun Welandi [?], yang berarti Qur’an ini milik Raden Ajeng …dirja tahun Belanda 1783. Diberikan oleh Rahaden Bagus Prawata. Ketika diberikan dalam Tahun Belanda (RI, 2019). Watermark dan countermark yang tertulis pada kertas, menunjukkan ciri khas kertas Eropa yang digunakan. Sebagian dari Surat Al-Baqarah tidak termuat dalam mushaf, artinya ada bagian yang hilang pada koleksi ini. Tidak diketahui jenis khat saat penulisan, adanya illuminasi menambah keindahan visual naskah ini. Menurut Ali Akbar, iluminasi yang ada dinilai bagian dari mushaf yang lain ditempelkan ke mushaf ini, sebab terlihat perbedaan cirinya. Meski demikian naskah ini tetap memiliki nilai historis dan religius yang tinggi.

Manuskrip Al-Qur'an yang disimpan di Museum Masjid Agung Demak ini bukan hanya sebuah teks keagamaan, tetapi juga sebuah artefak budaya yang berharga. Kondisi fisiknya yang masih relatif baik, meskipun ada beberapa kerusakan, menunjukkan kualitas material yang digunakan serta ketelitian dalam penyimpanannya. Manuskrip ini adalah bukti nyata dari dedikasi dan ketekunan para penulis dan penyalin Al-Qur'an di masa lalu, serta mencerminkan pentingnya warisan tulisan tangan dalam tradisi Islam.

Museum Masjid Agung Demak terus menjaga dan merawat manuskrip ini sebagai bagian dari warisan budaya dan keagamaan. Melalui perawatan yang teliti, diharapkan manuskrip ini dapat tetap lestari dan menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi generasi mendatang.

Kesimpulan

Manuskrip Al-Qur'an di Museum Masjid Agung Demak adalah salah satu peninggalan berharga yang memberikan kita wawasan tentang sejarah Islam di Indonesia, sekaligus menjadi bukti eksistensi dakwah Islam oleh kesultanan Demak di masa lalu. Dengan segala kekurangan fisiknya, naskah ini tetap menjadi simbol keteguhan dan kekayaan budaya yang tak ternilai harganya.

Ditulis oleh Muhamad Ulil Albab (Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Kudus)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Manuskrip Al-Qur'an Nomor 9 Museum Masjid Agung Demak

Trending Now