Valentine Dalam Perspektif Islam dan Psikologi

PARIST.ID, KAMPUS - Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus menggelar seminar tentang Valentine dalam perspektif Islam dan psikologi. Acara ini dibuka oleh Waket III Abdurrahman Kasdi pada Kamis (22/2/2018) di aula rektorat lantai tiga kampus STAIN Kudus. 

Hadir dalam kesempatan tersebut, Farida, narasumber pertama yang juga dosen psikologi, Nur mahmudah narasumber kedua selaku dosen Ulumul Hadits STAIN Kudus, tamu undangan dan ratusan mahasiswa STAIN Kudus 
Dalam paparannya, Farida selaku dosen psikologi mengatakan perayaan valentine dari segi psikologi adalah perayaan yang normal. Karena dalam ilmu psikologi yang dilihat adalah normal dan tidak normalnya. "Selagi kita melakukan yang normal dilakukan oleh manusia berarti itu normal. Termasuk perayaan valentine," tuturnya. 

Ia menjelaskan valentine merupakan hari kasih sayang. Orang-orang yang kurang kasih sayang akan menjadi orang yang tidak normal, dan menyebabkan lesu. Secara kontak sosial juga dikatakan tidak normal. “Kasih sayang diartikan sebagai emosi dasar manusia yang diajarkan mulai sejak bayi. Kasih sayang tidak melihat percintaan tetapi juga sekitar. Pengungkapannya juga tidak secara fisik saja. Namun juga dengan lisan,” katanya. 

Meskipun begitu, ia menegaskan valentine tidak cocok untuk budaya di Indonesia. "Perlu diketahui hari kasih sayang tidak hanya tanggal 14 februari. ekspresinya juga tidak hanya dengan memberi bunga, coklat atau kartu ucapan. Namun dalam Islam kasih sayang bisa dilakukan dengan menebar salam dan perhatian kepada sesama setiap hari," terangnya. 

Senada dengan Farida, Dosen Ulumul Hadist, Nur Mahmudah mengatakan hari kasih sayang tidak hanya dirayakan 14 februari. Namun setiap hari. Valentine merupakan budaya populer yang dianggap sebagai budaya global. "Meski begitu Islam tidak alergi terhadap budaya, Termasuk budaya barat. Melainkan hanya lebih selektif saja," ucapnya. 

Lebih lanjut Ia menerangkan bahwa Islam sendiri merupakan agama kasih sayang. “Hal itu bisa dilihat dari segi nama Islam yang sudah berarti kasih sayang,” pungkasnya.(Falis/Waf)