Menapak Tangga Idealisme Mahasiswa



Oleh: Abdul Ghofur

 “Mahasiswa, kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membanguan rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kerjam ini?”
-  Victor Serge, Bolshevik


Selamat datang di kampus hijau IAIN Kudus bagi kawan-kawan pilihan yang berkesempatan merengguh dalamnya sumur ilmu pengetahuan. Dunia kampus layaknya hutan belantara, semangatlah dalam mengarungi dengan berbagai macam tantangnnya. Namun percayalah bahwa kampus adalah tempatmu untuk menguji mimpi dan nyali.

Tak terasa saat ini kau sudah mendapat predikat sebagai mahasiswa, sebuah capaian tertinggi dalam tingkat pendidikan formal. Secara etimologi Mahasiswa terdiri dari dua kata, yakni maha dan siswa. Maha mempunyai arti sangat; besar; amat; teramat. Dan siswa berarti murid; pelajar.
Sederhananya kita dapat mengartikan mahasiswa sebagia pelajar yang mepunyai derajat tinggi  dalam hal intelektual.

Namun, apa yang dimaksud dengan intelektual? Apakah mereka yang ber-jabatan tinggi, duduk dalam kekuasaan, mengekalkan status quo diantara kaumnya (baca: masyarakat).
Intelektul ialah orang yang tidak berhenti di ilmu saja, namun mereka juga melihat sejauh mana relevansi dan manfaat ilmunya untuk dunia nyata, untuk kehidupan sehari-hari, untuk masyarakat. Hal ini bertujuan untuk membentuk mereka untuk menyelamatkan diri dari kebodohan, kemusyrikan dan penindasan. Intelkektual seperti ini oleh Ali Syariati disebut rawsyan fikr (Intelektual tercerahkan).

Bukan malah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar, sehingga mereka (mahasiswa) mengalienasi diri dari lingkungan dan enggan melebur dalam masyarakat.
Selain itu, jika membicarakan tentang mahasiswa, saya teringat dengan apa yang disampaikan oleh Beni Pramula (Ketum DPP IMM, 2014-2016 & President of Asian-African Youth Government) dalam RAKORNAS IMM di Banjarmasin, Ia mengemukakan kalau setidaknya ada 4 karateristik yang mewakili tipe kepribadian mahasiswa:

Pertama ialah mahasiwa akademis, mahasiwa yang hanya berorientasi pada nilai akademis, mereka datang ke kampus bagaimana caranya agar mendapatkan IPK yang  tinggi, nilai yang tinggi, rajin ke perpustakaan, taat kepada dosen, dan yang lainnya untuk mendapat nilai yang baik.

Kedua mahasiswa romantic, mahasiswa yang selalu tampil nyentrik demi menggait lawan jenis, dia datang ke kampus cuma bagaimana caranya berpenampilan menarik sehingga terlihat gagah, terlihat  tampan, begitu saja cuma bisa gaya-gayaan saja.

Ketiga mahasiswa hedonis, mahasiswa yang sibuk berbelanja saja, kuliah hanya sekedar singgahan, tak peduli berapa banyak matakuliah yang mereka tinggalkan demi ke mall dan nongkrong.
Dan terakhir adalah mahasiswa organisatoris, mahasiswa yang selalu memperkaya dirinya dengan geliat dunia organisasi.

Dimanakah kita?

Hendaknya kita menempatkan diri yang  mencerminkan mahasiswa yang akademis dan mahasiwa yang organisatoris.

Tidak dikatakan seorang aktivis yang sukses kalau kuliahnya sampai 5, 6 sampai 10 tahun bahkan sampai di DO (drop out). Itu tidak dikatakan seorang aktivis yang sukses.

Tidak dikatakan akademisi yang sukses pula kalau seandainya dia tidak berorganisasi, kalau seandainya dia tidak militan dalam berorganisasi. karena organisasi inilah tempat kita mengabdi pada masyarakat, tempat bersentuhan langsung dengan masyarakat, tempat kita peduli terhadap realita sosial di sekeliling  kita dan ikut terlibat dalam pembangunannya.

Biarkan semangatmu mebawa kau kesana kemari. Salah satunya adalah organisasi. Sebuah wahana yang mengajarimu untuk melawan apa yang harus dilawan, membimbing keyakinan untuk percaya kalau kebenaran bukan hanya sebuah bualan. Dan kebenaran akan memberi kamu semangat untuk mencurigai segala kepalsuan. Seperti apa yang dipesankan Pramoedya Ananta Toer dalam novel Jejak Langkah (bagian ketiga dari tetralogi buru): didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah peguasa dengan perlawanan.

Oleh sebab itu, organisasi adalah kuliah yang sesungguhnya dan menyadarkanmu kalau hidup tak sekedar hidup seperti babi di hutan.

Selanjutnya penulis ingin mengajak kawan-kawan mahasiswa untuk meningkatkan minat baca, buku sangat penting bagi mahasiswa yang menyandang status sebagai kelompok terpelajar, yang dituntut untuk memperbaharui dan mengembangkan khazanah keilmuannya Jika boleh meminjam kata-kata Komunitas Pecandu Buku, “membaca sebuah buku adalah bukti betapa hebatnya imajinasi kita membentuk ruang dan waktu”.

 )* Penulis adalah Ketua Umum PK IMM adz-Dzikr IAIN Kudus dan Pegiat Pustaka Jalan-an Kudus)