Kasus Ferdian Paleka dan Pesan untuk Masyarakat Jagad Maya


2020 ini,  semakin banyak masyarakat Indonesia terjun sebagai content creator yang merambah di dunia Youtube. Hal ini menjadikan persaingan dunia Youtube pun semakin ketat. 

Data terbaru melaporkan pengguna bulanan layanan milik Google ini mencapai 1,8 miliar pengguna setiap bulan. Maka tidak heran banyak orang yang kini mulai merambah dunia YouTube, termasuk sejumlah publik figur. Sebab, tidak hanya media untuk mengunggah karya, platform ini juga dapat menghasilkan pemasukan bagi sang kreator

Semenjak melejitnya youtuber Atta Halilintar, Ria Ricis, Raditya Dika, Jess No Limit hingga selebritis Rafi Ahmad, Baim Paula serta youtuber Bayu Skak, membuat banyak orang termotivasi untuk melakukan hal yang sama untuk menjadi kreator konten.

Tren tontonan yang digemari penonton global dan Indonesia masih sejalan. Selain musik, konten hiburan pun didominasi oleh masyarakat Indonesia saat ini. Sayangnya, orang sering salah kaprah dan kelewat batas dalam menggunakan platform yang satu ini.

Seperti halnya Ferdian Paleka, bermaksud menggugah perhatian, Youtuber asal Bandung dan timnya itu menjadi perbincangan hangat  karena aksi pranknya yang tidak terpuji kepada transpuan di Bandung. Dia membuat prank dengan modus membagi-bagikan sembako mereka, namun sembako tersebut diisi dengan batu bata dan sampah.

Meski bermaksud sebagai hiburan semata dan menangkal adanya transpuan di bulan ramadhan, tetap saja Ferdian dan temanya yang kini telah ditangkap kepolisian dan masih menjadi bahan bully masyarakat. 

Sebenarnya itu bukanlah video prank pertama Ferdian Paleka. Sebelumnya dia sudah sering membuat video prank dan mengunggahnya di Youtube. Tidak hanya Ferdian, Youtuber lain pun senang membuat konten video prank yang ternyata banyak diminati oleh para warganet. 

Belum lama, YouTuber Indonesa bernama Hasanjr11 juga menjadi bulan-bulanan netizen akibat ulahnya. Dalam videonya, ia menawarkan pizza dan sebuah koper berisi uang tunai bernilai Rp 10 juta kepada banyak orang, mulai dari petani, tukang sapu, anak-anak dan penjaga kolam renang. Bagi mereka yang mau memakan pizza di bulan puasa itu akan diberikan uang 10 juta. Beruntung, iman mereka tak goyah meski digoda uang dan pizza si YouTuber.

Rasa Kemanusiaan yang Hilang

Aksi kedua youtuber yang menunjukkan pudarnya rasa kemanusiaan bukan sepenuhnya menjadi kesalahan mereka. Pada dasarnya, konten prank memang hampir menjadi primadona bagi masyarakat Indonesia bahkan sering diviralkan. 

Banyaknya penikmat yang menyukai video prank seakan membukakan akses pembuat konten untuk semakin semangat dalam menyajikan video prank padahal banyak pihak yang akan dirugikan. 

Dalam prank orang akan merasa ditipu dan dikerjai. Hanya membayangkan prank dan reaksi orang yang terkena prank tersebut saja sudah cukup membuat seseorang tertawa. Saat seseorang melihat reaksi terkejut dari orang lain ketika mendapatkan prank, seperti berteriak atau melompat. 

Namun kebanyakan orang akan berhenti tertawa jika prank tersebut berubah menjadi berbahaya atau malah kelewat batas seperti yang dilakukan Ferdian Paleka. Sebagian humor dari prank mungkin juga berasal dari rasa superioritas setelah membuat orang lain terlihat bodoh.

Menurut penelitian pada 2007 dalam jurnal Review of General Psychology, sebenarnya orang tidak suka ketika mendapati dirinya ditipu. Orang-orang yang ditipu biasanya akan menyalahkan dirinya sendiri dan berharap mereka bisa mengubah dan memainkan peran itu secara berbeda pada saat mereka tertipu. 

Bukan hanya pembuat konten yang keliru, masyarakat Indonesia justru lebih keliru jika hingga saat ini lebih banyak yang mengonsumsi konten-konten di platform youtube yang tidak berbobot. Masyarakat jagad maya tentu harus lebih pintar dalam memilih konten yang sesuai dan tidak dirasa merugikan orang lain.

Sejatinya sebagai masyarakat jagad maya yang cerdas, tidak perlu mencari kesalahan bahkan ikut membully apa saja yang viral, belum tentu diri kita sudah benar dalam segala hal. 


Windy Aprilya Pangastutik, 
Mahasiswa Prodi PGMI Semester 4.