Open Minded Perihal Perempuan


Judul : Sister Fillah, You'll Never Be Alone

Penulis : Kalis Mardiasih
Cetakan : 1, April 2020
Penerbit : Qanita (PT. Mizan Pustaka)ISBN : 978-602-402-177-1
Halaman : 126 Halaman
Resensator : Muayyadah

Jika Kartini adalah hak perempuan, perjuangan kesetaraan gender, dan nasionalisme Indonesia di akhir abad ke-19, maka Kalis Mardiasih adalah generasi tokoh feminisme di era sekarang. Selain memperjuangkan kesetaraan gender melalui oral approach, ia juga mendominasinya dengan scriptual approach. 

Obrolan perempuan justru menjadi menarik jika yang mendominasi dan mengawali juga perempuan. Setelah menerbitkan buku berjudul "Muslimah yang Diperdebatkan", belum lama ini ia juga merilis buku "Sister Fillah, You'll Never Be Alone". Dalam buku terbarunya tersebut, Kalis membuka fenomena masih banyaknya kasus keseteraan gender di sekitar kita.  Belum lagi, perempuan dititikberatkan pada kekurangan. Terlebih diskursus kekurangan yang membuka jalan kesalahan dan kekhilafan bagi perempuan. 

Di balik kekurangan perempuan tersemat kelebihan salah satunya dari penulis itu sendiri. Kelebihannya dalam mengemas buku dengan bahasa teks yang ringan, sedang bahasa konteks mencengangkan. Cover merah jambu menambah corak identitas warna kebanyakan perempuan yang tampak manis ditambah quote khas di setiap bagian awal sub bab.

Pada bab awal pembaca sudah dikejutkan  kata pengantar oleh Nur Rofiah, penulis yang juga aktivis kesetaraan gender sekaligus Dosen di Perguruan Tinggi Ilmu Alquran Jakarta. Memberikan ulasan tentang bagaimana perempuan bertanya balik dengan segala apa yang dituduhkan padanya. Bahkan seringnya mendapat perhatian soal agama yang digemborkan para da'i menuai kritik pedas bahwa dakwah bukan soal kebenaran tetapi etika dan tepa selira.

Halaman demi perlahan dibuka, pembaca perlu memerhatikan bagian kemanusiaan yang dipaparkan. Eksistensi perempuan adalah kemanusiaan. Mengapa? Status perempuan diperdebatkan tak boleh memimpin dan tugas wajibnya adalah sebagai ibu rumah tangga. Ia menjawab bahwa perempuan multitasking.

Adapun yang dicatat Shelina Janmohammed dalam bukunya Generation M, keseimbangan keluarga, diri dan tempat kerja, serta pergeseran dalam dinamika gender di rumah. Sebuah jajak pendapat yang diadakan oleh koran Guardian dan lembaga pemikir Demos pada warga muslim di Inggris 2015, menemukan, kebanyakan anak muda muslim Inggris menolak pandangan bahwa perempuan yang sudah menikah mesti tinggal di rumah, sedangkan suami mereka pergi bekerja. dalam riset tersebut, 50% responden usia 55 tahun setuju dengan pernyataan tersebut.

Selain membahas secara status dan perannya juga tentang lahiriyah perempuan apalagi kalau tidak hijab atau kerudung. Ada kurang lebih dua sampai tiga sub bab yang membicarkan keduanya. Bagaimana jilbab di Indonesia dan luar negeri oleh Jacinda Ardern, temannya.

Ia berbicara bahwa jilbab tidak dihayati oleh kesalehan pribadi tetapi juga identitas politik yang melekat pada gerakan massa tertentu. Sekarang masih bisa diperdebatkan soal menyikapinya.

 Lalu, yang menarik adalah pembahasan tentang masihkah zaman sekarang perempuan belum setara sehingga butuh kesetaraan? beliau kembali menjawab dengan realita secara nyata di kehidupan masyarakat.

Akhir kata perempuan makhluk unik, kilas baliknya bisa ditemukan di setiap cerita keseharian, salah satunya karya Kalis Mardiasih ini. Fenomena sederhana diulik dengan bahasa renyah. Namun terkadang pembaca pemula masih terasa keberatan bila antar bab tiada relasi tekstual. Sekiranya itu sedikit kekurangan buku ini. 

Mau tahu lebih banyak tentang perempuan? silakan baca buku ini. Terima kasih