Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Perjuangan Melawan Budaya Patriarki yang Semakin Diuji

parist  id
Rabu, Maret 10, 2021 | 23:16 WIB

 

Illustrasi: Vivi/Paragraph

Oleh: Muna Khoirun Nisa'

Pandemi Covid-19 yang sudah berjalan sekitar setahun ini semakin mengukuhkan peran perempuan dengan istilah wanita rumahan. Perempuan yang sebelumnya telah menjalankan perannya sebaik mungkin di luar rumah terpaksa dihentikan oleh keadaan. Dengan pertimbangan yang lebih masuk akal (dalam hal ini kebutuhan) banyak perempuan yang kehilangan pekerjaan dan memilih mengurus rumah tangga.

Sangat disayangkan, perjuangan yang selama ini digaungkan oleh para aktivis perempuan kelompok feminisme dengan "kesetaraan gender" mulai terlupakan. Kondisi yang mengakibatkan peran perempuan semakin tidak terlihat dan seakan hanya bergantung pada kemampuan laki-laki. dengan kondisi ini. Belum lagi kebutuhan rumah tangga yang semakin mendesak membuat laki-laki dengan seenaknya menyalahkan perempuan.

Ungkapan yang selalu disematkan pada perempuan sebagai "konco wingking" semakin terlihat nyata di masa pandemi ini. Perempuan dengan terpaksa atau tidak- akan menghabiskan banyak waktunya untuk mengurus dapur, mencuci, membereskan rumah dan mengurus segala kebutuhan keluarga. Belum lagi ketika seorang ibu harus menggantikan guru selama pembelajaran di sekolah berlangsung daring. Tentunya hal ini semakin menambah beban perempuan dalam mengurus rumah tangganya.

Berdasarkan data yang ada, UN Women mencatat bahwa 39 persen perempuan dan 29 persen laki-laki di Indonesia telah menghabiskan banyak waktu untuk mengajar anak di rumah. Dalam kasus yang sama, Studi menunjukkan 19 persen perempuan di Indonesia mengalami peningkatan intensitas pekerjaan rumah tangga tak terbayar dibandingkan dengan 11 persen untuk laki-laki.

Mencatat Pengalaman Perempuan

Jika kita mau sedikit menengok sejarah ke belakang, jauh sebelum para aktivis perempuan menggaungkan konsep kesetaraan gender, sejarah mencatat bahwa kaum perempuan punya cerita kelam. Keresahan yang selalu meradang dalam kehidupan kaum perempuan, mulai dari penindasan, kekerasan, diskriminasi, eksploitasi dan lain sebagainya. Hal yang melatarbelakangi itu semua adalah adanya perbedaan gender dan ketidakadilan gender dengan struktur ketidakadilan masyarakat secara luas.

Tercatat dengan jelas derita R.A Kartini mengabadikan fenomena sosial kala itu dengan latar budaya dan stigma yang tertanam dalam benak masyarakat. R.A Kartini mempertaruhkan segalanya untuk memperjuangkan hak yang semestinya harus didapatkan perempuan. Seorang perempuan mesti mengenyam pendidikan hingga pada tingkatan tertinggi karena perempuan tidak hanya hiasan dalam rumah tangga. Perempuan juga berhak menentukan pilihan untuk menikah dan menjadi istri satu-satunya dalam rumah tangga. 

Miskonsepsi Seks dan Gender

Selama ini budaya telah mengantarkan pemikiran masyarakat pada stigma yang kurang adil dan menyudutkan suatu golongan (jenis kelamin). Pemahaman mendasar yang sering disalahpahami masyarakat adalah penyamaan antara konsep seks (jenis kelamin) dan gender. Seks diartikan sebagai pembagian dua jenis kelamin yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu, Sementara gender, gender merupakan suatu sifat yang melekat pada laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. 

Meskipun dalam tinjauan bahasa keduanya sama namun keduanya sebenarnya berbeda. Jika 'seks' mengacu pada profil biologis laki-laki, perempuan dan interseks, 'gender' sendiri merupakan istilah yang lebih tepat untuk merujuk pada sikap, perasaan dan perilaku yang diasosiasikan dengan jenis kelamin seseorang.

Sejarah perbedaan dan ketidakadilan gender antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang panjang. Ketimpangan ini bisa terjadi melalui banyak hal, seperti dibentuk, disosialisasikan, diperkuat dan dikonstruksi secara sosial dan kultural dalam lapisan masyarakat. Tidak heran, klaim perbedaan gender sering kita temukan. Misalnya, bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, keibuan, emosional, irasional. Sementara laki-laki dianggap kuat, tangguh, rasional.

Mirisnya, dewasa ini sering terjadi kerancuan dalam memahami perbedaan seks dan gender. Pemahaman tentang gender akibat konstruksi sosial di masyarakat sering disamaartikan dengan seks. Dan gender dianggap sebagai kodrat. Artinya, segala sesuatu yang berhubungan dengan gender dianggap sebagai ketentuan biologis atau ketentuan Tuhan. Seolah-olah suatu hal tersebut sudah otentik dan tidak dapat diubah lagi. 

Sudah saatnya perempuan berperan tak lagi hanya sebagai “konco wingking”. Perempuan seharusnya mampu berdiri dengan kaki sendiri melawan stigma-stigma buruk di masyarakat. Bahwa perempuan juga bisa memutuskan anggapan bahwa perempuan hanya bisa bergantung pada lelaki, membantah argumen bahwa perempuan selalu lemah dan tak berdaya.

Sehingga, pemberdayaan terhadap perempuan harus selalu diupayakan. Perempuan harus mandiri agar mampu mengembangkan potensi dalam dirinya secara maksimal. Pemberdayaan perempuan sangat penting untuk memberikan kebebasan pada perempuan dalam bekerja, berkarya, dan menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Pemberdayaan ini akan mendorong kesetaraan gender sehingga upaya pembangunan akan dirasakan oleh semua pihak.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Perjuangan Melawan Budaya Patriarki yang Semakin Diuji

Trending Now