Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Childfree dan Pro Kontra yang Melingkupinya

parist  id
Selasa, April 19, 2022 | 22:04 WIB

Foto: Istimewa

Oleh: Muna Khoirun Nisa' *)

Keputusan untuk tidak mempunyai anak akan menuai pro dan kontra dari banyak orang. Apalagi, anak diyakini sebagai anugerah yang harus disyukuri. Namun, kebebasan hidup tanpa momongan (childfree) ini mulai berkembang di Indonesia, tentunya mereka mengambil keputusan tersebut dengan berbagai alasan.

Semenjak istilah childfree  populer di Indonesia, kebebasan untuk mempunyai anak bagi perempuan mulai diperhitungkan. Pasalnya keputusan tidak memiliki anak ini merupakan hal yang masih tabu di Indonesia. Mereka yang memilih tidak punya anak masih dikucilkan dan dianggap salah dalam mengambil keputusan.

Istilah yang dipopulerkan oleh Gita Savitri ini sedang menjamur bagi sebagian sepasang kekasih. Youtuber asal Indonesia itu  mengaku lebih nyaman hidup tanpa memiliki anak. Menurutnya, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah memiliki anak. Meskipun akan menimbulkan pro dan kontra serta masalah sosial bagi sebagian orang.

Sudah menjadi kebudayaan di masyarakat ketika dua orang saling mencintai maka akan menikah dan memiliki anak. Bahkan, anak disebut-sebut sebagai buah hati yang harus dirawat dan disayangi seperti diri sendiri. Keputusan childfree  tentu dianggap melawan kebudayaan yang sudah diyakini banyak orang.

Berbagai Pertimbangan

Saat seorang memutuskan tidak ingin memiliki anak, orang sekitar baik teman dekat, tetangga bahkan keluarga sendiri akan mencela keputusan yang menyalahi ideologi mereka. “Mungkin belum pingin”, “paling dua tiga tahun lagi punya anak,” “lihat aja nanti 10 tahun lagi” begitulah kiranya perkataan orang-orang menanggapi keputusan childfree .

Bisa saja, perempuan yang memutuskan untuk childfree akan dianggap labil karena belum pernah sama sekali memiliki anak. Padahal, keputusan yang diambil setelah melalui  pertimbangan panjang. Pastinya, seorang perempuan telah memikirkan matang-matang hal tersebut bahkan sebelum menikah. Setiap perempuan merasa memiliki hak penuh atas tubuh mereka sendiri sebagai perempuan.

Kondisi mental seorang perempuan yang tidak stabil dapat menimbulkan perasaan khawatir jika memiliki anak. Perempuan sebagai makhluk perasa takut jika anak tidak mendapatkan kehidupan yang layak jika mereka merawatnya. Ketidakmampuan mengendalikan emosi juga berpengaruh pada pola asuh anak.

Selain itu, kondisi trauma di masa kecil juga menjadi alasan perempuan memutuskan tidak memiliki anak. Pengalaman traumatis di masa kecil yang belum dapat teratasi dan diselesaikan dapat terbawa hingga dewasa. Adanya konflik dengan ibu dapat menjadi pemicu lahirnya traumatis. Keputusan Childfree  dirasa pilihan yang tepat untuk menghindari perasaan traumatis yang dirasakan perempuan.

Realita sosial menempatkan perempuan sebagai kaum lemah yang tidak dapat mengambil keputusan sendiri. Seakan, mempunyai anak bagi perempuan adalah sebuah keharusan. Masyarakat yang pro terhadap natalisasi menjadikan ancaman tersendiri bagi perempuan untuk melahirkan anak. Terutama generasi dahulu yang menganggap anak adalah rezeki dan suatu keharusan bagi sebuah pernikahan.

Dalam Islam sendiri, memiliki anak adalah sebuah fitrah dan kebahagian bagi sepasang suami istri. Anak menjadi anugerah Tuhan yang harus dibesarkan dan didik sesuai syariat agama. Menikah dan memutuskan tidak memiliki anak mungkin hanya sebatas untuk melegalkan hubungan agar dapat tinggal serumah. Sebagai bukti komitmen, atau bahkan hanya ingin merasakan seperti orang-orang yang memakai gaun pengantin. Menurut pasangan childfree, hidup berdua tanpa anak dirasa sudah cukup.

Selamatkan Bumi

Angka kelahiran dan kematian yang tidak seimbang mengakibatkan jumlah populasi manusia di muka bumi berkembang pesat. Tentunya emisi karbon juga meningkat seiring perkembangan populasi manusia yang sangat masif. Setiap satu anak yang lahir dapat menghasilkan 60 kiloton karbon setiap tahunnya. Jika perempuan memilih tidak melahirkan anak, ia telah mencegah setidaknya 1800 kiloton emisi karbon. Keputusan childfree 20 kali lipat dapat mengurangi emisi zat karbon dibandingkan memilih gaya hidup lain.

Pertumbuhan populasi yang masif dalam jangka panjang dapat berakibat buruk bagi lingkungan. Selain meningkatnya emisi zat karbon juga dapat menimbulkan kelangkaan sumber daya alam.

Menurut Worldometer, pada tahun 2021 jumlah penduduk dunia ada 7,8 miliar penduduk dan akan bertambah setiap saat. Sedangkan menurut data Administrasi Kependudukan (Adminduk) per Juni 2021, Indonesia memiliki jumlah penduduk sebanyak 272.229.372 jiwa.

Laju pertumbuhan penduduk menjadi PR yang diperhatikan oleh pemerintah demi pembangunan negara. Sehingga keputusan memilih childfree  dapat menguntungkan karena ramah lingkungan dan hemat sumber daya alam agar dapat dirasakan generasi-generasi mendatang.

*) Penulis adalah Sekretaris Redaksi LPM Paradigma

(Artikel ini telah terbit di majalah Paradigma edisi 36)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Childfree dan Pro Kontra yang Melingkupinya

Trending Now