Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Bulusan 2026 Bangkit! Tanpa HTM, Andalkan Gotong Royong Warga

parist  id
Rabu, April 08, 2026 | 21:19 WIB

Festival Bulusan Desa Hadipolo pada Sabtu (28/3).

Kudus, PARIST.ID — Festival Bulusan 2026 kembali digelar di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo pada Sabtu 28/3/26 dengan wajah baru yang lebih terbuka bagi masyarakat. Setelah sempat vakum, tradisi tahunan ini hadir tanpa sistem tiket masuk dan mengandalkan partisipasi warga sebagai kekuatan utama penyelenggaraan.

Rangkaian kegiatan seperti kenduren, kirab budaya, pentas seni, hingga pertunjukan wayang kulit kembali meramaikan Bulusan tahun ini. Momentum ini sekaligus menjadi penanda kebangkitan tradisi setelah beberapa waktu terhenti.

Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, panitia memutuskan untuk menghapus tiket masuk. Akses dibuka seluas-luasnya agar masyarakat dapat menikmati seluruh rangkaian acara tanpa batasan.

“Dulu sempat ada tiket masuk, tapi tahun ini kita hilangkan agar masyarakat benar-benar bisa menikmati tradisi ini,” ujar Farida, Sie Acara Festival Bulusan 2026.

Meski demikian, panitia tetap memberlakukan pembatasan kendaraan yang tidak diperbolehkan masuk ke area acara saat puncak kegiatan. Hal ini dilakukan untuk menjaga ketertiban serta menghindari kepadatan di lokasi.

Festival Bulusan sendiri digelar setiap tujuh hari setelah Idul Fitri atau bertepatan dengan Lebaran Ketupat. Tahun ini, rangkaian acara dibuka dengan kenduren pada 7 Syawal di halaman pendopo. Selanjutnya, kirab budaya dilaksanakan pada pagi hari 8 Syawal, dilanjutkan pentas seni di siang hari, dan ditutup dengan pertunjukan wayang kulit pada malam hari.

Hal lain yang menjadi sorotan adalah absennya bantuan dana dari panitia kepada peserta kirab. Masyarakat dari sembilan RT didorong untuk berpartisipasi secara mandiri melalui semangat gotong royong. Meski tanpa dukungan modal, seluruh peserta tetap mampu menampilkan kreativitas masing-masing secara maksimal.

Kenduren yang dihadiri warga setempat
Tradisi Bulusan sendiri dipercaya sebagai peringatan haul bulus yang diyakini sebagai jelmaan Umara dan Umari. Tradisi ini telah berlangsung sejak masa penyebaran Islam oleh Sunan Muria di wilayah tersebut, dan hingga kini masih dijaga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Sudasih selaku juru kunci Tradisi Bulusan berpesan agar generasi muda tidak melupakan akar budayanya.

“Jangan sampai kita lupa dengan budaya yang kita tempati, dan jangan malu ketika memegang punden di daerah masing-masing, karena itu semua adalah perjuangan waliyullah,” pesannya.

Dengan konsep yang lebih terbuka dan bertumpu pada partisipasi warga, Festival Bulusan 2026 tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga menguatkan kembali nilai kebersamaan dalam pelestarian tradisi lokal di tengah perubahan zaman.

Penulis : Na'imatul Munawaroh
Editor : Aisya Niken Cahya Salim

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Bulusan 2026 Bangkit! Tanpa HTM, Andalkan Gotong Royong Warga

Trending Now