Acara yang berlangsung pada pukul 15.00 hingga 21.00 WIB ini berhasil mencuri perhatian penonton dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, ormawa, dosen, hingga masyarakat umum.
Konser yang dikemas meriah dan penuh kehangatan ini menjadi momentum bersejarah bagi Swarantara, tim paduan suara UKM SMS untuk pertama kalinya tampil di panggung besar. Dengan alunan suara yang apik dan kompak, para personel membawakan 8 lagu yang menggugah semangat, di antaranya: Assalamualaikum, Semua Tentang Kita, Symphony yang Indah, Selalu Ada di Nadimu, Terbuang dalam Waktu, Kudus Kotaku, Medley Jateng, dan Anoman Obong yang akrab di telinga anak muda.
Kegiatan yang disajikan oleh smsfest.id ini turut didukung penuh oleh sejumlah media sponsor dan media partner. Kehadiran para pendukung ini menunjukkan antusiasme dan sinergi kuat antara dunia pendidikan, seni, dan media dalam mendukung pengembangan bakat mahasiswa di bidang seni vokal.
Penyelenggaraan konser perdana ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan bernyanyi. Lebih dari itu, Swarantara ingin menghadirkan ruang apresiasi bagi mahasiswa yang memiliki minat dan bakat di bidang paduan suara maupun tari. Melalui konser ini, mereka berharap dapat menebarkan energi positif, mempererat tali persaudaraan antarmahasiswa, serta menghidupkan suasana kampus dengan karya-karya seni yang inspiratif.
Kehadiran Tari Kretek dalam Konser Fortezza menjadi simbol bahwa seni dan budaya lokal turut mewarnai harmoni pergelaran. Hal ini mengingatkan bahwa Kudus bukan hanya kota santri dan pendidikan, tetapi juga kota dengan akar budaya industri yang kuat. Pencipta Tari Kretek, Ibu Endang Tonny, turut hadir dan menyaksikan langsung jalannya acara dari barisan penonton. Kehadiran beliau menambah sentuhan emosional dan nilai historis pada penampilan Tari Kretek yang dibawakan oleh Angkatan Fortezza.
Endang Tonny, seniman sekaligus pendiri Sanggar Puring Sari yang menciptakan Tari Kretek pada tahun 1986, menceritakan sejarah lahirnya tarian ini.
“Lahirnya Tari Kretek tidak terlepas dari usulan Soepardjo Rustam yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah. Pada peresmian Museum Kretek di Kabupaten Kudus tahun 1986, muncul usulan agar Kudus memiliki tarian tradisional sebagai identitas Kota Kretek. Saya pun dipercaya untuk merancang gerakannya menjadi sebuah tarian utuh. Tari Kretek saya ciptakan terinspirasi dari proses pembuatan rokok, karena mayoritas masyarakat Kudus saat itu berprofesi sebagai buruh rokok. Awalnya, tarian ini bernama Tari Mbathil yang berarti memotong ujung rokok, merujuk pada gerakan para pekerja wanita di pabrik. Namun, setelah mengikuti festival tari daerah sekitar tahun 1988, nama Mbathil diganti menjadi Kretek agar lebih dikenal luas, karena Kudus sudah dikenal sebagai Kota Kretek.” Ujarnya.
Dengan suksesnya konser perdana ini, Tim Paduan Suara Swarantara UKM SMS UIN Sunan Kudus optimis dapat terus berkarya dan mengharumkan nama UIN Sunan Kudus di kancah seni vokal, baik di tingkat lokal maupun nasional. Semangat harmoni dan kebersamaan yang terpancar dari panggung GOR UIN Sunan Kudus menjadi awal yang indah bagi perjalanan panjang Swarantara dalam dunia paduan suara.

