Pipiek Isfianti : Kenalkan Karya Lewat Janji Sri

KUDUS, Parist.Id - Bahwasanya karya akan mengenalkan seseorang kepada dunia luar. Tanpa karya seseorang tidak akan bisa dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu, adanya Janji Sri menjadi sebuah karya yang bisa mengenalkan kami pada masyarakat. 

Demikian itu disampaikan Penulis Buku Janji Sri, Pipiek Isfianti dalam acara bulanan Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) pada Jumat, (31/02) di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK). 

“Tidak masalah tidak mengenal secara pribadi, tapi apa yang ingin kita sampaikan berupa pencerahan ataupun literasi kepada masyarakat bisa tersampaikan,” kata Pipiek.

Ia menambahkan, dalam cerpen Janji Sri menyimpan sebuah pesan bahwa janji itu tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Halnya tokoh Srikandi yang berpegang teguh pada janjinya meski bertahun-tahun lalu. 

“Sampai kapan pun yang namanya berjanji ya harus dipegang,” tambahnya.

Pipek berpesan, sebagai perempuan harus tetap bisa berkarya di waktu sesempit apapun. Apalagi berdasar pada fenomena, rata-rata perempuan berhenti berkarya setelah menikah.

“Disela-sela waktu kesibukan berkeluarga harus tetap berkarya yang penting niatnya,” pesan Ibu tiga anak itu.

Sementara itu, Penggiat Teater sekaligus pembaca cerpen, Eka Retno Diana Putri, mengaku senang bisa membacakan cerpen Boneka Panda Ibu pada buku Janji Sri.  

“Cerpen yang bagus sehingga bisa saya bawakan dengan hati yang senang,” katanya.

Diskusi bersama seusai pembacaan cepen Janji Sri
Ia juga turut terharu dengan isi cerpen yang mengkisahkan seorang anak yang benci terhadap ibunya karena suatu hal yang ternyata anak tersebut sadar bahwa ibunya sangat mencintainya. “Bikin inget sama ibu dirumah,” tandas Eka.

Ketua Badan Pelaksana FASBuK, Arfin Akhmad Maulana, menjelaskan, bahwa di edisi Januari bertema Janji Sri kali ini memberikan ruang kepada salah satu penyair perempuan yang sudah memiliki prestasi di bidang literasi. 

“Kita memberikan ruang dan mengajak generasi milenial untuk berinteraksi dengan harapan mereka menjadi generasi penyair perempuan di Kudus,” jelas Arfin saat ditemui Tim LPM Paradigma usai acara.

Berbeda dengan tahun kemarin, lanjut Arfin, hanya pembaaan cerpen namun kali ini pembaca diberikan keluasan untuk berkreasi dengan model teatrikal dan duet. 

“Biasanya hanya pembaaan cerpen namun untuk edisi ini mereka menggunakan model berteater”, pungkasnya. (umi)