Oleh : Hasyim Asnawi

Selain wisuda, Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi salah satu  hal yang paling dinanti beberapa mahasiswa . Apabila tahun-tahun sebelumnya KKN terjun langsung ke lapangan, mengadakan kegiatan sosial, mengabdikan diri ke masyarakat, bersosialisasi, mengaplikasikan apa yang dipelajari saat perkuliahan, justru berbeda dengan KKN tahun ini. Adanya pandemi korona mengharuskan progam KKN berjalan ala kadarnya, yakni KKN secara online.

Progam Kuliah Kerja Nyata dari rumah (KKN-DR) memanglah hal baru di dunia perkuliahan.  Sejatinya, program KKN menemui momentumnya bilamana mahasiswa yang diterjunkan ke lapangan dapat menjawab masalah yang ada di masyarakat. KKN juga diharapkan dapat menghilangkan stigma elit perguruan tinggi di kalangan masyarakat.

 KKN sebagai program kurikurer wajib dalam mengaplikasikan pengetahuan dan kompetensin sesuai dengan bidang keilmuannya agar mahasiswa memiliki dasar keilmuan yang kokoh, bukan hanya common sense atau hal yang lumrah diketahui orang awam.

Namun, tantangan lebih berat akan dihadapi mahasiswa saat ini karena KKN tahun ini dirancang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dengan tetap menerapkan sosial distancing dan protocol kesehatan, mahasiswa KKN tidak diterjunkan langsung ke lapangan untuk menghindari kerumunan masyarakat dan penyebaran virus yang lebih meluas.

Sebagaimana Surat Edaran dari Dirjen Pendis No. 697/03/2020 tentang Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Lingkungan PTKIN dan Surat Direktur Diktis No. B-713/DJ.I/Dt.I.III/TL.00/04/2020 sebagai tindak lanjut Surat Edaran Dirjen Pendis di bidang Litapdimas (Penelitian, Publikasi, Ilmiah, dan Pengabdian Pada Masyarakat) mewajibkan seluruh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam baik Swasta maupun Negeri untuk menyelenggarakan Kuliah Kerja Nyata berbasis online atau KKN-IK DR. 

Dalam program KKN-IK DR, mahasiswa akan melaksanakan pengabdian diri kepada masyarakat sesuai kompetensi program studi di tempat tinggal masing-masing dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Mahasiswa dapat memanfaatkan sosial media dan jaringan internet untuk membuat sebuah karya sesuai bidang keilmuannya, baik itu karya tulis, buku, opini, dan sebagainya. Selain itu mahasiswa juga dituntut untuk mengenalkan kepada masyarakat tentang keunggulan dari perguruan tinggi dan program studi masing-masing, seperti moderasi beragama dan kompetensi keilmuan berbasis fakultas.

Lebih Dekat dengan Desa Sendiri

Menjalani KKN dari rumah bukanlah hal yang harus diratapi. Bukankah ini kesempatan untuk memperkenalkan potensi desa sendiri ke masyarakat luar. Banyak dari kita sebagai generasi muda sering melalang buana kemana-mana namun lupa dengan asal muasal tempat tinggal. Bahkan, potensi lokal desa sendiri saja tidak mengenal. 

Untuk itu, dalam KKN kali ini, mahasiswa justru seharusnya bersyukur lebih bisa dekat dengan desa sendiri. Dengan tetap produktif dan bersemangat adalah hal yang harus ditanam dibenak masing-masing mahasiswa yang sedang mengabdikan diri kepada masyarakat. 

Saling menguatkan antar sesama adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa kita bisa. Situasi ini justru menjadi masa pembuktian bahwa kita adalah mahasiswa yang tegar, kuat menghadapi tantangan, kreatif dan inovatif dalam menanggapi masalah. 

Setidaknya di masa-masa sulit seperti ini mahasiwa harus mampu berpikir kreatif. Menciptakan ide-ide baru sebagai inovasi dalam memenuhi tuntunan masyarakat akan pandangan mahasiswa sebagai orang yang serba tahu. Selain itu, tetap konsisten dan menguatkan mental ketika mendapat gempuran dari berbagai pihak. 

Jadi, marilah kita saling merangkul dan saling menguatkan, memberi semangat pada diri sendiri dan kawan-kawan yang berjuang. Melaksanakan progam KKN yang sudah dirancang, mulai dari peguatan atas kepedulian terhadap pencegahan wabah covid-19 sehingga diharapkan masyarakat dapat merespon dan mulai sadar dalam menjaga kebersihan. Menjalankan pengabdian sesuai bidang keilmuan lewat sosialisasi, diskusi online, membuat konten kreatif, dan kerjasama dengan pihak terkait atau dengan mengenalkan visi unggulan dari perguruan tinggi, seperti progam moderasi beragama.

Mahasiswa KKN DR

KAMPUS, PARIST.ID - Tidak perlu membandingkan dengan KKN pada tahun-tahun sebelumnya pada kondisi normal, KKN DR justru menjadi kesempatan mahasiswa untuk mengeksplorasi kemampuan di bidang teknologi.

Hal tersebut disampaikan Wakil Rektor I, Supaat, dalam pembekalan lanjutan program Kuliah Kerja Nyata Terintegrasi Kompetensi Dari Rumah (KKN-IK DR) yang digelar oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) IAIN Kudus secara daring melalui aplikasi Zoom dan Live Streaming Youtube, Kamis (25/06).

"Mahasiswa dituntut kemandirian dan kreativitasnya dengan memanfaatkan teknologi sebagai alat pengabdian diri kepada masyarakat," terang Supaat.

Ia berharap mahasiswa yang sudah dibekali dengan kompetensi akademik dapat memanfaatkan peluang dengan adanya IT. Ia juga mengajak seluruh mahasiswa agar menyikapi KKN ini dengan positif dan mindset baru.

"Dimanfaatkan dengan baik karena sekop pengabdian kita tidak hanya lokal, tetapi secara mendunia," pesanya.

Meskipun sebelumnya mahasiswa telah mendapatkan pembekalan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) masing-masing, pembekalan yang dipandu oleh Kepala Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat  (PKM) Ulfah Rahmawati ini bertujuan untuk memantabkan materi sekaligus menyelaraskan pemahaman mahasiswa tentang KKN-IK DR.

Dalam pembekalan tersebut, Ketua Lembaga Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IAIN Kudus, Mohammad Dzofir, menjelaskan, KKN-IK DR merupakan  pengintegrasian Kuliah Kerja Nyata Terintegrasi Kompetensi (KKN-IK)  berbasis kompetensi prodi dengan Kuliah Kerja Nyata Dari Rumah  (KKN-DR). Berbeda dengan tahun sebelumnya, KKN-IK DR dilakukan dari rumah masing-masing akibat adanya pandemi covid-19.

"KKN-IK DR adalah hal yang baru, Covid-19 memaksa kita untuk melangsungkan KKN dengan tetap menjaga protokol kesehatan," jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Dzofir juga menjelaskan secara rinci tentang ruang lingkup KKN-IK DR, bentuk kegiatan, tugas per kelompok ataupun individu, hingga bentuk laporan dan teknis penilaian nantinya.

 (Muna)


KAMPUS, PARIST.ID – Menanggapi surat audiensi SEMA DEMA IAIN Kudus yang dilayangkan minggu lalu, Rektor beserta para pimpinan IAIN Kudus menerima dan bersedia menggelar audiensi tertutup. Bertempat di Gedung Rektorat Lantai 2, acara yang berlangsung mulai pukul 11.00 – 13.00 WIB ini berjalan kondusif dan menghasilkan beberapa keputusan yang telah disepakati bersama.

Dalam audiensi yang dipandu oleh Warek III ini, empat tuntutan utama yang disampaikan SEMA DEMA telah menemui titik terang. Adapun hasil audiensi yang telah disepakati diantaranya, permohonan keringanan UKT telah disetujui dan akan diedaran SK Rektor, KKN-IK DR akan mendapatkan dana pendampingan dan peniadaan jas KKN, perancangan perkuliahan yang efektif dan efisien dan  jas almamater angkatan 2019 yang belum bisa diproses karena masih ada ratusan mahasiswa belum mengisi borang ukuran jas di sikadu.

Dalam audiensi tersebut, Rektor IAIN Kudus, Mundakir, mengatakan, setiap pemasukan dan pengeluaran anggaran harus ada dasar hukum yang tidak bisa ditawar, termasuk dalam hal UKT. Sudah ada KMA terkait keringanan UKT, sehingga dapat segera ditindaklanjuti.

"Jika tidak ada dasar hukum maka akan bermasalah, karena setiap tahun akan diaudit oleh BPK," jelasnya.

Adapun, Wakil Rektor III, Supaat. menyatakan, seluruh aspirasi dari mahasiswa akan dipenuhi, dengan syarat dan ketentuan berlaku. Ia hanya menyayangkan ada pihak tak bertanggungjawab yang memprovokasi dan menyampaikan aspirasi dengan cara yang tidak benar. 
"Sangat tidak simpati, karena provokatif dan tidak mahasiswa," tegasnya.

Sementara itu, Ketua Sema, Rosyda Aulia Rahma, mengaku, meskipun hasil tidak sama persis dengan tuntutan, ia senang dapat berdiskusi dan mencari solusi yang tepat untuk kemaslahatan bersama.

"Kami tidak hanya menuntut, tetapi juga berdiskusi dan berfikir bareng-bareng," ungkapnya.

Untuk tuntutan lain, lanjut Rahma, yang belum terjawab masih dikomunikasikan dengan pimpinan. "Informasi atau apapun yang belum jelas dapat ditanyakan pada kami," pungkasnya. (Hasyim)


PARIST.ID- Himpunan Program Studi (Hmps) Tadris Matematika IAIN Kudus menggelar kegiatan Halal bi Halal (HBH) dan Bincang-bincang matematika (BBM) secara virtual melalui google meet room, Minggu (21/06). Mengambil tema  "Merajut Tali Silaturrahim dan Menumbuhkan Semangat Produktif Mahasiswa Matematika di Era New Normal” diharapkan dapat menjaga kebersamaan dan meningkatkan tali silaturrahmi antara mahasiswa dan dosen tadris matematika. 

Dalam halal bi halal virtual juga dilakukan bincang-bincang matematika sebagai momen untuk dapat saling sharing dan ngobrol santai mengenai perkuliahan selama daring. 

Kepala Program Studi Tadris Matematika, Arghob Khofya Haqiqi, dalam sambutannya, meminta maaf lahir dan batin. Ia juga membahas terkait program studi Tadris Matematika baik dari akreditasi, prestasi, dan lain-lain. Tak hanya itu, ia memberikan motivasi semangat kepada mahasiswa tadris matematika. 

“Alhamdulillah prestasi dan juara-juara dari mahasiswa Tadris Matematika semakin bertambah. Semoga ini bisa membantu dalam akreditasi prodi kita," ucapnya. 

Sementara itu, Dosen IAIN Kudus, Ismanto, dalam even tersebut menyampaikan langkah-langkah agar pembelajaran selama daring ini dapat efektif.  Misalnya dengan cara mahasiswa harus beradaptasi dengan kondisi sekarang, membuat skala prioritas mana yang perlu didahulukan, meningkatkan komunikasi dengan dosen bila ada materi yang kurang jelas.

"Kalian juga bisa cari komunitas yang baik dan kembali ke motivasi diri masing-masing," terangnya.

Bagi mahasiswa skripsi, lanjut Ismanto,  bisa merespon metodologi kekinian misalkan dengan metpen-virtual atau mencari dan meramu data sampai dengan analisis, jadi tidak hanya metpen-literatur. 

"Bisa melakukan wawancara online misalnya melalui google meets room, zoom, dan lain-lain, asal dengan data dokumen dari sumber terpercaya," tambah Ismanto.

Diakhir halal bi halal dan bincang-bincang matematika, masing-masing dosen memberikan pesan dan kesan kepada mahasiswa. Termasuk salah satu dosen IAIN Kudus, Nanang Nabhar Fakhri Auliya yang berpesan  agar mahasiswa tetap semangat dan tetap menjaga kesehatan. 

"Jangan hanya mendapat materi dari dosen saja, melainkan cari referensi dari sumber-sumber lain untuk lebih memahamkan kalian," pesannya. (Vina)


PARIST.ID- Aksi serentak mahasiswa IAIN Kudus dengan mengirimkan pesan WhatsApp ke Rektor, mendapatkan tanggapan dari Rektor. Pasalnya pesan-pesan yang dikirimkan berupa suara aspirasi. Aksi ini dilakukan mulai pukul 13.00, kemarin (Sabtu, 20/06/2020).

Hal ini ditanggapi Rektor IAIN Kudus, Mundzakir, menurutnya merupakan hal yang wajar. Karena kondisi di tengah pandemi, tidak hanya mahasiswa, tapi semua elemen masyarakat mengalami kesusahan. 

"Wajar karena kondisi seperti ini, semuanya merasakan susah. Harapan kita, semoga Allah SWT memberikan kesabaran bagi kita semua," katanya saat dihubungi tim Parist.id melalui pesan WhatsApp.

Adapun tindaklanjutnya, tambah Mundzakir, pesan yang disampaikan mahasiswa berupa tuntutan keringanan UKT, ia mengaku akan segera merespon Keputusan Menteri Agama (KMA) yang sudah ditandatangani oleh menteri. Namun terkendala kondisi, karena ia dan beberapa pejabat rektorat sedang sakit. Hal tersebut yang tidak memungkinkan untuk menggelar rapat pembahasan KMA.

"Kita belum bisa rapat merespon KMA itu, karena saya sendiri sedang sakit, beberapa warek dan dekan pun demikian," terangnya.

Sementara itu, Ketua Dema Institut, Abdul Muis, mengomentari aksi ini yang menurutnya setiap manusia berhak untuk menyampaikan aspirasinya selama tidak melanggar hukum. Serta dalam menyampaikannya, harus mengedepankan etika yang baik.

"Setiap manusia berhak menyampaikan aspirasinya, selama tidak melanggar aturan hukum dan tentunya harus disertai etika yang baik," katanya. 

Ia juga menambahkan, pihaknya pada tanggal 4 Mei telah melayangkan surat tuntutan kepada Rektor, terdapat salah satu poin tentang keringanan UKT di tengah pandemi. Lalu ia mendapatkan jawaban dari Rektor bahwa setelah KMA terbit, baru ditindaklanjuti mengenai hal tersebut. Tapi setelah KMA yang bernomor 515 itu sudah terbit namun belum ada sistematika keringanan UKT dari kampus. 

"Untuk itu, kemudian Sema Dema mengajukan audiensi langsung kepada Rektor mengenai hal ini," jelasnya.
(Ftw)

PARIST.ID - Mahasiswa IAIN Kudus membuat grup WhatsApp Kuliah Kerja Nyata Dari Rumah (KKN DR) tiap domisili menimbulkan berbagai respon dari mahasiswa. Ada yang kritis menanyakan maksud dan tujuan  pembuatan grup, ada yang menjadikannya wadah sebagai tempat bertukar pikiran dan berbagi strategi  KKN, atau sekedar sharing dan berkomunikasi yang lebih intens.

Berdasarkan Surat Edaran Dirjen Pendis Nomor B-713/DJ.I/Dt.I.III/TL.00/04/2020, Lembaga Pengembangan dan Pengabdian kepada masyarakat  (LPPM) IAIN Kudus  menyelenggarakan Kuliah Kerja Nyata  (KKN) tahun 2020 dengan sistem DR atau disebut Kuliah Kerja Nyata Terintegrasi Kompetensi Dari Rumah (KKN DR).

Keputusan LPPM ini mengundang berbagai pertanyaan dari mahasiswa, yang secara garis besar menanyakan terkait teknis pelaksanaan KKN DR. Puncaknya, mahasiswa merespon dan berinisiatif membuat grup WhatsApp khusus mahasiswa KKN DR berdasarkan kota mahasiswa Kudus, Pati, Jepara dan Demak.

Menanggapi hal ini, Ketua Lembaga Pengembangan dan Pengabdian kepada masyarakat  (LPPM), Mohammad Dzofir, mengatakan, mahasiswa tidak boleh membuat grup sendiri tanpa pengawasan dari Dosen Pengawas Lapangan (DPL) masing-masing. 

"Seharusnya tidak boleh, karena kelompok dan DPL sudah ditentukan. Mahasiswa harus tetap dalam koridor DPL," tegasnya melalui pesan WhatsApp kepada reporter Parist.id

Sementara itu, Ketua Sema IAIN Kudus, Rosyda Aulia Rahma, menganggap inisiatif ini secara sederhana. Menurutnya, meskipun belum ada pembekalan, mahasiswa perlu wadah untuk bertukar pikiran demi keberlangsungan perkuliahan dan pengabdian KKN. 

"Terjadi pro kontra itu wajar, apalagi gerakan ini inisiatif mahasiswa sendiri, bukan resmi dari kampus," tandasnya. (Hasyim)

KAMPUS, Parist.ID- Menghadapi new normal di masa pandemi Covid-19, IAIN Kudus sudah membuka kembali layanan perpustakaan baik secara online maupun offline sejak 8 Juni 2020, Kamis (11/06). Demi mendukung keberlangsungan layanan, pihak perpustakaan memberi syarat dan ketentuan bagi pengunjung tetap wajib  memperhatikan protokol kesehatan guna mencegah penularan virus korona. 

Waktu layanan perpustakaan pada masa new normal  berbeda dengan layanan semula. Dengan dibatasinya jumlah pengunjung 100 orang per harinya, kini waktu pelayanan dibuka 2 sesi yakni 50 orang (08.00-12.00 WIB) dan 50 orang (13.00- 15.00 WIB). Sementara waktu kunjungan per orang maksimal 15 menit. 

Adapun jenis pelayanan perpustakaan IAIN Kudus secara online selama new normal yakni melayani pembuatan surat bebas pustaka online, melayani penyerahan skripsi/tesis online, melayani pencarian ebook/ejournal open acces melalui grub telegram http://t.me/joinchat/Higl8xl2eTaVBtlJwYRYtQ, melayani pencarian skripsi/tesis online http://eprints.stainkudus.ac.id, melayani cek turnitin karya ilmiah skripsi/tesis serta melayani baca koleksi online melalui aplikasi literasia. Sementara pelayanan secara ofline, kini melayani peminjaman dan pengembalian koleksi (sirkulasi). 

Mahasiswa PAI semester 2, Nur Hidayatun Ni'mah, mengaku sangat menyayangkan jika perpustakaan tidak melayani untuk baca ditempat dan penitipan barang. 

"Apalagi waktu dibatasi hanya 15 menit per orang. Jadi saya tidak sempat untuk membaca buku di dalam perpus," ungkapnya kepada reporter Parist.id via WhatsApp. 

Disamping itu, ia merasa lega dengan dibukanya kembali perpustakaan IAIN Kudus karena tidak terbebani dengan buku yang telah lama dipinjamnya. "Kalau lama-lama dibawa takutnya hilang," katanya. 

Sementara itu, Mahasiswa Prodi Akuntansi Syariah semester 2, Dinda Tasyafany, mengaku tidak lagi khawatir jika memasuki kawasan kampus terutama perpustakaan karena ketika akan memasuki kampus ada protokol kesehatan yang diterapkan pihak kampus. 

"Sebelum masuk kampus dan masuk perpustakaan di cek suhu tubuh dulu. Selain itu pihak kampus juga menyediakan hand sanitizer dan yang paling penting harus pakai masker," jelasnya. (Vina)


Oleh: Muayyadah*

Pancasila tetap menjadi bintang penjuru untuk menggerakkan kita semuanya, menggerakkan persatuan kita dalam mengatasi semua tantangan, menggerakan rasa kepedulian kita untuk saling berbagi, memperkokoh persaudaraan dan kegotong-royongan kita untuk meringankan beban seluruh negeri, dan menumbuhkan daya juang kita dalam mengatasi setiap kesulitan dan tantangan yang kita hadapi.

Ungkapan Presiden Jokowi itu menjadi bias rasa syukur untuk menggugah semangat masyarakat Indonesia agar senantiasa merefleksikan diri berdasar pancasila. Spirit gotong royong selalu didambakan Presiden Indonesia terlebih di masa pandemi korona. Semuanya terangkum dalam Peringatan Hari Kelahiran Pancasila tahun 2020 yang digelar secara daring melalui konferensi video, ditayangkan oleh kanal YouTube Sekretariat Presiden RI. 

Seperti yang kita ketahui sebagai dasar negara, Pancasila memiliki sejarah panjang sehingga di masa _pagebluk_ yang belum kunjung usai ini, Pancasila diharap selalu menjadi pedoman persatuan bangsa. Selain nilainya yang begitu bermakna, kilas balik sejarah lahirnya pancasila pun perlu direfleksi kembali oleh masyarakat Indonesia. 

Kilas Sejarah

Dikutip dari buku karya Kaelan, perjalanan Pancasila diawali dari adanya sidang BPUPKI pertama yang diketahui dr. Radjiman Widyodiningrat bentukan organisasi jepang untuk menyiapkan kemerdekaan Indonesia. Sidang pertamanya suatu masalah diangkat, kaitannya tentang rumusan dasar negara. Tiga tokoh terkemuka menyampaikan usulannya yakni Dr. Soepomo, Muh Yamin, dan Soekarno.

Para tokoh menyampaikan usulannya hingga tibalah tanggal 1 juni ketika soekarno berpidato secara lisan mengenai calon rumusan dasar negara yang dinamakan sebagai "pancasila" artinya lima dasar.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan  pada tanggal 17 Agustus 1945 keesokan harinya UUD 1945 disahkan dimana memuat lima dasar negara yang dinamai pancasila. Sejak saat itulah menjadi istilah umum dan mafhum di semua kalangan masyarakat. Tak berhenti disini saja, internalisasi nilai sebagai bentuk pembudayaan pancasila karena terdapat konsekuensi hukum dan moral untuk menerapkan nilai nilai pancasila. Dalam situasi pandemi saat ini pancasila yang digadang menjadi dasar negara serta filsafat menjelma sebagai solusi berbagai masalah bangsa. Covid 19 siap merengkuh kesatuan bangsa terhalang oleh membudayanya nilai pancasila di tengah masyarakat.

Gaungan lima dasar setiap upacara sekolah ataupun kegiatan yang berkaitan kenegaraan kini berubah menjadi obat baru disaat mengingat lahirnya serta eksistensi hingga sekarang. Tak salah bila pancasila dijadikan dasar negara juga kehidupan bermasyarakat di negara karena terjadi kesepakatan melalui perwakilan etnis, agama, dan intelektual. Harapannya mampu menjawab berbagai ancaman dan gangguan tentunya dibarengi strategi khusus.

Spirit Gotong Royong

Pancasila masih menjadi kiblat bangsa ini bersikap. Nilai paling menonjol yang perlu diaplikasikan di situasi pandemi adalah sikap gotong royong. Sebenarnya semua sila mengandung nilai.  Nilai satu dengan yang lain saling berkaitan. Gotong royong terdapat pada sila kelima didasari oleh nilai ketuhanan bahwa sebagai hamba harus saling membantu hamba yang lain. Juga sila kedua tentang nilai kemanusiaan bahwasanya manusia sebagai makhluk sosial memiliki tanggung jawab memanusiakan manusia salah satunya dengan menciptakan spirit gotong royong. 

Sebagai bangsa humanis, Indonesia tentu tidak familiar dengan sikap gotong royong. Namun, tidak menutup kemungkinan, masa pandemi covid-19 ini menjadikan rasa persatuan masyarakat berkurang. Bukan saling mendukung tapi justru saling menyalahkan. 

Maka, penting di Hari Lahir Pancasila yang bertepatan pada 01 Juni 2020, kita sebagai warga negara yang baik selalu berpedoman pada 5 sila bermakna. Rasa kemanusiaan harus selalu dijunjung agar setiap problema yang kita hadapi tidak semakin memanas dan cenderung menyalahkan beberapa pihak. 

Selamat Hari Lahir Pancasila

*Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial IAIN Kudus

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.