Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Dekonstruksi Realitas: Menuju PBAK yang Menggembirakan

parist  id
Jumat, Agustus 26, 2022 | 23:17 WIB
Ekspresi kegembiraan mahasiswa baru usai kegiatan PBAK IAIN Kudus 2022 berakhir


Menyambut mahasiswa baru tahun 2022 ini, IAIN Kudus menggelar agenda Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) secara offline. Agenda rutinan yang dihelat sebelum memasuki tahun ajaran baru ini, bertujuan untuk mengenalkan budaya akademik kampus bagi mahasiswa baru.  Mahasiswa baru akan dikenalkan dengan budaya kampus yang kritis, cinta ilmu, terbuka, revolusioner, dan berakhlak mulia. Melalui agenda inilah mahasiswa-mahasiswa baru mendapat gambaran besar tentang bagaimana ia kedepannya ketika menjadi seorang akademisi. Oleh karena itu, PBAK harus dilangsungkan dengan metode yang elegan dan senantiasa memberi stimulus baik bagi mahasiswa baru.

Momen strategis ini seharusnya dilaksanakan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai etis. PBAK bukanlah tempat untuk gagah-gagahan para senior kampus di depan adek-adek barunya. Senioritas bukanlah budaya akademisi yang patut ditampilkan pada mahasiswa baru. Senioritas hanyalah budaya konservatif yang jauh dari kata-kata intelektual. Budaya ini tidak menjadikan mahasiswa baru lebih baik karakternya, tapi malah memperpanjang rentetan mahasiswa bermental sok kuasa (baca: zaman peralihan). Oleh karena itu, senioritas sangat bertentangan dengan tujuan PBAK sendiri. Maka perlu sekali hal ini dibinasakan agar tidak mencederai budaya akademik kampus yang anti penindasan dan pembodohan.

Selain masalah senioritas yang norak, atribut organisasi eksternal tidak layak muncul dalam forum PBAK. Atribut-atribut organisasi eksternal sangatlah bias kepentingan, baik kepentingan golongan ataupun ideologi organisasi tersebut.  Kampus hijau ini harusnya menjadi laboratorium keilmuan yang bebas dari kepentingan kelompok tertentu. Kepentingan kampus hanyalah menciptakan kultur masyarakat ilmu. Dimana terbentuk mahasiswa yang memiliki sikap kritis, terbuka, dan tidak anti kritik(Kuntowijoyo tentang masyarakat ilmu). Maka dari itu, seharusnya atribut-atribut yang bias kepentingan tidak boleh hadir dalam PBAK. Bagi para stakeholder bisa menindak tegas panitia PBAK yang masih membawa embel-embel lain ke dalam forum. Munculnya atribut-atribut ini hanya menandakan kebringasan dan keserakahan organisasi eksternal.

Namun, apalah daya baru satu hari PBAK berlangsung sudah ada penyimpangan yang mencederai mahasiswa, baik internal maupun eksternal. Panitia dengan bangganya membawa atribut bahkan yel-yel menyebut organisasi eksternal ke dalam forum PBAK. Bukan masalah iri atau cemburu, tapi hal demikian terasa norak. PBAK  adalah agenda internal kampus maka dari itu, tidak boleh ada kepentingan luar kampus yang ikut dalam agenda ini. Hal ini malah  menandakan ada kegagalan dalam memainkan peran eksternalnya. Sehingga mereka bergelut diranah internal kampus. Maka, yang demikian menjadi lucu dan tidak etis untuk dipertontonkan publik.

Sebenarnya masih banyak yang perlu dievaluasi dari PBAK tahun ini. Mulai dari persiapan yang kurang matang sampai koordinasi yang tidak transparan. Panitia dirasa terlalu memikirkan kepentingan golongannya sehingga lupa terhadap esensi PBAK. Seharusnya panita mampu menjadikan PBAK sebagai gerbang awal untuk memaksimalkan potensi mahasiswa Islam. Sehingga mereka dikemudian hari mampu membawa revolusi peradaban dengan Islam sebagai alatnya. Dekatkan mereka dengan realitas yang sekarang terjadi di masyarakat. Jangan sampai mereka hanya menjadi sosok intelektual tradisional yang hanya memenuhi rak-rak tidak berguna. Namun, mereka haruslah menjadi sosok intelektual organik(Gramsci). Dimana kerja intelektualnya dihibahkan untuk kepentingan manusia dan alam semesta.

Sikap mulia tersebut tentu harus diperjuangkan dengan cara yang mulia pula. Mari mengusahakan yang demikian dengan menjadi insan yang cerdas dan konstruktif. Bergerak secara  elegan dengan menjunjung nilai-nilai moral yang unggul. Mengedepankan visi orang banyak bukan kepentingan golongan. Terus evaluasi dan kembalikan kesadaran agar kebangkitan Islam segera menjadi kenyataan bukan sekadar angan uthopis. Serta peradaban emas Indonesia yang dicita-citakan dalam tema besar PBAK bisa terwujudkan. Hal demikian inilah yang menjadi aspek  menggembirakannya.

Dengan sadar dan tulus penulis tetap memberikan apresiasi atas terselenggaranya PBAK offline tahun ini. Semoga nantinya bisa lebih baik dan tidak ada lagi hal kurang etis dalam forum PBAK.

Mengakhiri tulisan ini tidak lupa saya ucapkan selamat datang mahasiswa baru IAIN Kudus tahun 2022. Selamat mengarungi samudera keilmuan yang luas tanpa batas. Selektiflah dalam menentukan jalan untuk mencapai tujuan. Selalu semarakkan kerja intelektual Islam sebagai upaya dakwah keagamaan. Semoga berkah rahmat Ilahi melimpahi perjuangan kawan-kawan mahasiswa.


Abadi perjuangan

*Muhamad Fatkhul Huda, Ketum IMM Ar-Rasyid IAIN Kudus 2021/2022

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dekonstruksi Realitas: Menuju PBAK yang Menggembirakan

Trending Now