KAMPUS, PARIST.ID - Hingga akhir Januari, simpang siur konsep KKN berbasis kompetensi (KKN-K) masih didengar mahasiswa. Pembekalan KKN yang direncanakan pekan ini tertunda pelaksaannya karena belum selesainya berkas yang diperlukan. Hal tersebut disampaikan Nadhirin, Kepala Pusat Penelitian dan pengabdian Masyarakat (P3M) di Gedung Rektorat STAIN Kudus, Senin (29/1/2018). 

Kuliah kerja nyata (KKN) sebagai pengabdian masyarakat dalam tri dharma perguruan tinggi dirasa ganjal dengan konsep KKN berbasis kompetensi oleh pimpinan baru. Konsep maupun teknis yang tidak kunjung diberikan oleh pimpinan, menimbulkan kecemasan bagi mahasiswa. 

Terlebih lagi, Informasi yang didapat mahasiswa dari akun Kepala P3M melalui whatsapp hanya bersifat sementara. Informasi tersebut diantaranya mengenai tugas dan ketentuan pelaksanaan berkaitan dengan penginapan maupun pakaian. 
Gedung Rektorat STAIN Kudus. Istimewa

Nadhirin mengingatkan mahasiswa agar lebih tenang. "Tidak perlu persiapan tertentu, KKN gelombang kedua ini lebih mudah dan tidak menghabiskan biaya yang banyak," tuturnya 

Lebih lanjut Nadhirin mengatakan, jika mundurnya jadwal pembekalan juga dikarenakan adanya conflic internal. Ada ketidakcocokan konsep maupun teknis yang diberikan P3M kepada pimpinan. "kita harus bangun kembali, tidak hanya fisik bangunan, tapi perlu adanya pembangunan paling mendasar baik ideologi bahkan filosofi dalam KKN ini," katanya. 

Selain itu, beberapa madrasah juga mensyaratkan agar dipilihkan mahasiswa yang juga almamater lembaga tersebut sebagai praktikkan KKN. "Beberapa madrasah salaf menginginkan agar alumnusnya saja yang praktik di sana. Karena tidak semua mahasiswa kita memiliki kapasitas yang sama. Jadi kami perlu waktu untuk menata ulang pembagiannya," pungkasnya. (Melinda/WA)

KAMPUS, PARIST.ID - Himpunan Mahasiswa Jurusan Dakwah Dan Komunikasi (Dakom) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus melaksanakan pelantikan dan dialog interaktifdi Gedung Kantor Jurusan lantai 3 STAIN Kudus, Rabu (31/01/18). Mengusung tema “Bersama HMJ Dakom ciptakan Mahasiswa yang Aktif, Inovatif dan Kreatif” kegiatan itu berlangsung khidmat. 

Ketua HMJ Dakwah dan Komunikasi (Dakom) terlantik, Amang Jufriyadi, mengatakan bahwa anggotanya harus siap kerja keras dan tanggung jawab.Menurutnya, Jurusan Dakwah Dan Komunikasi perlu generasi unggul untuk mempersiapkan peralihan STAIN menuju IAIN. 

“Kita harus siap, berkerja keras dan tanggung jawab dalam memajukan HMJ Dakom untuk STAIN menuju IAIN,” kata Amang. 

Ia juga mengklaim adanya empat HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Studi) yaitu KPI, BPI, PMI, dan MD yang berada dibawah naungan HMJ Dakom sudah cukup membantu. Itu bisa jadi kebanggaan tersendiri dalam segi kuantitas lembaga. 
DILANTIK : Pengurus HMJ Dakwah dan Komunikasi dilantik oleh Ketua Jurusan Dakwah dan Komunikasi, Masturin. Muis for Paragraphfoto

Sementara itu, Ketua Jurusan Dakwah dan Komunikasi (Dakom), Masturin, menghimbau kepada semua mahasiswa, khususnya HMJ Dakom, agar tidak terpengaruh oleh berita hoaks. Mahasiswa hendaknya memiliki jiwa kreatif dan inovatif untuk bisa menunjang kemajuan institusi perguruan tinggi negeri. 

“Saya beharap mahasiswa tidak terpengaruh dengan berita hoaks, dan mampu menggali potensi dan prestasi mahasiswa Jurusan Dakwah Komunkasi,” tuturnya. 

Menurut Masturin, mahasiswa kreatif dan inovatif adalah yang memiliki cita-cita dan visi misi hidup lebih tinggi daripada yang lain. Ia mencontohkan para alumni mahasiswa dakwah yang tidak sekadar bekerja, tetapi juga memiliki dedikasi lebih yang berguna bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. 

“Kalau jadi guru misalnya, jangan sekadar mengajar, tetapi juga berkarya lebih dan memikirkan yang lain,” ujarnya. (Latifah)

PARIST.ID, KUDUS - “Wanita tidak butuh penghargaan, wanita tidak butuh pengakuan, tapi wanita hanya butuh kejelasan.” Seperti itulah yang disuarakan Rita Angelina, pemeran tokoh Shinta dalam pementasan teater dan monolog di panggung Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FasBuk), senin (29/1/2018). Bertempat di gedung Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) FASBuK edisi bulan ini menampilkan pertunjukan teater dan monolog yang dipentaskan oleh teater “Bledug” dari Unit Kegiatan Seni Mahaiswa STIKES Muhammadiyah Kudus. 

Kali ini, Teater Bledug menampilkan mahakarya besutan Laila Alfiyah berjudul "Drupadi" dan Aslam Mufit dengan judul "Shinta."

Laila Alfiyah, selaku sutradara mengatakan, sama halnya laki-laki, wanita juga bisa menjadi apa yang ia inginkan. “Wanita harus jadi sekuat-kuatnya pribadi, jangan kalah dengan laki-laki," tuturnya.

Laila menambahkan, melalui sosok Drupadi, ia ingin menggambarkan betapa tangguh dan kuatnya wanita. Kesan bahwa selama ini wanita selalu terkungkung di bawah kuasa laki-laki mampu ditepis dengan adanya watak Drupadi.

Wanita yang juga berperan sebagai Drupadi ini ingin membuktikan bahwa meskipun di STIKES itu banyak yang perempuan dan minim laki-laki, tapi wanita itu juga bisa menjadi laki-laki. Seperti tokoh Indrajid, ia adalah seorang wanita, tapi ia bisa memerankan anak dari seorang Rahwana menjadi seorang raksasa. Jadi itu membuktikan bahwa wanita bisa menjadi kuat, meskipun tidak lupa dengan kodratnya sebagai seorang wanita.

Sementara itu penulisan naskah “Shinta” memang melalui proses yang sangat panjang. Shinta adalah sosok yang anggun dan kuat. Ia tidak mau dituduh suaminya sendiri sebagai wanita yang tidak suci. Aslam Mufit, sebagai penulis naskah “Shinta” mengaku ingin mengangkat harga diri dari seorang wanita. Menurutnya di era yang semakin maju sekalipun, ternyata masih banyak laki-laki yang melecehkan harga diri wanita.

Perihal pengangkatan tema tentang pewayangan, lanjut Aslam, Ia ingin anak-anak jaman sekarang mengetahui tentang pewayangan. “Kita ingin keluar dari zona nyaman. Di era yang semain maju ini, kita juga harus mengetahui tentang pewayangan.” Imbuhnya.

Pementasan di panggung FASBuK adalah penampilan pertama kali dari Teater Bledug setelah sempat mati namun dapat dihidupkan lagi. Eli Oktaviani, selaku sebagai ketua Teater Bledug menjelaskan arti kata dari “Bledug”, yaitu “Debu”. Ia juga mengungkapkan, teater Bledug sempat pernah mati, tapi bisa dihidupkan kembali. Kendala yang didapatkan sebelum pementasan adlah susahnya menyatukan jadwal acara, karna berbeda prodi. Dan yang paling susah lagi adalah sebagian besar pemain belum pernah tampil, atau baru pertama kali tampil di panggung FASBuK ini.

Arfin Akhmad Maulana, ketua badan kerja FASBuK mengingatkan tantangan yang diberikan panitia kepada semua peserta sama, yaitu berkaryalah dengan karya sendiri. Ia mengapresiasi karya dari Teater Bledug, apalagi FASBuK ini adalah ruang untuk tampil pertama kali. 

“walaupun ada masalah dari kesehatan, tapi mereka tetap bersemangat menghidupkan kesenian dan kebudayaan.” terangnya. (Arif/FMH)

KAMPUS, PARIST.ID – Unik Kegiatan Mahasiswa (UKM) Musik STAIN Kudus selama ini dipandang sebelah mata oleh para pimpinan di STAIN Kudus. Hal ini tegaskan oleh Ketua UKM Musik terlantik, Arif Budiono saat memberikan sambutan pada pelantikan pengurus di gedung PKMSTAIN Kudus, selasa siang (30/1/2017). 

Menurutnya, selama ini UKM Musik kurang begitu diperhatikan oleh pimpinan STAIN Kudus, misalnya soal sarana dan prasarana yang kurang memadai, seperti tidak adanya fasilitas Vidio, alat yang kurang, dll. “Maka dari itu kami berharap pimpinan STAIN yang baru ini bisa memperhatikan kami lebih baik,” terangnya disambut tepuk tangan para hadirin.
DILANTIK : Wakil Ketua III, Abdurrahman Kasdi melantik pengurus baru UKM Musik STAIN Kudus periode 2018
Menanggap, Wakil Ketua III, Abdurrahman Kasdi mengaku kedepan pihaknya akan lebih memperhatikan UKM yang ada. “Kami berkomitmen akan lebih memperhatikan UKM, tanpa membeda-bedakan satu sama lain,” katanya. 

Lebih lanjut,Kasdi menerangkan, soal fasilitas alat, UKM musik bisa memanfaatkan alat musik yang sudah ada. Disamping itu alat musik yang biasa digunakan PGMI juga boleh digunakan oleh seluruh mahasiswa, asalkan berkoordinasi dengan pimpinan terlebih dahulu. “Karena alat yang kami beli itu bukan khusus untuk pihak tertentu, tapi untuk seluruh mahasiswa STAIN Kudus,” terangnya. 

Menurutnya, peralatan yang dibeli oleh STAIN Kudus itu diperuntukkan untuk mahasiswa, misalnya saja kemarin kami membelikan tenda untuk UKM Racana, silahkan itu juga bisa digunakan oleh UKM lain, tidak hanya untuk Racana saja. “Karena alat itu tidak akan rusak kalau dipakai terus, justru biasanya rusak itu kalau tidak pernah dipakai,” ujarnya. 

Selain itu, bentuk perhatian pimpinan STAIN Kudus juga dibuktikan dengan menambah anggaraan Dipa untuk UKM, yang awalnya 10 juta pertahun, mulai tahun ini naik menjadi 12 Juta pertahun. “Kami juga sudah menyiapkan dana khusus untuk delegasi dan lomba-lomba untuk Dema, Sema, HMJ, UKM atau atas nama mahasiswa yang ikut kegiatan di luar kampus,” katanya. 

Oleh karena itu, tambahnya, mahasiswa ketika ingin mengikuti kegiatan di luar kampus, misalnya lomba atas nama STAIN Kudus, atau delegasi atas nama STAIN Kudus silahkan bisa berkoordinasi dengan pimpinan. “Apapun yang terkait dengan kemahasiswaan silahkan sampaikan ke saya atau ke pembina,” pungkasnya.(Wafa)

PARIST.ID, DEMAK- Puluhan bibit tanaman jenis Pucuk Merah bakal ditanam disepanjang pinggiran sungai Desa Cangkring, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Minggu (28/1/2018). Serah terima bibit dilaksanakan di halaman Balai Desa Cangkring. Kegiatan itu dilakukan guna mengurangi abrasi sungai  sekaligus memberi kesan asri di sekitarnya.

Foto : Dokumentasi Desa Cangkring
"Peduli Lingkungan Dengan Tanam," tema kegiatan yang diinisiasi Gerakan Pemuda Anshor Ranting Cangkring tersebut bermaksud untuk menggalang peran pemuda untuk memperhatikan dan membangun desa. Kegiatan tersebut diikuti oleh sejumlah organisasi masyarakat, seperti Karang Taruna, Pimpinan Ranting IPNU/IPPNU, Komunitas Pecinta Alam Demak Timur (KOPI ADAT), dan Peserta KKN STAIN Kudus.

Agus Febianto, selaku Ketua Anshor Ranting Cangkring mengatakan, untuk mengggerakkan persatuan pemuda desa, kegiatan semacam inilah yang dirasa cukup tepat untuk mengawalinya.

"Ini awal ikhtiar kami, setelah ini pemuda Desa Cangkring harus berkontribusi memajukan desa, entah apapun bentuk kontribusinya," ucapnya.

Selaras dengan Agus, Ali ahmadi, selaku sebagai ketua karangtaruna mengatakan k
e depannya, pengelolaan tanaman itu akan diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah desa dan masyarakat sekitar sungai. Namun, apabila ada suatu kendala, pemuda siap membantu menyelesaikannya.

Salah satu peserta, Arif maulana, salah satu pendiri Kopi Adat mengaku sangat bersyukur diadakan kegiatan seperti ini di desanya. Ia sangat senang bisa membantu melestarikan lingkungan di dalam desa. Menurutnya, ia sering mengikuti kegiatan seperti ini di luar desanya, namun belum pernah di desanya sendiri.

“Saya sangat senang dengan kegiatan yang melibatkan alam seperti ini, saya sering mengikuti kegiatan seperti ini di desa lain, seperti penanaman mangrove di sayung, bersih-bersih sampah di pantai Glagah Wangi, Karang Tengah, namun belum untuk di desa sendiri. Saya harap kedepan bukan hanya penanaman, tapi juga sampah harus juga diperhatikan,” ujarnya.

Kepala Desa Cangkring,  Imam Jaswadi, mengapresiasi kegiatan yang dilakukan pemuda ini. Menurutnya kegiatan seperti ini sangat bagus untuk desa. Ia juga senang kalau misalkan ada pemuda-pemuda yang aktif membangun desa. Ia juga memperingatkan agar merawat bibit Pucuk Merah yang akan ditanam nantinya.

“Saya menerima dengan baik apa yang dilakukan oleh pemuda kali ini, lanjutkan saja, tapi saya harap jangan hanya menanam saja, tapi juga ada tindak lanjutnya," katanya. (Arif/FMH)

PARIST.ID, KAMPUS- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Pecinta Nalar (KPN) akan membuat diskusi mingguan yang dikonsep mirip acara diskusi di salah satu stasiun televisi nasional Indonesia Lawyer's Club (ILC). Hal itu mengemuka saat pelantikan pengurus periode 2018 di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), Senin, (29/1/2018).
Pelantikan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Pecinta Nalar (KPN) di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) STAIN Kudus. Arif/PARAGHRAPHFOTO


Dalam sambutannya, Khoirun Nisa, selaku ketua terpilih meminta bantuan sesepuh atau senior dan pengurus baru UKM KPN untuk memaksimalkan kerja. Ia juga menambah progam kerja dari KPN perihal diskusi rutinan yang semula satu minggu satu kali menjadi satu minggu dua kali. Ia juga berharap agar kepengurusan kali ini bisa sukses. “Saya harap teman-teman bisa sukses tahun ini, saya mohon kerja samanya,” jelasnya.

Sementara itu Nur Aris, sebagai pembina UKM KPN mengatakan, mencintai nalar itu bagian dari perintah agama, yakni perintah untuk berfikir. Menurutnya, nalar itu sangat penting, dalam Islam nalar sepadan dengan jiwa dan harta. Ia juga menambahkan, kepada pengurus dan semua anggota harus bersyukur masuk di UKM KPN. “Pecinta nalar adalah orang yang bisa mengendalikan emosinya, bersyukurlah anda yang ada di KPN, karna anda adalah ahli-ahli syurga,” imbuhnya. 
Dosen yang mengajar mata kuliah logika itu juga menawarkan kegiatan untuk KPN kedepan, yaitu memahami al-Qur’an dengan logika. Ia juga mengingatkan agar diskusi-diskusi rutinan tersebut di dokumentasikan.

 “Diskusi-diskusi tersebut harus didokumentasikan dengan baik, karena ini terkait dengan nuansa dan suasana akademik di kampus kita.” paparnya.

Sama halnya dengan Nur Aris, Abdurrahman Kasdi, selaku sebagai Wakil Ketua Tiga STAIN Kudus menuturkan, menjaga akal itu sangat penting. Ia berharap besar kepada UKM KPN perihal follow up dari diskusi itu. Ia berharap hasil dari diskusi itu bisa ditulis. Ia mencontohkan dari UKM Paradigma yang sukses meraih opini juara satu tingkat nasional. Ia juga menawarkan agar bisa bekerja sama dengan UKM Paradigma, “Kebetulan disini ada ketua Paradigma, mungkin nanti kalian bisa bekerja sama dengan merekauntuk menggunggah tulisan di website mereka.” Imbuhnya.

Terkait kebijakan dari ketua STAIN Kudus, minimal satu UKM mampu mendatangkan satu profesor atau paling tidak narasumber bertaraf nasional,  Abdurrahman Kasdi yakin KPN bisa merealisasikannya. Ia juga berharap KPN bisa mendukung kebijakan-kebijakan ketua STAIN Kudus. “Terima kasih kepada pengurus demisioner, dan selamat kepada pengurus baru, semoga kedepan bisa membangun dinamika dan membesarkan STAIN yang Insya Allah akan berubah menjadi IAIN," harapnya. (Arif/FMH)


Foto: Arif/PARAGRAPHFOTO

PARIST.ID, KAMPUS- Ketua STAIN Kudus, Mundakir intruksikan seluruh civitas akademika untuk melupakan kompetisi politik masa lalu dan mengajak seluruhnya untuk berkolaborasi demi memajukan prestasi kampus.

Dihadapan civitas akademika dan sejumlah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dia mengaku persaingan elit kampus yang sempat memanas beberapa bulan lalu nampaknya mengakibatkan hubungan antar mereka sedikit renggang. Hal itu dia sampaikan ketika memberi sambutan dalam acara tasyakuran gedung baru, Jumat, (26/1/2017) pagi tadi.

"Kita masih beruntung tidak seperti kampus-kampus lain yang konfliknya melebihi kita, oleh karenanya kita harus cepat melupakan itu semua," ungkapnya.

Menurutnya, banyak hal yang sangat perlu dikerjakan kedepannya. Dari pada memperpanjang masalah seperti itu, lanjut Mundakir, lebih baik semua pihak bisa menyadari, menyudahi, dan saling berjabat tangan untuk memperkuat visi misi kampus.

Dia juga mengatakan, peresmian gedung baru tersebut akan diresmikan oleh Dirjen Pendidikan Islam sekaligus peletakan batu pertama pembangunan gedung perpustakaan pada pertengahan Februari mendatang. Dan itu membutuhkan persiapan yang matang.

Senada dengan Mundakir, Supa'at, selaku wakil ketua satu, juga mengajak seluruh elemen kampus untuk mewujudkan birokrasi akademik yang sama dan teduh. Dia meyakini, kampus akan mengalami kemajuan signifikan kalau semua pihak saling bersinergi. 

Kedepan, lanjut Supa'at, selama dua hingga tiga tahun, pembangunan akan terus dipercepat. Dan tahun ini, pimpinan kampus akan berpacu dengan rencana alih status STAIN menjadi IAIN.

"Mulai tahun ini kita akan berhadapan dengan program-program yang harus dituntaskan. Dan kita harus bersatu untuk hal itu," tandasnya. (Faqih)

PARIST.ID, KAMPUS- Perpustakaan setinggi empat lantai akan segera dibangun mulai pertengahan bulan Februari mendatang. Hal itu mengemuka saat pelantikan bersama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Kamis (25/1/2017) di Aula Rektorat lantai 3.

Wakil Ketua 3 STAIN Kudus, Abdurrahman Kasdi, mengatakan, demi kelancaran penilaian dan visitasi alih status STAIN menjadi IAlN, salah satu hal yang paling mendesak ialah kebutuhan literasi untuk kemahasiswaan.

Menurutnya, keadaan perpustakaan saat ini sangatlah jauh dari kata layak. Pasalnya, gedung yang sangat kecil tidak mampu lagi menampung mahasiswa yang hampir 12.000 dan buku-buku yang dirasa kurang lengkap untuk dikonsumsi mahasiswa.
Foto: Istimewa

Ketua STAIN Kudus, Mundakir, membenarkan adanya rencana pembangunan perpustakaan itu. "Iya, betul, kita akan bangun itu (perpustakaan) di sebelah barat gedung baru," katanya.

Rencananya, lanjut Mundakir, pembangunan dipastikan akan dimulai pertengahan bulan Februari mendatang. Nantinya, perpustakaan akan ditempatkan di tiga lantai, yaitu lantai dua, tiga, dan lantai keempat. Sedangkan lantai satu akan digunakan untuk kantor unit-unit akademik.

"Awalanya, lantai satu akan digunakan sebagai tempat parkir. Tapi sayang, kan? Setelah itu saya minta ada perubahan perencanaan," tambahnya.

Perpustakaan tersebut dipastikan akan beroperasi di tahun 2019. Karena, bisa tidak bisa pembangunan harus selesai dalam satu tahun. (Faqih)

Foto: Paragraph Photo


PARIST.ID, KAMPUS- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jam'iyyah Qurro' Wal Huffadz Asy- Syauq siap melaksanakan mandat Khusus Ketua STAIN Kudus sebagai partner dalam program kerja (progja) Pusat Kajian Al-Qur'an. 

Sebagai UKM yang bergerak di bidang keagamaan Islam, JQH Asy- Syauq dirasa cukup tepat dalam menjalankan mandat tersebut. Hal itu disampaikan langsung oleh Mundakir, selaku Ketua STAIN Kudus saat memberikan sambutan di acara pelantikan bersama JQH Asy-Syauq, Lembaga Dakwah Kampus, dan Olahraga, Kamis, (25/1/2017) di Aula Rektorat Lantai 3.

Mundakir mengatakan, progja tersebut merupakan salah satu progja yang secara khusus dicanangkan untuk meningkatan nilai lebih kampus, dan program unggulan yang belum dimiliki kampus lain, serta upaya untuk mempercepat visitasi alih status STAIN menjadi IAIN.

Melihat potensi yang ada, lanjut Mundakir, sebenarnya banyak sekali mahasiswa STAIN Kudus yang mempunyai kompetensi dalam hal kajian Al-Qur'an. Ia menganggap satu-satunya UKM yang paling tepat ia Mandarin adalah JQH.

"Berdasarkan pengamatan saya, JQH paling tepat untuk yang satu ini (kajian Al-Qur'an)," ungkapnya.

Ditemui secara terpisah, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak akademik untuk membuat kurikulum dan formula yang baik. Nantinya, pihaknya juga akan mengundang Prof. Sutrisno, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga untuk memberikan gambaran dan masukan formulasi kurikulum yang tepat.

"Bulan ini kita akan undang satu Guru Besar UIN Jogja, karena beliau punya rekam jejak yang baik dalam hal pembuatan kurikulum," terangnya.

Muhammad Fawaz Zakariya, selaku Ketua JQH mengaku sangat terkejut dengan mandat yang diberikan kepadanya. Pasalnya, sebelumnya memang tidak pernah ada pemberitahuan dari pembina maupun Waket 3 Bidang Kemahasiswaan.

"Saya baru dengar tadi barusan, dan itu tidak pernah kami duga sebelumnya," katanya.

Fawaz mengatakan, dia akan memasukkan mandat tersebut ke dalam progja tahun ini. Pihaknya akan memaksimalkan kompetensi seluruh anggotanya untuk mensukseskan progja itu.

"Saya harap, dengan program itu kami bisa membantu kampus. Dan hitung-hitung sebagai wujud pengabdian kami," pungkasnya. (Faqih)



KUDUS, PARIST.ID- Forum Apresiasi Seni dan Budaya Kudus (FASbuk) akan kembali menghadirkan perhelatan pentas kesenian dan sastra akbar. Di penghujung bulan Januari nanti, Senin (29/1/18) akan mementaskan dua kisah yang terinspirasi dari Ramayana, salah satu lakon dalam pewayangan.

Seperti biasanya, pementasan akan dilaksanakan di gedung Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK). Nantinya, akan ada dua pertunjukan dalam satu panggung. Pertama,  pertunjukan teater bertajuk "Shinta" karya Aslam Mufit. Dia mengangkat sosok Shinta sebagai perempuan yang senantiasa melindungi kesetiaan dan janji suci atas cintanya.

Kedua, akan ada pementasan monolog berjudul "Drupadi" besutan Laila Alfiyah. Yang juga sebagai sosok perempuan tangguh dalam menjalani suratan takdir.

Laila Alfiyah sebagai sutradara menjelaskan, akan ada pesan penting yang ingin disampaikan terkait dua tokoh perempuan tersebut melalui karyanya itu. Meskipun berbeda, kedua cerita tersebut memiliki titik kesamaan dan merupakan kekuatan dari keduanya.

"Benang merah keduanya ialah sama-sama menjadi tokoh perempuan yang kuat dan gigih dalam berjuang," tuturnya.

Laila menambahkan, konsep dan ide pertunjukan yang akan dibangun juga disesuaikan dengan kondisi di era saat ini.

Arfin Ahmad Maulana, selaku ketua dewan kerja FasBuk mengatakan, kedua pementasan itu akan ditampilkan oleh Teater Bleduk dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah Kudus. "Mereka akan menghadirkan suasana Ramayana di tengah-tengah kita nanti," ungkapnya. 

Seperti biasanya, usai pementasan akan diadakan diskusi seputar pertunjukan serta proses penciptaan sebuah karya bersama para aktor dan kru. (Falis/FMH)

Foto: Anis Sholeh Ba’asyin, Kh. Dr. Abdul Ghofur Maimoen dan Budi Maryonodalam Suluk Maleman "Ingatan Para Pelupa”di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (20/1) kemarin.


PARIST.ID, PATI- Dr. Abdul Ghofur Maimoen atau yang karib disapa Gus Ghofur menilai jika permasalahan ummat dan bangsa sekarang ini lantaran telah kehilangan rasionalitasnya. Hal itulah yang seringkali menjadi banyaknya permasalahan dan konflik.

Pernyataan menggelitik itu diungkapkan putra kyai sepuh Maimoen Zubair, Rembang, saat membuka pengajian budaya Suluk Maleman di Rumah Adab Indonesia Mulia Sabtu (20/1) kemarin.

Pria lulusan pendidikan Mesir ini menyebut, ciri ummat yang telah kehilangan rasionalitas seringkali memikirkan hal yang remeh-remeh sehingga justru banyak meninggalkan yang lebih besar. Tingkat kehilangan rasionalitas itu bahkan diakuinya sudah masuk ke tataran yang begitu berbahaya.

“Sebisa-bisanya kita harus memasukkan bukan justru mengeluarkan. Tapi pada kenyataan sekarang ini justru sebaliknya,”ujarnya.

Hal itu dicontohkannya seperti adanya ummat yang mengkafirkan sesama muslim. Hal itu tentu berbeda jauh dengan dakwah orang-orang yang terdahulu. Orang dahulu dinilainya sangat terbuka dan toleran oleh karena itu dirinya menyesalkan ummat sekarang ini yang terkesan tertutup pada sesuatu yang baru.

“Jumlah ummat Islam itu banyak, tapi malah dikafir-kafirkan sendiri. Itukan justru mengurangi. Ada ummat yang datang ke masjid tapi justru saat mendengar dakwahnya terkesan marah-marah. Indonesia bisa menjadi negara mayoritas karena suka memasukkan bukan malah mengeluarkan,”tegasnya.

Menurutnya, ilmu fiqih seharusnya tentang bagaimana mencari solusi yang mudah tanpa keluar dari syariat. Dirinya juga mengingatkan jika nabi membenci orang yang mengikuti sesuatu secara buta.

“Menghukumi halal dan haram itu sesuatu yang mudah. Tapi bagaimana kita mengajak pada kebaikan namun dengan cara yang baik,”ujarnya.

Sesuatu yang patut dipelajari dari orang terdahulu, dikatakannya seperti tentang sikap terbukanya. Bahkan di era kekalifahan terdahulu banyak sumber-sumber ilmu baru dari luar yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Arab. Bahkan lantaran banyaknya buku terjemahan itu sampai bisa dibuat jembatan. Namun orang sekarang justru terkesan takut jika ada sesuatu yang baru.

“Padahalorang yang tidak punya ingatan tentang masa lalu akan mudah dipengaruhi. Karena tentu orang tersebut tidak punya jati diri,”ujarnya.

Anis Sholeh Baasyin, budayawan sekaligus penggagas Suluk Maleman mengatakan, sekarang ini sejumlah tokoh nampak seolah-olah terlihat saling bertentangan. Padahal ada garis merah yang sebenarnya memiliki tujuan yang sama.

“Sebenarnya kuncinya satu, silaturahim. Itu yang tidak dijalankan. Padahal pertemuan itu dibutuhkan untuk menyatukan perbedaan agar ada kesesuaian dan keselarasan,”ujarnya.

Bahkan di era wali jaman dulu juga seringkali terjadi perbedaan pendapat dan pandangan. Hanya, hal tersebut selalu bisa terselesaikan dengan solusi terbaik karena selalu bermusyawarah.

“Tapi sekarang ini yang terlihat justru soal menang dan kalah,”tambahnya.

Tak hanya itu, dia juga mengatakan jika sekarang ini banyak orang yang tidak bisa menangkap nilai-nilai beragama. Orang tidak akan bisa merasuk jika hanya melihat sesuatu dari kulitnya saja.

“Sebenarnya masih tidak apa-apa jika baru bisa menangkap kulitnya tapi jangan sampai memaksakan ke orang lain,”tegasnya.

Hangatnya diskusi tersebut itupun turut diwarnai dengan pementasan Orkes Puisi Sampak GusUran. Meski sempat diguyur hujan deras, namun ratusan peserta tetap antusias. (Ulil)

PARIST.ID, KAMPUS - Sebanyak 32 pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam (HMJ Syariah dan EI) periode 2018 resmi dilantik pagi tadi, Selasa (16/1/2017). Mereka dilantik langsung oleh Ketua Jurusan Syariah dan EI, Supriyadi di Aula Kantor Jurusan Lantai 3.

Pengurus baru HMJ Syariah dan Ekonomi Islam dilantik di gedung kantor jurusan lantai 3. FOTO : Arif/PARAGHRAPHFOTO
Muhammad Jamaluddin, selaku ketua terlantik mengatakan, sistem birokrasi mahasiswa di tingkat jurusan harus tetap terjaga dengan iklim yang baik. Tugas HMJ ialah menjadi fasilitator bagi Mahasiswa Syariah ketika mengalami kendala baik akademik maupun non akademik. Selain itu, dia juga akan berupaya untuk memajukan Jurusan Syariah dengan program-program kerja hingga akhir jabatannya.

Dalam pelantikan tersebut juga diadakan dialog interaktif dengan Ketua Jurusan Syariah dan EI. Dalam kesempatan itu, Jamal mengatakan, nantinya akan dibentuk Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) dan Unit Kegiatan Jurusan (UKJ).

Rencananya, program kerja tersebut akan direalisasikan antara bulan Februari dan Maret. Kedepan, dengan adanya program tersebut, diharapkan mahasiswa Syariah dan EI mempunyai wadah untuk menuangkan gagasan dan bakat terpendam.

Julianto, ketua HMJ Syariah dan EI periode tahun lalu memberikan tugas kepada segenap pengurus tahun ini supaya mampu melanjutkan estafet kepemimpinannya dan periode-periode sebelumnya. Dia menuturkan, setiap kendala yang akan dihadapi pengurus harus mampu dibaca agar tidak terjadi kekagetan di tengah-tengah perjalanan.

"HMJ Syariah itu lain daripada yang lain, jaga sikap kalian terutama kedisiplinan, menjadi anggota HMJ itu bagaikan seorang artis, harus bisa jaga sikap, kesopanan, dan tutur kata.” Imbuhnya.

Sementara itu, apresiasi tinggi disampaikan oleh Yudhistira Pradipta, selaku  Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) 2018-2019 terpilih. Yudhis menjelaskan, sebagai bawahan, HMJ harus mampu menjadi partner DEMA dalam menjalankan roda birokrasi kampus. Ia mengaku, selama ini HMJ Syariah dan EI telah menjadi partner yang baik bagi DEMA, oleh karena itu ia berharap tahun ini akan sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

"HMJ syariah adalah partner yang bisa diandalkan, kepedapan juga harus lebih bagus lagi kinerjanya."

Senada dengan Yudhis, Supriyadi, selaku Ketua Jurusan Syariah dan EI juga mengapresiasi kinerja anak asuhnya karena selama ini mampu memberikan pengaruh baik bagi Jurusan. Ia berpesan kepada pengurus tahun ini untuk tetap menjaga i'tikad baik sebagai mahasiswa Syariah dan memberi contoh kepada seluruh mahasiswa Syariah dan EI.


"Saudara adalah mahasiswa terpilih, karena semua tidak bisa menjadi seperti anda. Kalian adalah penghubung antara mahasiswa dan jurusan, misalnya ada pelayanan di jurusan yang tidak baik harus disampaikan," tuturnya. (Arif/FMH)

PARIST.ID, DEMAK- Mewujudkan desa literasi serta ramah anak diintruksikan kepada para kepala desa se Kabupaten Demak. Hal itu disampaikan oleh Camat Mijen, Iskandar Zulkarnain, dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) di Desa Pasir, Mijen, Demak, Jumat (12/01/18). 


"Itu termasuk program Bupati Demak yang baik untuk kita dukung untuk masa depan anak cucu kita," ujar Iskandar.
PARAGRAPH PHOTO


Demak akan dicanangkan sebagai Kabupaten Literasi untuk mendorong minat baca-tulis masyarakat, utamanya generasi muda. Menurut Iskandar, program itu akan sukses bila masing-masing pemerintah desa bisa mengaktifkan perpustakaan desa dengan berbagai kegiatan menarik.


"Perpustakaan desa itu supaya diaktifkan, utamanya yang ramah anak untuk memancing minat baca tulis," jelasnya.


Selain itu, dia juga menegaskan agar pemerintah desa segera menyelesaikan laporan keuangan dan melek internet. Itu juga dibutuhkan untuk menunjang kesiapan Pemerintah Kabupaten Demak yang tahun ini akan menerima audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pusat.


"Tahun ini Demak akan menyambut tamu dari BPK untuk diaudit, jadi mohon segera dibuat yang rapi," pintanya.


Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Demak, H. Rozikan, menjelaskan Musrenbangdes Kabupaten Demak 2019 mendatang akan menerapkan konsep e-planning dan e-budgeting. Yaitu model perencanaan dan pemasukan anggaran secara online dan bisa dilihat oleh masyarakat umum.


"Penerapan dua konsep itu bertujuan sebagai sarana transparansi program dan anggaran. Agar publik tahu," jelasnya.


Ia juga berpesan agar program dan anggaran pembangunan desa yang ada sudah disepakati oleh pemerintah desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).


"Harus ada sinkronisasi semua pihak biar terorganisir," tambah pria asal Mijen itu. (Farid)

PARIST.ID - Memiliki desa wisata yang asri dan terkenal merupakan impian banyak orang. Tak terkecuali Septy Nurul Ariyani (21), gadis yang lahir di bulan September 1996 itu juga sangat mengidam-idamkan desanya menjadi desa sadar wisata.

Septy tinggal di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, dan kini ia tengah menempuh studi S1 di STAIN Kudus. Sejak SMA dia sudah meninggalkan desanya untuk sekolah di salah satu SMA di Kabupaten Pati. Masih cukup dekat dengan Grobogan.

Beberapa tahun lalu, seusai ia lulus dari bangku SMA, ketika sedang berada di desanya tiba-tiba ia terpikirkan satu hal terkait keadaan tanah kelahirannya cukup tertinggal jika dibandingkan daerah-daerah lain. Seperti Pati, Kudus, dan beberapa daerah di sekitar Grobogan.

Suatu hari, ia berbincang-bincang ringan dengan Sirojul Munir, salah satu temannya yang kini kuliah di Pati. Mereka sering bepergian bersama ke beberapa objek wisata yang ada di daerahnya. Ketika mereka pergi ke Wisata Air Terjun Widuri, yang kebetulan tak jauh dari rumahnya, mereka menjumpai banyak sampah yang menumpuk dan mencemari lingkungan air terjun.

Padahal, menurut Septi, Air Terjun Widuri sebenarnya bisa dijadikan objek wisata unggulan di daerah Grobogan. Seketika itu ia melihat ada peluang besar agar masyarakat luar wilayahnya untuk berwisata ke sana.

"Kalau saja wisata kota kita bisa bersih ya, ditata yang baik pasti banyak yang datang. Banyak rezeki yang diperoleh warga sekitar dan menyumbangkan kemajuan Grobogan," ucap Septy kepada Munir kala itu.

Septy sebagai warga asli dan akan menjadi penerus pemimpin Grobogan ingin keberadaannya sebagai yang terpelajar bisa membawa perubahan positif. Langkah awalnya yaitu dengan mengumpulkan teman-temannya asal Grobogan yang berstatus mahasiswa di berbagai perguruan tinggi. 

Ia mendirikan sebuah komunitas sadar wisata. Komunitas itu diberi nama Organisasi Peduli Wisata Grobogan (OPWG). Anggota komunitas itu kemudian mengangkat Misbah Aziz Romdhoni, yang saat itu sudah menjadi Duta Wisata Grobogan menjadi Ketua. Sedangkan Septy menjabat sebagai Sekretaris.

Melalui komunitas itu, Ia sangat berharap kepada seluruh anggota untuk menyamakan visi sebagai kelompok sadar wisata yang akan mengakomodir objek-objek wisata di Grobogan menjadi objek wisata unggulan.

"Saat kembali ke Grobogan, bisa ngumpul bersama, membagikan ilmu yang kita dapat selama belajar di universitas masing-masing untuk kemajuan kota kita," tutur Septy, Rabu (8/11/2017) lalu.

Program kerja pertama yang mereka lakukan ialah ikut membenahi Kompleks Wisata Ki Ageng Selo. Komunitas OPWG dengan jumlah 25 orang, kemudian melakukan kerjabakti atas anjuran juru kunci untuk membersihkan dan merapikan kawasan pemakaman tersebut.

Setelah berhasil, OPWG kembali menjalankan tugasnya sebagai kelompok sadar wisata yang progresif. Target berikutnya ialah Air Terjun Widuri, mereka juga membersihkan dan memperindah sekitaran air terjun. Dan kali ini juga mereka berhasil membuat Widuri menjadi mempesona.

Setelah itu, ia ingin mendaftarkan komunitasnya ke Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Grobogan. Namun, di sana ia mendapatkan info kalau di Grobogan sudah ada organisasi yang mirip dengan visi OPWG. Sayang, saat ia mengumpulkan kembali teman sekomunitasnya untuk memutuskan bergabung atau berdiri sendiri, yang hadir kurang dari 5 orang.

Kesibukan masing-masing anggota dengan kegiatan di universitas asalnya menjadi penghambat utama OPWG berjalan tersendat. Septy, Munir dan Aziz kemudian memfakumkan sementara komunitas itu sampai batas waktu yang tidak menentu.

Di tahun 2016, saat ada pembukaan pendaftaran Mas-Mbak Duta Wisata, ada ajakan dari Aziz untuk ikut ajang itu. Dengan semangat seusai mendengar cerita temannya itu ia mendaftarkan diri.

Melalui ajang itu, ia berpikiran nantinya dapat menjadi jalan untukknya menghidupkan komunitasnya kembali. Selain itu, ia juga bisa menyalurkan kesenangannya dalam fashion show. Bakat yang sudah lama ia tekuni diam-diam.

Namun prediksinya keliru. Usai ia didapuk menjadi Juara Duta Wisata kategori Busana terbaik ia masih kesulitan mengumpulkan teman-temannya lagi. "Mengajak untuk mencintai wisata kota sendiri bukan hal yang mudah," jelas Septy.

Septy menambahkan, banyak pengalaman yang ia dapatkan usai menjadi Duta Wisata Grobogan. "Banyak sekali ilmu yang aku dapat. Aku jadi tau seluk beluk adatistiadat dan kebudayaan. Dan itu, jadi pengetahuan baruku, untuk ngajak yang lain cinta wisata," tukasnya.[] (Ismah/FMH)

KUDUS, PARIST.ID - Organisasi Kemahasiswaan di Kudus yang tergabung dalam "Aliansi Masyarakat Peduli Palestina" melakukan Aksi Solidaritas untuk Palestina. Aksi tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan mahasiswa kepada masyarakat Palestina atas sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerussalem sebagai Ibu Kota Israel secara sepihak.

Selain itu, aksi ini juga didasari atas sikap Presiden Indonesia, Jokowi yang menyampaikan protes penolakan sikap Donald Trump tersebut dalam KTT Luar biasa OKI beberapa Minggu lalu. Puncak acara Aksi Solidaritas dilakukan dengan orasi dan doa bersama di Alun-alun Kudus, Jumat (29/12/2017) Sore. 

"Aksi Orasi dan doa ini sebagai dukungan kepada saudara kita, sesama muslim yang berada di Palestina," tutur Abdul Wahid, salah satu ketua koordinasi dari Hmi cabang kudus.

Sebelumnya, dilakukan penggalangan dana untuk Yerusalem. Penggalangan itu diselenggarakan di beberapa titik lampu merah usai waktu Jumatan sampai menjelang waktu Ashar.

Kegiatan itu diinisiasi oleh berbagai organisasi kemahasiswaan di Kudus. Diantaranya FORMI UMK, KAMMI, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Forum Kesatuan Mahasiswa Islam(FKMI), CAKEP, One Day One Jus (ODOJ), JSIT, IMDA, PII Kudus serta Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) dan ACT Jawa Tengah. [] (Fandi/FMH)

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.