PARIST.ID, KAMPUS- Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) IAIN Kudus mengadakan kegiatan Gebyar Kreativitas Seni III PGMI dalam rangka sebagai syarat munaqosah mahasiswa semester delapan yang diselenggarakan di GOR IAIN Kudus, Rabu (27/02/2019). 
Penampilan salah satu peserta gebyar kreatifitas seni III PGMI di GOR IAIN Kudus.
FOTO; Rifa/PARAGRAPH FOTO

Kegiatan yang diselenggarakan selama dua hari dari tanggal 27-28 Februari 2019. Diikuti oleh 216 peserta tari dari 6 kelas mahasiswa PGMI semester 8 dengan satu kelompok tari terdiri dari 8-10 orang. 

Ketua panitia, Adila Himma Putri menjelaskan bahwa Gebyar Kreativitas Seni (GKS) III dilaksanakan mulai angkatan pertama tahun 2013. 

"Acara ini diselenggarakan sebagai ajang ujian tari mahasiswa PGMI semester Delapan, karena dalam munaqosah persyaratannya harus mempunyai sertifikat KMD, sertifikat senam dan Sertifikat tari," jelasnya.

Kali ini, lanjut Adilla, mengusung tema Pesona Budaya Nusantara sebagai bentuk untuk nguri-nguri atau pelestarian budaya daerah nusantara yang sudah tergerus zaman. Selain itu juga sebagai bekal dan pengasah kemapuan untuk mahasiswa PGMI jika sudah terjun kelapangan atau mengajar.

"Dalam pagelaran tari yang ditampilkan oleh peserta, panitia menentukan empat tema  yaitu tari nusantara, tari daerah, tari dolanan, dan tari kreasi," imbuh Adilla.

Senada dengan Adila, Aisyah salah satu peserta tari mahasiswa PGMI semester 8 mengatakan bahwa acara ini adalah ujian tari namun dibentuk sebagai pagelaran. Dalam jenis tari yang akan ditampilkan peserta memilih tari yang akan ditampilkan sesuai tema.

"Untuk acara ini kami latihan menari selama 2 bulan, mendapatkan tema tari dolanan dan tari yang kami tampilkan adalah tari lir-ilir," katanya.

Aisyah juga berharap dengan adanya gebyar kreatifitas seni PGMI dapat meningkatkan kualitas mahasiswa PGMI dan untuk kedepannya acara ini lebih keren dan lebih bagus. (Lath/Rif/Fal)

PARIST.ID, KAMPUS - Koperasi Mahasiswa (KOPMA) IAIN Kudus mengadakan seminar nasional dalam rangka menyambut revolusi industri 4.0 berlangsung di Aula SBSN lantai 1 IAIN Kudus, Selasa (26/2/2019).
 Hervy Devianto (Koordinator Grab Jateng dan DIY), dan Mirza Rizal Auladi (Development DIY Shopee) saat mengisi seminar nasional di gedung SBSN IAIN Kudus.


Acara ini dibuka dengan Tari Kretek dan diresmikan oleh Pembina Koperasi IAIN Kudus, Nur Hadi SE, M.Si diikuti dengan antusias oleh ratusan peserta dari mahasiswa IAIN Kudus, umum, dan segenap tamu undangan dari instansi lain, seperti KOPMA IAIN Salatiga dan KOPMA UMK.

Ketua umum KOPMA IAIN Kudus, Yusfi Hadi Mahendra, dalam sambutannya menjelaskan bahwa seminar ini diadakan untuk menyambut revolusi industri 4.0 dengan mendatangkan startup yang sudah go internasional seperti Grab dan Shopee untuk membekali mahasiswa agar siap menghadapi era persaingan saat ini.

Senada dengan Yusfi, Noor Hadi menjelaskan dalam sambutannya bahwa seorang mahasiswa harus punya mimpi besar kemudian melihat detail usaha dengan memanfaatkan peran teknologi.

"Semua bukan tergantung adanya perubahan atau besarnya sebuah perubahan. Tetapi karena Anda sendiri yang tidak pernah memulai perubahan." Noor Hadi menegaskan. 

Noor Hadi melanjutkan, memulai memang susah, tetapi itu harus dilakukan. Karena ketika kita tidak segera memulai, maka kita tidak akan pernah bisa menilai kita gagal atau berhasil. Biar saja saat ini kita dipandang sebelah mata, suatu saat nanti buat orang lain melihat dengan kedua mata dan mengatakan "Wow!" 

Selanjutnya, Koordinator Grab Jateng dan DIY, Hervy Devianto menjelaskan, startup merupakan media untuk membuat orang menjadi berkembang dan dapat dijadikan peluang usaha. 

"Perkembangan teknologi yang semakin canggih, seyogianya diimbangi dengan terus mengembangkan kemampuan agar kita tidak menjadi korban saja, tapi pemeran." Jelas Hervy.

Hervy juga menceritakan bagaimana perjuangan Grab beradaptasi dengan lingkungan. Tak jarang, kehadiran Grab dianggap menjadi pemicu raibnya rejeki ojek pangkalan. Namun meski begitu, Grab tetap berusaha melakukan pendekatan baik ke ojek pangkalan langsung dan pemerintah sekitar.

Berbeda dengan Hervy, Mirza Rizal Auladi, bagian Development DIY Shopee Team memaparkan tentang jual beli online yang sekarang menjadi trend untuk memberikan edukasi dan motivasi kepada mahasiswa untuk berani memulai usaha dan membuka marketplace di Shopee. 

Dengan penyampaian materi yang dikemas dengan asyik dan berbobot, Mirza berhasil menarik antusias peserta seminar untuk tetap semangat mengikuti seminar sampai selesai sehingga ilmu yang peserta dapatkan maksimal dan dapat menggerakkan peserta untuk berani berwirausaha dan menjual produk di Shopee. (Aang/Fal)

KUDUS - Ikatan Mahasiswa Alumni Ibtidaul Falah (IMATIF) adakan sosialisasi mengenai dunia kampus di aula Madrasah Ibtidaul Falah, Minggu (25/02/2019).
Antusias Siswa-siswi Madrasah Ibtidaul Falah dalam mengikuti kegiatan sosialisasi tentang dunia kampus.
Ketua IMATIF, Muhtarom mengatakan dunia kampus itu menantang dan menyenangkan sekaligus dapat membantu mengurangi angka pernikahan dini.

"Adik-adik harus mempunyai jiwa semangat untuk kuliah. Kuliah itu menyenangkan. Dan sekaligus ikut mencegah pernikahan dini yang persentasenya masih tinggi," katanya. 

Ia berharap setelah adanya sosialisasi ini adik-adik semakin semangat untuk melanjutkan pendidikan dan tidak bingung lagi untuk memilih perguruan tinggi nantinya. 

"Kalian tidak usah bingung mau kuliah di mana. Nanti akan banyak brosur perguruan tinggi yang akan dibagikan kakak-kakak IMATIF" tutur Muhtarom. 

Di samping itu, ketua II IMATIF, Aang Riana Dewi memberikan motivasi kepada adik-adik untuk mampu bersaing dan menjadi generasi millenial yang membanggakan bangsa. 

"Semangat belajar dan luaskan wawasan kalian dengan memperbanyak pengalaman di dunia perkuliahan. Karena saat ini era persaingan, maka sudah selayaknya kaliam sebagai generasi millenial mengimbangi dengan menempuh pendidikan yang lebih tinggi," jelasnya. (Aang/Fal)

Foto bersama LPM Paradigma dengan LPS Cendekia Mahida setelah study banding di Kampus Barat IAIN Kudus.
PARIST.ID, KAMPUS - LPM Paradigma IAIN Kudus terima kunjungan tahunan dari LPS Cendekia Mahida MA Manahijul Huda  Pati, Jum'at (22/02/2014). Kunjungan ini merupakan salah satu Program Kerja (Progja) dari LPS Cendekia Mahida.

Pembina LPS Cendekia Mahida, Eva Yulia Kolopaking mengatakan maksud kedatangannya untuk melakukan study banding dengan LPM Paradigma.

"Kami bermaksud ingin belajar dan saling sharing bersama dengan kakak-kakak LPM Paradigma," ungkapnya.

Ia juga mengucapkan terimakasih dan berharap ilmu yang didapatkan nanti bisa bermanfaat bagi LPS Cendekia ke depan.

"Dengan study banding ini kami berharap dapat mempraktikkan ilmu-ilmu yang didapatkan nantinya," harap Eva. 

Menanggapi hal tersebut, Pimpinan Umum LPM Paradigma, Ali Murtadho merasa senang dan berharap kegiatan seperti ini bisa terjalin di tahun-tahun berikutnya.

"Tetap semangat dan semoga tahun depan kita bisa belajar bersama lagi," jelasnya. (Fal)


PARIST.ID, KAMPUS - Polisi Resort (Polres) Kudus melalui UKM Resimen Mahasiswa (Menwa) didik mahasiswa untuk membudayakan keamanan berkendara sekaligus menunjang Glorifikasi Millenial Road Safety Festival melalui Seminar Dikmas Lantas di IAIN Kudus pada Kamis, (21/02/2019) di Aula SBSN lantai 2.
Polisi Resort (Polres) Kudus menyampaikan materi pada Mahasiswa IAIN Kudus dalam kegiatan "Millennial Road Safety Festival 2019"

Kepala Bidang Operasional (KBO) Polres Kudus, Upoyo, mengatakan ketertiban lalu lintas di Indonesia terbilang buruk dibanding dengan negara tetangga kita seperti malaysia.

"Masyarakat kita masih banyak yang melanggar aturan tata tertib lalu lintas. Padahal hal itu penting diperhatikan untuk keselamatan sesama pengendara. Sikap tersebut yang membuat berkendara kita masih buruk," tuturnya.

Selain itu, hukuman bagi pelanggar di Indonesia juga masih sebatas mendapat sanksi dan sidang ke pengadilan. Sedangkan di negara tetangga biasanya akan ada sanksi berat seperti larangan membuat visa. "Dengan itu pelanggar tidak bisa bepergian ke luar negeri. Dampaknya mereka akan berpikir beberapa kali jika ingin melanggar marka," jelas Upoyo.

Di sisi lain, Rektor IAIN Kudus, Mundzakir menyampaikan respon positif atas kegiatan ini. "Pendidikan akan berkendara itu perlu. Terlebih bisa mengubah mental agar tidak seenaknya di jalan." Tutur Mundakir.

Tak ketinggalan, para mahasiswa juga menyambut baik kegiatan tersebut. Mereka hadir dan ikut  menyaksikan parade motor oleh pihak kepolisian.

"Jelas sangat baik. Kita mendapat wawasan tentang tata cara berkendara yang aman seperti yang bapak polisi peragakan."Jelas Sholehah, salah satu mahasiswi IAIN Kudus.(Fandi/Intan/Fal)



KAMPUS - Generasi milenial menjadi pemilih terbesar pada pemilu presiden April 2019 mendatang. Maka  dari itu diharapkan para generasi muda  menggunakan hak pilihnya untuk tidak golput serta sudah paham betul dengan calon yang akan dipilihnya nanti.

"Generasi milenial harus cermat dan cerdas dalam memilih. Jangan golput  apalagi mudah termakan hoaks yang beredar di sosial media," kata Ketua KPU Jawa Tengah, Yulianto Sudrajat, dalam sambutannya pada acara Seminar dan Dialog Politik "Milenial Bicara, Muda Memilih" yang diadakan DEMA IAIN Kudus di gedung SBSN lantai 1, Rabu (20/02/2019).

Hoaks, lanjut Yulianto, menjadi masalah serius dalam menghadapi pesta demokrasi di Indonesia sekarang.

"Para milenial tidak boleh terprovokasi dengan hoaks selama menjelang pesta demokrasi. Apalagi sampai menerima uang politik," jelasnya.

Karena itu diharapkan agar generasi milenial menjadi pemilih yang cerdas, ikut melaporkan permainan uang politik, tidak termakan hoaks dan ikut mensosialisasikan serta berkontribusi dalam pemilu.

Senada dengan Yulianto, Wakil Rektor 1, Dr. H. Supaat, M. Pd, berpesan agar generasi milenial tidak mau menerima uang politik dan menjadikannya sebagai budaya yang masih mengakar di Indonesia

"Jangan sampai uang politik dijadikan anugerah dan mempengaruhi hak suara kalian. Pilihlah sesuai hati nurani dan kemantapan hati. Bukan karena uang," jelas Supaat.

Selain itu menurut Supaat, masalah lain yang tak kalah penting dari uang politik adalah partai politik itu sendiri. Masih banyak partai politik di indonesia yang belum mapan dan dewasa tentang idealisme.

"Pada dasarnya partai politik merupakan wujud memperjuangkan idealisme. Maka dari itu tidak sewajarnya seseorang berpindah pindah partai," jelasnya. (Int/Fal)

KAMPUS - Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) dan Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Tarbiyah IAIN Kudus secara bersama-sama mengadakan pelantikan kepengurusan baru periode 2019 di Gedung Jurusan lantai 3 IAIN Kudus, Rabu (13/02/2019).

Dalam pelantikan tersebut, Dekan Fakultas Tarbiyah, Dr. H. Abdul Karim, M. Pd, menjelaskan besarnya tugas dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh  DEMA dan SEMA Fakultas. Selain menjalankan dan mengendalikan roda kepemerintahan di tingkat fakultas, pengurus DEMA dan SEMA terpilih harus mampu menyerap aspirasi dan keluh kesah mahasiswa se-Fakultas Tarbiyah.

“Hal itu bisa dilakukan misalnya dengan mengadakan sharing atau pertemuan antar mahasiswa program studi setiap satu pekan sekali guna mendengarkan isu-isu yang sedang hangat di tengah mahasiswa," jelas Abdul Karim.

Berangkat dari isu-isu tersebutlah, lanjut Karim, nantinya akan dirumuskan sebuah solusi dan kebijakan-kebijakan yang berguna untuk menjaga solidaritas antar mahasiswa se-Fakultas Tarbiyah.

"DEMA dan SEMA harus saling berintegrasi untuk merumuskan kegiatan kegiatan yang dapat memupuk rasa persatuan dan kesatuan antar mahasiswa," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III, H. Ihsan M.Ag, M.Si, yang turut hadir dalam pelantikan tersebut mengatakan bahwa terjalinnya komunikasi yang baik serta adanya tukar pikiran dan gagasan antar sesama anggota DEMA dan SEMA dapat dijadikan bekal menjalankan kepemimpinan selama satu tahun ke depan.

"Tugas DEMA dan SEMA adalah untuk mengawal tercapainya etos keilmuan khususnya di Fakultas Tarbiyah. Tanpa komunikasi yang baik, tugas ini sulit tercapai," jelasnya.

Selain itu, sebagai elite tinggi yang menaungi fakultas terbesar se-IAIN Kudus --dengan memiliki porsi mahasiswa terbanyak-- pengurus DEMA dan SEMA Fakultas Tarbiyah harus menunjukkan tingkat religiusitas lebih tinggi dibanding mahasiswa lain.

"Religiusitas itu dapat diimplementasikan dalam bentuk tingkah laku bergaul, perilaku sehari hari serta komunikasi yang baik," kata Ihsan.

Terakhir, Ihsan berpesan kepada seluruh pengurus terpilih DEMA dan SEMA Fakultas Tarbiyah untuk menjadi manusia yang memiliki sopan santun dan etika yang luhur sebagai bentuk menjaga marwah keislaman kampus. [RIANA]

Oleh: Aang Riana Dewi *

EGOSENTRISME dalam menulis sejarah tanpa metodologi penelitian dan uji data ilmiah yang tepat akan menghasilkan data yang batilApalagi menulis sejarah instansi lain dan bukan menjadi aktor di dalamnya, seharusnya sikap telaten harus  diperhatikan karena ketika ada data sejarah luput ditulis akan menimbulkan silang pendapat yang berujung pada pertikaian.

Buku ini lahir untuk mengklarifikasi sejarah almamater penulis yang salah ditulis oleh orang lain yang miskin data sehingga outputnya pun sangat jauh dengan realita sejarahnyaMenulis, dengan hanya bermodalkan perkiraan tanpa diselingi usaha untuk mengkaji data dari berbagai sumber merupakan sebuah kealpaanapalagi menulis sejarah instansi lain adalah hal yang rentan menjadi titik awal lahirnya suatu perkaraSeperti yang dilakukan oleh penulis buku Satu Abad Qudsiyyah (SAQ) yang melenceng menulis sejarah almamater penulis Madrasah Tasywiquth-Thullab Salafiyah (TBS) Kudus dan Mahaguru Sepuh KH. Ma’mun Ahmad Kudus yang disinggung, ditulis sambil lalu sehingga salah memuat data. (hlm. 4)
Dari judulnya saja pembaca sudah diberikan indikasi ihwal yang dibahas oleh buku setebal 154 halaman ini yaitu sebuah resensi kritis yang ditujukan kepada penulis buku SAQ yang melakukan beberapa kesalahan dalam penulisan sejarah almamater penulis. Buku ini ditulis hanya untuk langkah awal saja untuk mengklarifikasi data sejarah almamater yang serabutan ditulis tokoh lain. Sementara untuk sejarah lengkapnya akan ditindaklanjuti dengan usaha konkret berupa penggalian data sejarah lebih intensif untuk merangkum segenap data sejarah TBS agar tidak “kepaten obor”  dan validitasnya reliabel sehingga menihilkan usaha orang lain untuk menyebar data sejarah TBS yang keliru.
Data miring yang disandangkan penulis SAQ kepada TBS tentang kompromi dengan Belanda jelas salah. Menilik fakta sejarah dalam buku ini, bahwa saat Ordonnantie Wildeschollen lanjutan diterapkan, Madrasah Tasjwiqoeththoellab (TB) yang sudah berdiri selama empat tahun. Untuk menghindari ordonasi yang tidak adil itulah pada tahun 1934 TB kemudian ditambah dengan kalimat ‘school’ (Bahasa Inggris). Kata madrasah juga diganti dengan ‘pergoroean’ (dari Bahasa Indonesia di-Indonesia-kan), sehingga menjadi Pergoroean Tasjwiqoeththoellab School (TBS) Koedoes. Pergantian TB ke TBS tahun 1934 justru bagian dari jihad melawan ketidakadilan Belanda yang mengeluarkan kebijakan ordonasi diskriminatif. Peralihan nama adalah perlawanan strategis dan kreatif KH. Abdul Jalil Hamid yang saat itu posisinya sebagai Guru Kepala (Pengurus) TBS. (hlm. 46)
Berkaitan peralihan school ke Salafiyyah yang sekarang dikenal berawal mula dari usulan KH. Ma’mun Ahmad dengan kata Sunniyah/Sunni sesuai dengan visi besar TBS yang sejalan dengan Ahlussunnah Waljama’ah. Kemudian setelah disowankan kepada KH. Turaichan Tajussyarof kata Sunniyah dan Salafiyyah artinya sama-sama positif, tetapi kata salafiyyah yang akhirnya digunakan sesuai nadzam: fatabi’is shaliha mimman salafa, wa jannibil bid’ata mimman khalafa-wakulluhu khairin fit tiba’I man salaf, wakullu syarrin fib tida’i man khalaf (hlm. 58). Untuk akronim TBS (Tasywiquth-ThullaB Salafiyyah) yang dikenal sampai sekarang disamakan dengan tradisi penomoran dokar di Kudus waktu itu yang menggunakan singkatan KS (KuduS).
Sampai sejauh ini penulis berhasil mencapai tujuannya untuk membantah pendapat penulis SAQ tentang TBS yang kompromi dengan Belanda dengan sajian data yang lengkap. Selanjutnya, penulis membahas tentang siapa sosok pendiri Madrasah TBS. Namun hingga akhir bab Membedah Sejarah Berdirinya TBS penulis tetap belum bisa mengukuhkan sesiapa pendiri TBS; antara Mbah KH. Ahmad dan KH. Nur Chudrin karena artefak dan bukti masih minim untuk menentukan benang merah versi sejarah nama pendiri TBS yang berdiri itu. (hlm. 70) Tetapi meski begitu penulis mampu menuliskan dengan detail kapan TBS itu berdiri, siapa aktor penting yang menjadi bagian berdirinya TBS dan siapa yang menjadi pengajar pertama di TBS itu yang kesemuanya penting sekali dalam bagian bab ini.
Dengan bahasa yang menohok  dan pemilihan diksi yang tepat, penulis mampu membuat emosi pembaca bergolak hingga membuat pembaca tak sadar bahwa telah sampai pada bab akhir buku ini; Mereka Menggugat KH. Ma’mun Ahmad. Pada bagian ini penulis kembali berhasil mendedahkan data lengkap dengan narasi bahasa yang baik  menjelaskan siapa sesungguhnya Mahaguru sepuh KH. Ma’mun Ahmad dengan apik sepanjang 35 halaman sehingga pembaca pun akan dibuat menganggukkan kepala tanpa sadar sebagai tanda mengerti sekaligus kagum dengan sosok yang diulas dalam bab akhir tersebut.
Menulis tentang sejarah instansi lain adalah hal yang rentan menimbulkan perselisihan jika tidak cermat dalam mengulik data sejarah. Apalagi sampai dibukukan dan beredar ke tangan pembaca dengan tingkat pemahaman dan penafsiran yang berbeda membuat proses klarifikasi data dibutuhkan usaha ekstra.
Dengan data sejarah yang disajikan apik  dan fokus buku ini berhasil mencapai tujuannya sebagai langkah awal untuk melakukan klarifikasi data sejarah yang telah melenceng ditulis orang lain. Dan sebagai pelengkap, penulis juga menambahkan poin pendukung yaitu pada bab Peladjaran Tinggi Pergororean TBS. Akhirnya, lahirnya buku ini sebagai pelajaran untuk siapa saja bahwa segala hal memang butuh pertanggungjawaban dan harus siap dengan resiko apapun yang timbul sebagai dampak apa yang kita lakukan.


*Penulis merupakan Mahasiswi semester 4 IAIN Kudus dan bergiat di Paradigma Institut




KAMPUS - Setidaknya ada tiga motivasi kunci yang bisa digunakan untuk membangun organisasi. Hal itu disampaikan oleh Dekan Fakultas Ushuluddin Dr. H. Masrukin S.Ag. M.Pd. di Gedung SBSN Lt.1 IAIN Kudus pada pelantikan pengurus DEMA Ushuluddin 2019, Selasa (12/02/2019).

Hadir dalam acara ini Wakil Rektor III Dr. H. Ihsan M.Ag.M.Si, Dekan Fakultas Ushuluddin, Dr. H. Masrukin S.Ag. M.Pd, Sekretaris Fakultas Ushuluddin Drs. H. Muhammad Afif M.Pd.I, Kaprodi Ilmu Quran dan Tafsir (IQT) H. Zamrodi M.Ag, Kaprodi Ilmu Hadits (IH) Shofaussamawati S.Ag. M.Si dan Kaprodi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) Irzum Farihah S.Ag M.Si.

Masrukin mengatakan, tiga motivasi tersebut pertama, niat dengan tulus dan ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Esa saat berorganisasi. Menurutnya, segala aktivitas hidup yang kita lakukan, termasuk berorganisasi, merupakan wujud ibadah untuk mencari ridlo-Nya.

"Kita berada di sini ya termasuk ibadah dan perjuangan. Ketika yang lain masih di rumah kita sudah berada di sini," kata Masrukin.

Kedua, lanjut Masrukin, dalam sebuah organisasi perlu ada komitmen individu dan komitmen bersama untuk membangun organisasi yang maju dan solid. Sebab komitmen yang kuat yang akan mempermudah jalannya organisasi.

"Kuncinya ada di komitmen. Jika komitmennya sudah ada, program-program yang dicanangkan pun insyallah akan terwujud," tuturnya.

Ketiga, harus mempunyai sifat loyal terhadap apa yang dilakukan dalam organisasi. Para anggota harus memiliki loyalitas tinggi. Baik di kepentingan pribadi maupun bersama.

"Tujuan dibuatnya organisasi untuk membekali diri kita menjadi manusia yang peduli terhadap sesama," jelas Masrukin.

Lain dengan Masrukin, Wakil Rektor III Dr. H. Ihsan M.Ag., M.Si berharap program-program yang belum sesuai dengan organisasi harus selalu dievaluasi.

"Tidak ada organisasi yang sukses di tengah-tengah masyarakat kecuali orang-orang yang bergaul dan berinteraksi dg baik," tegasnya.

Ketua Dema Ushuludin terlantik, Muhammad Sofyan mengucapkan terimakasih karena telah terpilih menjadi ketua Dema ushuludin 2019.
"Mari kita bangun Dema Ushuludin menjadi lebih baik. Untuk teman teman semoga bisa mengemban amanah dengan baik di organisasi," ajaknya. [FAL]

Postingan Populer

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.