PATI, PARIST.IDPerempatan Jago di Jalan Pemuda mendadak ramai petang kemarin, Minggu (27/5/2018). Anak-anak muda, orang tua, laki-laki dan perempuan tumpah ruah ke jalanan. Raut wajah sumringah terpancar menyapa pengendara yang melintas.
Petang itu ada kegiatan khas Ramadan. Bagi-bagi takjil, kudapan untuk berbuka puasa. Penggagasnya Jaringan Gusdurian, serta tokoh-tokoh lintas agama yang menyenangi keberagamaan. Kegiatan itu memang tak sekadar bagi-bagi takjil semata. Memanfaatkan kesenian etnis Tionghoa, Barongsai, mereka membagikan ribuan takjil kepada pengendara yang melintas petang itu.
Acara ini diselenggarakan Gusdurian Pati bersama Kelenteng Hok Tik Bio, Polres Pati, Kodim 0718/Pati, GP Ansor, dan beberapa ormas serta pelajar SMP. Tokoh Gusdurian Kabupaten Pati, Eddy Siswanto kepada Parist.id mengungkapkan, dilibatkannya kesenian Barongsai ini supaya menambah semarak dan menyenangkan dalam kegiatan bagi-bagi takjil.
”Selain itu karena untuk menunjukkan persaudaraan antar umat beragama di Indonesia, khususnya di Kabupaten Pati supaya tetap terjalin harmonis. Hal ini terbukti dengan turut terlibatnya bukan hanya umat muslim saja dalam kegiatan bagi-bagi takjil ini. Melainkan umat agama lain pun turut berpartisipasi,” terang Eddy di sela-sela membagikan takjil berupa kolak kepada pengendara.
Kerukunan itu terlihat dari peserta yang ikut membagikan takjil. Seperti Bruder Edesius, Tokoh Katolik di Kabupaten Pati ini turut turun ke jalan. Pria yang juga menjadi Kepala SMP Kanisius Pati ini ikut menenteng beberapa bungkus plastik takjil, lalu membagikannya kepada setiap pengendara yang melintas.
Bruder mengaku, kegiatan bagi-bagi takjil yang dilakukan ini sangat baik. Dan yang terpenting bisa menunjukkan rukunnya umat beragama di Bumi Mina Tani. ”Kerukunan benar-benar diperlihatkan di tempat ini. Semoga Indonesia secara umum potretnya seperti ini,” harap Bruder Edesius.
”Ini juga menjadi pembelajaran yang baik untuk anak-anak. Mereka akan belajar tentang kerukunan umat beragama di disini. Indonesia itu satu, kita ini saudara,” kata Bruder mantap.
Informasi yang dihimpun, dalam kegiatan ini panitia menyediakan kurang lebih 5000 bungkus takjil beratnya mencapai satu ton. Persiapan dilakukan sejak Minggu pagi, mulai dari memasaknya hingga membungkusi. [Achmad Ulil Albab]      



PARIST.ID, KUDUS - Memaknai kehadiran Tuhan bisa dilakukan dengan beragam cara, salah satunya yaitu dengan berpuisi. Dalam berpuisi, pembaca terkadang menemui titik sunyi dan merasakan kedekatan dengan Tuhan. 

Hal itu disampaikan oleh Sinta Haryani, pembawa puisi dalam acara ngabuburit yang digelar oleh FASBuk di Audiorium Universitas Muria Kudus (UMK), Minggu (27/5/2018) kemarin. Dalam kesempatan itu, Sinta menampilkan beberapa puisi tentang ketuhanan. Di antaranya yaitu “Tangan Kecil” karya Fakir Tasbih dan “Kulo Nyuwun Gusti” garapan Fauzi Arif.

“Puisi “Tangan Kecil” bermakna kewajiban hamba yang harus tunduk dan patuh terhadap Tuhan. Sedangkan “Kulo Nyuwun Gusti” berkisah tentang penyesalan seseorang atas dosa-dosa yang telah dilakukan selama bertahun-tahun,” kata wanita yang masih menjadi pelajar di SMA 1 Mejobo tersebut.

Setiap rangkaian puisi yang bertema ketuhanan, lanjut Shinta, bagi pembaca yang mampu meresapinya secara mendalam pasti akan menemukan rasa kedekatan dengan Tuhan yang luar biasa. Menurutnya, pengalaman itulah yang paling sulit dialami oleh pembaca-pembaca puisi.

Arfin Akhmad Maulana, ketua badan kerja FASBuK mengatakan, pentas edisi kali ini sengaja ia konsep sesuai dengan nuansa bulan Ramadhan yang identik dengan bulan di mana orang-orang muslim mendekatkan diri kepada Allah lebih intens dibanding bulan lainnya. 

Mengangkat tema “Langit Senja,” Arfin bermaksud untuk merepresentasikan waktu senja sebagai waktu menunggu berbuka puasa. Dengan mengundang pegiat-pegiat seni, dia ingin mengajak mereka untuk menikmati senja yang penuh berkah di Bulan Ramadhan. 

“Ya, salah satunya lewat berpuisi bertema ketuhanan. Saya anggap ini sebagai bentuk ibadah saat puasa. Sebab, melalui puisi-puisi tersebut kita bisa mengingat Tuhan dan segala keindahan-Nya,” ujarnya usai pementasan.

Dalam pentas sore itu, penonton juga dihibur oleh penampilan komika asal UMK. Selain stand up comedy, mereka juga disuguhi alunan akustik oleh Obengcoustik, group musik akustik yang juga asal UMK.

“Ngabuburit bareng FASBuk ini sudah menjadi rutinitas kami, setiap tahunnya pasti ada. Ya, ini merupakan salah satu cara seniman mengisi waktu saat puasa. Berkumpul dan ngobrol ringan tentang seni sembari berbuka puasa bersama,” pungkasnya. (Arif/qih)



Parist.Id, Pamekasan - Empat pilar kebangsaan yang meliputi Pancasila,  UUD 45 , NKRI dan Bhineka tunggal Ika adalah alat pemersatu bangsa sehingga wajib dijaga agar kokoh dan terpelihara. 

Hal itu disampaikan Anggota MPR RI, Kholilurahman dalam sosialisasi empat pilar bersama 150 anggota Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan masyarakat di kantor Pengurus Cabang GP Ansor Pamekasan, Jawa Timur, belum lama ini.

Kholilurahman mengingatkan kepada seluruh masyarakat serta para kader Ansor yang hadir agar bersama-sama  menjaga NKRI dari ancaman dan gangguan, termasuk adanya berita hoax  yang meresahkan.

"Bersosial-medialah dengan bijak, kuatkan literasi agar mampu mendeteksi dan meluruskan berita hoax yang meresahkan masyarakat," ujar Kholilurrahman. 

Sementara itu,  Ahmad Wandoyo salah seorang Peserta sosialisasi Empat pilar menekankan pentingnya sosialisasi ini bagi generasi muda agar terus paham pentingnya menjaga NKRI

"Sangat mencerahkan,  menguatkan semangat untuk terus menjaga NKRI, Terimakasih atas sosialisasi empat pilar ini," katanya.(rls)



KAMPUS, PARIST.ID- Sebanyak 2.200 calon mahasiswa baru (maba) padati IAIN Kudus guna mengikuti Ujian Mandiri Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) tahun akademik 2018-2019, Selasa (22/5/2018) pagi tadi.


Supaat, Ketua Panitia Pelaksana ujian, mengatakan, dibanding tahun-tahun sebelumnya, peserta tahun ini merupakan peserta terbanyak. Peningkatan itu dilatarbelakangi beralihnya status dari STAIN menjadi IAIN.

"Tahun ini drastis peningkatannya, dua kali lipatnya tahun lalu. Bahkan bisa dibilang melebihi kapasitas kalau dilihat dari segi penyelenggara tingkat lokal," ujarnya.


Dari 2.200 yang mengikuti ujian, lanjut Supaat, sebanyak 1.200 peserta yang menjadikan IAIN Kudus sebagai pilihan utama dan selebihnya memilih kampus lain. Nantinya, hanya 30% saja yang bisa lolos untuk mengisi kuota nasional.


Muhammad Fairuzzy, peserta ujian asal Madrasah Aliyah Matholiul Falah (Mathole') Kajen mengaku cukup kesulitan saat mengerjakan soal-soal. Sebab sebelumnya dia belum pernah menemui soal-soal semacam itu.


Lain halnya dengan Fairuzzy, Rizqi Lailatul Maulida, peserta asal MA Miftahul Huda Tayu Kabupaten Pati, dia merasa sangat mudah dalam mengerjakan setiap soal yang diujikan. Alasannya, soal-soal tersebut tidak jauh berbeda dengan soal-soal ujian nasional atau ujian madrasah.


"Terutama yang soal agama-agama, itu sangat mudah bagi saya. Karena saya dari Aliyah, jadi tidak terlalu kaget dengan soal-soal itu. Alhamdulillah lancar semuanya," terangnya. (Risa/qih)



KUDUS,PARIST.ID - Agar bisa membina rumah tangga dengan baik, remaja perlu pembelajaran khusus. Salah satunya melalui kegiatan seminar pra nikah yang akan dihadiri Resarere dan suaminya, Ryan Qory pada Ahad, 20 Mei 2018 mendatang.

Koordinator acara, Ali Sofiyan mengatakan Resarere akan membeberkan pengalamannya dalam mengelola rumah tangga untuk mencapai kehidupan yang harmonis. Meski tergolong pasangan muda, Resarere dan Ryan Qory patut diteladani bagi pasangan yang hendak menikah.

“Sering ada keraguan bagi para remaja untuk menikah, termasuk ketakutan gagal membina rumah tangga. Nah dalam seminar itu nanti semua akan terjawab, melalui pengalaman narasumber,” ujar Ali di kampusnya, Rabu (16/05/18).

Ali menambahkan remaja perlu diberikan pengetahuan semacam itu agar mereka belajar bagaimana membangun masa depan keluarganya. Termasuk bagaimana mengontrol emosi, menyusun rencana dan memantapkan psikologi mereka. 

“Semua itu butuh dibiasakan mulai dari sekarang agar mereka tidak kaget saat sudah berkeluarga kelak,” imbuhnya.

Dengan begitu para remaja diharapkan bisa belajar agar siap dalam mengalola rumah tangga. Seminar Pra Nikah ini diselenggarakan atas kerjasama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Muria Kudus (UMK), Komunitas Kresek dan beberapa simpatisan mahasiswa di Kabupaten Kudus. Rangkaian kegiatan lainnya yaitu bakti sosial yang akan dilaksanakan setelah seminar itu selesai.

Terkait pendafataran peserta dan konfirmasi bisa menghubungi panitia di 089 668 436 906 atasnama Ali Sofiyan. (rls/rid)

Parist.Id, Jepara - Doktrin yang dipenuhi pemahaman cinta menjadi salah satu penentu kejayaan suatu negara. Terutama bagi pemuda, mencintai bangsanya adalah hal mutlak agar bisa berperan maksimal dalam membangun peradaban.


Hal itu mengemuka dalam Sosialisasi Empat Pilar bersama Anggota MPR RI, Drs. H. Fathan Subchi di Jepara, Senin (23/04/18).

"Karakter pemuda bisa terbentuk jika mencintai tanah airnya. Dari situ ia bisa tahu siapa dirinya, darimana asalnya dan untuk apa ia diciptakan di bumi Indonesia," kata Fathan.

Menurut Fathan, pemuda dengan jiwa nasionalisme yang kokoh selalu memiliki kemauan untuk berinovasi demi kemajuan negaranya. Ia juga selalu memiliki cita-cita untuk berkontribusi secara nyata dan berkarya sesuai bidang yang digelutinya.

"Bagi mereka yang setuju NKRI Harga Mati, pasti akan melakukan apa saja demi Indonesia sesuai kemampuan," imbuhnya.

Fathan melanjutkan, Nasionalisme pemuda bisa dilihat dari perilaku yang mencerminkan penerapan empat pilar negara, utamanya pancasila. Pemuda yang sikap dan sifatnya sesuai dengan pancasila tidak akan mudah terpengaruh, apalagi sekadar hoaks.

"Pemuda nasionalis harus tampil di dunia nyata maupun maya untuk menebar virus cinta dan optimisme kepada bangsa. Penguatan lterasi menjadi cara efektif untuk mewujudkan itu," katanya.


Sementara, salah satu peserta, Sutris (22), mengatakan sebagai pemuda ia berharap semakin banyak pemuda yang sadar untuk menebar virus damai. Indonesia harus bisa jadi pelopor dalam mewujudkan cita-cita kehidupan yang damai, adil dan sejahtera bagi masyarakat internasional. (rls/rid)



JEPARA, PARIST.ID – Menghadapi bulan Ramadan, PAC IPNU dan IPPNU Keling tampil beda. Bulan yang dianggap suci bagi umat Islam itu disambut dengan keceriaan melalui karnaval berkeliling desa se Kecamatan Keling siang kemarin.
 
Ketua PAC IPNU Keling, Nur Khasan menuturkan, pihaknya memang sengaja melakukan pawai ke desa-desa untuk mengabarkan keceriaan menyambut Ramadan kepada khalayak ramai.

”Ramadan harus disambut dengan gembira dan suka cita, sebab di bulan ini biasanya umat Islam makin giat beribadah karena dijanjikan pahala yang berlipat,” tutur Khasan kepada wartawan.

Selain menyambut datangnya Ramadan, kegiatan pawai karnaval ini dilakukan sebagai cara mengenalkan IPNU dan IPPNU kepada masyarakat luas. Hampir seluruh desa di Kacamatan Keling dilalui karnaval yang diikuti ratusan peserta yang merupakan kader dan simpatisan organisasi pelajar NU ini.

”Ini memang menjadi bagian dari cara kami mengenalkan organisasi kami. Apalagi saat ini sedang heboh gerakan-gerakan Islam radikal. Tentu dengan makin banyaknya pelajar dan pemuda yang mau merapat di organisasi ini, Insyaallah negara aman. IPNU dan IPPNU sebagaimana NU mengusung ideologi Islam yang ramah, yang toleran, dan moderat. Semoga di Keling ini IPNU dan IPPNU mudah diterima sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat,” imbuh Khasan.

Karnaval ini sendiri mengambil start di Lapangan Desa Jlegong. Kemudian menempuh rute kurang lebih 5 kilometer. Setelah berkeliling desa, peserta yang menggunakan sepeda motor dan juga kendaraan bak terbuka berkumpul kembali di lapangan. Panita menyediakan beberapa hadiah hiburan bagi peserta yang beruntung. Sementara itu kegiatan menyambut Ramadan ini dilanjutkan dengan gebyar salawat malam harinya. Pengisi rebbana nantinya bergiliran dari masing-masing ranting di PAC Keling yang memiliki grup rebbana. (aua)



KUDUS, Parist.Id - Sebagai organisasi yang baru berdiri, Ikatan mahasiswa Pati (IKMP) harus memiliki pondasi dan empat pilar penyangga agar organisasi tetap eksis. Hal itu mengemuka dalam malam akrab (makrab) IKMP, Kamis, (10/05).

Hadir sebagai pembicara kegiatan itu, Komisioner Forum Kerohanian Mahasiswa Islam (FKMI),  Ridwan Maulana, mengatakan empat pilar tersebut terdiri dari pilar sosial, ekonomi, agama dan politik.

"Untuk pilar sosial, ekonomi dan agama wajib dimiliki organisasi baru," ucapnya.

Pilar-pilar ini nantinya akan saling berkaitan. Pilar sosial memiliki peran  untuk anggota dan masyarakat yang nantinya akan terjadi pemberdayaan masyarakat.

"Nantinya bisa diadakan upaya-upaya untuk mensejahterakan masyarakat. Setelah organisasi maju dalam hal ekonomi, tentu mudah menjalankan agenda-agenda besar. Seperti sholawat, infaq kepada anak yatim, bakti sosial dan lain-lain," jelasnya.

Lanjut, sedangkan untuk GBHO (Garis Besar Haluan Organisasi) bisa disepakati bersama. Organisasi akan menginduk ke partai politik atau menjadi independen. Setelah itu baru bisa menentukan GBHO, mau berpolitik atau tidak.

"Untuk itu saya menganjurkan agar IKMP berjalan dulu. Tidak gegabah menentukan tujuan. Mengingat organisasi ini baru berdiri dan belum memiliki pondasi yang kuat," tutur Ridwan.

Selain itu ketua panitia Makrab, Ahmad Minan Nurrohman, mengatakan hal yang paling penting saat ini adalah memastikan IKMP bisa rutin mempertemukan mahasiswa asal Pati. Ketika semua sudah solid, kegiatan apapun bisa dilaksanakan.

"Memiliki cita-cita itu wajib. Namun hal paling penting adalah kita bisa bersatu. Agenda kopdar IKMP tetap berjalan dengan baik," Katanya.

Ia berharap semua mahasiswa bisa berkumpul dan tidak malu. Karena sama-sama mahasiswa dan berasal dari Pati. (Fand/Fal)



PARIST.ID, Kampus - Hadir dalam seminar Living Qur'an dan Hadist, Kepala Badan Litbang Serta Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Agama R.I, Prof. Dr. H. Abdurrahman Mas'ud, M.A., menginspirasi mahasiswa dengan pesan untuk selalu berpegang pada Qur’an dan melengkapi setiap usaha dengan Doa.

"Saya bisa sampai jadi profesor, ya karena doa. Apa yang saya capai sampai pada hari ini, adalah doa yang saya dan orang tua minta pada waktu itu," katanya di Gedung SBSN IAIN Kudus, Jumat (04/05/018).

Selain doa, menurutnya usaha dan ikhtiar juga dibutuhkan. Ada dua sifat usaha dan ikhtiar. Pertama bersifat fungsional, artinya harus mempunyai ambisi.

"Jika kalian ingin punya profesi yang bersifat fungsional seperti guru dan dosen, tentu harus mengandalkan kemampuan yang dimiliki. Maka agar bisa bersaing harus mempunyai ambisi untuk mencapainya," ucapnya.

Lanjut Mas'ud, kedua, bersifat struktural, artinya jangan pernah berambisi.

"Menjadi pejabat yang struktural jangan berambisi. Takutnya akan menggunakan segala cara agar bisa naik pangkat, termasuk menggunakan cara yang salah," ucapnya.

Terakhir, ia berpesan kepada mahasiswa agar tetap berada di jalan yang benar.

"Jangan pernah bersedih meski hanya sedikit mereka yang berada di jalan yang lurus," pesannya.

Seminar ini merupakan rangkaian acara launching dan tasyakur IAIN Kudus yang baru-baru ini telah resmi. Sebelumnya juga ada khotmil qur'an dan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Noor Chalim Ma'ruf di Laboratorium Agama IAIN Kudus. (Cindi/Fal)



PARIST.ID, KAMPUS- Gebyar Syariah dan Ekonomi Islam (GSEI) dinilai sejumlah elite kampus sebagai bukti peningkatan dinamika mahasiswa, khususnya mahasiswa jurusan Syariah dan EI yang mengalami kemajuan cukup signifikan. Meskipun baru pertama kali, GSEI terbukti telah menyedot perhatian dan antusiasme sebagian besar mahasiswa IAIN Kudus.

Gebyar yang dihelat selama dua hari di GOR IAIN Kudus, Senin-Selasa (7-8/05/2018) tersebut dinilai oleh banyak pihak cukup sukses besar. Salah satunya Abdurrahman Kasdi, Warek Tiga IAIN Kudus, pihaknya mengaku  terkejut dengan keberanian panitia menggelar acara sekala besar semacam itu. Pasalnya, selama dia menjabat sebagai Ketua Jurusan Syariah dan EI beberapa tahun lalu, belum ada acara-acara sebesar itu. Begitu juga denga tahun-tahun sebelumnya.

“Civitas Akademika IAIN Kudus sangat mengapresiasi kegeiatan GSEI ini. Saya yakin, kegiatan semacam ini bisa membangkitkan semangat dinamika mahasiswa. Meskipun baru pertama kali, bagi saya ini sudah sukses. Buktinya banyak mahasiswa yang sangat antusias menyambutnya,” ungkapnya saat memberi sambutan dalam pembukaan sacara.

Kepada jurusan-jurusan yang lain, dia berpesan agar berani melakukan terobosan-terobosan baru untuk mendongkrak kualitas mahasiswa. Sebab, semakin banyak mahasiswa berani melakukan terobosan, secara tidak langsung hal itu juga akan meningkatkan mutu akademis mahasiswa IAIN Kudus.

Muhammad Jamaluddin, Ketua HMJ Syarah dan EI, merasa sangat bangga atas apresiasi yang diberikan pihak kampus. Berbagai kompetisi dan kegiatan dalam GSEI sebagian besar dia khususkan kepada masing-masing program studi (Prodi) dengan tujuan untuk memberikan panggung kepada setiap mahasiswa yang berprstasi dalam prodinya. Misalnya lomba debat hukum bagi mahasiswa prodi Akhwalus Syahsisah dan lomba akuntansi bagi prodi Ekonomi Syariah dan Akuntansi Syariah.

“Dengan memberikan panggung kepada masing-masing prodi, saya berharap kompetensi yang mereka miliki dapat tersalurkan dengan baik. Ka, sayang sekali kalau tak ada panggung bat mereka, mas,” imbuh mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah semester 6 tersebut.

Selain sejumlah perlombaan, selama dua hari tersebut panitia juga menggelar bazar produk yang bebas diikuti oleh mahasiswa Syariah dan EI dari prodi apapun. Sebanyak 34 stand yang terdiri dari beragam hasil produk mahasiswa. Mulai dri aneka jajanan, kerajian tangan, hingga pakaian.

Salah satu penjual jajanan, Ella Anggela, mahasiswa MBS semester 6, mengaku sangat senang dengan adanya GSEI yang pertama tersebut. Menurutnya, mahasiswa dapat mengeksplorasi kemampuannya berdasarkan prodi dan mempraktikkan pelajaran yang telah didapat dari kelas-kelas kuliah.

“Kaya saya ini kan prodi MBS, mau tidak mau harus sering-sering parktik berbisnis. Meskipun kecil-kecilan, acara semacam ini bagi saya sudah sangat tepat sebagai sarana pengembangan passion kami. Saya harap kedepannya GSEI semakin besar acaranya, agar semakin banyak mahasiswa yang dapat mengikutinya. Meskipun begitu, saya tetep salut dengan panitia yang telah memberanikan diri menghelat even sebesar ini,” pungkasnya. (qih)




Parist.id, Kampus-
Usai diresmikan, IAIN Kudus bertekad untuk mendeklarasikan diri sebagai kampus Islam moderat dan juga sebagai gerbang ilmiah Islam Nusantara. Hal tersebut mengemuka dalam acara launching IAIN Kudus, setelah bertahun-tahun berstatus STAIN dan kali ini telah berhasil mentransformasi status kelembagaannya, Sabtu (5/5/2018).

Dalam pidatonya, Mundakir, Rektor IAIN Kudus mengatakan, beralihnya status STAIN Menjadi IAIN Kudus membawa suatu kemajuan besar bagi pendidikan perguruan tinggi di wilayah Pantai Utara (Pantura) Timur Jawa Tengah. Selain itu, IAIN Kudus juga hadir sebagai jawaban bagi masyarakat yang mencari wadah pendidikan ilmiah Islam moderat dan Islam Nusantara.

“Untuk itu, kami hadir dengan wajah baru. Wajah Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTKIN) di Pantura Timur yang siap mewadahi kader-kader Islam yang nantinya akan menjadi penerus para ulama pencetus Islam Nusantara dan Islam Moderat,” ungkapnya.

Mentri Agama RI, Lukman Hakim Syaifuddin mengaku sangat mengapresiasi tekad dan rencana IAIN Kudus tersebut. Dalam sambutannya, Lukman sangat mendorong rencana yang menjadi selogan baru IAIN Kudus tersebut. Sebab, masifnya paham radikalisme dan ekstrimisme akhir-akhir ini membuat bangsa Indonesia sangat membutuhkan sumbangsih masyarakat dari kalangan santri dan mahasiswa perguruan Islam.

Menurutnya, sebagai salah satu basis wilayah santri, Kudus dan beberapa wilayah di Pantura Timur sangat berpotensi besar akan mencetak kader-kader bangsa yang Islami dan mampu berfikir moderat. Dia menyatakan, mobilitas vertikal kaum santri saat ini sulit dibendung lagi. Artinya, pemerintah melalui Kementrian Agama harus menyiapkan wadah bagi mereka dalam suatu perguruan tinggi Islam di dekat wilayah kaum santri tersebut.

Hingga saat ini, sambung Lukman, tercatat ada 58 PTKIN dan 762 PTKIS yang bernaung di bawah Kementrian Agama, dengan rincian 7 STAIN, 34 IAIN, dan 17 UIN. Diharapkan, seluruh kampus tersebut mampu mengakomodir kaum santri dan memyiapkan mereka sebagai pemimpin yang memelihara faham Islam moderat serta rahmatan lil alamin.

“Saya mengajak untuk benar-benar serius mengembangkan pendidikan agama yang moderat. Moderasi agama sangat penting saat ini. Jangan sampai kita terjebak dalam situasi global yang berujung terjadinya disintegrasi masyarakat dan bangsa,” himbaunya. (Faqih)





PARIST.ID, KAMPUS-  Mentri Agama (Menag) RI Lukman Hakim Syaifuddin secara khusus memberi  tugas kepada Rektor IAIN Kudus saat launching status baru tersebut, Sabtu (5/5/2018) di Gedung Olah Raga (GOR) kampus timur. Salah satunya, tugas yang harus diemban Rektor IAIN Kudus adalah menciptakan distingsi kampus.


Dalam sambutannya, Menag RI menyampaikan sejumlah hal terkait suskesnya alih status dari STAIN menjadi IAIN Kudus. Ia sangat mengapresiasi langkah IAIN Kudus yang dengan begitu gigih dan serius dalam bertransformasi dan memperoleh status baru tersebut.


“Pertama sekali, saya ucapkan selamat atas alih status ini. Ini patut kita syukuri bersama.  Dengan status itu, seluruh civitas akademika harus bersiap-siap dengan tugas-tugas besar yang akan hadir tidak lama lagi,” katanya.


Khusus kepada Rektor, lanjut Lukman, menciptakan suatu ciri khas atau distingsi adalah tugas yang wajib dilaksanakan secepatnya. IAIN Kudus harus mempunyai distingsi yang belum ada selama ini dan tidak boleh sama dengan kampus lain. Sebab, setiap kampus di negeri ini, terutama di bawah naungan Kementrian Agama RI harus memiliki ciri yang menjadi kekhasan masing-masing.


Sebagai kota yang terkenal sebagai kota santri, Lukman mengusulkan satu hal yang bisa menjadi distingsi bagi IAIN Kudus, yaitu mengadopsi pemikiran dan laku alim dari Sunan Kudus. Mahasiswa harus mampu memahami setiap pemikiran Sunan Kudus secara komprehensif dan mendalam. Serta, dapat mengamalkannya dalam setiap perilaku sehari-hari.


“Dengan konsep itu, saya berharap sekaligus yakin bahwa nantinya IAIN Kudus akan memiliki distingsi yang sulit ditandingi kampus manapun. Sebab, kita ketahui bersama bahwa Sunan Kudus adalah wali yang paling alim di antara wali-wali lain yang termasuk Wali Songo,” pungkasnya. (Faqih)


PARIST.ID, KAMPUS- Era globalisasi dan digitalisasi sangat berdampak terhadap pendidikan kita saat ini. Ada tantangan besar yang musti dijawab oleh negara dan kalangan pendidik agar mampu menciptakan sistem pendidikan yang mampu menjawab perkembangan zaman itu.

Menanggapi tantangan itu, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tarbiyah IAIN Kudus mengadakan seminar pendidikan bertema "Transformasi Pendidikan di Era Globaliasi" guna menyiapkan calon-calon pendidik yang akan lulus agar dapat menyiapkan diri dan mampu menjawab persoalan-persoalan tersebut, Rabu (2/5/2018) di Gedung Rektorat lantai 3.

Fajar Sri Utami, narasumber dari UPT Pendidikan Kecamatan Kota Kudus mengatakan, pendidikan transformatif adalah salah satu sistem pendidikan mutakhir yang paling tepat diterapkan di era saat ini. Sebab, sistem pendidikan transformatif mampu menjembatani sistem pendidikan lama dengan pendidikan terbaru.

"Sistem ini saya rasa sangat tepat bagi pendidikan kita saat ini. Kolaborasi sistem lama dan baru akan mampu menjawab tantangan globalisasi yang semakin tak terbendung ini," ujarnya.

Dengan mengkolaborasikan kedua sistem tersebut, lanjut Fajar, tentu akan membuat sistem pendidikan kita berbeda dengan negara lain yang sama-sama digerus oleh arus globalisasi yang semakin masif. Di sisi lain, sistem pendidikan yang selama ini telah diwariskan oleh pelopor-peolopor pendidikan bangsa Indonesia yang mencerminkan karakter bangsa sebenarnya jangan sampai terlebur oleh budaya pendatang.

Hadir pula Muhammad Zen, anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, dia menjelaskan, tantangan pendidikan di era globalisasi ini adalah sulitnya menciptakan karakter pelajar sesuai dengan karakter yang diidam-idamkan bangsa, yaitu karakter pelajar yang santun, peduli, nasionalis, religius dan karakter-karakter lain yang menjadi ciri khas Indonesia dan budaya ketimuran.

Menurutnya, pelajar saat ini sudah terpengaruh dengan budaya-budaya barat yang tidak sesuai dengan budaya bangsa sendiri melalui derasnya arus informasi dari berbagai media sosial. Untuk itu, pendidikan saat ini harus mampu mengikuti perkembangan teknologi yang ada, namun tetap menjadikan pendidikan khas Indonesia sebagai patokan.

"Di Hari Pendidikan Nasional ini, di hadapan para calon pendidik dari IAIN Kudus, saya mengajak untuk mulai membenahi sistem-sistem yang selama ini dirasa kurang tepat bagi pendidikan kita," serunya.

Baginya, memberikan pembelajaran tidaklah harus di bangku sekolah saja, melainkan juga di luar kelas-kelas sekolah. Karena, mendidik bisa dilakukan oleh siapapun, kapanpun, dan di manapun.

"Asalkan demi kemajuan pendidikan bangsa, siapapun boleh mendidik. Bangsa ini tidak boleh buruk dalam hal pendidikan, bangsa ini harus lebih unggul dari bangsa-bangsa lain dengan jalan pendidikan,"  tegasnya. (Risa/qih)

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.