WWW.PARIST.ID, KUDUS – Pengajian umum yang menjadi puncak rangkaian kegiatan peringatan Harlah (hari lahir) ke-75 Madrasah NU Miftahul Falah Cendono dihadiri oleh ribuan warga, Rabu (28/3/2018) malam. Acara bertajuk "Maulid Akbar Y@Miff@" itu mengadirkan ulama kondang, Habib Umar Muthohhar Semarang, Ketua Rijalul Ansor Jawa Tengah, Habib Ali Zaenal Abidin Assegaf beserta grup rebana Azzahir dari Pekalongan.

Ketua Dewan Mustasyar, KH. Ahmad Arwan dalam sambutannya, menjelaskan, bahwa ulama, umara dan sakhowatil aghniya’ merupakan kunci keberhasilan madrasah yang sudah berdiri sejak 7 Rajab 1364 H ini.

“Saya mohon doa restu kepada semua yang hadir, agar cita-cita muassis bisa lestari,” katanya.

Tak lupa putra KH. Abdul Muchith Ahmad ini mendoakan, agar keluarga besar madrasah NU Miftahul Falah menjadi orang yang sempurna agamanya dan sukses di semua bidang.

‘’Jujur, syukur, sifat malu dan husnul khulq juga menjadi kunci sukses dalam mendirikan dan memajukan madrasah. Semoga para santri sukses dalam meniti pendidikan lanjutan berikutnya,” tandasnya.

Sementara itu, Habib Umar Muthohhar, mengatakan, lestarinya suatu perbuatan atau lembaga termasuk tanda sesuatu itu memuat kebaikan dan diridloi Allah SWT.

“Miftahul Falah ini sudah 75 tahun, berarti ada kebaikan-kebaikan yang diridloi Allah sehingga tetap bertahan,” tegasnya.

Dijelaskan oleh Habib Umar, pentingnya lembaga pendidikan, digambarkan dalam kisah isra’ mikraj Nabi Muhammad SAW., melalui tamsil melihat orang yang terus menerus panen.

"Orang-orang yang menanam kebaikan di buminya Allah akan terus menuai hasil yang tiada habisnya," kata Habib Umar.

Menurut Habib Umar sebagai lembaga pendidikan harus mampu memenuhi harapan sekaligus prinsip pendidikan orang tua. Yaitu mampu menjadikan santrinya sebagai orang yang pintar, mau meluangkan waktunya untuk hal bermanfaat dan benar.

"Negara ini membutuhkan generasi yang pinter dan bener. Pinter itu kaitannya dengan ilmu, sedang bener kaitannya dengan iman," ungkapnya.
Untuk menunjang keberhasilan itu, imbuh Habib Umar, orang tua harus menopangnya dengan tiga hal, yaitu pendidikan, perhatian dan pengawasan. Ini sebab keterbatasan waktu ustadz/ustadzah di madrasah dalam membina generasi bangsa.

"Orang tua harus ikut andil supaya pendidikan kita berhasil. Jadikan masa lalu sebagai pengalaman, untuk hati-hati bertindak di masa sekarang dan pedoman menentukan masa depan," ujarnya.

Menambahkan, Habib Ali Zaenal Abidin Aseegaf agar para santri terus taat kepada orang tua dan gurunya. Ia juga menghimbau agar para santri mau mencecap berkah dari keduanya sembari cinta bersholawat kepada Rasul-Nya.

"Semoga madrasah ini semakin maju, santrinya terus bersholawat kepada Nabi Muhammad dan membuatnya bangga," ujar Habib Bidin, sapaan akrabnya.

Termasuk dalam rangkaian acara Harlah ini juga digelar lomba mewarnai tingkat RA/TK, dan lomba kaligrafi tingkat MI/SD Se-Kabupaten Kudus, Bazar, Ziarah Muassis, khotmil qur'an dan pembacaan sholawat nariyah. Rangkaian acara itu dilaksanakan mulai 25 - 28 Maret 2018. (Farid)



WWW.PARIST.ID, Kudus – Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) edisi bulan ini menampilkan dua penyair dari dua generasi berbeda. Dua generasi tersebut adalah Rhy Husaini dan Ima Yaya. Sebagian orang mungkin belum terlalu mengenal Rhy Husaini. Sastrawan kelahiran Kudus tersebut memang terlalu jauh bagi pelaku sastra Kudus. Dimabuk studi ke tanah keraton Yogjakarta membuatnya sedikit menjauh dari tanah kelahirannya.

Namun, dibalik semua itu dia sudah bersolek dengan dua karyanya yakni, Kontemplasi Aksara Hati (2016) dan Eva (2017). Selain itu, Rhy juga aktif mengikuti pertunjukan seperti Festival Seni Yogjakarta, Biennale Jogja, Art Jog, Festival Melupakan Mantan dan beberapa event-event puisi dan event pop lainnya.

Selanjutnya ada Ima Yaya, seorang aktris lulusan kelompok Teater Sangkur Timur dari Kota Solo. Sekarang Dia mengabdikan jiwanya kepada puisi dan dunia teater dengan mendirikan Teater SAKA. Terbukti dengan naskah yang Dia ciptakan antaranya adalah Cantung Lindu, Dong, Plat – K, serta beberapa naskah realis lainnya.

Arfin Ahmad Maulana, Ketua FASBuK, mengatakan bahwa edisi maret kali ini sengaja menghadirkan dua generasi berbeda. “Ima yang berproses dengan Teater dan Rhy yang berproses melalui sair dan seni,” jelasnya.

Seperti biasanya, acara yang diselenggarakan atas kerjasama FASBuK dengan Kelompok Teater Obeng ini bertempat di Auditorium UMK. Acara ini diadakan tepat hari Jumat, 30 Maret 2018 pukul 19.30 WIB dan gratis tanpa dipungut biaya apapun. (Latifah/Falis)

Ketua Kaprodi Tadris IPS, Amin Nashir saat membuka acara Khataman Al-Qur'an Lima Kali di Mushola Kampus Barat STAIN Kudus.

WWW.PARIST.ID, KAMPUS - Himpunan Mahasiswa (HIMA) Prodi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Jurusan Tarbiyah STAIN Kudus menggelar acara Khataman Al-Quran, Rabu (28/03/2018) di Musholla kampus barat. Acara itu dihadiri oleh puluhan mahasiswa HIMA IPS dan beberapa dosen.

Ketua HIMA IPS, Syafik Mustakfir Ridho berharap kegiatan ini bisa mempererat tali silaturrahim antar mahasiswa khususnya Prodi IPS STAIN Kudus. Sebagai Prodi yang masih terbilang baru, silaturrahim dan kekompakan harus dibangun sejak awal. Baik antar mahasiswa maupun mahasiswa dengan dosennya.

“Selain itu, ini adalah momentum mahasiswa Prodi IPS menyambut peralihan STAIN Kudus menjadi IAIN Kudus,” imbuhnya.  

Sementara itu, Ketua Prodi Tadris IPS, Amin Nashir, dalam sambutan membuka acara tersebut, sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berharap acara seperti ini dapat mengangkat akreditasi Tadris IPS dan juga menambah kekompakan Prodi.

Rencananya, khataman ini akan dilakukan bertahap sampai lima kali. Pertama dilakukan pada Rabu 28 Maret 2018 dan secara bertahap seminggu sekali.

 (Qowim/Lim) 





Oleh Arif Rohman

Pada novel Max Havelar, kita akan berkenalan dengan tokoh bernama Batavus Droogstoppel, tokoh cerita yang suka berkata sesuai kebenaran: "Aku sama sekali tidak keberatan dengan puisi. Jika kau ingin merangkai kata-kata, baiklah; tapi jangan ucapkan sesuatu pun selain kebenaran."

Droogstoppel jujur dalam segala hal, termasuk dalam menulis puisi. Ia tak mau mengorupsi kata untuk kepentingan rima. Dimisalkan, dengan puisi: "Jam berdentang empat kali/Dan sudah tidak hujan lagi".  Seandainya waktu itu pukul tiga kurang seperempat, maka Droogstoppel akan berkata:"Pukul tiga kurang seperempat, dan hujan sudah berhenti."

Bagi seorang penyair, Droogstoppel bisa dibilang bukanlah penikmat seni, puisi atau pun karya fiksi lainnya, yang tentu saja memerlukan keterampilan bertutur, agar pembaca merasa tertarik membaca, menikmati membaca yang di antaranya berkat rima yang ditulis dengan diksi yang pas.

Droogstoppel berlebihan dalam melihat kebenaran. Melihat karya fiksi sebagai hal yang penuh kebohongan. Jauh dari keyakinannya yaitu kebenaran.

Di tahun politik 2018 ini, kita bisa melihat kepribadian Droogstoppel  dalam Max Havelar sebagai metafora. Coba kita sandingkan pendapat Droogstoppel terhadap "Si Pembuat Rima" itu dengan para politisi yang mencalonkan sebagai pemimpin kita. Figur yang tampil "sempurna" lewat potret yang terpampang di pinggir jalan. Figur yang berperan sebagai "Si Pembuat Rima", mengubah kata untuk keindahan baca. Kita hanya melihat yang baik-baik saja: baliho besar dengan gambar senyum, simbol kebaikan; dengan slogan penuh optimisme, juga simbol kebaikan, dan lain sebagainya.

Pencitraan diri

Pada masa kampanye, baliho wajah calon pemimpin kita bemunculan. Bahkan, dengan mengakali peraturan kampanye, beberapa figur yang berniat mencalonkan diri entah calon bupati atau gubernur sudah muncul fotonya di pinggir jalan jauh-jauh hari sebelum terompet pergantian tahun ditiup.

Melihat masa kampanye di desa, tidak lepas dari laku pemberian kaos partai atau calon, esais A.S. Laksana, pernah memberi saran, jika ingin mengakomodir  banyak orang berilah mereka seragam.

Dan tim sukses akan mendatangi rumah-rumah membagikan amplop, mirip yang digambarkan A. Mustofa Bisri atau Gus Mus dalam puisinya Di Negeri Amplop (1414): Di negeri amplop/ amplop-amplop mengamplopi/ apa saja dan siapa saja. Yang paling banyak memberi uang akan dipilih adalah keyakinan masyarakat yang sudah umum. Mungkin, dilandasi rasa kecewa karena banyak pemimpin tercokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Di luar urusan politik uang, para politisi mengenalkan dirinya lewat potret. Cekrek. Dibumbui senyum manis, janji manis, dan slogan yang optimis. Kemudian memasangnya di titik strategis jalur yang dilalui masyarakat.

Di ranah nasional, kita juga bisa melihat wajah-wajah politikus di layar televisi. Yang hadir di sela-sela iklan, yang muncul di sela-sela berita.

Alih-alih mengenalkan diri lewat rekam jejak alias sumbangsing yang telah diberikan kepada masyarakat. Para politikus masih banyak yang berkenalan melalui potret dan video pencitraan.
Sisanya kita mendapati para pemilih yang menolak amplop akan golput dan melihat amplop bekerja: Amplop-amplop menguasai penguasa/ dan mengendalikan orang-orang biasa/ Amplop-amplop membeberkan dan menyembunyikan/ mencairkan dan membekukan/ mengganjal dan melicinkan. Selamat pikir-pikir menentukan pilihan.

Arif Rohman,  anggota Komunitas Fiksi Kudus (Kofiku) dan Paradigma Institute (Parist) Kudus.



WWW.PARIST.ID, KUDUS - KH. Ahmad Musthofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus menganjurkan agar setiap pemimpin harus belajar dari filosofi shalat. Sebab, di dalam sholat mengandung makna sangat dalam bahwa pemimpin  dituntut untuk memahami siapa yang dipimpinnya.

"Pemimpin itu seperti imam dalam Sholat, seorang Imam harus mengerti seperti apa dan bagaimana Makmumnya," kata Gus Mus dalam acara Pengajian Isra' Mi'raj di Pendopo Kabupaten Kudus, Senin (26/03/2018) malam.

Gus Mus mencontohkan salah satu kisah dari sahabat Rasulullah, suatu ketika Muad bin Jabal menjadi imam shalat jamaah. Namun, makmumnya meninggalkan sholat karena Muad terlalu lama memimpin sholat tersebut. Di rekaat pertama, Muad mengkhatamkan Surat  Al-Baqarah, di rekaat kedua Surat An-Nisa'. Kemudian Muad diperingatkan oleh Rasulullah bahwa seorang imam harus bisa melihat siapa makmumnya. Imam adalah panutan banyak orang, ada yang tua dan ada yang muda. Jadi tidak bisa disamakan.

Pemimpin saat ini, lanjut Gus Mus,  harus mencontoh kisah Muad. Sebagai seorang pemimpin jangan seenaknya sendiri, harus mampu bersikap adil. Jadi harus bisa mengayomi semuanya, jangan berpihak ke kanan ataupun ke kiri, harus bisa berada di tengah-tengah, kalau dalam istilah Jawa "ojo kedawan ojo kecepeten. "

Menurut Gus Mus, banyak pemimpin di Indonesia yang salah kaprah dengan tugasnya sebagai imam. Tak sedikit dari mereka yang kurang memanusiakan manusia. Selain itu, dengan ilmu dan kekayaan yang dimilikinya, mereka biasa menganggap remeh orang lain. Padahal, tugas mereka adalah melayani dan mengayomi siapapun yang dipimpinnya.

Gus Mus mengingatkan, bahwa kedudukan atau martabat manusia yang paling tinggi adalah di hadapan Allah, bukan ketika mendapat jabatan atau kekuasaan. Karena jabatan atau kekuasaan itu hanya sesaat, suatu saat akan hilang.

"Kalau suatu ketika engkau memikul keranda ke kuburan, ingatlah suatu saat kamu akan dipikul. Kalau suatu ketika engkau dipasrahi jabatan, kekuasaan, ingatlah suatu saat engkau akan lengser," tuturnya. (Arif/FMH)


WWW. PARIST. ID, Kudus – Puluhan Mahasiswa mengikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) di Balai Budaya Rejosari, jum’at 23/03/2018. Kegiatan ini diadakan oleh LPM Paradigma dan dibuka oleh Harianto, perwakilan pengelola Balai Budaya Rejosari.

Mengangkat tema Menulis Untuk Peradaban dan Keadaban, panitia berharap kegiatan ini akan melahirkan kader jurnalistik yang handal. Peserta juga diajari untuk menulis berita dengan kode etik jurnalistik sekaligus mengenalkan peradaban kebudayaan daerah yang berada di Desa RejosarKecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

“Tema ini bertujuan agar peserta memiliki kemampuan menulis sekaligus kenal budaya lokal,”  kata ketua panitia, Ali Murtadho.
Ia juga menjelaskan acara ini akan berlangsung selama tiga hari kedepan. Pada kegiatan ini peserta dikenalkan dengan beberapa materi, diantaranya, opini, sastra, dan berita.

“Mereka langsung ditugaskan mencari berita, kemudian memprosesnya menjadi buletin utuh,” jelasnya.

Sementara perwakilan dari Balai Budaya Rejosari, Harianto mengaku senang dengan diadakannya kegiatan ini. Mengenalkan budaya lokal itu sangat penting dan bermanfaat untuk pedoman hidup sehari-hari.

“Dengan mengenal budaya lokal  menjadikan pedoman bagi kehidupan dan mengajarkan toleransi,”  tuturnya. (lathifah) 



WWW. PARIST. ID,KUDUS - Sebagai  jurnalis seseorang harus memetakan isu sekaligus mengetahui peta geografis area liputan. Selain itu, juga harus bisa berkomunikasi dengan baik dan jeli dengan ucapan narasumber.

"Baik wartawan pemula maupun senior harus melakukan pengamatan langsung di lapangan. Tema, angle dan isu yang diangkat pun sebisa mungkin menarik," kata Femi Noviyanti, wartawan radar Kudus pada acara Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD), di Balai Budaya Rejosari Kudus, Jum'at (23/3/2018).

Ia menambahkan, seorang wartawan tidak boleh spekulatif dalam membuat berita. Maksudnya wartawan harus didasarkan riset yang mendalam dan sesuai fakta. Tulisan juga harus dibuat secara rinci.

"Kita juga perlu melakukan pendekatan narasumber. Dulu saya pernah meliput turis dan itu memerlukan waktu empat hari. Karna tidak semua turis itu terbuka kepada kita," jelasnya

Sementara itu, Fandi, salah satu peserta PJTD mengaku pernah terlibat dalam liputan kampus tentang isu pemilihan umum mahasiswa.

"Saya dulu pernah meliput tentang partai-partai kampus yang dianggap didiskriminasi," katanya. (Falis)

PARIST.ID, KUDUS – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Sathoesh STAIN Kudus menggelar Tebar Bahasa yang ke-4 bertajuk “Mantra Suci dalam Lingkaran” di Gedung Olahraga (GOR) STAIN Kudus pada rabu (21/03/18). 

Kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun ini difokuskan pada puisi, baik musikalisasi puisi maupun drama puisi. Selain itu kegiatan ini juga sebagai peringatan Hari Puisi Nasional dan lomba cipta puisi untuk para pelajar se-Kabupaten Kudus. 
Alfina, ketua panitia kegiatan tersebut mengatakan, acara Tebar Bahasa ini bertujuan menggaet sekolahan se-Kabupaten Kudus untuk berpartisipasi dalam lomba cipta puisi. “Acara ini bertujuan untuk merangkul semua siswa untuk berpuisi, selain hari ini adalah hari puisi sedunia,” katanya. 

Selain siswa, tambahnya, penciptaan puisi juga diumumkan bagi semua mahasiswa yang ingin berpartisipasi. “Puisi-puisi itu nantinya kita kumpulkan, tidak mungkin kan karya orang kita buang-buang seenaknya,” lanjutnya. 

Sementara itu, Abdurrahman, pencetus kegiatan Tebar Bahasa menjelaskan, kegiatan ini dilahirkan oleh para sastrawan Teater Sathoes. “Tebar Bahasa merupakan suatu gebyar sastra yang biasa diperingati oleh warga teater Sathoes, yang dilahirkan oleh satrawan teater Sathoes salah satunya Ken Arok pada tanggal 01 Mei 2015,” pungkasnya. 

Kegiatan lomba cipta puisi tersebut dimenangkan oleh MAN 01 Kudus sebagai juara satu, kemudian juara dua dari MA Qudsiyyah, dan juara tiga dari MA NU Mu’alimat Kudus. (Laila/Waf)

WWW.PARIST.ID, KUDUS - Puluhan pelajar tingkat madrasah tsanawiyah mengikuti Pelatihan Jurnalistik Dasar di Gedung MTs NU Maslakhul Falah, Glagahwaru, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Kamis (15/03/18). 

Kegiatan itu diinisiasi oleh kelompok mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) STAIN Kudus sebagai bentuk dorongan kepada siswa-siswi agar memiliki nalar jurnalistik sejak dini. 

"Tujuan pelatihan ini untuk mengenalkan peserta dengan dunia jurnalistik. Sehingga kedepannya diharapkan bisa menjadi generasi yang cinta jurnalisme. Target outputnya nanti membuat majalah tingkat Madrasah atau MTs," jelas Amir Hidayat, salah satu panitia.

Dalam acara ini, kata Amir, peserta didampingi oleh tim pelatih dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma STAIN Kudus. Mereka memberi pembekalan materi dan mengajarkan beberapa tahapan membuat majalah. Untuk itu, panitia menargetkan ada sebuah karya dari peserta pelatihan kali ini.

"Semoga peserta mampu melanjutkan dan mengembangkan ilmu dasar jurnalistik hingga jenjang yang lebih tinggi," harapnya.

Sementara itu, Pimpinan Redaksi 2016, LPM Paradigma, Yaumis Salam, menuturkan hal yang paling penting dari seorang jurnalis adalah berani. Menurutnya, tanpa keberanian tidak akan bisa menjadi jurnalis yang berkompeten.

"Inti dari jurnalis adalah berani. Hal terpenting kita harus berani, kalau adik-adik tidak berani, jangan jadi seorang jurnalis. Kalau mau menerbitkan majalah atau buletin kuncinya harus berani," tegasnya.

Wakil Ketua Bidang Kurikulum MTs NU Maslakul Falah, Rokhmat, menginginkan adanya tindak lanjut dan pendampingan setelah pelatihan ini selesai. Ia juga berharap agar LPM Paradigma bersedia membantu jika di waktu mendatang madrasah mengalami kendala dalam proses pembelajaran jurnalistik.

"Setelah mengikuti 2 hari pelatihan, Saya harap di madrasah kita ada perkembangannya, terutama dalam menghasilkan karya. Ilmu yang diperoleh nanti bisa digunakan, terutama untuk mendukung pembelajaran di madrasah," katanya.(Arif/Falis/FAR)


WWW.PARIST.ID, JEPARA - Forum Silaturrahmi Untuk Perdamaian (ForSUP) Jepara menyiapkan diri untuk menjadi benteng terdepan dalam menjaga perdamaian dan Kebhinekaan. Ikhtiar tersebut dimulai dengan menebar pesan toleransi kepada masyarakat Jepara melalui sarasehan budaya.

Bertempat di Rumah Makan Lumintu Jepara, Senin (19/3/2018), sarasehan kedua bertema "Merawat Benih Damai Melalui Budaya Lokal," ini dihadiri oleh masyarakat dari berbagai kalangan dan lintas agama. 

Parapto Basuki, perwakilan organisasi Yayasan Damai Untuk Negeri menjelaskan, tujuan utama sarasehan ini yaitu menciptakan atmosfer damai di Kabupaten Jepara. Menurutnya, isu intoleransi sudah sangat menggerogoti sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa. Dan itu merupakan persoalan besar yang harus segera dituntaskan.

"ForSUP akan terus berupaya untuk menebarkan pendidikan damai kepada seluruh masyarakat Jepara," tekadnya.

Nur Rahman, Dosen UNISNU menuturkan, dalam perspektif Islam, perbedaan adalah kekayaan luar biasa yang dilimpahkan Tuhan untuk memperindah ciptaan-Nya. Ia menambahkan, melalui perbedaan itu, manusia sangat dianjurkan untuk menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut dalam bingkai kebersamaan.

Hadi Priyanto, Ketua Yayasan Kartini Indonesia,  mengungkapkan, spirit perdamaian dan kebhinekaan harus terus digaungkan. Menurutnya, penyampaian pesan-pesan toleransi akan sangat efektif jika melalui jalan kebudayaan.

Di Jepara, lanjut Hadi, terdapat banyak sekali kebudayaan, tradisi, dan kepercayaan yang semua itu menjadi salah satu kekuatan untuk menjadikan Jepara semakin berdaya. Namun, tanpa adanya toleransi, keberagaman itu akan menjadi salah satu pemicu perpecahan masyarakat.

"Perdamaian untuk negeri, harus kita jaga dan rawat bersama. Serta tidak boleh berhenti, walaupun suasana damai itu telah kita rasakan dan nikmati bersama," pungkasnya. (qih)



WWW.PARIST.ID, KUDUS - Komunitas Fiksi Kudus (Kofiku) menggelar acara bedah buku untuk kedua kalinya di Aula Perpustakaan Daerah Kabupaten Kudus, Ahad (18/03/18). Menghadirkan guru bahasa, Akhlis F, kofiku membedah himpunan puisi "Menanam Hutan Dengan Lenganmu Sendiri" karya Fadlillah Rumayn.

Akhlis F, Guru Bahasa Indonesia SMP Istiqlal Kudus, mengapresiasi perjuangan Fadlillah Rumayn saat mengandung buah hati dalam menggarap buku. Ia juga menuturkan bahwa puisi-puisi dalam bukunya tidak lepas dari karakteristik sang penyair.

"Seorang penyair yang kehidupannya tidak berlatar belakang di laut, maka dia jarang menuliskan tentang laut. Karena puisi itu lahir dari sebuah kegelisahan, dan gayanya tidak lepas dari yang diidolakannya. Seperti Fadlillah ini mengagumi JK Rowling, penulis buku Harry Potter, maka puisi-puisinya menonjolkan sebuah fantasi seperti kebanyakan dalam buku ini," tuturnya sebagai pembedah buku.

Sementara itu, Fadlillah Rumayn, sebagai penulis mengatakan, buku ini merupakan sehimpun puisi yang  diambil dari  buku catatan puisinya, dan diperoleh dari salah satu teman KOFIKU.

"Ini memang buku sehimpun catatan puisi dan teman saya di KOFIKU. Proses pembuatan buku dimulai dari cover, bekerja sama dengan penerbit, dan perjuangan mengurus rumah tangga," tuturnya.

Ia menambahkan suaminya menjadi faktor pendorong untuk membukukan puisi yang berceceran di media sosial dan catatan puisinya. 
"Suami memang yang berinisiatif untuk membukukan puisi saya. Sampul buku ini pun hasil lukisan saya sendiri yang menunjukkan ada beberapa organ tubuh yang tersebar. Sekaligus mewakili judul buku," jelasnya. (Fird/Fal)


WWW.PARIST.ID, KAMPUS - Pusat Studi Gender (PSG) STAIN Kudus mengadakan sosialisasi responsif gender di Ruang Senat Rektorat, Rabu,(14/03/18).

Mengangkat tema "Penguatan Sensitivitas gender Mahasiswa, Menuju Kampus Responsif Gender, sosialisasi ini dikhususkan kepada mahasiswa dari perwakilan organisasi kemahasiswaan sebagai peserta. 

"Mereka semua nantinya diharapkan bisa jadi contoh sekaligus pelopor mahasiswa responsif gender, minimal ilmu dari sosialisasi ini diterapkan dalam organisasi yang mereka ikuti," kata Ketua PSG STAIN Kudus, Dr. Hj. Nur Mahmudah, M. Ag.

Menurutnya, saat ini masih banyak mahasiswa maupun dosen yang kurang msmperhatikan kesetaraan gender. Itu terlihat dari ketimpangan peran, yang lebih banyak dikuasai kaum adam, pada hampir seluruh aspek kehidupan. 

"Kita ingin agar tidak lagi terjadi diskriminasi peran yang mengesampingkan kemampuan perempuan. Harus ada kesetaraan dan kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan," imbuhnya.

Nur Sa'id, sebagai peneliti gender, mengatakan, ketimpangan gender yang terjadi sekarang  karena budaya masyarakat terdahulu.
"Wanita pada zaman dahulu hanya beraktivitas di sumur, dapur dan kasur saja. Tidak boleh sekolah dan keluar rumah. Hal ini dipengaruhi karena bangsa kolonial yang menjajah indonesia kala itu," tuturnya.

Senada dengan Nur Said, Any Ismayawati, mengaku, masih adanya bias gender dikarenakan konstruk sosial yg salah. 

"Yang namanya gender itu tidak harus membela perempuan, jika ada kekerasan di rumah tangga itu harus dicari akar masalahnya, bukan selalu laki-laki yang salah," katanya. (Kholiq/falis)



Puisi-puisi Firdashoma*


Puan, Tersenyumlah

Kisah ini lapuk diantara rak-rak senja

semenjak hitam menghabisi putih

maka menangislah, puan!

ijinkan Muria datang memelukmu

bayang Veteran turut membasuh rindu

kaki-kaki hujan menjadi saksi bisu

Ah, biarkan mereka kelelahan dalam ketiadaanmu

hingga badai mengajak pergijauh dari bumi

melupakan malam yang terlalu ranum dipetik

mengasingkan para wajah yang tak sedap dipelihara

menangislah, puan!

menangislah sampai raja siang tak jadi terbit

kemudian tersenyumlah! pertanda surat ini telah sampai


Barangkali Kau

Barangkali kau adalah serdadu-serdadu Indonesia yang menjelma dedaun kering, terlupakan sejarah dan termakan darah

barangkali kau adalah selsius merbabu atau kilo meter nil yang menjelma liliput; kerdil, sebatasdongeng para siput

dan barangkali kau adalah mutiara kekasih dengan harum tujuh bunga yang menjelma ratu raflesia
ah barangkali kau adalah sajak-sajak yang kutulis; indah.

namun ini hanya lamunan!


Petuah di Kotak Surat Depan Rumahmu

usir awan arkus!

jangan bersembunyi di balik merah!

agar pak pos bisa mengantarkan surat

dari matahari


Diary Tuan untuk Putri

Kuceritakan kisah langit

yang kini menduduki bumi

di singgasana sang angin

dari awan yang terbang

pada kenangan-kenangan pangeran

yang termaktub Bersama sang putri

perihal kisah, membuat jarak laut
hingga para duyung melarikan diri
dari jerat api

pada nahkoda yang kusebut bumi

Utarakan
janji-janji hujan

kepada puan


GelakSiapa yang Menangis

ada sebuah tanya dalam kening hujan
dari sudut mata yang dihias tawa

memasung lembut tirai langit
aku termasuk puan meneteskan rintik

menjadi lautan bagi cermin sang awan
juga matahari yang gemar terbakar

namun ia nampak malu dengan kami bukan?
bukan, ia hanya tak percaya jika hujan bertanya

“Gelak siapa yang menangis?”

anak-anak kecil berlarian menuju sungai
berharap hujan turun menyuratinya
percayalah kami bukan gemuruh!


Deskripsi Puisi Akhir

Apalagi yang kau baca di sini? Mencari puisi surat lagi?

Surat kemarin belum kau balas. Apa kau merindukan suratku? 

Sebenarnya surat di kotak suratmu itu dari kotak. 

Sebenarnya pengantar surat untuk suratmu dari aku itu kau.

Apa tidak sadar, aku mencintaimu. 

Apa cinta itu berat hingga pada akhirnya biar aku saja. Kau tidak?



*seorang balerina puisi yang masih merangkak



WWW.PARIST.ID, KAMPUS - Mahasiswa STAIN Kudus dihimbau untuk melakukan konfirmasi atau tabayyun terhadap informasi yang hadir setiap saat melalui media sosial. Himbauan itu menggemuka dalam seminar literasi yang diadakan oleh UKM Kelompok Pecinta Nalar (KPN), Rabu (14/03/2018).

Mengangkat tema "Menganalisa Berita Hoax atau Fact dalam Media Massa dan Sosial," Ketua UKM KPN, Khoirun Nisa', mencoba melakukan fungsi utama KPN sebagai pecinta nalar untuk memberi pembelajaran betapa pentingnya budaya literasi.

Seminar ini, lanjut Nisa', bertujuan untuk meminimalisir maraknya hoaks yang menyerang setiap orang. Termasuk mahasiswa STAIN Kudus sendiri. "Sebagai pecinta nalar, kita jangan sampai terjebak dalam arus informasi yang belum tentu kebenarannya" ujarnya.

Sementara itu, Aat Hidayat, salah satu narasumber mengatakan, saat ini memang masyarakat dihadapkan dengan publikasi informasi yang begitu masif dan sulit dibendung, baik hoaks atau fakta.

"Bayangkan, ratusan ribu situs media yang menebar hoaks telah membanjiri media massa saat ini, bagaimana kita bisa keluar dari jeratan mereka?" katanya.

Aat menambahkan, salah satu kunci agar kita tidak terjebak dalam informasi hoaks adalah dengan mempertajam analisis nalar ketika menerima informasi apapun. Selain itu, penyadaran diri untuk membudayakan literasi juga bisa menjadi penopang nalar kita untuk menyaring setiap informasi.

Senada dengan Aat, Mochammad Noor Efendi, wartawan Suara Merdeka Biro Pati, menegaskan bahwa memang benar berita hoaks kini membaluti setiap lini kehidupan bermedia kita. Buktinya, akhir-akhir ini pihak kepolisian membongkar sindikat peredaran berita hoaks di media sosial.


Dari sudut pandang jurnalisme, Efendi mengajak seluruh peserta seminar untuk pandai-pandai memilah dan mengkonfirmasi berita. Konfirmasi itu bisa dilakukan dengan menelusuri kredibilitas media bersangkutan, mencari data-data valid dari situs-situs terpercaya, dan membandingkan dengan media lain yang sama-sama memberitakan peristiwa serupa.

"Sebelum mengetahui berita itu hoaks atau tidak, jangan sampai nge share ke media sosial. Karena, memang sasaran hoaks yang paling mudah disasar adalah media sosial seperti Facebook atau Twitter," jelasnya.

Wakil Ketua III STAIN Kudus, Abdurrahman Kasdi, mengaku sangat mengapresiasi program dari KPN. Bahwa tradisi literasi sangat penting dengan bertabayyun atau konfirmasi berita secara komparatif. Sebab melalui hoaks lah perpecahan bangsa ini mudah terjadi.

"Pokoknya, jangan mudah percaya dengan berita yang menghampiri kita secara terus menerus," tukasnya. (Qih)


WWW.PARIST.ID, BREBES – Sekitar Rp. 7 juta hasil penggalangan dana oleh Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) telah disalurkan kepada korban banjir Brebes, Minggu (11/3/2018) kemarin. Bantuan tersebut diserahkan langsung kepada relawan yang telah berjaga setelah bencana terjadi.


Muhammad Nidzom Muis, sebagai ketua panitia, mengatakan, ide penggalangan dana ini awalnya merupakan intruksi dari Wakil Ketua (WAKET III) STAIN Kudus bahwasannya di Brebes ada bencana alam, kemudian Ormawa segera mengadakan penggalangan dana untuk disalurkan ke korban bencana alam di Brebes.

“Kami langsung bergerak cepat, penggalangan dana ini dilakukan dua kali, yang pertama ke mahasiswa sendiri, dan yang kedua turun ke masyarakat,” ungkapnya.

Muis menambahkan, kehadiran mahasiswa STAIN Kudus ke Brebes adalah bentuk kepedulian dan empati mahasiswa STAIN Kudus terhadap Korban Bencana Alam di Kabupaten Brebes. 

Senada dengan Muis, Yudhistira Pradipta, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAIN Kudus berharap bantuan ini bisa mengurangi beban penderitaan masyarakat Brebes yang terkena musibah. Selain itu, ia menambahkan semoga bencana yang melanda Kabupaten Brebes ini bisa segera teratasi dan bisa kembali ke kehidupan sehari-hari yang lebih baik.

Sementara itu, Sayyidin, relawan yang juga Dewan Pembina GP Anshor Kabupaten Brebes menyambut baik kehadiran mahasiswa STAIN Kudus. Ia berharap semoga kehadiran mahasiswa STAIN Kudus ada manfaatnya dan sekaligus merekatkan tali silaturrahim antara Mahasiswa STAIN Kudus dan masyarakat Kabupaten Brebes.

“Terima kasih atas kedatangan mahasiswa STAIN Kudus yang telah jauh-jauh menempuh perjalanan dari kudus ke Brebes. Semoga ada manfaatnya dan sekaligus menyambung tali silaturrahim kita (masyarakat Brebes) dengan STAIN Kudus. Silahkan kalau mungkin lewat sini bisa mampir ke posko,” imbuhnya.

Posko tempat penyaluran dana di Kecamatan Losari, lanjut Sayyidin, adalah posko yang dibentuk oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan Banom-Banomnya. Alasan posko itu didirikan adalah karena banyaknya bantuan dari luar Brebes, untuk memudahkan orang lain yang tidak tahu wilayah bencana Kabupaten Brebes. 

Ia menjelaskan, kalau tidak ada posko, orang-orang dari luar yang mengirimkan bantuan hanya sampai di pinggir-pinggir jalan saja, sementara yang di pelosok-pelosok tidak terjangkau. Dari posko itu, relawan siap siaga 24 jam kalau dibutuhkan. 

Abdurrahman Kasdi,  Wakil Ketua (WAKET) III STAIN Kudus, menuturkan,  tujuanya adalah untuk mengenalkan STAIN Kudus dan Organisasi-organisasi Kemahasiswaannya, sekaligus sebagai bentuk empati kepada korban bencana alam di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

“Tujuannya jelas, kegiatan ini adalah untuk mengenalkan STAIN dan UKM-UKMnya, sekaligus sebagai bentuk empati kepada korban bencana,” bebernya. (Arif/FMH)


PARIST.ID, KUDUS –  Tokoh Sedulur sikep Kudus, Budi Santoso, menilai para penguasa telah mendiskriminasi sedulur sikep dalam menyikapi isu penolakan pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng. Katanya hal serupa juga dilakukan oleh insan media baik cetak maupun online yang memberitakan seolah sedurur sikep menolak keberadaan pabrik tersebut. 

"Kami merasa mengalami diskriminasi oleh pihak penguasa. Kami bersikap netral tentang adanya pembangunan pabrik semen, asalkan hak-hak kami sebagai masyarakat terpenuhi," tuturnya ssebagai narasumber dalam acara launching & bedah buku "Sedulur Sikep Menggugat" di aula Gedung PCNU Kudus, Ahad (11/3/2018).

Kegiatan yang dimoderatori oleh Rektor Universitas Muria Kudus, Dr. Suparnyo, S.H, M.S, itu menghadirkan pula narasumber lain. Diantaranya Dr. H. Subarkah, M. Hum., selaku penulis buku dan Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Kudus, Dr. Kisbiyanto, M. Pd.

Lebih lanjut, Budi mengkritisi buku "Sedulur Sikep Menggugat" ini dari sudut pandang penulisan judul. Menurutnya, sedulur sikep tidak semua menggugat, juga tidak memakai nama ajaran Samin atau komunitas sedulur sikep. 

"Yang menggugat itu atas nama JMPPK. Celakanya jika ada orang yang menyelewengkan ajaran pribadi untuk tujuan tertentu, maka patut kita sayangkan. Gerakan apa saja sebaiknya tidak membawa nama agama," imbuh Budi. 

Menanggapi, sebagai penulis, Subarkah mengaku ada beberapa sudut pandang yang berbeda antara perspektif sedulur sikep dengan data yang ia tulis dalam buku ini. Mulai dari segi hukum, ekonomi, sosial dan budaya.

"Terkait dengan sumber daya alam digunakan sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat. Ini dilihat dari sisi mana saja. Jika ada di sisi ekonomi, bukan sama rata sama rasa. Namun jika dilihat dari sisi keadilan sosial maka sama-sama merasakan," ujarya.

Berbeda dengan Budi, Ketua ISNU Kudus, Kisbiyanto, mengatakan buku karya Subarkah tentang masyarakat sedulur sikep di Sukolilo, Pati yang menolak adanya pabrik semen 99,9% inspiratif. Secara keilmuan buku itu mencakup aspek hukum, sosial, budaya dan ekonomi secara menyeluruh.

"Buku ini jika di era orde baru sudah bisa jadi subversif atau melawan negara. Tapi watak keilmuan seperti inilah yang sekarang dibutuhkan negeri ini," kata Dosen STAIN Kudus itu.

Ia menambahkan hal menarik yang patut diperhatikan dalam buku ini adalah sudut pandang penulis yang membicarakan soal gugatan sedulur sikep di Sukolilo, Pati tentang keberadaan pabrik semen di pegunungan Kendeng.

"Memang benar, jika semua aset alam kita dieksplotasi dg sedemikian rupa, alam kita lama-lama akan habis," ucapnya. 

Selain itu, kata Kisbi, buku ini juga memberi semangat kepada kita semua untuk berani memperjuangkan hajat hidup orang banyak yang dipertaruhkan. (Falis/Lim)

WWW.PARIST.ID, KUDUS  – Mahasiswa yang tergabung dalam Organisasi Kemahasiswaan (ORMAWA) STAIN Kudus adakan penggalangan dana untuk korban bencana alam di wilayah Brebes Jawa Tengah dan Kuningan Jawa Barat, Rabu (08/03/2018). Penggalangan dana tersebut merupakan intruksi dari Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan STAIN Kudus, Abdurrahman Kasdi.



Aksi penggalangan dana tersebut terbagi menjadi dua tahap, tahap pertama penggalangan dana dilaksanakan di lingkungan internal kampus pada hari rabu-kamis (28 Februari - 1 Maret) dan tahap kedua di luar kampus. Tahap kedua ini, masing-masing OK ditugaskan untuk menggalang dana di beberapa titik lampu merah yang berada tidak jauh dari kampus, yaitu lampu merah Ngembal Rejo, Pentol, Hypermart, Tanjung, Jember dan Barongan.

Dari penggalangan dana tersebut panitia berhasil mengumpulkan sekitar 15 juta rupiah. Rencananya dana tersebut akan didistribusikan langsung pada hari sabtu (10/03/2018) ke lokasi bencana. “Nanti hitungannya lima puluh persen untuk Brebes dan lima puluh persen untuk kuningan, kalau yang kuningan nanti transfer, kalau Brebes nanti cash langsung ke lokasi,” kata Muhammad Nidzom Muis, Ketua Panitia.

Muis menambahkan, setelah diskusi sama WAKET III rencana awal hasil penggalangan dana ini difokuskan ke Kuningan, karena yang paling parah antara Brebes dan Kuningan adalah Kuningan. Namun setelah penggalangan dana yang tahap pertama usai, tiba-tiba WAKET III mengintruksikan untuk mendistribusikan dana tersebut ke Brebes saja, karena Brebes masih wilayah Jawa Tengah, dengan alasan jangkauan kesana lebih dekat.

Sementara itu, Ketua DEMA STAIN Kudus, Yudhistira Pradipta, mengatakan, kegiatan penggalangan dana ini sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap korban bencana. Ia berharap dengan bantuan ini bisa mengurangi beban dari korban yang terkena dampak bencana alam Brebes dan Kuningan. Selain itu, ia juga berharap kepada seluruh OK agar selalu kompak dalam menjalankan tugas bersama sebagai aktivis mahasiswa yang harus peka terhadap lingkungan sekitar.

“Untuk semua OK, saya berharap agar selalu kompak, juga peningkatan kedisiplinan. Rasa sosialnya semakin dikedepankan, saling menghargai, kalau ada kebijakan yang positif kita laksanakan bareng, kalau ada kebijakan yang negatif kita kritik bersama.” Tambahnya.
Senada dengan Yudhis, Abdurrahman Kasdi, Sebagai WAKET III yang mengurus bidang kemahasiswaan berharap kepada semua OK agar ikut berpartisipasi sebagai wujud solidaritas dan kepedulian terhadap sesama.

“Tolong DEMA, SEMA, dan semua OK berpartisipasi untuk penggalangan dana terkait bencana Brebes dan Kuningan (dan mungkin bencana di tempat yang lain) sebagai bentuk kepedulian kita terhadap sesama.” Ungkapnya. (Arif/FMH)

 
WWW.PARIST.ID, KAMPUS – Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus bertekat menjadi pusat studi Al-Qur’an yang bertujuan mengkaji Al-Quran dan mengimplementasikannya dalam masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua I STAIN Kudus, Dr. Supaat, M.Pd. dalam Seminar dan Bedah Majalah bertajuk “Improvisasi Dakwah Qur’aniyah Melalui Masjid, Media Cetak, dan Media Sosial” pada selasa (6/3/18).di Gedung SBSN Jurusan Tarbiyah.

“Akan ada Pusat Studi Al-Qur’an yang nantinya akan mengkaji Al-Qur’an dan diplementasikan pada masyarakat, jadi nantinya ada prosedur yang bisa dijadikan patokan masyarakat,” katanya.

Lebih lanut ia mengatakan, pihaknya sangat mendukung adanya kelas bahasa arab yang diterapkan pada mahasiswa Bidikmisi STAIN Kudus angkatan 2017. “Tidak perlu jauh-jauh ke Pare untuk belajar bahasa asing, kita jadikan saja Conge ini sebagai kampung Inggris,” tuturnya.

“Nantinya, kalau kita sudah jadi IAIN taggung jawab kita akan lebih besar, dan Menteri Agama sudah setuju soal alih status, tinggal menunggu pak Jokowi tanda tangan. Insyaallah peletakan batu pertama nanti bakalan ada pak menteri agama,” jelasnya.

Hal senada juga disampikan oleh Saiful Mujab, Dosen sekaligus Ketua Divisi Al-Qur’an Ma’had STAIN Kudus. “Saat IAIN, harapannya pusat studi Al-Qur’an ini siap dioperasikan. Karena itu pembumian Al-Qur’an sudah dimulai dari sekarang diawali dengan diterapkannya tahfidz Al-Qur’an pada seluruh anak Ma’had. Sebelum nanti diterapkan pada seluruh mahasiswa STAIN semester 1 dan 2 dengan cara wajib mondok,” terangnya.

Ia juga mengajak seluruh Mahasiswa STAIN Kudus untuk meramaikan Masjid kampus, karena menurutnya Masjid lah langkah awal untuk menciptakan Mahasiswa yang Qur’ani sebagai bentuk bagian dari sebuah IAIN pada masa mendatang.

“Kita akan jadi bagian IAIN, maka semuanya harus Qur’ani termasuk dalam berakhlak. Dan itu dimulai dengan meramaikan Masjid. Masjid itu tanggung jawab kita, jangan kita lari dari tanggung jawab. Yuk kita Qur’ankan Masjid itu, kita makmurkan,” imbuhnya.

Rencananya, setelah alih status jadi IAIN, pihaknya akan mewajibkan seluruh Mahasiswa pandai dalam baca tulis Al-qur’an hingga hafal 1-5 juz Al-Qur’an. Agar nantinya tercipta lingkungan kampus yang Qur’ani. “Dengan berakhlak Qur’ani, seluruh Mahasiswa STAIN Kudus diharapkan mempunyai bekal, baik untuk masa depan maupun akhirat,” pugkasnya.(Cindi/Waf)


WWW.PARIST.ID, KAMPUS - Para aktivis kampus yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) merasa keberatan adanya kebijakan jam malam. Mereka terpaksa angkat kaki dari kantor oleh pihak keamanan kampus, Jum'at (2/3/2018).

Kebijakan yang hanya sampai pukul 21.00 WIB ini dirasa menyulitkan kegiatan mereka. Seperti yang dikeluhkan oleh ketua UKM Musik, arif, jika jam malam hanya sampai pukul 21.00, maka untuk kegiatan latihan bisa kurang maksimal sebab terbatasnya waktu. 

"Mulai sore biasanya kami latihan paduan suara sampai kira-kira setelah isya', setelah itu ganti latihan untuk beberapa band. Satu band biasanya butuh waktu 1-2 jam untuk latihan. Dan ada lebih dari lima band, bisa dihitung sendiri butuh berapa jam untuk selesai dalam semalam," tuturnya.

Selanjutnya, ketua UKK Racana, Dalif juga merasa sangat keberatan dengan kebijakan tersebut. Jam malam yang dibatasi akan mengganggu kinerja Racana dalam rangka meningkatkan kompetensi para anggotanya. Apalagi kebiasaan Racana yang harus siap siaga ketika ada sesuatu.

"Takutnya nanti jika kita kedatangan tamu dari pangkalan-pangkalan lain seperti dari UMS, Jember dan sampai sini malam, otomatis harus menginap di sanggar. Berlakunya kebijakan tersebut malah nantinya menyulitkan kami," keluhnya.

Berbeda dengan Arif dan dalif, Ifan Rahmadi, ketua UKK Korps Suka Rela (KSR), mengatakan, semalam tidak ada satupun kru yang menginap di kantor. Sebab dia sudah mengira nantinya akan ada sidak dari pihak keamanan. 

"Satu suara dengan UKM lain, kami  sangat keberatan dengan adanya kebijakan jam malam tersebut. Untuk sementara KSR menginap di markas Palang Merah Indonesia (PMI) cabang kudus," ungkapnya.

Beberapa UKM tersebut nantinya akan berencana menyusun strategi dalam menanggapi kebijakan jam malam yang ditetapkan pihak kampus.

Menanggapi keluhan UKM-UKM terkait jam malam, Wakil Ketua Tiga bidang kemahasiswaan STAIN Kudus, Abdurrahman Kasdi menegaskan, kebijakan jam malam sesuai intruksi dari ketua, dan tidak dapat diganggu gugat. "kalau ada acara bisa mengajukan surat ijin dan jadwal kepada pimpinan," pungkasnya.(Faq/Lis)


WWW.PARIST.ID, KAMPUS - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz (JQH) As Syauq STAIN Kudus mengadakan khataman Al Qur’an 22 hari dalam rangka Pesona Milad JQH As Syauq ke 22 dimulai tanggal 2-23 Maret 2018. Bertema “Senandung Kalam Ilahi Mencapai Kebahagiaan Haqiqi”. Jum’at, (02/03/2018). 


Acara Khotmil Al Qur’an yang dibuka dengan mengirim ahli kubur disambung dengan khataman Al Qur’an. Pembukaan yang dihadiri dan sekaligus dibuka secara resmi dengan pemotongan tumpeng oleh pembina JQH As Syauq, Muhammad Ihsan. Dalam sambutannya ia mengatakan, khotmil Qur’an ini sebagai awalan kegiatan milad JQH As Syauq ke 22. Dan diramaikan dengan berbagai lomba, juga puncak acara dan diakhiri dengan gebyar shalawat dihadiri oleh Habib Ali Zaenal Abidin dari Pekalongan. 

“Khotmil Al Qur’an sebagai awal kegiatan pesona milad JQH As Syauq ke 22,” tuturnya. 

Kemudian, dengan dilaksanakannya kegiatan ini yang merupakan awalan alih status STAIN menjadi IAIN yang akan mengembangkan pusat studi Al Qur’an dan Islam Nusantara. Hal ini akan berpengaruh pada UKM JQH As Syauq yang kegiatannya berpusat pada studi Al Qur’an. 

“JQH As Syauq harus lebih serius dan bangga dalam pengertian dengan peralihan IAIN Kudus yang akan mengembangkan pusat studi Qur’an dan Islam Nusantara. Karena hal ini akan berpengaruh pada JQH As Syauq yang berpusat pada studi Qur’an,” ungkap Ihsan. 

Ihsan juga berharap setelah acara milad ini, JQH As Syauq mampu menambah program-program baru yang berpusat pada kajian Al Qur’an. Pengembangan yang dapat bersinergi dengan internal atau eksternal kampus. “Harapan saya setelah acara milad ini, JQH As Syauq mampu mengembangkan program baru yang berpusat pada studi kajian Al Qur’an,” jelasnya. 

Selain itu, mampu lebih berkembang dengan menampung potensi-potensi mahasiswa dalam rangka dapat berintegrasi pada wilayah khususnya pantura. Dengan tujuan tidak hanya bermanfaat bagi kalangan kampus namun masyarakat luas. “Dalam menampung potensi-potensi mahasiswa tidak hanya bermanfaat bagi internal kampus namun untuk masyarakat luas,” tambah Ihsan. 

JQH As Syauq mampu menjadikan IAIN Kudus yang mahasiswanya mencintai Al Qur’an. Menjadikan IAIN yang bernuansa Qur’aniah yang merujuk pada kalam Allah. Dan JQH As Syauq menjadi icon dalam kajian studi Qur’ani dan Islam Nusantara.(Faqih)

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.