PARIST.ID, KAMPUS - Ada dua pesan utama untuk peserta Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) LPM Paradigma sebagai dasar pijakan untuk maju di masa depan, yakni rajin membaca dan perbanyak ilmu.


Pesan tersebut disampaikan oleh Kepala Desa Jurang Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus, Miftahul Huda, dalam acara penutupan PJTD, Minggu, (24/03/2019). Pelatihan Jurnalistik yang berlangsung selama 22-24 Maret 2019 tersebut bertemakan "Goresan Tinta Wujudkan Makna" yang diadakan di aula Balai Desa Jurang. 

Pesan pertama adalah sering membaca. Mahasiswa harus sadar jika membaca itu penting untuk bekal di masa depan.

"Sebagai jurnalis pemula, sering-sering membaca informasi dan jangan bosan-bosan untuk membaca, entah itu membaca situasi maupun kondisi masyarakat," tutur Miftahul Huda. 

Informasi tidak selalu benar, jangan mudah percaya dengan informasi yang kita dapatkan. 

"Setiap apa yang kita dapatkan cari kebenarannya, jangan sampai kita hanya berkata tanpa tahu kebenarannya," tambah Miftahul Huda. 

Pesan kedua sekaligus pesan terakhir yakni perbanyak ilmu. 
"Walaupun kita aktif dalam organisasi, tapi jangan lupa untuk belajar sehingga ilmu yang kita dapatkan semakin banyak. Dengan belajar kita bisa menemukan teori-teori baru dan akan berguna suatu saat nantinya," jelasnya.

Ia berharap akan ada tindak lanjut untuk membimbing dan mengembangkan potensi peserta PJTD agar ide mereka dapat diterima di masyarakat.

Sementara itu, Pimpinan Umum LPM Paradigma, Ali Murtadho berharap agar peserta PJTD semakin loyal dan semakin meningkat pengetahuannya mengenai jurnalistik. 

"Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini" katanya. (Anisa)


PARIST.ID, KUDUS - Millenial khususnya pemilih pemula harus berani menentukan pilihan sendiri. Jangan sampai pengalaman pertama kali memilih dikendalikan oleh orang lain. Karena apa yang akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan adalah hasil dari pilihan kita sendiri.

Hal tersebut disampaikan oleh KPU Kudus bagian teknik, Dani Kurniawan, dalam acara yang diadakan Polres Kudus Focus Grup Doscussion (FGD) dengan tema "Partisipasi Kelompok Millenial Dalam Antisipasi Golput Guna Menyukseskan Pilpres dan Pilleg 2019 yang Aman, Damai dan Sejuk" di @Home Hotel Kudus, Rabu (20/03/2019).

Acara tersebut dihadiri oleh KPU Kudus bagian Tehnik Dani Kurniawan, Bawaslu Wahibul Minan, Dosen IAIN Kudus Dr. Abdul Jalil dan segenap jajaran Kapolres Kudus.

Millenial khususnya pemilih pemula jangan sampai menerima praktik transaksional seperti adanya money politik. Karena nasib Indonesia dimasa depan ditentukan oleh pemilihan serentak yang berlangsung selama satu hari.

"Jangan tergiur dengan uang dan jangan mengukur jumlah yang diberikan banyak itulah yang dipilih ataupun sebaliknya. Millenial harus memilih dengan hati nurani," pesan Dani Kurniawan kepada peserta FGD.

KPU Kudus, lanjut Deni sudah melakukan usaha ke beberapa tempat yang dapat dijangkau untuk diberikan sosialisasi mengenai money politik.

"Untuk millenial pemilih pemula yang masih bingung bagaimana track record caleg, kalian dapat mengunjungi website infopemilu.kpu.go.id karena disitu sudah ada data lengkap mengenai calon," jelasnya. "Dengan bekal informasi yang didapat, diharapkan millenial dapat menentukan pilihan dengan hati nurani dan tidak tergantung pada money politik," tambah Dani.

Senada denngan Dani, Dosen IAIN Kudus Abdul Jalil berpesan Untuk millenial yang masih gusar dengan adanya money politik yang masih berkembang di masyarakat, tidak usah demo dan lantas menyalahkan KPU. 

"Semuanya bisa diutarakan baik-baik dengan melakukan audiensi, datangi yang punya kewenangan dan sampaikan apa yang menjadi buah pikiran kalian," jelasnya. (Aang/Fal)


PARIST.ID, KAMPUS - Dalam rangka membangkitkan jiwa kritis mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Pecinta Nalar (KPN) mengadakan nonton bareng dan bedah film yang berjudul Sang Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto. Acara yang bertema "Menggali Jiwa Kritis Mahasiswa Melalui Kacamata Historis" dilaksanakan di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) IAIN Kudus, Rabu (20/03/2019).
foto bersama anggota KPN bersama pemateri Aat Hidayat setelah nonton bareng, bedah film dan bedah buku "HOSTJOKROAMINOTO".

Acara yang berlangsung kurang lebih lima jam tersebut, menghadirkan Aat Hidayat M. Pd. I sebagai pembedah film yang disutradarai oleh Garin Nugroho. 

"Sebagai manusia kita harus selalu membaca, berwacana, menulis dan bergerak," pesan Aat Hidayat mengenai ulasan Film yang diperankan Reza Rahardian itu.

Ketua umum KPN Silva Taakhurin, berharap dengan adanya acara ini bisa sedikit membuka cakrawala dan kritis berfikir mahasiswa.

"Kita bisa belajar dan meneladani tokoh sang guru bangsa HOS Tjokroaminoto," katanya.

Bersamaan dengan itu, Nandita Hapsari selaku ketua panitia mengaku memilih film tersebut karena sosok HOS Tjokroaminoto bukan sekadar pahlawan, akan tetapi sebagai tokoh yang melahirkan orang-orang hebat pembawa perubahan bangsa Indonesia, seperti sang proklamator Indonesia dan Sami’un.

Uut, tamu undangan dari UKM Teater Satoesh mengapresiasi acara tersebut karena sangat jarang diadakan di IAIN Kudus.

"kalau bisa ke depannya acara yang membangun jiwa kritis mahasiswa ini diadakan yang lebih meriah lagi, bahkan kalau bisa berkolaborasi dengan organisasi-organisasi lain," jelasnya. (Wafi)

PARIST.ID, KAMPUS - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Satoesh mengadakan perlombaan baca puisi bertema "Sajak Negeri KH. Mustofa Bisri" Tingkat SMA atau SLTA Se-Karesidenan Pati, Senin (18/03/2019) di gedung PKM IAIN Kudus. 


Penampilan peserta lomba baca puisi " Sajak Negeri. KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus)"

Acara ini dihadiri oleh  Asa Jatmiko seniman dari Kudus, Ali Rege musisi dan alumni Satoesh, serta Wisda Amalia, S.H.I., M.H., sekaligus menjadi juri dalam perlombaan. 

Ketua panitia, Wisnu Bayunurti mengatakan ide dalam lomba ini mengambil puisi karangan Gus Mus berjudul "Negeriku".

"Yang kami inginkan dari ide yang kami usung nantinya generasi muda dapat lebih cinta tanah air meski hanya melalui puisi," jelas Wisnu.

Ia juga berharap diadakannya lomba ini nantinya dapat dijadikan wadah para generasi muda untuk bersastra.

"Ajang perlombaan ini dapat dijadikan tempat untuk mengembangkan bakat dan mampu menumbuhkan kepercayaan dalam diri seseorang," jelasnya.

Salah satu peserta lomba dari MA NU Ibtidaul Falah, Ahmad Syaifuddin mengaku terkesan dengan lomba yang ia ikuti. Menurutnya, adanya lomba baca puisi ini dapat dijadikan pendidikan sastra terutama puisi bagi para generasi muda.  

"Apalagi ide tema lomba ini diambil dari puisi Gus Mus, saya jadi merasa tertarik. Karena selain seorang penyair Gus Mus adalah seorang kyai," Kata Syaifuddin yang pernah juara satu lomba puisi di UMK Kudus. (Intan/Fal)

Parist.id - KUDUS, memperingati hari jadi yang ke 21 Komunitas Seni Samar Kudus mengadakan pertunjukan teater sekaligus reuni anggota di gedung auditorium Universitas Muria Kudus, Rabu (06/03/19).

Salah satu panitia acara, Dian menuturkan bahwa di HUT komunitas samar ini banyak anggota senior yang turut hadir.

"Serasa kaya reuni, karena banyak dari anggota senior yang hadir dan ikut andil dalam pertunjukan ini," tuturnya.
Pertunjukan Teater Komuntas Seni Samar di Auditorium Universitas Muria Kudus dalam Rangka HUT ke 21

Pertunjukan tersebut merupakan pertunjukan pertama setelah vakum selama 3 tahun terakhir. Dalam pertunjukan yang di selenggarakan tadi malam, mula-mula dibuka dengan pertunjukan pentas musik dari republik kanzu dengan alunan musik tradisional dilanjutkan penampilan musik Jaipong  oleh persatuan musik jaipong Kudus ( PEMUJAKU ).

Komunitas seni samar sendiri, lanjut Dian, menampilkan pertunjukan teater dengan judul bregada merundhandha, yang menceritakan tentang kisah pasukan elit dari kerajaan Medang kamulan untuk melawan pemberontakan dari raja Sunda pada saat itu. Namun sungguh tak disangka setelah berhasil mengatasi pemberontakan raja Sunda setiba di istana Medang kamulan sang raja yang bernama ratu Sanjaya gugur akibat penyerbuan kerajaan Sriwijaya.

Singkat cerita, karena merasa telah gagal mengemban titah sang ratu, bregada mayura yang yang merupakan pemimpin pasukan bregada mayura. Ia memutuskan meninggalkan kerajaan Medang sang kembali ke tanah muria dengan melepas semua yAng dimiliki nya dan  bersemedi membersihkan dirinya serta hidup sebagai orang biasa dengan beberapa pengikut nya.

Dian berharap apa yang dipentaskan Komunias Semar dapat menjadi visualisasi fiksi dari kisah bregada merundhandha yang merupakan secuil kisah tentang asal kota kita sebelum kota ini bernama Kudus.

"Singkatnya agar masyarakat Kudus tau asal kotanya sendiri sebelum bernama Kudus," harapnya. (Ali)

Parist.id, KUDUS - Setelah beberapa tahun vakum dari dunia pentas seni, Komunitas Seni Samar Kudus akan menggelar perhelatan pertunjukan seni teater yang berjudul "Bregada Merudhandha", Rabu (06/03/2019) besok malam di Auditorium Universiras Muria Kudus (UMK).
panflet kegiatan pentas seni Samar Kudus

Manajemen Produksi Komunitas Semar, Bagus Penggalih mengatakan pentas teater kali ini menceritakan tentang tesis sejarah kota atau peradaban yang kini bernama Kota Kudus.

"Dalam cerita ini nantinya akan ada peperangan antara pasukan pengabdi Ratu Sanjaya dan pemberontak dari kerajaan Raja Sunda-Galuh, dan asal usul dari upacara Merudhanda yang merupakan judul dari teater ini sendiri" jelas Bagus. 
Komunitas Seni Samar merupakan komunitas seni dari Kudus yang terakhir tampil dalam pertujukan seninya pada tahun 2014 terakhir. 

"Kami sering menggunakan karya-karya sendiri dalam pementasan. Namun tak jarang juga menggunakan penulis lakon terkenal," jelas Bagus.

Selain pentas teater, nantinya akan ada pentas musik dari Republik Kanzu, Persatuan Musisi Jaipong Kudus (PEMUJAKU) dan Diskusi Kebudayaan Rananggana: Sejarah Samar Kota Kudus Masa Lampau. (Fal)

Parist.id, KAMPUS - Ada tiga peranan yang harus dipahami dan diimplementasikan mahasiswa dalam pesta demokrasi. Tiga peranan tersebut yakni mahasiswa sebagai kontrol politik, membangun pemikiran masyarakat, dan meningkatkan kesadaran mahasiswa di barisan depan.  
Suasana seminar kebangsaan membangkitkan eksistensi mahasiswa dalam pesta demokrasi di era milenial di hedung SBSN Lt. Kampus Timur IAIN Kudus

Hal tersebut diungkapkan oleh Dekan Fakultas Tarbiyah, Abdul Karim, dalam Seminar Kebangsaan yang diadakan oleh DEMA Fakultas Tarbiyah. Seminar dengan tema Membangkitkan Eksistensi Mahasiswa Dalam Pesta Demokrasi di Era Milenial ini diadakan  di Gedung SBSN lantai 1, Selasa (05/03/19).

Peran pertama yakni mahasiswa sebagai kontrol politik, artinya mengedapankan sistem pengawasan yang dimiliki mahasiswa.  

"Tentunya pengawasan yang berbasis edukatif dan produktif dalam arti  mendidik dan menghasilkan hasil bermakna. Lebih tinggi lagi daripada masa dulu sebelum kalian mengenal dunia mahasiswa," tambah Abdul Karim.

Kedua, lanjut Abdul Karim, mahasiswa dapat membantu membangun pemikiran masyarakat. "Supaya  pesta demokrasi memiliki makna dengan adanya gerakan mobilisasi mahasiswa," jelasnya.

Kemudian terakhir, yakni meningkatkan kesadaran mahasiswa di barisan depan demokrasi.

"Mahasiswa. harus bisa menerjemahkan bahwa mahasiswa menjadi garda terdepan untuk mengembangkan sistem nilai di era milenial. Nilai tersebut yakni moral nilai ketuhanan nilai sosial," jelas Abdul Karim.

Sementara itu, Wakil Dekan III, Agus Retnanto dalam sambutanya berharap, mahasiswa  harus bisa menentukan sikap meski menjadi pemilih pemula. Selain itu, meningkatkan pemahaman pengetahuan dan wawasan sehingga dengan mantap menentukan pilihan.

"Sikap seorang mahasiswa yang bijak adalah merasa memiliki bangsa karena sejatinya merekalah anak bangsa yang akan menjadi penentu masa depan," harapnya. (Umi)

Postingan Populer

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.