KAMPUS - Filsuf modern awal membagi manusia menjadi empat tahapan. Pertama, manusia merupakan makhluk jasadiyah atau biologis yang menunjukkan fitrah kemanusiaan dasar seperti kebutuhan makan, minum dan istirahat. 

Kedua, manusia sebagai makhluk yang jinak. Artinya manusia merupakan makhluk yang memiliki tata krama dan beradab.

"Manusia diberi akal oleh sang pencipta. Akal ini yang bisa menjadikan manusia sebagai makhluk yang beradab, tidak sombong dan lupa diri," kata Dosen Filsafat, Fahruddin Faiz, dalam acara ngaji filsafat yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa (HiMa) Aqidah dan Filsafat Islam di masjid kampus timur IAIN Kudus, Sabtu (28/09/2019).

Fahruddin menjelaskan bahwa manusia sebagai makhluk yang layak menjadi khalifah di bumi, memikul taklif dan amanah dengan akal budinya.

"Hal tersebut menjadi tahapan yang ketiga, yaitu menunjuk pada intelektual manusia karena manusia mempunyai daya pikir yang tidak dimiliki makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya," ungkapnya. 

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Manusia pada tahap ini tidak dibiarkan Tuhan bertindak bebas seperti hewan, melainkan manusia adalah makhluk berkualitas tinggi karena dibekali dengan akal.

"Dengan akal, manusia bisa mengemban tanggung jawab sebagai kholifah yang diberikan oleh Tuhan dengan baik," jelas Fahruddin.

Tahapan terakhir, manusia merupakan makhluk yang hidup berkelompok. Artinya saling membutuhkan satu sama lain dan tidak bisa hidup sendiri.

"Manusia harus bisa menempatkan empat tahapan tersebut karena manusia ditakdirkan Tuhan sebagai kholifah di muka bumi," jelasnya. 

Selain itu, manusia juga harus bersikap rendah hati, karena manusia merupakan makhluk yang dimuliakan, dipercaya dan diberi tanggung jawab oleh Tuhan. 

"Untuk itu apapun yang dilakukan manusia akan mendapatkan balasan oleh Tuhan sesuai perbuatannya," katanya. (Rosyid)

 
KAMPUS – Permasalahan terkait jas almamater IAIN Kudus yang banyak dipertanyakan oleh para mahasiswa akhirnya menemui kejelasan dalam acara Public Hearing jilid 2 dengan tema “Transparansi Jas Almamater” yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa (SEMA) IAIN Kudus 2019 di gedung  Rektorat lantai 3, Jumat (27/9/2019).

Pengelola Unit Layanan Pengadaan (ULP), Sutanto menjelaskan bahwa pengadaan jas almamater bagi angkatan 2018 harus melalui langkah prosedural. Karena IAIN Kudus merupakan lembaga pemerintah yang mana dalam pengadaan suatu barang ataupun jasa harus melalui tahapan yang diatur dalam pasal 1 Perpres no. 16 tahun 2018.

"Jadi dalam aturan tersebut, pembelian barang maupun jasa di atas 200 juta akan melalui proses tender terbuka yang dimuat di laman LPSE Kemenag," Kata Sutanto.

Lebih lanjut, ia menjelaskan proses tender terbuka ini diumumkan secara luas sebagai bentuk dari prinsip akuntabel dan transparansi dalam hal pengadaan.

Sedangkan, dalam proses tersebut memakan waktu 28 hari.  Pihak kampus perlu memilah dan memilih perusahaan mana yang memang cocok untuk diajak bekerjasama dari segi bahan dan harga.

"Dari segi bahan, perusahaan harus melampirkan uji lab kain yang akan di produksi, apakah memang benar-benar sesuai dengan kesepakatan atau tidak," tuturnya.

Ia juga menjelaskan pengadaan jas almamater angkatan 2018 menghabiskan dana sekitar 400 juta yang dianggarkan dari uang kuliah tunggal (UKT) masing-masing mahasiswa angkatan 2018. Sehingga lembaga tidak boleh menarik iuran dari mahasiswa.

"Untuk itu mahasiswa khususnya angkatan 2018 tidak perlu khawatir, karna saat ini IAIN Kudus sedang dalam tahap kontrak dengan pihak perusahaan yang bekerja sama untuk memproduksi jas almamater," tambahnya.

Selain itu, rektor IAIN Kudus, Mundakir menjelaskan bahwa mundurnya pengadaan jas almamater bagi angkatan 2018 juga dikarenakan transformasi lembaga dari STAIN menjadi IAIN yang memang dalam hal strukturalisasi organisasi ada beberapa perubahan. Hal tersebut berdampak pada revisi anggaran dana termasuk anggaran pengadaan jas almamater.

"Semua anggaran dana ada kodenya masing-masing, jadi tidak akan tertukar dengan anggaran lain. Terkait Revisi anggaran yang kita ajukan dari daerah kemudian sampai ke pusat baru saja selesai di pertengahan Agustus 2019," terangnya.

Rencananya, pengadaan jas almamater bagi angkatan 2019 akan dianggarkan bersamaan dengan angkatan 2020 yang dibelanjakan di tahun 2020.

"Semoga di tahun-tahun berikutnya jas almamater akan di rancang pada saat PBAK dan bersamaan dengan itu nanti sudah dibagikan," harapnya. (Hasyim/Arum)



KAMPUS – Insititut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus mendapatkan beberapa juara dalam ajang Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) Mahasiswa yang diselenggarakan oleh kantor kementerian wilayah Jawa tengah di asrama Haji Donohudan Boyolali. Prestasi tersebut berhasil membawa IAIN Kudus masuk ke dalam enam besar, Senin-Rabu (23-25/09/2019) kemarin.

Beberapa prestasi itu di antaranya, juara satu Tilawah Alqur’an cabang putra oleh Muhammad Syaiful Anam, Juara harapan tiga Tilawah Alqur’an cabang putri oleh Amalia Husna, dan juara harapan tiga Tafsir Bahasa Inggris cabang putra oleh Abdul Ghofur.

Wakil Rektor III, Ihsan mengatakan kemenangan yang diraih mahasiswa-mahasiswi IAIN Kudus merupakan hasil kesungguhan dan kerja keras. Apalagi dalam lomba MTQ mereka sudah mampu mengembangkan lagu-lagunya dengan baik.

”Semua peserta pastinya bagus, tapi IAIN Kudus mampu mendapatkan juara satu MTQ dan akan maju kembali ke tingkat nasional,” katanya.

Sedangkan, Rektor IAIN Kudus, Mundakir mengapresiasi prestasi yang diraih. Menurutnya kemenangan ini adalah salah satu motivasi untuk mahasiswa-mahaiswa lain  yang fokus dalam tilawatil qur’an untuk meneruskan jejak kemenangan-kemenagan yang sudah ada.

“Prestasi ini adalah yang kita harapkan dan banggakan. Lebih bagus lagi agar tetap berjalan dengan baik dibuat kelompok yang khusus qori’. Karena ini merupakan satu proses awal yang harus kita lalui dan tidak boleh berhenti sampai di sini,” jelas Mundakir.

Selain itu, prestasi ini sebagai bibit untuk terus berprestasi dalam bidang seni. Sebab menurutnya, prestasi tidak hanya yang berhubungan dengan akademik namun juga seni maupun olahraga. Untuk itu pihak kampus akan selalu mendukung melalui pembinaan.

“Prestasi yang kita dapatkan kali ini adalah pemicu untuk lebih semangat ke depannya. Jangan sampai berhenti berkarya dan berprestasi.,” ungkapnya. (Falis)


KUDUS - Aliansi mahasiswa Kudus dalam aksi unjuk rasa memasang beberapa spanduk yang bertuliskan nada kritik di depan gedung DPRD Kudus. Berbagai macam tulisan dan juga properti yang melambangkan matinya KPK, seperti keranda dengan tulisan "KPK" sarat akan makna sarkasme yang ingin disampaikan, Kamis (26/09/2019).


Koordinator umum aksi, Muhammad Abdul Aziz, menjelaskan bahwa pemasangan spanduk tersebut sebagai bentuk kritikan mahasiswa terhadap RUUKPK dan RUUKUHP yang dibentuk oleh anggota Dewan  Perwakilan Rakyat (DPR). Mereka merasa kedua RUU tersebut dapat melemahkan kinerja KPK dan membatasi demokrasi  NKRI. 

"Spanduk dari teman-teman dipasang supaya para elit dapat ingat dengan apa yang kita suarakan", ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, ketua DPRD Kudus, Masan berkata bahwa pihak dewan tidak mempermasalahkannya. Dewan perwakilan dengan senang hati menerima kritikan dan koreksi dari mahasiswa. 

"Tidak Masalah jika spanduk tersebut sementara ditempatkan disini karena itu merupakan salah satu bentuk aspirasi dari mereka," Jelasnya. (Arum)


KUDUS - Sekitar 500  mahasiswa se-Kabupaten Kudus yang tergabung dalam aliansi mahasiswa Kudus berjalan dari alun-alun simpang tujuh menuju ke gedung DPRD Kudus untuk melakukan aksi unjuk rasa, Kamis (26/09/2019).

Koordinator umum aksi unjuk rasa, Muhammad Abdul Aziz,  menyatakan Ada 6 tuntutan yang diajukan oleh aliansi mahasiswa Kudus dalam surat pernyataan, yaitu pertama, Menyampaikan ke presiden untuk membentuk perpu UU KPK sebagai pengganti UU KPK hasil revisi yang di nilai memiliki potensi melemahkan KPK.

Kedua, menyampaikan ke presiden untuk membatalkan pimpinan KPK yang memiliki track record yang bermasalah. Ketiga, menyampaikan ke DPR RI untuk membatalkan dan mempertimbangkan kembali pasal-pasal yang tertuang di dalam RKUHP yang masih memiliki beragam permasalahan.

Keempat, menyampaikan ke presiden untuk mengusut dan mengadili elit elit yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan di Indonesia.

Kelima, menyampaikan ke DPR RI untuk melibatkan mahasiswa, dosen, akademisi dan masyarakat sipil untuk hadir dan berbicara dalam pertemuan pembahasan RUU lainnya yang belum disahkan.
Keenam, DPRD dapat menjadi wakil rakyat Kabupaten Kudus yang terus menjaga kepercayaan serta meneruskan aspirasi yang disampaikan oleh semua elemen baik Mahasiswa maupun masyarakat sipil.

Tuntutan tersebut diterima oleh pihak DPRD Kudus dan diberi kesempatan untuk audiensi bersama dengan para pimpinan DPRD. Aksi tersebut berujung dengan penandatanganan surat pernyataan oleh para pimpinan dewan.

Ketua DPRD Kudus, Masan, berjanji akan segera mengirimkan surat pernyataan tersebut ke pemerintah pusat. 

"Kami akan menyampaikan aspirasi yang telah disampaikan dan nanti bukti pengiriman juga akan kami sampaikan kepada perwakilan yang telah ditunjuk," tegasnya. (Arum)


KAMPUS - Mendapatkan rezeki adalah dambaan bagi semua orang karena merupakan sebuah peruntungan hidup di dunia baik itu dalam skala kecil maupun besar. Tetapi ada yang membuat penyendatan untuk mendapatkannya, yaitu adanya sebuah perisai dalam diri kita yang menghalanginya. 

Hal tersebut dikatakann oleh Motivator, Fufy niatilova, dalam seminar Magnet Rezeki yang bertemakan "Spiritual Transformation For Millenials Generation" yang diadakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) di gedung SBSN Lt.1, Rabu (25/09/2019).

Lebih lanjut, ia mengatakan perisai tersebut merupakan ego yang ada dalam diri seseorang. 

"Untuk melepas perisainya adalah dengan menurunkan ego dalam diri kita dengan cara bersabar dan mensyukuri atas apa yang kita miliki," Jelasnya.

Selain itu, juga diperlukan dalam diri kita untuk selalu bisa mengontrol pemikiran agar selalu bisa berpikir positif. 

"Karena bagaimanapun juga jika kita selalu mempunyai pemikiran positif pastinya akan mendapatkan perwujudan yang positif juga," tambahnya.

Misalnya sebungkus permen, ia mengumpamakan, dapat dijadikan sebagai sebuah motivator bagi kita. Menurutnya bungkus permen itu sebagai suatu ujian atau persoalan dan permennya itu adalah rezeki kita. 

"Jika kita ingin memakan permen di dalamnya maka kita harus membukanya, artinya kita harus melewati ujian atau persoalan agar kita bisa mendapatkan rezeki kita," paparnya. 

Ia berpesan agar para peserta seminar dapat mempraktekkan ilmu yang didapat agar para peserta dapat menuai rezeki dalam dirinya.

Sedangkan, Salah satu peserta asal Semarang, Winarni mengaku senang dapat mengikuti seminar ini karena dapat menuai ilmu baru dan memperoleh manfaat bagaimana cara untuk bersyukur. 

"Dengan mengikuti seminar ini kita dapat membuka jalan rezeki kita dan lebih berlatih untuk bersyukur," ungkapnya. (Fiski)


KAMPUS- Ratusan mahasiswa IAIN Kudus yang dipimpin oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) melakukan aksi damai di depan gedung DPRD Kudus .Para mahasiswa yang berunjukrasa berkumpul di lapangan kampus timur untuk menuju ke gedung DPRD, Rabu (25/09/2019).

Aksi tersebut menyusul gelombang demontrasi mahasiswa di hampir seluruh Indonesia yang mempersoalkan sejumlah hal yang beberapa hari ini menjadi polemik secara nasional. Di antaranya, menolak RUUKPK yang dianggap melemahkan kinerja KPK, menolak RUUKUHP yang dianggap membatasi demokrasi dan kelompok rentan, serta menolak RUU Pertanahan.

Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Gatot Priambodo Agusta dalam surat pernyataan menyampaikan empat pernyataan sikap, yakni agar seluruh elemen masyarakat, birokrasi pemerintahan menjaga kondusifitas kemanan negara, mengajak seluruh elemen masyarakat dan birokrasi pemerintahan dalam menuntaskan kasus korupsi di NKRI. 

Selain itu menuntut agar semua birokrasi pemerintahan konsisten dalam memerangi dan menyelesaikan kasus korupsi, serta meminta DPR dan Presiden agar mengevaluasi kembali materi revisi RUU karena dianggap menimbulkan gejolak di NKRI.

Mereka membacakan pernyataan sikap di depan gedung DPRD Kudus. Pada aksi itu mereka diterima anggota dewan dan diberi kesempatan untuk audiensi dengan pimpinan dewan. (Falis)

KAMPUS - Literasi keuangan syariah yang masih rendah menjadi salah satu penyebab marketing bank syariah di Indonesia menjadi kecil.

Selain itu, meski sebagai pemilik urutan ke-9 aset terbesar bank syariah di dunia, masyarakat Indonesia lebih cenderung menggunakan bank konvensional daripada syariah. Karena mereka menganggap bank syariah itu sama dengan konvensional.

"Angka presentasi marketing pengguna bank syariah tidak sejajar dengan jumlah bank syariah di Indonesia. Padahal dalam bidang pendidikan sudah menduduki nomor ke-2. Kesalahan persepsi antara bank syariah dan konvensional ini yang harus segera diluruskan," kata praktisi bank Jateng Syariah, Aris Pandan Setiawan dalam seminar "Membangun Ekonomi Indonesia Melalui Syariah" yang diadakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) di gedung SBSN Lt.1. Selasa (24/09/2019).

Untuk itu, Aris menghimbau agar mahasiswa perlu ikut mensosialisasikannya di tengah masyarakat mengenai literasi perbankan syariah.

"Siapa tahu dari peran kalian dapat meningkatkan lagi presentase marketing bank syariah," jelasnya.

Ia juga mengaku perbankan syariah selalu menjalankan edukasi tentang perbankan syariah agar bisa menjalar ke mana-mana. Tujuannya agar masyarakat melek bahwa syariah islam sangat penting.

Menanggapi hal tersebut, pimpinan bank Jateng syariah kudus, Selamet Waliman mengatakan sebelum berperan, mahasiswa perbankan syariah dituntut untuk mengetahui lebih mendalam tentang literasi Undang-Undang no. 21 tahun 2008 sebelum melakukan literasi keuangan syariah.

"Kalau tidak tahu undang-undang perbankan syariah mau jadi apa nanti," katanya. (Fiski)

KAMPUS - Perkembangan teknologi digital di era Industri 4.0 mengubah gaya hidup masyarakat yang awalnya serba konvensional menjadi gaya hidup digital. Termasuk digitalisasi dalam bidang bisnis. Hal tersebut disampaikan dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Kudus, Anita Rahmawaty dalam acara seminar Nasional dengan tema "Digital bisnis di era Industri 4.0" di gedung rektorat lt. 3, Selasa (24/09/2019)

Ia juga menyampaikan bahwa era digitalisasi saat ini memang memiliki dampak positif dan negatif. Namun, saat ini berbagai macam kebutuhan manusia sangat terbantu dengan adanya Internet dan dunia digital karena hal tersebut dapat menjadi wahana untuk berinteraksi dan juga bertransaksi.

"Dengan adanya digitalisasi bisnis memiliki banyak social impact yang sangat berguna bagi masyarakat", ungkapnya.

Sebagai contoh digital bisnis yang saat ini sedang trend di kalangan masyarakat seperti Grab, Go-Jek, Tokopedia, shopee dan lain sebagainya. Aplikasi tersebut dapat membantu mempermudah masyarakat dalam memenuhi kebutuhan secara efektif dan efisien.

"Sekarang kalau kalian mau makan ataupun membeli sesuatu tidak perlu keluar rumah. Cukup mengeluarkan gadget kalian dan klik tombol pesan apapun yang diinginkan. Itulah kemudahan dari adanya digital bisnis", jelasnya.

Senada dengan hal tersebut, city manager dari Grab Jawa Tengah dan DIY Hervy Deviyanto, menjelaskan bahwa dalam digital bisnis perlu mengetahui tentang segmentasi bisnis.

"Segmentasi bisnis yang ada dapat meliputi umur konsumen, demografis konsumen dan lain sebagainya", tuturnya.

Selian itu, dalam berbisnis perlu adanya sikap inovatif, futuristik, dapat berkolaborasi dengan orang lain dan memiliki komitmen untuk memajukan perekonomian di masyarakat.

"Seperti di perusahaan kami Grab, kami mengembangkan bisnis yang berawal dari keresahan yang dirasakan oleh masyarakat dan kita berusaha untuk memberikan solusi yang terbaik lewat inovasi dalam aplikasi Grab. Selain itu, semoga kedepannya nanti digital bisnis dapat digunakan secara masif di seluruh Indonesia", harapnya. (Arum)

KAMPUS -  Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) bekerjasama dengan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) dan Lembaga Semi Otonom (LSO) FEBI IAIN Kudus mengadakan FEBI Fair yang bertajuk “Semarak FEBI Meraih Kegemilangan”, Selasa (24/09/19).

Acara yang dibuka secara resmi dengan pemukulan Gong oleh Wakil Rektor III Dr. H. Ihsan di SBSN Lantai 1 ini meliputi seminar perbankan syariah, marketing plan, seminar nasional, FEBI CUP, debat ekonomi Islam, seminar zakat & wakaf, lomba essay, lomba make up & fashion show, dan puncak acara yang akan di meriahkan oleh Dharadhira.

Wakil Rektor III, Dr. H. Ihsan memberikan apresiasi atas terselenggarakannya FEBI Fair. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak berorientasi akademik semata, tetapi eksistensi Mahasiswa FEBI sebagai calon-calon Ekonomi dalam rangka membantu mahasiswa untuk menjadi alumni yang terampil dan menguasai dalam hal Ekonomi serta Bisnis Islam di era 4.0 ini.

"Terkait dengan fenomena yang sekarang, Mahasiswa tentunya harus bijak dan cerdas menyikapi kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang ada, harus dipertimbangkan betul mana yang mudarat dan mana yang maslahat," jelasnya.

Senada dengan Ihsan, Ketua panitia, Aris Munandar mengatakan Mahasiswa FEBI jangan mengandalkan akademisnya saja. Melainkan harus lebih pintar untuk mencari relasi di luar dan di dalam kampus.

"Akademis memang penting, tapi tali relasi di dalam maupun luar kampua untuk menjadi calon pemegang ekonomi juga penting," kata Aris.

Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan FEBI Fair ini merupakan kegiatan pertama yang digelar oleh Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam.

“Semoga FEBI Fair ke depannya tidak hanya diiikuti oleh mahasiswa IAIN Kudus, tetapi bisa mengundang Mahasiswa kampus lain agar bisa mengaktualisasikan kemampuan dalam bidang seni dan keolahragaan dalam menunjang prestasi," harapnya. (A'yun)

KAMPUS - Beredarnya informasi aksi demo yang akan dilakukan oleh sejumlah mahasiswa di gedung DPRD Kudus besok memunculkan  tagline "Gerakan IAIN Kudus Libur" di media sosial.

Hal itu ditanggapi secara tegas oleh rektor IAIN Kudus, Mundakir melalui surat pemberitahuan nomor 4599/In. 37/R/09/2019.

Dalam surat yang dikeluarkan pada Selasa (24/09/19) itu pihaknya menyatakan jika kabar dan tagline yang viral tersebut tidak benar. Kegiatan akademik di IAIN Kudus pada 25 September 2019 tetap berjalan seperti biasa. Artinya para dosen, mahasiswa, serta tenaga kependidikan di lingkungan IAIN Kudus diminta untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. (Falis)

KAMPUS – Masa Penerimaan Warga Baru (SAPENWARU) Teater  SATOESH IAIN Kudus kembali menggelar pementasan tari, musikalisasi puisi, teatrikal, dan monolog bertajuk “Rumaketing Paseduluran Anggayuh Aruming Katresnan” di lapangan tenis kampus timur IAIN Kudus, Kamis malam (19/09/2019).

Salah satu panitia, Ahmad Latif Burhanudin  menjelaskan bahwa SAPENWARU merupakan pengenalan panggung bagi warga baru supaya terbiasa tampil di depan orang banyak  dalam rangka melatih mental dan kemampuan.

“Ini merupakan pementasan pertama bagi warga baru agar mereka tak gugup dan demam panggung saat melakoni pementasan di pentas-pentas yang ditampilkan selanjutnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia berharap masyarakat yang menyaksikan pementasan ini mampu memberikan pandangan para teatrikal terhadap nilai seni lewat SAPENWARU.

“SAPENWARU juga dimaksudkan sebagai apresiasi seni kepada warga baru dengan memberikan kesempatan penampilannya dalam wujud pementasan.” Imbuhnya.

Sementara itu, salah seorang warga baru, Riki Ahmad Failasuf menargetkan jika nantinya memasuki pentas produksi sudah benar-benar menguasai di lapangan. Sehingga dapat mengembangkan lebih baik dari pentas perdananya yang menjadi awal dirinya berproses.

“Awal saya masuk di Teater  SATOESH karena sudah ada niatan.  Dari dulu saya bercita-cita menjadi seorang aktor,” terangnya.

Riki menjelaskan ketertarikannya dengan teater karena terdapat nilai kebebasan mengekspresikan segala hal.

“Di teater itu enak,  senang dan sedih bisa kita tuangkan dalam akting,” pungkasnya. (Fatwa)


KAMPUS -  Ittihaduth Tholabah Lil’Arabiyyah (ITHLA’) DPW III menggelar kegiatan Kemah Bahasa Arab (KBA) se-Jateng dan DIY dengan tema “Aktualisasi Bahasa Arab di Era Digital”. Kegiatan ini diikuti oleh 170 mahasiswa Program Studi (Prodi) Bahasa Arab dari 14 kampus se-Jateng dan DIY. Acara ini dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah K.H. Taj Yasin Maimun, Plt. Bupati Kudus M. Hartopo serta Rektor IAIN Kudus Mundzakir, Kamis (19/09/2019).

Wakil Gubernur Jawa tengah KH. Taj, Yasin Maimun  mengatakan Indonesia memerlukan wadah untuk membumikan bahasa Arab. Itu sebabnya mahasiswa lulusan Program Studi bahasa Arab.harus mampu menguasai lapangan agar kompetensi yang dimilkinya bisa dimanfaatkan dengan baik.

“Di Indonesia memang perlu wadah bagi lulusan Prodi Bahasa Arab untuk benar-benar membumikan bahasa Arab. Sekaligus mengentaskan kemiskinan dan pengangguran sesuai dengan arahnya,” kata Yasin.

Yasin juga berpesan dalam mengembangkan bahasa Arab harus menyelaraskan dengan bahasa daerah terlebih dahulu. Perkembangan bahasa juga harus diikuti dengan karya ilmiah yang memakai khot tulisan bahasa Arab.

“Kalau ingin mengembangkan bahasa Arab harus menyelaraskan dengan bahasa daerah dahulu, sesuai dengan nahwu shorofnya.” Tambahnya.

Ia berharap mahasiswa Prodi Bahasa Arab agar lebih inovatif dalam mengembangkan bahasa Arab sehingga menjadi inspirasi bagi mereka yang belum bisa berbahasa Arab.

“Tugas Mahasiswa Bahasa Arab adalah terus berinovasi dalam mengembangkan olah bahasanya, sehingga menjadi inspirasi bagi temannya yang belum bisa berbahasa Arab,” jelasnya.

Selain itu, Ketua ITHLA’ DPW III, M. Fikri Ghifari mengatakan bahwa acara ini merupakan wadah untuk memperluas tali silaturahim bagi seluruh mahasiswa bahasa Arab se-Jateng dan DIY.

“Di sini kita bisa memperluas jejaring sosial antar mahasiswa bahasa Arab, mengembangkan kemampuan berbahasa, dan bisa saling memberi informasi apapun megenai bahasa Arab,” jelasnya.

Sedangkan Rektor IAIN Kudus, Mundzakir mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada keluarga ITHLA’ se-Jateng dan DIY, dan berharap acara-acara seperti ini mampu mempertajam kompetensi yang keberadaanya semakin dibutuhkan.

“Terima kasih dan selamat datang kepada keluarga ITHLA’ se-Jateng dan DIY, semoga untuk hari ini dan seterusnya mampu mendukung dan mempertajam kompetensi yang semakin hari dibutuhkan keberadaanya,” katanya. (Hasyim)


KAMPUS -  Jurusan Manajemen Dakwah (MD) ditargetkan akan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Mekah dan Madinah. Mahasiswa MD akan menjalani KKN sembari melaksanakan kegiatan umroh bersama jamaah dari biro travel. Targetnya, mahasiswa juga akan berperan sebagai pemandu jamaah.

“Harus yakin bisa ya! Kita siapkan semester akhir nanti KKN di Mekah. Ayo mulai nabung dari sekarang," Kata Kepala Program Studi MD, Mas'udi pada Malam Keakraban (MaKrab) MD di Balai Desa Hadipolo Kudus, Jumat-Sabtu (13-14/09/2019) kemarin.

Mas'udi menjelaskan mata kuliah di MD sudah mendukung keterampilan menjadi pemandu jamaah haji. Seperti mata kuliah manajemen wisata religi. Para mahasiswa dapat mendalami peran, tugas dan fungsi pemandu wisata. Untuk itu ia meminta agar mahasiswa mantap dan yakin bisa.

Selain itu, lanjutnya, mahasiswa yang sudah berkompeten bisa langsung menjadi pemandu jamaah. Mahasiswa akan ikut berumroh dan haji tidak lagi membayar. Karena akan mendapat uang hasil bekerja memandu para jamaah haji dan umroh tersebut.

"Kemantapan itu perlu. Kalian tidak usah khawatir memikirkan bagaimana caranya. InsyAllah bisa," Tuturnya meyakinkan.

Ia juga menambahkan, mahasiswa tidak perlu khawatir tentang biaya akomodasi untuk KKN. Sebab nantinya pihak kampus akan bekerjasama dengan biro travel.

"Mahasiswa bisa menjalankan Program Pengenalan Lapangan (PPL), Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan uang yang dikumpulkan semenjak semester satu, yang nantinya bisa digunakan untuk KKN bersama jamaah haji langsung. Jika uang untuk keberangkatan belum lunas, bisa diangsur pelunasannya setelah selesai KKN," jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, salah satu mahasiswa MD semester tiga Aji Sukma, mengaku senang namun tetap waspada mengingat akan banyak biaya akomodasi yang dikeluarkan. Meski pihak kampus nantinya menerapkan sistem pembayaran angsuran.

"Meski mengangsur tapi tetap saja transportasi ke Mekkah tidaklah murah, apalagi sembari melaksanakan ibadah haji dan umroh pada saat KKN. Mahasiswa yang masih menggantungkan uang kuliah dari orang tua akan merasa berat jika harus menanggung biya puluhan juta," ungkapnya. (Fandi)


KAMPUS - Kendala bahasa dan minimnya pengetahuan jama'ah haji menjadi ladang yang luas yang perlu digarap. Kendala tersebut menjadi peluang besar bagi mahasiswa Manajemen Dakwah (MD) di bidang pelayanan jama'ah haji untuk menguasai lapangan.

"Jama'ah haji rata-rata baru pertama kali datang ke Mekah dan Madinah. Mereka butuh guide, perlu pendampingan dan saya harap alumni jurusan dakwah mengisi peluang tersebut." Tutur Kasubdit Percepatan Pelaksanaan Ibadah Haji dan Umroh Kemenag RI, Ali Zakiyudin dalam acara Sosialisasi dan workhsop bertema "Peluang dan Tantangan Biro Haji dan Umroh" di gedung SBSN lt. 2 IAIN Kudus, Kamis (12/09/2019).

Menurutnya, para alumni yang bekerja bisa mempelajari alur dan regulasi biro travel. Penguasaan Bahasa Arab menjadi tantangan dan pondasi pertama yang harus dimiliki sebelum menerjuni medan. Ketika sudah memahami seluruh alur kerja, para pendamping bisa mendirikan biro milik pribadi.

"Rekan-rekan pelajari semua. Pahami betul sektor-sektor yang menjadi peluang. Nanti buat menjadi owner travel." jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Rektor IAIN Kudus, Mudzakir mengamini arahan dan saran Kasubdit dari Kemenag RI tersebut. Ia menghimbau mahasiswa MD ikut andil dalam era 4.0 yang sedang ramai dibicarakan. Mahasiswa bisa bekerjasama dan menjadi bagian dari agen travel. Lambat laun mempelajari sistem dan mendirikan sendiri.

"Saya ingin setelah workshop itu ada terusannya, tidak malah wassalam. Bikin MoU dengan biro haji. Kalau sudah mampu bikin travel sendiri nanti," kata Mudzakir.

Bukan tanpa alasan, Mudzakir menyampaikan strategi dan langkah ke depan Prodi MD. Mahasiswa baru akan diatur agar nantinya bisa Kukiah Kerja Nyata (KKN) langsung bersama para jama'ah haji dan umroh. (Fandi)

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.