Oleh : Mu'ayyadah

Acara PBAK berlangsung selama empat hari. Dimulai pada tanggal 13-16 Agustus 2018. Hari terakhir kegiatan PBAK, euforia para peserta PBAK baru terlihat jelas. Mereka terdiri dari berbagai jurusan. Yakni tarbiyah, syari'ah, dakwah dan ushuluddin. PBAK dimulai di lapangan kampus timur IAIN Kudus. Adanya pengecekan atribut dan pembekalan yang dilakukan panitia pelaksana sampai detail membuat perasaan peserta PBAK sedikit tidak karua. Sekitar dari seperempat peserta keluar dari barisan akibat ketidaksesuaian atribut ataupun pembekalan.


Berbeda di hari-hari sebelumnya, di hari terakhir PBAK perasaan itu berubah saat panitia menginformasikan semua peraturan yang diberlakukan telah  dibebaskan. Selanjutnya pada pertengahan acara,  keasyikan dan kebahagiaan kembali terjadi pada saat perkenalan panitia SC dan OC. Acara tersebut dilaksanakan di gedung GOR. Baik yang ada di tribun maupun di depan panggung hiruk pikuk suara kegembiraan. Sebagian para peserta PBAK mendapat perhatian dari panitia. Beberapa dari peserta mengungkapkan rasa sukanya terhadap idola yang tak lain adalah panitia sendiri dengan menggunakan poster.


Seperti yang dilakukan Siti Shaidah. Ia mengidolakan ketua HMJ tarbiyah yakni Gatot Priambodo Agusta. Siti  diberikan kesempatan untuk maju kepanggung dan menyatakan kekagumannya kepada Gatot. Ia juga memberikan motivasi dan semangat kepada idolanya itu. Suasana bertambah meriah ketika Gatot juga memberikan semangat kepada Siti. Hal ini membuktikan bahwa ketegasan panitia tak menyulutkan kebencian namun kasih sayang.

Hingga di akhir acara, terdapat konser musik dan juga pendirian stand-stand UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa)IAIN Kudus. Sekiranya ada 24 stand yang berada di sekeliling lapangan kampus. Antusias para peserta PBAK nampak jelas. mereka mengunjungi stand yang telah sediakan. Salah satunya Fifi Tri Utami, mahasiswa baru jurusan syari'ah prodi ES ini mengatakan menyukai UKM STEC. Ia mengaku ingin belajar bahasa inggris mulai dari nol untuk bekal ke depannya. Dari keseluruhan acara PBAK kebebasan ekspresi para peserta terlihat pada akhir acara. Hal ini dibuktikan dari minat dan antusias peserta PBAK menyambut UKM yang ada.

*Penulis adalah mahasiswa baru Jurusan Tarbiyah/Tadris IPS, bertempat tinggal di Desa Cendono, Dawe, Kudus




KUDUS, PARIST.ID — Bulan Agustus adalah bulan yang bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Beragam cara perayaan digelar di seluruh pelosok negeri guna membangkitkan semangat perjuangan pahlawan yang telah berjuang.

Peringatan hari kemerdekaan juga di rayakan oleh Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) di auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) Senin (27/08/2018) malam. Dengan tema “Membaca Makna”, FASBuK ingin mengajak seluruh penonton agar mampu membaca setiap makna dari kemerdakaan tersebut, bukan hanya kegiatan-kegiatan, perayaan, atau teriakan-teriakan kemerdekaan.

“Kalau kita lihat, moment agustusan banyak kegiatan yang diselenggarakan. Apakah itu hanya sekedar kegiatan, terus teriakan-teriakan merdeka saja? Tapi makna apa yang harus kita baca, setelah membaca kemudian kita pahami, merenungkan, setelah itu apa yang bisa kita keluarkan,” kata Arfin Akhmad Maulana, ketua badan kerja FASBuK.

FASBuK edisi bulan ini menampilkan pertunjukan Musik, Puisi, Cerpen, dan Diskusi dari tiga komunitas. Yaitu ada Rayhan M Abdurrohman dari Komunitas Fiksi Kudus (KOFIKU) yang membacakan cerpen, Eko Fery Febryanto dari Kelompok Kajian Seni Kreatif OBENG, dan juga Ahmad Junnanda dan Miladina Noor yang membacakan puisi di iringi drama teaterikal dari teater Keris Nalumsari, Jepara.

Menurut Rayhan, salah satu penampil, arti kemerdekaan bagi setiap orang berbeda-beda. Ada yang mengartikan rakyat sudah merdeka jikalau harga-harga sembako murah, bahan bakar minyak (BBM) murah, dan lain-lain. Adapula yang mengartikan kita masih dijajah bangsa sendiri, merdeka itu ketika sudah tidak ada korupsi. Namun menurutnya, Indonesia sudah merdeka dengan apapun kondisinya, karena perjuangan pahlawan-pahlawan yang sudah memperjuangkan bangsa Indonesia harus dihargai.

Dalam penampilan kali ini, pria asli kelahiran kudus itu menampilkan cerpen karyanya sendiri. Ia merasa tertantang ketika di minta tim FASBuK untuk tampil di hadapan banyak orang, karena ia belum pernah tampil di atas panggung sebelumnya.

“Sebetulnya mikir-mikir juga, ketika di minta FASBuK untuk tampil, kira2 bisa gak ya saya jadi pementas? Jujur saya Lebih tertantang mementaskan daripada menulis. Karena mementaskan di hadapan banyak orang, kalau menulis bisa sendiri di dalam kamar mencari inspirasi. Kalau mementaskan Menghindari kesalahan, tapi kalau menulis ketika ada yang salah bisa di edit,” ujar pria yang juga menjadi ketua KOFIKU itu waktu sesi diskusi.

Hal senada tampaknya juga dirasakan oleh Eko fery febryanto. Ia baru pertama kali tampil membacakan cerpen di depan banyak orang di panggung FASBuK. Sebelumnya ia lebih sering bermain teater.

“Cerpen yang saya bawakan tadi karya teman saya sendiri, ceritanya tentang orang korupsi yang sudah dalam penjara. Ini adalah pertama kali saya baca cerpen, biasanya hanya tampil  main teater,” jelasnya. (rif)



Oleh : Budi Utomo

Baru baru ini salah satu media pers kampus merilis suatu opini yang menyatakan bahwa PBAK tidak dilaksanakan sesuai surat edaran tentang penyelenggaraan PBAK 2018 oleh Kementrian Agama RI. Perlu kita fahami bahwa suatu peraturan juga harus sangat-sangat memperhatikan asas-asas peraturan yang baik yang dijelaskan pada Pasal 5 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Disitu dijelaskan bahwa peraturan yang baik salah satunya adalah berasaskan dapat dilaksanakan dan juga asas kedayagunaan dan kehasilgunaan. Yang dimaksud dengan asas dapat dilaksanakan adalah setiap peraturan harus memperhitungkan efektifitas di dalam penyelenggaraannya baik secara filosofis, sosiologis maupun yuridis. Sedangkan asas kedayagunaan dan kehasilgunaan bahwa setiap peraturan dibuat karena benar-benar dibutuhkan dan dimanfaatkan dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

PBAK tahun ini memperhatikan asas-asas tersebut dan membuat peraturan baru. yang sudah diaudiensikan kepada seluruh jajaran birokrasi kampus pada hari Jum’at tanggal 20 Juli 2018 dan telah disetujui pada saat itu juga yang sesuai dengan kondisi, kultur, keadaan kampus IAIN Kudus saat ini, agar kegiatan PBAK IAIN Kudus 2018 dapat diselenggarakan secara maksimal. Sesuai dengan Asas Peraturan Perundang-Undangan yaitu asas lex spesialis derogate lex generalis yang artinya Undang-Undang atau Peraturan yang khusus mengesampingkan dengan Undang-Undang atau Peraturan yang bersifat umum.

Sebenarnya kritikan dari sang penulis opini sudah berkali-kali dibicarakan dengan pihak panitia dan sudah dijelaskan mengenai Susunan Kepanitiaan yang masih ada semester III dan diatas Semester VIII, tentang atribut tambahan panitia dan juga Jas Almamater yang selalu disoroti. Namun opini tersebut masih dipublikasikan walaupun sudah ada penjelasan terkait hal tersebut.

Pertama yang menjadi sorotan adalah susunan panitia yang dalam edaran dari KEMENAG minimal semester IV dan maksimal semester VIII. Dikarenakan dari panitia Steering Committee (SC) kebanyakan mahasiswa semester VII yang pada saat pelaksanaan kegiatan PBAK juga terdapat kegiatan wajib akademik yaitu Praktik Profesi Lapangan (PPL) yang jadwalnya sama dengan pelaksanaan PBAK, maka untuk mengantisipasi hal tersebut maka panitia SC juga terdapat semester IX agar acara berjalan dengan lancar dan juga sebagai bahan masukan, pertimbangan, dan arahan apabila ada kendala dalam kegiatan  PBAK karena sudah berpengalaman. Adanya mahasiswa semester III juga dilibatkan dalam kepanitiaan Organizing Committee (OC) PBAK 2018 adalah sebagai persiapan PBAK tahun depan yang dilaksanakan sesuai Fakultas masing-masing supaya mempunyai gambaran secara awal acara PBAK. Mengingat pula  sistem PKL, PPL dan KKN tahun depan diterapkan dalam satu semester. Ini yang perlu sangat diperhatikan untuk PBAK tahun depan. Jika tidak melibatkan semester 3 yang sekarang maka tidak mungkin PBAK tahun depan kepanitiaan bisa maksimal mengingat tahun depan untuk semester 7 PKL, PPL, dan KKN jadi satu.

Terkait Jas Almamater dalam acara screening juga harus diluruskan, karena pada saat screening ada jam istirahat dari panitia yaitu jam 12:00 WIB -13:00 WIB mungkin pengkritik mengetahui panitia tidak memakai jas alamamater saat jam istirahat, pada saat ibadah di masjid, makan siang di warung atau yang tidak pada jam kerja screening. Dalam masalah atribut tambahan sebetulnya dalam surat edaran dari KEMENANG tidak dijelaskan secara jelas maksud dari atribut tambahan yang tidak boleh dibawa oleh panitia, perlu difahami juga bahwa atribut adalah sifatnya kewajiban dan menyeluruh seperti jas almamater dan co card. Sedangkan Panitia hanya membawa aksesoris seperti pin, kartu tanda nama, jam tangan dan aksesoris yang lainya tanpa ada perintah dari ketua panitia untuk mewajibkan membawa aksesoris tersebut, dan juga tidak semua panitia memakai aksesoris tersebut.

Memang kita ketahui bersama bahwa menjadi Panitia PBAK merupakan ajang pembuktian mahasiswa karena dari kurang lebih 12.000 mahasiswa IAIN Kudus hanya 180 yang terpilih, maka persaingannya sangat ketat. Dan yang benar benar dipercaya serta bertanggung jawablah yang dipilih untuk menjadi panitia PBAK yang terbagi dari berbagai delegasi organisasi kampus. Panitia PBAK merupakan orang-orang pilihan dari masing masing organisasi mahasiswa yang dipercaya dan diberi amanah untuk menjadi panita.

Namun tak lepas dari itu kami dari kepanitiaan mengucapkan banyak terima kasih kepada para seluruh jajaran pimpinan dan birokrasi kampus yang selalu mengawal dan ikut berpartisipasi selama kegiatan berlangsung. Kepada seluruh jajaran kepanitian SC dan OC yang meluangkan waktu, tenaga, dan fikirannya untuk kegiatan dari pra acara sampai acara selesai yang selalu semangat, bertanggung jawab, kerja sama dan sama sama kerja. Tak lupa kami ucapkan apresiasi kepada seluruh peserta PBAK 2018 yang dengan semangat awal menjadi mahasiswa bisa mengikuti acara PBAK dari awal sampai akhir dengan ketulusan, keikhlasan, kepatuhan serta kebanggaan. Dan juga tidak ketinggalan dari para aliansi mahasiswa yang selalu memberikan kritikan serta masukan atas kesalahan dari panitia sebagai evaluasi setiap kegiatannya dan sebagai pertimbangan untuk acara PBAK tahun selanjutnya bisa lebih baik lagi.

Mahasiswa selalu harus kritis setiap keadaan apapun, namun juga harus dengan dasar serta etika kemahasiswaan. Dan juga mampu analitik memberikan solusi setiap permasalahan yang ada, bukan hanya untuk sekarang, nanti, ataupun besok, namun juga untuk jangka yang panjang.

)* Penulis adalah Ketua Panitia SC PBAK IAIN Kudus



Oleh: Abdul Ghofur

Seminggu sudah acara Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) berlangsung di kampus hijau tercinta IAIN Kudus. Acara yang selalu dihelat untuk menyambut kawan-kawan mahasiswa baru yang diharapkan mampu menciptakan budaya dan kultur akademik yang kritis, mengembangkan tradisi riset dan membentuk mahasiswa yang berkarakter, bermoral dan berakhlakul kharimah. Artinya, dalam segala kegiatan PBAK dimulai dengan mengindahkan segala peraturan yang berlaku oleh segala elemen penyelenggaranya sehingga mampu menciptakan kegiatan yang baik dan mencapai tujuan yang diharapkan pada kegiatan PBAK.

Kegiatan PBAK 2018 perlu kita apresiasi karena dapat dikatakan sukses dan berjalan lancar, namun bukan berarti tanpa masalah dan anti-kritik maupun risi akan evaluasi. Karena apa yang tertulis pada tulisan ini terjadi begitu adanya. Penulis hanya ingin menyampaikan yang memang seharusnya disampaikan oleh mahasiswa sebagai agent of changeyang selalu gelisah ketika merasa ada kekeliruan dalam ruang mahasiswa IAIN Kudus. Dan sebagai pemuda yang semangatnya masih menggebu-gebu karena terilhami perkataan Tan Malaka (Bapak Republik), idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.

Banyak fenomena yang terjadi  dari persiapan acara sampai pada hari H acara yang selalu mengganggu nalar sehat kita. Terutamakaitannya dalam implementasi surat edaran tentang penyelenggaraan PBAK 2018 oleh Kementrian Agama RI Direktorat Jendral Pendidikan Islam.

Ada beberapa persoalan yang harus kita sadari bersama yakni terkait kewajiban panitia yang harus memakai jas almamater selama kegiatan PBAK berlangsung, larangan untuk tidak menggunakan atribut-atribut tambahan, serta syarat susunan formasi kepanitian yang harus dipenuhi, diantaranya: terdaftar sebagai mahasiswa aktif minimal pada semester IV dan maksimal semester VIII, IPK minimal 3,00 dibuktikan dengan menunjukkan KHS (atau HSS) yang sah dan telah mengikuti dan dinyatakan lulus PBAK dengan menunjukkan sertifikat.

Namun, fakta di lapangan berkata lain. Terlalu mudah kita menemukan kawan-kawan panitia yang tidak menggunakan jas almamater dalam agenda terutama waktu screening. Terlalu sering kita melihat kawan-kawan panitia yang menggunakan atribut tambahan, diantaranya pin dan emblem organisasi eksternal.

Susunan kepanitian pun tidak terlepas dari kritikan yang banyak diisi oleh kawan-kawan mahasiswa yang masih semester III itupun belum genap dan mahasiswa yang lebih dari semester VIII. Bahkan tidak menutup kemungkinan dalam penyususnan kepanitiaan tidak menyertakan KHS (atau HSS) dan sertifikat PBAKnya.

Apa mungkin kawan-kawan panitia tidak membaca peraturan terkait penyelenggaran PBAK atau bahkan jangan-jangan membaca tapi tidak ingin melaksanakan karena dengan alasan peraturan dibuat untuk dilanggar. Semoga asumsi tersebut tidak benar adanya, hanya kekhilafan pribadi sebagai manusia biasa.

Nyatanya kejadian semacam ini bukanlah pertama kalinya, seakan-akan sudah mentradisi. Menurut hemat penulis karena tidak adanya kepekaan dari segala stakeholder. DEMA SEMA sebagai penyelenggar tidak teliti dalam menganalisa, mahasiswa umum apatis karena menyerahkan segala kepada panitia tanpa ikut andil sebagai social control, pihak kampus pun terkesan membiarkan praktik-praktik semacam ini terjadi berulang kali, bahkan terlihat kurang tegas dalam mengawal dan memberi punishment.

Semoga kegiatan PBAK tahun-tahun mendatang atau kegiatan sejenis dapat mengindahkan peraturan-peraturan yang mendasarinya, karena dengan perilaku yang menafikkan aturan akan berdampak pada sikap berkehidupan yang seenak udelnya. Penuh harapan tulisan ini dapat menjadi bahan refleksi kritis untuk penulis dan dapat memantik kawan-kawan mahasiswa IAIN Kudus agar tetap bergerak dan mengatakan apa yang perlu dikatakan, tidak takut terhadap tindak represif dari berbagai pihak. Meminjam perkataan Wiji Thukul “Jangan kau penjarakan ucapanmu, jika Kau menghamba pada ketakutan kita akan memperpanjang barisan perbudakan”.

)* Penulis adalah Ketua Umum PK IMM adz-Dzikr IAIN Kudus dan Pegiat Pustaka Jalan-an Kudus


PARIST.ID, KUDUS - Tidak ada perbedaan antara etika media informasi milenial dari dulu dengan sekarang. Media informasi tetap harus bersikap menyeluruh dan tidak boleh membuat etika sendiri.


Pernyataan itu disampaikan oleh Amir Machmud NS, SH, MH, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah, dalam sosialisasi UU ITE-Pers dan Literasi Media "Indonesia Merdeka Tanpa Hoax" dalam materi Etika Media Milenial dan UU Pers, yang diselenggarakan oleh PWI Kudus di aula hotel Hom Kudus, Senin (20/08/2018).

Menurut Amir, sebuah media informasi tidak boleh menyebarkan berita hanya sepotong. Media harus secara menyeluruh menyebarluaskan informasi berdasarkan data dan fakta di lapangan.

"Jangan sampai ada pandangan posting dulu, kalau salah baru dibenahi. Hal itu jelas melanggar UU ITE dan UU Pers. Sebab media informasi harus memberi informasi yang sifatnya menyeluruh," jelas Amir.

Selain itu, lanjut Amir, media informasi harus ada dikotomi sebab akibat sebelum menyebarkan informasi. Harus ada hakikat sosial yang diuntungkan dan dirugikan.

"Banyak pengguna media sosial yang tidak mau mempertimbangkan sebab akibat yang ditimbulkan saat membagi informasi. Padahal arus utama media sosial adalah harus ada pertimbangan tanggung jawab yang dijadikan pijakan," tuturnya.

Tercatat 45 ribu, tambahnya, pengguna media online yang muncul sebagai kepentingan politik, sosial budaya dan ekonomi, namun yang terverifikasi dewan pers tidak lebih dari 300 media.

"Kebanyakan mereka sering mengabaikan kewajiban pendalaman verifikasi dan melemahnya semangat dalam pengujian informasi," tambahnya.

Padahal menurutnya, melakukan pendalaman verifikasi dan pengecekan secara detail sangat penting untuk dilakukan.

"Verifikasi dilakukan untuk mengetahui layak tidaknya berita untuk dimuat. Sebab kebiasaan media cetak atau online mengolah berita dengan mengambil anggapan-anggapan para publik yang belum jelas kebenarannya," jelasnya.

Ia berharap piranti sosial media dapat dijadikan berkah dan bukan musibah untuk masyarakat Indonesia.

"Semoga saja ke depannya masyarakat Indonesia lebih berhati-hati dalam menanggapi berita," harapnya.

AKBP Agusman Gurning, SIK, MH, kapolres Kudus, dalam sambutannya mengatakan banyak masyarakat yang masih mengabaikan kebenaran berita yang diterima.

"Masyarakat kita terlalu sering menyebarluaskan berita dan ujaran kebencian tanpa tahu sumber dan kejelasannya," ucapnya.

Selain itu, menurut survei lembaga internasional, Indonesia merupakan negara paling banyak bicara di media sosial.

"Negara kita menjadi peringkat nomer lima paling banyak bicara di media sosial dengan konotasi negatif. Hal ini tentu menjadi citra buruk untuk negara," jelasnya.

Untuk itu, Agusman berharap setelah terselenggaranya acara ini mahasiswa dan pelajar dapat berhati-hati dalam menanggapi berita.

"Jangan lupa ilmu yang kalian dapatkan untuk disebarluaskan kepada khalayak banyak agar hoax tidak merajalela" harapnya. (Falis)


Stand UKM KSR PMI IAIN Kudus
KAMPUS, PARIST.ID Hari terakhir Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK) tahun 2018 dimanfaatkan sejumlah mahasiswa baru untuk mencari informasi terkait Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di IAIN Kudus. Mereka berbondong-bondong ke stan UKM untuk mendaftar menjadi anggota UKM, Kamis (16/8/2018).

Salah satunya UKM Lembaga Pers Mahasiswa  (LPM) Paradigma. Banyak para mahasiswa-mahasiswi baru yang mendatangi stand LPM Paradigma untuk mencari informasi terkait perekrutan anggota dan mekanismenya.

Zainuddin Nakhid, mahasiswa Jurusan Dakwah ini mengaku sudah tidak sabar untuk mengikuti LPM Paradigma. 

“Saya sudah tidak sabar untuk mengikuti LPM Paradigma, supaya saya bisa belajar dan menerbitkan karya saya,” katanya.

Lebih lanjut Zainuddin menuturkan, sejak masih di bangku Madrasah Aliyah ia sudah menulis puisi sekitar 200 judul dan berharap nantinya bisa diterbitkan. Salah satu puisinya tersebut berjudul Huu Allah. 

Huu Allah itu puisi yang berisi rasa cinta kita kepada Allah,” ujarnya.

Tak hanya stan LPM Paradigma saja yang diserbu oleh mahasiswa baru, UKM Resimen Mahasiswa (Menwa) juga banyak diminati. 

"Dari data yang saya peroleh, sekitar 50 orang sudah mendaftar menjadi anggota Menwa,” kata Andi Nur Wakhid, Komandan UKM Menwa.

Mahasiswa semester 9 ini mengungkapkan, untuk menarik perhatian mahasiswa baru, UKM Menwa mengadakan sosialisasi kepada mahasiswa baru dengan memberikan pengenalan dan keunggulan organisasi.

Sementara itu, UKM KSR juga tidak kalah peminatnya dengan UKM lain. Ini dibuktikan dengan target 100 anggota baru tahun ini. 

Kuota anggota baru yang ditargetkan pengurus KSR untuk tahun ini sebanyak 100 anggota. Kuotanya kami turunkan dari tahun kemarin yang sebanyak 150 agar mempermudah para senior dan pengurus untuk lebih melatih dan mempererat kekompakan di UKM KSR,” terang Ayu Ismawati salah satu pengurus KSR.

Lebih lanjut, Ayu menambahkan bahwa dari 100 anggota baru tersebut akan ada seleksi lagi untuk masuk tingkat berikutnya

"Nanti kami akan saring lagi menjadi 60 orang untuk menjadi anggota tetap,” pungkasnya.

Eva Octavia, mahasiswi baru Program Studi Tadris Bahasa Inggris mengaku ingin mengikuti banyak UKM. “Saya ingin ikut kegiatan STEC, Menwa, dan LPM Paradigma supaya bisa memanfaatkan waktu perkuliahan serta dapat bersosialisasi kepada banyak orang," ujarnya. []
(Qowim/ Intan/Waf)


KUDUS, PARIST.ID - Berbagai cara warga Indonesia menyambut peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satunya dengan menonton film dokumenter buatan sendiri yang bercerita tentang sejarah desa.

Hal itu dilakukan oleh warga piji wetan yang memproduksi film dokumenter "Pak Kiai".

"Film Pak Kiai ini buatan generasi muda kita sendiri, menceritakan kondisi piji wetan pada tahun 1945 kala itu," ujar Zudi, ketua RT 04 RW 03 kepada Parist.Id, Kamis (16/08/18).

Zudi menambahkan, film tersebut disutradarai oleh Muhammad Ulul Azmi (Kak Citul) dengan melibatkan anak-anak yang berperan sebagai aktornya. Ceritanya sederhana, yaitu tentang perjuangan kiai kampung yang teguh melindungi warganya dengan berbagai upaya dan doa.

"Bagi kami kiai di desa adalah bapak masyarakat, beliau tempat kami mengadu persoalan," ujarnya.

Terlihat dalam film tersebut tokoh utama, Pak Kiai, bersama masyarakat setempat membuat bambu runcing untuk menyerang tentara Jepang yang telah menguasai aset desa Piji Wetan, seperti tempat ibadah, mata air berupa sumur, dan tempat strategis lainnya.

Muhammad Zaini, ketua panitia, mengatakan kegiatan ini sebagai wujud syukur dan bahagia warga setempat atas kemerdekaan Republik Indonesia.

"Warga guyub rukun, iuran, merancang agenda, lomba-lomba dan kirab untuk menyemarakkan hari kemerdekaan ini," katanya.

Zaini melanjutkan, berbagai kegiatan dilaksanakan selama enam hari, mulai 11-16 Agustus 2018. Ada lomba menyanyi lagu kebangsaan oleh ibu-ibu, makan krupuk, balap kelereng, balap kursi, dan sebagainya. 

Sementara itu, tokoh masyarakat, Kiai Muhammad Irjam, menghimbau agar terus mengisi kemerdekaan dengan kebaikan-kebaikan. Ia juga mengingatkan kepada masyarakat untuk tetap guyub rukun dalam membangun Republik Indonesia. (Dlowie/rid)

KUDUS, PARIST.ID – Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Desa Gondosari Kecamatan Gebog Kudus melaksanakan penyuluhan kesehatan di Madrasah NU Matholi’ul Huda Kedungsari Gebog Kudus pada rabu (15/082018). 

Mariyati (48) salah satu Tim kesehatan Puskesmas menjelaskan, masa Remaja adalah masa transisi, masa peralihan menuju dewasa. Untuk itu, remaja harus mengetahui mengenahi pendidikan reproduksi. 

“Supaya remaja mengetahui pentingnya fungsi alat reproduksi, dan bagaimana dampak negative jika disalah gunakan untuk seks bebas, dampak dari pergaulan bebas dari lingkungaan yang salah. Maka harus diajarkan pendidikan seks secepatnya, mulai dari pendidikan tingkat SMP dan SMA,” katanya.
MENYAMPAIKAN: Petugas Puskesmas Kedungsari menyampaikan materi

Lebih lanjut Ia mengatakan, Anak remaja butuh perhatian khusus, karena masih di usia labil, masih bisa terpengaruh dengan teman dan lingkunganya. “Maka dari itu peran orang tua harus bisa membimbing dan mendidik putra-putrinya dengan baik,” terangnya. 

Selain membahas pendidikan reproduksi, penyuluhan ini juga memaparkan tentang bahaya merokok. Rokok yang terbuat dari berbagai zat kimia mengandung berbagai penyakit di antaranya kangker paru-paru, impoten, gangguan janin, bahkan bronchitis kronis. Maka dari itu remaja harus mengetahui bahaya merokok. 

“Untuk tingkat SMP dan SMA penyuluhan materi tentang kesehatan reproduksi dan dampak merokok, karena sudah menginjak usia dewasa. Jika anak-anak tingkat SD, kami melaksanakan penyuluhan tentang materi gosok gigi, jajanan sehat, dan pola hidup sehat. Kami pilih sesuai umur peserta yang hadir,” pungkasnya. 

Sementara itu, Muhammad Muslim (23), salah satu peserta penyuluhan sangat berantusias mengikuti kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa seorang remaja harus tahu tentang pendidikan seks. 

“Pendidikan seks itu perlu. Karena sebelum kita mengetahui materi tersebut, kita berfikiri bahwa seks itu hal yang kotor, padahal tidak. Disana diterangkan bahwa seks itu artinya jender, yang mana kita harus mengetahui pendidikan reproduksi, agar wawasan kita luas dan bijaksana di dalam melaksanakan sesuatu,” terang mahasiswa PPL IAIN Kudus ini.(Aris/Waf)



KUDUS, PARIST.ID- Lestari Moerdijat, dewan pembina Yayasan Media Group tidak pernah bosan menggelar bakti sosial, seperti dari pengobatan gratis sampai pemberian barang-barang yang dibutuhkan para difabel 

Penyerahan bantuan bagi penyandang cacat dikemas dalam acara offair Kick Andy Foundation yang mengangkat tema tentang "Perempuan-perempuan Tangguh" di hotel Griphta, Kudus pada Selasa (14/8/2018).

Sebanyak 40 kursi roda dan 30 kaki palsu diberikan kepada penyandang cacat di tiga wilayah, yaitu Demak, Jepara dan Kudus.

" Sampai saat ini, terbanyak penerima bantuan  adalah dari Jepara," jelas Iwan Sayfullah, koordinator Sahabat Lestari saat menuturkan laporan panitia.

Dipandu langsung oleh Andy F Noya, Rerie mengatakan kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian kepada penyandang kaum difabel. Ia berharap apa yang diberikan dapat memberi manfaat.

"Semoga bantuan ini bisa memudahkan aktifitas saudara-saudara kita, para difabel,” harapnya.

Selain itu, Rerie L. Moerdijat memberikan bantuan perpustakaan di 38 titik wilayah Demak, Jepara dan Kudus. Penyerahan bantuan secara simbolik diberikan kepada Perpustakaan Kenangga, Demak dan Taman Belajar Ima, Jepara.

Rerie juga menceritakan kepada 1300 penonton yang hadir, bahwa hingga saat ini dia masih bertahan hidup dengan kanker payudara hertupositif yang dideritanya. Bahkan, ia telah divonis dokter dapat bertahan hanya sekitar lima tahun. Namun ia tidak patah semangat dan terus memberikan motivasi kepada banyak orang.

"Bagi saya, yang mementukan maut hanyalah Tuhan. Maka saya tidak menyerah ketika dokter memvonis saya demikian," tuturnya. 

Selain itu, sosok inspiratif juga dihadirkan, Irma Suryati seorang wirausahawan sukses yang juga penyandang disabel. Saat ini, usaha karpet karakter dari kain perca meluas hingga manca negara. (Firda)



KAMPUS, PARIST.ID - Mahasiswa baru (Maba) harus belajar dengan tekun, suka berdiskusi dan rajin membaca mulai dari sekarang. Sudah saatnya Indonesia diisi dengan warga negara yang memiliki kompetensi yang memadai.

Hal itu mengemuka pada pembukaan PBAK yang dibuka secara langsung oleh Dr. H. Mundakir, M.Ag, Rektor IAIN Kudus Senin (13/08/2018) di kampus timur IAIN Kudus.

"Sebagai penunjang, tahun ini IAIN Kudus ada pembangunan perpustakaan yang lebih luas. Jangan biarkan perpustakaan sepi. Kalian harus mampu memanfaatkannya secara maksimal dengan rajin ke perpustakaan untuk membaca," jelas Mundakir.

Ia juga mengucapkan terimakasih kepada Maba yang telah memilih IAIN Kudus sebagai perguruan tinggi pilihan untuk memperoleh kompetensi yang diharapkan.

"Jika di SLTA masih di asuh oleh guru, mahasiswa dituntut untuk mandiri. Mahasiswa harus bersikap dewasa dan sadar akan mutu untuk menyelesaikan studi. Masuk boleh sama tapi keluar harus berbeda. Jangan sampai kalian menjadi mahasiswa abadi" jelasnya.

Lanjut, Mundakir, IAIN Kudus juga siap menampung bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan sampai jenjang S2.

"Silahkan kalian bersaing secara regional dan internasional sampai jenjang yang lebih tinggi" katanya.

Tahun ini PBAK diikuti oleh 3.216 Maba dari 14.000 pendaftar melalui jalur spanptkin, umptkin dan lokal mandiri. (Falis)



Oleh: Abdul Ghofur

 “Mahasiswa, kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membanguan rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kerjam ini?”
-  Victor Serge, Bolshevik


Selamat datang di kampus hijau IAIN Kudus bagi kawan-kawan pilihan yang berkesempatan merengguh dalamnya sumur ilmu pengetahuan. Dunia kampus layaknya hutan belantara, semangatlah dalam mengarungi dengan berbagai macam tantangnnya. Namun percayalah bahwa kampus adalah tempatmu untuk menguji mimpi dan nyali.

Tak terasa saat ini kau sudah mendapat predikat sebagai mahasiswa, sebuah capaian tertinggi dalam tingkat pendidikan formal. Secara etimologi Mahasiswa terdiri dari dua kata, yakni maha dan siswa. Maha mempunyai arti sangat; besar; amat; teramat. Dan siswa berarti murid; pelajar.
Sederhananya kita dapat mengartikan mahasiswa sebagia pelajar yang mepunyai derajat tinggi  dalam hal intelektual.

Namun, apa yang dimaksud dengan intelektual? Apakah mereka yang ber-jabatan tinggi, duduk dalam kekuasaan, mengekalkan status quo diantara kaumnya (baca: masyarakat).
Intelektul ialah orang yang tidak berhenti di ilmu saja, namun mereka juga melihat sejauh mana relevansi dan manfaat ilmunya untuk dunia nyata, untuk kehidupan sehari-hari, untuk masyarakat. Hal ini bertujuan untuk membentuk mereka untuk menyelamatkan diri dari kebodohan, kemusyrikan dan penindasan. Intelkektual seperti ini oleh Ali Syariati disebut rawsyan fikr (Intelektual tercerahkan).

Bukan malah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar, sehingga mereka (mahasiswa) mengalienasi diri dari lingkungan dan enggan melebur dalam masyarakat.
Selain itu, jika membicarakan tentang mahasiswa, saya teringat dengan apa yang disampaikan oleh Beni Pramula (Ketum DPP IMM, 2014-2016 & President of Asian-African Youth Government) dalam RAKORNAS IMM di Banjarmasin, Ia mengemukakan kalau setidaknya ada 4 karateristik yang mewakili tipe kepribadian mahasiswa:

Pertama ialah mahasiwa akademis, mahasiwa yang hanya berorientasi pada nilai akademis, mereka datang ke kampus bagaimana caranya agar mendapatkan IPK yang  tinggi, nilai yang tinggi, rajin ke perpustakaan, taat kepada dosen, dan yang lainnya untuk mendapat nilai yang baik.

Kedua mahasiswa romantic, mahasiswa yang selalu tampil nyentrik demi menggait lawan jenis, dia datang ke kampus cuma bagaimana caranya berpenampilan menarik sehingga terlihat gagah, terlihat  tampan, begitu saja cuma bisa gaya-gayaan saja.

Ketiga mahasiswa hedonis, mahasiswa yang sibuk berbelanja saja, kuliah hanya sekedar singgahan, tak peduli berapa banyak matakuliah yang mereka tinggalkan demi ke mall dan nongkrong.
Dan terakhir adalah mahasiswa organisatoris, mahasiswa yang selalu memperkaya dirinya dengan geliat dunia organisasi.

Dimanakah kita?

Hendaknya kita menempatkan diri yang  mencerminkan mahasiswa yang akademis dan mahasiwa yang organisatoris.

Tidak dikatakan seorang aktivis yang sukses kalau kuliahnya sampai 5, 6 sampai 10 tahun bahkan sampai di DO (drop out). Itu tidak dikatakan seorang aktivis yang sukses.

Tidak dikatakan akademisi yang sukses pula kalau seandainya dia tidak berorganisasi, kalau seandainya dia tidak militan dalam berorganisasi. karena organisasi inilah tempat kita mengabdi pada masyarakat, tempat bersentuhan langsung dengan masyarakat, tempat kita peduli terhadap realita sosial di sekeliling  kita dan ikut terlibat dalam pembangunannya.

Biarkan semangatmu mebawa kau kesana kemari. Salah satunya adalah organisasi. Sebuah wahana yang mengajarimu untuk melawan apa yang harus dilawan, membimbing keyakinan untuk percaya kalau kebenaran bukan hanya sebuah bualan. Dan kebenaran akan memberi kamu semangat untuk mencurigai segala kepalsuan. Seperti apa yang dipesankan Pramoedya Ananta Toer dalam novel Jejak Langkah (bagian ketiga dari tetralogi buru): didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah peguasa dengan perlawanan.

Oleh sebab itu, organisasi adalah kuliah yang sesungguhnya dan menyadarkanmu kalau hidup tak sekedar hidup seperti babi di hutan.

Selanjutnya penulis ingin mengajak kawan-kawan mahasiswa untuk meningkatkan minat baca, buku sangat penting bagi mahasiswa yang menyandang status sebagai kelompok terpelajar, yang dituntut untuk memperbaharui dan mengembangkan khazanah keilmuannya Jika boleh meminjam kata-kata Komunitas Pecandu Buku, “membaca sebuah buku adalah bukti betapa hebatnya imajinasi kita membentuk ruang dan waktu”.

 )* Penulis adalah Ketua Umum PK IMM adz-Dzikr IAIN Kudus dan Pegiat Pustaka Jalan-an Kudus)



KUDUS, PARIST.ID –Belasan Stand penyedia perlengkapan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) ditertibkan kampus. Sebab, belasan pedagang tersebut dinilai mengganggu pemandangan berbagai pihak, Rabu (8/8/2018) siang.

Umam, salah satu pedagang mengungkapkan kekecewaannya terhadap intruksi kampus yang terkesan mendadak tersebut. Pasalnya, pada saat Technical Meeting (TM) bersama panitia penyelenggara tidak disampaikan peraturan secara rinci terkait model tenda.

“Banyak pedagang yang kaget dengan intruksi tersebut. Tidak ada peraturan tentang model tenda lapak, eh ini tiba-tiba dipermasalahkan,” ujar Umam, salah satu pelapak yang ikut ditertibkan.

Keresahan juga diungkapkan Fita, pelapak yang rela datang ke kampus jam 9 malam demi mendapatkan lapak paling strategis. Alih-alih mendapatkan lokasi yang pas, lokasi lapak malahan digunakan untuk lahan parkir.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DEMA (Dewan Eksekutif Mahasiswa) dan koordinator stand mengadakan pertemuan sore harinya. Pertemuan yang berlangsung si dan diikuti oleh para pelapak, terutama  yang lapaknya bermasalah.

Yudhistira, Ketua DEMA 2018, menyapaikan pertemuan dengan Warek agar pedagang bisa lebih tertib dan rapi. Tidak perlu memindahkan lapak asal ditata rapi. Pembuatan tenda lapak ditata yang baik agar tidak semerawut. Sebelum berjualan lokasi bersih, setelah berdagang juga harus bersih. Agar tidak menimbulkan pemandangan yang kumuh.
   
“Stand harus ditata lebih rapi. Berangkat bersih, pulang bersih.Pagi memasang stand dan sore dibongkar.” Jelas Ketua DEMA. (Fandi/qih)







PARIST.ID,KAMPUS - Ada tiga penyebab menurunnya politik islam dalam dinamika politik Indonesia. Pertama, tidak optimalnya partai islam atau elit tokoh islam kekinian dalam meyakinkan nilai pembeda di tengah pasar pemilih. Kedua, Partai islam gagal mengelola harapan publik dalam fungsinya di tengah konstituen. Ketiga, memudarnya basis ideologis dalam perjuangan partai-partai Islam.

Demikian itu mengemuka dalam seminar nasional bertajuk “Dinamika Politik Islam dalam Konstelasi Indonesia” di IAIN Kudus, Rabu (08/08/18).

"Seperti kasus haji bodong yang pernah terjadi di Indonesia, partai-partai islam tidak muncul dan ikut berpartisipasi dengan isu-isu yang sebenarnya lebih condong pada politik Islam," kata Gun Gun Heryanto, pakar komunikasi politik UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta di Aula Rektorat lantai 3 IAIN Kudus.

Menurutnya, kekuatan politik Islam seperti partai, figur dan ormas terletak pada cara mereka berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat. Salah satunya bisa diwujudkan dengan partisipasi positif para aktor politik Islam terhadap rentetan kasus yang melibatkan emosi umat.

"Realitanya, kekuatan politik islam sejak orde baru tidak pernah berhasil menjadi pemain atau aktor utama dalam politik Indonesia," tuturnya.

Selain itu, kata Gun, kemajuan politik Islam sangat dipengaruhi penilaian masyarakat mengenai tiga hal pokok berupa working in public, islamic value dan ethics. Ketiganya merupakan poros utama untuk mengembangkan reputasi di mata publik. 

"Politik islam perlu mengembangkan reputasi kekuatan politik di Indonesia," jelas Gun.

Hanya saja, Gun menambahkan, ada persoalan klasik yang mengakibatkan politik Islam di Indonesia sulit berkembang. Salah satunya ialah pertarungan ideologi antara Islam dan negara, keduanya terus menerus dibenturkan hingga kepercayaan terhadap politik Islam tergerus.

“Padahal dalam politik di Indonesia, Islam merupakan variabel pokok yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.

Sementara, Masturin, Ketua Jurusan Dakwah dan Komunikasi IAIN Kudus, mengapresiasi seminar ini sebagai gerbang awal perkuliahan program studi (prodi) Pemikiran Politik Islam (PPI). Ia juga mengatakan pada tahun ini prodi PPI menerima mahasiswa baru sejumlah 120 orang.

“Semoga adanya seminar ini bisa lebih mengangkat kualitas prodi PPI menjadi lebih baik lagi,” harapnya diamini seratusan lebih peserta seminar.(Falis/rid)


PARIST.ID, KUDUS - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus mulai tahun ini resmi memiliki mahasiswa baru (Maba) asal Thailand. 

Kelima mahasiswa tersebut  diantaranya, Asmah Madaehoh (tadris bahasa inggris), Safuroh Kamaloding (tadris bahasa inggris), Nahdee Doloh (tadris bahasa inggris), Sofwan Waeyusoh (tadris bahasa arab), dan Bukhori Kahong (tadris Pendidikan Agama Islam).

Abdurrahman Kasdi, Wakil Ketua III IAIN Kudus, respon hal ini sebagai kebanggaan karena IAIN Kudus mulai diperhitungkan oleh masyarakat luar negeri. Menurutnya juga hal ini terwujud sebab kerjasama yang baik dengan salah satu yayasan di Negeri Gajah Putih itu.

"Maba asing itu semuanya dari yayasan Azistan Thailand. Ini juga hasil kerjasama kita dengan mereka, seleksi sepenuhnya dilakukan mereka dan dikirim ke sini untuk belajar," tutur Abdurrahman Kasdi, kepada Parist.Id, Selasa (07/08/2018).

Ditanya mengenai sistem belajar, Abdurrahman mengatakan mereka akan diperlakukan sama seperti mahasiswa IAIN Kudus pada umumnya. Mereka juga akan berbaur dengan mahasiswa biasa di kelas sebagaimana mahasiswa baru yang lainnya. Hanya saja, akan ada les khusus Bahasa Indonesia untuk mereka agar bisa mengikuti proses belajar selama di IAIN Kudus.

"Jadi selama kuliah di sini mereka tidak menggunakan Bahasa Inggris atau Bahasa Arab, melainkan Bahasa Indonesia," jelas alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo ini.

Abdurrahman menambahkan, sistem seperti itu bertujuan untuk mengenalkan budaya dan wawasan ke-Indonesia-an kepada mahasiswa asing. Hal ini sebagaimana misi besar yang telah disepakati bersama oleh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) seluruh Indonesia.

"Indonesia itu punya misi agar mahasiswa luar negeri yang belajar di Indonesia paham tentang Bahasa Indonesia. Jadi saat kembali ke negara asalnya masih ingat Indonesia," jelasnya.

Untuk rencana selanjutnya kampus akan membentuk kantor urusan internasional yang mengurusi mahasiswa luar negeri untuk belajar di Kudus dan mahasiswa IAIN Kudus yang ingin belajar di luar negeri.

"Saya sempat mengusulkan kalau PPL dan KKN di luar negeri. Namun itu baru usulan, belum ada persetujuan," katanya. (Falis/rid)





KUDUS, PARIST.ID Group musik Original Acoustic atau ORSTIC sukses pentaskan drama musical di panggung Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) di auditorium UMK, Selasa, (31/07/2018) malam.

Salah satu lagu yang menjadi andalan band jebolan STAIN Music Studio (SMS) Kudus ini adalah I Love You. Melalui lagu ini, mereka ingin mengingatkan audien untuk tidak berlebihan ketika mencintai seseorang.

Seperti yang disampaikan oleh Ahmad Jazilul Abid, Bassis ORSTIC, banyak orang yang berpikiran pendek tentang cinta dan tak sedikit pula yang nekat bunuh diri gara-gara sakit hati.

Lewat musik, lanjut Abid, ORSTIC ingin menyampaikan kepada audien bahwa cinta adalah anugerah dari Tuhan yang musti disyukuri, bukan malah menjadi masalah. Apapun yang terjadi, baik ataupun buruk tetaplah harus dipahami bahwa itu semua adalah menjadi suratan takdir.

I love you berpesan tentang cinta yang tidak usah sampai lebay, sudahlah nikmati saja manis getir cinta yang datang ke kita,kata Abid.

Selain menyampaikan tentang romantisme percintaan, group musik yang beranggotakan 4 orang, yaitu Eka pada vocal, Aldi pada gitar, Abid pada bass dan Ryan pada perkusi ini juga berpesan tentang bahaya laten bully dalam musik yang dikombinasikan dengan drama (Drama Musical: red). Lewat drama musikal, ORSTIK mengkampanyekan gerakan stop bully.


Sementara itu, Ketua Badan Kerja FASBuK, Arfin Akhmad Maulana mengapresiasi penampilan ORSTIK di FASBuK kali ini. Menurutnya penampilan kali ini berbeda dari penampilan penampilan yang sebelumnya. Yang membuat nilai lebih yaitu drama musical yang dipertunjukkan ORSTIC mampu memukau penonton yang hadir.

Kami kemarin survei proses latihan mereka mulai dari awal, biasanya kan hanya memainkan musik, acoustikan, cover-cover, terus ada peningkatan-peningkatan. Akan tetapi malam hari ini mampu menampilkan konsep drama juga yang luar biasa,imbuhnya. (rif/qih)


il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.