KAMPUS, PARIST.ID- Senat Mahasiswa (SEMA) IAIN Kudus mengajukan surat penyampaian aspirasi mahasiswa terkait kebijakan kampus akibat pandemi Covid-19, Senin (30/03/2020). 

Surat yang disampaikan kepada Rektor IAIN Kudus tersebut berisi  5 poin penting Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait kuliah online yakni SOP bimbingan skripsi online, pelayanan mahasiswa seperti fakultas, akademik, TIPD dan unit lain diharap tetap memberikan pelayanan kepada mahasiswa sesuai situasi dan kondisi, informasi secara jelas terkait munaqosah dan wisuda ditengah massa darurat Covid-19, serta pemotongan 50% UKT untuk semester depan.

Ketua SEMA IAIN Kudus, Rosyda Auliya Rahma, mengaku setiap hari mendapat keluhan dari mahasiswa terkait 5 poin tersebut. Ia beserta pengurus SEMA berinisiatif membuat wadah aspirasi berupa form yang secara resmi dapat disampaikan.

"Semoga bisa jadi bahan evaluasi kedepannya," jelasnya.

Menanggapi surat tersebut, Rektor IAIN Kudus, Mundakir, mengatakan, poin 1 sampai 4  akan segera disempurnakan di rapat evaluasi.

"Hari Senin atau Selasa ini bakal diadakan evaluasi lebih lanjut dari pimpinan," katanya.

Selain itu, lanjut Mundzakir, menanggapi poin nomor 5 terkait pemotongan UKT 50% untuk semester depan harus ada dasar hukum dari kementerian Agama RI. Tidak hanya IAIN Kudus,  Rektor PTKIN se-Indonesia  juga sudah mengusulkannya ke Dirjen Pendis.

"Kita sama-sama menunggu hasilnya," pungkasnya. (Kustina)

PARIST.ID - Guna meringankan beban mahasiswa selama perkuliahan online, pihak TIPD mengeluarkan program kuota gratis guna menunjang kegiatan pembelajaran daring (online).

Rektor IAIN Kudus, Mundakir, mengatakan program ini merupakan upaya TIPD dalam mendukung pembelajaran online selama masa darurat wabah virus corona.

"Untuk pembelajaran daring, dasar hukumnya akan dibahas Senin depan," ungkapnya melalui pesan whatsapp kepada reporter parist.id, Sabtu  (27/03/2020).

Mundakir mengaku, pihak TIPD telah bekerja sama dengan provider indosat dan telkomsel sebagai penyedia paket kuota. Sementara itu, layanan kuota data gratis ini dapat diakses dosen dan mahasiswa melalui aplikasi dari provider masing-masing. 

"Yang indosat sudah clear, yang telkomsel masih nego," jelasnya.

Senada dengan Mundakir, Wakil Rektor III, Ihsan, juga membenarkan adanya program kuota gratis ini. Menurutnya program ini lebih dikhususkan pada pembelajaran online. Oleh karena itu, kampus harus bisa dimanfaatkan program yang ditawarkan pihak TIPD ini dengan baik.

"Secara spesifik untuk pembelajaran, semacam ruang guru. Jika bisa kita manfaatkan, mengapa tidak," tandasnya

Sementara itu, mahasiswa semester 4, Nanik Almira, merasa teringankan dengan adanya program kuota gratis ini. "Lumayan, bisa sedikit berhemat saat ada pembelajaran kuliah online," katanya.
 (Hasyim).

KAMPUS, PARIST.ID – Menindaklanjuti surat edaran Kementrian Agama, Rektor IAIN Kudus mengeluarkan surat edaran baru terkait tindak lanjut kebijakan akademik dan non-akademik pencegahan penyebaran virus korona di  IAIN kudus. 

Sebagai tindak lanjut dari surat edaran sebelumnya, dengan memperhatikan kondisi darurat wabah corona saat ini, menyebutkan  bahwa sistem perkuliahan daring diperpanjang sampai akhir semester genap.

Dalam hal ini, Wakil Rektor I, Supaat, menghimbau agar seluruh warga kampus tetap tenang menjalankan tugas dan memberikan pelayanan publik dengan senantiasa melakukan tindakan pencegahan penularan covid-19 secara lebih intens. 

Sementara itu, kegiatan selain perkuliahan diatur berdasarkan SK Rektor tentang Pedoman Dikjar Paradigma Online. 

Lebih lanjut, pembelajaran online  dapat memanfaatkan virtual classroom, aplikasi zoom ataupun sejenisnya yang sesuai kebutuhan. Sedangkan Ujian Akhir Semester (UAS) akan dilaksanakan pada tanggal 2-15 Juni 2020 dengan pemberian tugas yang proporsional dan memperhatikan kondisi psikologis mahasiswa.

Selama masa darurat wabah virus corona, akses masuk ke lingkungan kampus dibatasi dengan ketat. Hal ini berlaku untuk seluruh warga kampus kecuali untuk kepentingan mendesak atau atas izin pimpinan.
(hasyim/rosid)

Surat Edaran Perpanjangan Berkaitan Covid-19


KUDUS-Tradisi dandangan yang rencananya akan digelar pada 14 hingga 23 April 2020 ditiadakan. Berdasar pada rapat koordinasi Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompinda)bersama gugus tugas covid-19 , peniadaan tersebut guna pencegahan penularan virus korona yang semakin meluas. 

Dilansir dari murianews.com, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Sudiharti, mengatakan, potensi penyebaran covid-19 antar masyarakat bisa meluas di even dandangan.

"Banyak kerumunan massa, terlebih dandangan sering didatangi berbagai orang dari banyak daerah," katanya usai rakor di Command Center pada Senin, (23/03).

Ia juga menambahkan, setidaknya ada 300 lebih pedagang yang akan mengisi lapak di even dandangan. 

"Kami bakal secepatnya memberi sosialisasi pada para pegadang," tambah Sudiharti.

Adapun untuk pedagang luar kota akan dihubungi via handphone. 

"Kami sudah punya nomor dari pedagang luar kota," tandasnya.

Sementara itu, Plt Bupati Kudus, M Hartopo, menghimbau, agar masyarakat menunda sementara kegiatan yang menghadirkan banyak massa. 

"Jika ada even banyak massa akan dibubarkan, dan ingat tetap jaga jarak," tegasnya.

Selain itu, Hartopo juga meminta masyarakat untuk mematuhi aturan pemerintah dan tetap di rumah.

"Mari bersama melawan virus ini, masyarakat juga harus meningkatkan kesadaranya," ujarnya.


Dalam hal itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Sutiyono, mengaku siap 50% melaksanakan even dandangan. Namun, pihaknya tetap mematuhi instruksi dari rapat koordinasi. 

"Sebenarnya tidak hanya dandangan yang ditiadakan, even yang mendatangkan banyak orang juga tidak diperbolehkan," katanya. (rls)

KAMPUS - PARIST.ID, Meskipun kampus disterilkan dan terdapat himbauan peniadaan shalat Jumat atas kondisi penyebaran Covid-19, akan tetapi Masjid Kampus Timur IAIN Kudus tetap menyelenggarakan shalat Jumat berjamaah, pada Jumat, (20/03)

Ibadah shalat Jumat di Kampus Timur IAIN Kudus diikuti oleh jajaran dosen, pegawai dan sebagian mahasiswa IAIN kudus serta masyarakat sekitar kampus.

Terdapat perbedaan yang cukup signifikan pada pelaksanaan shalat Jumat kali ini. Hal ini terlihat pada barisan jamaah yang relatif renggang. Bertujuan untuk menjaga jarak aman sebagai upaya pencegahan virus korona (Covid-19).

Berdasarkan wawancara kru Parist.Id kepada pembina takmir masjid kampus IAIN Kudus, Saiful Mujab, menjelaskan, pelaksanaan shalat Jumat ini menyesuaikan ketentuan dari pemerintah untuk menjaga jarak aman dengan orang lain.

"Pelaksanaannya sudah sesuai ketentuan dengan menjaga jarak aman," tegasnya.

Menanggapi hal tersebut Rektor IAIN Kudus yang juga menjadi salah satu jamaah shalat Jumat, Mundakir, mengatakan, pelaksanaannya sudah mengikuti protokol penanganan wabah virus korona (Covid-19). Ia juga mengaku telah mengkajinya dari perspektif ilmu fikih dan kaidah penetapan hukum.

"Telah kita kaji dari perspektif fikih ibadah dan prosedur serta kaidah penetapan hukum," pungkasnya.
(Yan)

PARIST. ID-  Perubahan sistem perkuliahan yang semula luring (offline) menjadi daring (online) guna mencegah penularan virus corona ternyata menimbulkan respon yang kurang baik dari mahasiswa. Beberapa mahasiswa keluhkan banyaknya tugas yang diberikan dosen adanya kelas online.

Terhitung sejak Senin kemarin, sistem perkuliahan online ini akan diberlakukan selama dua minggu kedepan. Wakil Rektor III, M Ihsan, mengatakan, meskipun kampus diliburkan, aktivitas perkuliahan harus tetap berjalan melalui kelas online. Sementara pembelajaran di kelas akan diserahkan kepada kebijakan masing-masing dosen.

 "Semua sistem pembelajaran tergantung dosen yang mengajar," ujar Ihsan saat diwawancarai Tim LPM Paradigma, Kamis (19/03/2020).


Dalam keadaan darurat seperti ini, lanjut Ihsan, pihak kampus harus memberikan pengembangan dan pengayaan untuk mengatasi ketidakmaksimalan perkuliahan yang berjalan saat ini.  Ihsan juga menghimbau agar para mahasiswa memahami dan memaklumi adanya sistem perkuliahan online ini.

 “Dengan kelas online, hal ini sangat memungkinkan dan mudah dilakukan," terangnya.


Menanggapi kebijakan ini, Dosen Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Primi Rohimi, mengatakan, mahasiswa dapat memanfaatkan media online untuk mempermudah aktivitas pembelajaran. Menurutnya media online memiliki fitur-fitur yang canggih yang dapat mendudukung kelas online.

“Banyak media online yang bisa dimanfaatkan, seperti grup wa dan google classroom,” ungkapnya.


Ia menganggap mahasiswa saat ini masih dalam tahap adaptasi sehingga perlu penyesuaian diri agar terbiasa dengan kelas online.

"Lambat laun juga akan terbiasa, dapat menyesuaikan dengan baik,” jelasnya.


Sementara itu, Fitri Hendrayani, salah satu mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) semester empat mengeluhkan adanya kelas online. Menurutnya kelas online justru lebih menguras waktu dan pikiran daripada kuliah offline.

”Lebih banyak menyita waktu dan tugas dari dosen juga tambah sulit,” katanya. (Fiski/Hasyim)

PARIST.ID –  Dalam rangka mengantisipasi tersebarnya virus korona di lingkungan kampus, Rektor IAIN Kudus meluncurkan surat edaran Nomor 7 Tahun 2020 pada Minggu (15/03/2020). Berisi tentang peningkatan kewaspadaan terhadap risiko penularan infeksi corona virus disease (covid-19), surat edaran ditujukan kepada dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa IAIN Kudus, berlaku sejak tanggal 15 Maret sampai 1 April 2020.

Menindaklanjuti surat edaran yang sebelumnya telah dikeluarkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Direktur Jendral Pendidikan Islam, dan Gubernur Jawa Tengah, Rektor IAIN Kudus akhirnya menerbikan surat edaran sebagai  dasar upaya peningkatan kewaspadaan terhadap pencegahan virus korona (covid-19). Selain itu, surat edaran juga ditujukan bagi warga kampus yang tidak memenuhi standar upaya pencegahan dan pengendalian risiko penularan virus corona (covid-19).

Berdasarkan surat edaran, menjelaskan, Ujian Tengah Semester dan Perkuliahan diselenggarakan secara online tanpa tatap muka sesuai kesepakatan dosen dan mahasiswa. Sementara itu, kegiatan akademik seperti seminar, workshop dan sejenisnya untuk sementara ditiadakan. 

Lebih lanjut, kegiatan kemahasiswaan baik Ma’had, UKM, maupun ORMAWA juga diliburkan, sementara konsultasi hanya diperbolehkan  secara online. Adapun dosen dan pegawai tetap melaksanakan tugas seperti biasa dengan absensi via elektronik saja.

Seluruh elemen kampus dihimbau agar menerapkan pola hidup sehat dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberi perlindungan dan keselamatan dari ancaman penularan virus korona (covid-19). (Hasyim)


Surat edaran berkaitan dengan covid-19 

KUDUS, PARIST – Berawal dari kegelisahan kian rusaknya alam, Komunitas Seni Semar(KSS) berupaya menyadarkan manusia betapa pentingnya menjaga alam lewat sebuah karya. Mengisahkan tentang kemarahan danyang pepundi tanah muria, pertunjukan yang bertajuk “Rananggana” ini digelar di Auditorium Universitas Muria Kudus, Jum’at (13/03/2020).

Pimpinan Produksi, Noor Iksan Maulana, mengatakan, pementasan ini terinspirasi dari rasa keprihatinan para anggota terhadap keserakahan manusia pada alam. Iksan mencoba merubah pola pikir manusia agar senantiasa merawat alam.

Lebih lanjut, Iksan juga menjelaskan bahwa properti yang digunakan berasal dari bahan dan perabot tradisional. Seperti pincuk, ekrak, serok, dan bola  yang terbuat dari bambu. 

“Alat yang kami pakai semuanya dari alam,” jelasnya.

Senada dengan Iksan, Designer Produksi, Dian Puspita Sari, menyampaikan, tugas seniman adalah berkarya. Melalui karya, berusaha menggiring manusia untuk berlaku seimbang pada alam, dan menjaganya. 

“Kami melakukan apa yang menjadi tugas kami, untuk selebihnya kami serahkan kepada masyarakat,”ungkapnya.

Konsep pementasan kali ini,  tambah Dian, menonjolkan bentuk tubuh dan gerakan yang mempunyai rasa. Seluruh pemain yang bertopeng, mengajak penonton untuk bereksplorasi dan menghayati makna melalui gerak tubuh.

 “Kami yakin penonton cukup cerdas untuk memahami pertunjukan ini, tidak melulu kami jejali pertunjukan verbal dengan ekspresi muka ataupun suara," imbuhnya.

Sementara itu, Sutradara, Ramuna Putri Widyastuti, mengatakan, Rananggana yang dipentaskan bukan folklore sebagai cerita dongeng, melainkan folklore sebagai inspirasi.
 “Insiprasi agar manusia tidak berani merusak alam," tandasnya. 
(Hasyim)

KUDUS, PARIST.ID - Sebanyak 40 peserta dari 12 komunitas kepenulisan di Kabupaten Kudus mengikuti kegiatan Bengkel Bahasa dan Sastra 13-4 April 2020 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah (BBJT) di Aula hotel @Hom Kudus. Pelatihan menulis ini akan difokuskan pada kepenulisan cerpen dan esai, Jum'at (13/02/2020). 

12 komunitas berpartisipasi dalam pelatihan ini, komunitas tersebut adalah Keluarga Penulis Kudus, Omah Gatra, Komunitas Fiksi Kudus, Omah Dongeng Marwah, Keluarga Berkarya, Jagong Sastra, Omah Aksi, Paradigma Institute, PENAMASKU, Pena Kampus, Komunitas Guru Menulis, dan Yuk Main Kudus.

Hadir sebagai Ketua komunitas Penulis Kudus, Mukti Sutarman,  mengatakan acara ini sangat membahagiakan bagi komunitas kepenulisan di Kudus. Ia juga menghimbau agar acara ini bisa berkelanjutan. 

Menurutnya kegiatan ini akan bisa menjadi alternatif untuk menciptakan penulis yang handal. 

"Kami harap terciptanya cerpenis dan esais yang gilang gemilang," ungkapnya.

Sejalan dengan itu dalam sambutannya Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah (BBJT), Tirto Suwondo,  mengatakan,  adanya pelatihan ini untuk meningkatkan minat baca dan menulis masyarakat khususnya anak muda.

Mengusung konsep bermuatan lokal dalam tema latihan kepenulisan ini, Tirto menghimbau agar panitia tidak terlalu membebani peserta dalam obyek tulisannya.

"Konsep muatan lokal jangan membebani peserta," tegasnya.

Ia juga mengatakan setelah kegiatan ini karya dari peserta akan dibukukan menjadi buku antologi cerpen dan antologi esai.

"Dana sudah kami siapkan untuk menerbitkan buku karya dari peserta," katanya. 
(Yan)


KAMPUS, PARIST –Buah dari pengembangan Ilmu Islam Terapan adalah Indonesian Tadayun Tecnology atau Teknologi Keberagaman Indonesia yang di dalamnya terdapat rumah moderasi beragama.

"Tidak hanya mempunyai rumah moderasi beragama, saya berharap IAIN bisa menjadi instruktur dan pelatih rumah moderasi beragama," harap Prof. Muslim A Kadir, penulis buku Ilmu Islam Terapan.

Bersama narasumber Prof. Muslim A. Kadir dan Warek III, Ihsan, diskusi interaktif ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada mahasiswa paradigma amali tentang agama islam. Menjadi salah satu mata kuliah wajib di IAIN Kudus buku Ilmu Islam Terapan ini diakui mempunyai bahasa yang tinggi di kalangan mahasiswa maupun dosen.

Diselenggarakan KPN IAIN Kudus, bedah buku sekaligus membuka kelas lanjutan yang bertajuk "Integrasi Ilmu dalam Beragama," yang berlangsung di Gedung SBSN lt. 1, Rabu (11/03).

Sejalan dengan itu, Prof. Muslim menyampaikan keunggulan Ilmu Islam Terapan dalam mengantarkan lulusannya dalam menghadapi dunia kerja di semua program studi. Hal ini didasarkan pada fokus ilmu Islam Terapan yang menekuni ilmu praktek atau amali.

“Formasi lapangan kerja melimpah apabila menekuni pengembangan Ilmu Islam Terapan,” jelasnya.

Warek III, Ihsan mengatakan perlu berulang kali membaca buku tersebut ketika ingin memahami kandungan makna yang disampaikan penulis.  Terlebih, paradigma buku Ilmu Islam Terapan ini sejalan dengan visi IAIN Kudus yaitu menjadikan peguruan tinggi yang unggul dalam pengembangan Ilmu Islam Terapan. “Baca berkali-kali sampai benar-benar paham," tandasnya.

Dalam memahami agama, tambah Ihsan, tidak sukup secara normatif saja, tetapi harus diiringi dengan tindakan dan perbuatan yang mencerminkan perilaku beragama. Harapannya, semua program studi yang ada di kampus dapat mengimplementasikan kompetensi  bidang studinya menggunakan paradigma Ilmu Islam terapan. (Hasyim/Minan)



KAMPUS- Jika berbincang mengenai SDM tentunya penting untuk meningkatkan kualitas dan potensi diri termasuk mahasiswa IAIN Kudus.
Demikian itu disampaikan DPR RI Komisi XI, Musthofa, dalam seminar kewirausahaan bertajuk "Peran dan Fungsi Bank Indonesia dalam Pengendalian Inflasi Daerah". Bertempat di Gedung SBSN Lantai II, acara dihadiri ratusan mahasiswa pada Rabu, (11/03).
Menurut Musthofa, dalam memberdayakan ekonomi masyarakat dan peningkatan SDM yang unggul penting untuk mendukung stabilitas ekonomi Indonesia.
"Terdapat enam program yang diprioritaskan untuk menstabilkan ekonomi," kata Bupati Kudus 2008-2018.
Prioritas program, lanjut Mustofa, sesuai arah PSBI (Pilar Sinergi BUMN Indonesia) 2020 adalah program peningkatan SDM unggul, program pemberdayaan UMKM, program penguatan pariwisata dan pelestarian budaya, program penguatan pengembangan ekonomi syariah, program pengembangan ekonomi dan keungan digital serta pogram kepedulian sosial.

"Keenam program tersebut tentu harus dibarengi dengan peningkatan kualitas diri," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Bank Indonesia, Iis Safitri Hafid, menjelaskan, tugas Bank Indonesia (BI) adalah menjaga kestabilan nilai rupiah baik sisi internal maupun eksternal.
"Adapun sisi internal adalah nilai rupiah terhadap harga-harga barang disebut sebagai inflasi. Sedangkan dari sisi eksternal adalah nilai rupiah dikaitkan dengan harga barang di luar negeri atau disebut dengan nilai tukar," jelasnya.
Ia menambahkan, target inflasi yang harus dijaga yakni plus minus tiga persen
"Agar harga tidak naik lebih dari tiga persen tetapi tidak juga lebih dari tiga persen," tambah Iis.
Adapun Kepala Humas Bank Indonesia, Adhi Nugroho, mengatakan, upaya BI dalam mengendalikan inflasi mempunyai lima kebijakan yang di kenal dengan pandawa lima.
Pandawa lima itu ialah pemenuhan keterdesiaan pasokan, pembentukan harga terjangkau, pendistribusian pasokan aman dan lancar, perluasan akses informasi dan edukasi masyarakat serta protokol manajemen lonjakan harga.
"Pandawa lima harus tetap dijaga demi kesejahteraan bersama", tandasnya.
(Yan/Sid)


Omnibus law merupakan produk baru yang berisi gabungan dari beberapa hukum. Pembahasanya pun belum tuntas karena banyak menuai kritik dari berbagai kalangan.

Demikian itu disampaikan narasumber, Izzudin Arsalan, dalam seminar yang diselenggarakan UKM KPN (Komunitas Pecinta Nalar) IAIN Kudus. Bertempat di Gedung SBSN Lantai 1 seminar dihadiri ratusan mahasiswa pada Senin, (09/03)

Hingga saat ini, lanjut Izzudin, Omnibus law belum ditetapkan. Ia juga mengatakan kedudukan omnibus law di Indonesia berada pada jenjang ketiga setelah UUD 1945.
"Belum disahkan karena masih banyak pasal-pasal yang belum jelas," katanya.

Ia mengungkapkan bahwa omnibus law ini berisi ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur tentang UMKM, perburuhan, dan pembentukan kota baru. Omnibus law dimaksudkan untuk memperbaiki perekonomian di Indonesia.
"Tujuannya ya untuk memberikan kesejahteraan ke masyarakat," jelas Irzuddin.

Alumnus Universitas Muria Kudus itu juga menjelaskan bahwa Indonesia menganut sistem hukum tertulis dan terkodifikasi, sementara omnibus law mengatur beberapa ketentuan dalam undang-undang.
"Dapat menimbulkan masalah yuridis nantinya," terangnya.

Lebih lanjut Irzudin menyampaikan sebenarnya omnibus law dapat memberikan dampak positif seperti meningkatkan investasi di Indonesia, memangkas regulasi yang masih tumpang tindih, dan menyelaraskan hukum-hukum yang bertentangan.
"Ada manfaatnya dari segi investor, pemerintah, dan masyarakat," sambungnya

Disisi lain terdapat pasal-pasal yang bertentangan dengan konstitusi, sehingga banyak pihak yang akan dirugikan, termasuk hak-hak para buruh.
"Banyak pasal bermasalah yang perlu direvisi lagi," tandasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III, Ihsan, berharap seminar ini dapat memberikan output dan outcome yang dapat dinikmati oleh seluruh pegiat UKM KPN dan peserta seminar.
"Setiap kegiatan harus ada manfaatnya bagi kampus dan mahasiswa," harapnya .(Hasyim)



JEPARA, PARIST.ID - Puluhan peserta MARGA 2020 mengikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD)  yang diselenggarakan LPM Paradigma IAIN Kudus. Pelatihan yang bertema "Stop rebahan, mulailah menulis untuk perubahan" ini bertempat di Balai Desa Karangnongko, Nalumsari, Jepara, Jumat-Minggu (6-8/3) kemarin.

Pimpinan Umum Lpm Paradigma M. Nur Ulyanuddin mengatakan pelatihan jurnalistik ini bertujuan untuk mengajarkan para peserta marga bagaimana cara menulis yang baik dan benar. Bukan hanya itu, peserta marga juga dituntut untuk membuat buletin sebagai produk dalam kegiatan ini. 

"Tujuannya untuk mengenalkan materi-materi jurnalistik, terutama straight news," jelas Ulyan.

Selain itu, lanjut Ulyan, peserta marga akan diterjunkan langsung ke masyarakat untuk menggali berbagai informasi sesuai bidikan yang telah ditentukan panitia. Setelah mendapatkan data yang cukup, peserta diminta untuk menuliskannya.

"Mereka terjun langsung ke lapangan, layaknya wartawan sungguhan," terangnya.

Ia menghimbau agar peserta marga menghormati kepercayaan masyarakat di desa Daren. Selain itu, peserta juga diminta untuk memperhatikan etika ketika wawancara. 
"kita tidak harus meyakini keyakinan yang ada, namun harus kita hormati," tandasnya.

Ulyan juga menjelaskan setelah kegiatan ini ada tindak lanjut proses literasi dan kepenulisan. Ia berharap peserta marga memiliki loyalitas dan kesungguhan yang tinggi untuk belajar di LPM Paradigma. 

"Nanti ada follow up dan diskusi mingguan yang wajib diikuti," tegasnya 

Sementara itu, Ketua panitia, Nonik Nurhanifah, berpesan peserta marga untuk terus berproses dan bersemangat selama mengikuti kegiatan PJTD ini. Hal ini merupakan langkah awal mereka untuk menjadi seorang jurnalis.

"Perhatikan pemateri, ikuti seluruh kegiatannya, dan jangan takut salah," ungkapnya.

Nanik Almira, salah satu peserta marga mengaku tertarik mengikuti kegiatan PJTD. Meskipun lelah tetapi tidak mengurangi semangatnya dalam belajar jurnalistik. 

"Dapat pengalaman baru lewat PJTD, terutama jurnalistik," ungkapnya. (Hasyim).


Beberapa tahun sebelum dekade ketujuh, Somma tertidur pulas. Tak ada yang berani membangunkannya. Hingga tepat pada satu tahun sebelum dekade kedelapan ia seperti kesurupan.

*

“Ibu, nanti kalau panen gandum, kita membuat kue dan biskuit yang banyak ya!” seloroh anak kecil Italia bernama Pliny kepada Ibunya.
Sang ibu menyimpulkan senyum. Gandumnya pasti menguning. Ia menjamin kesuksesan ladang yang digarapnya. Memang, di sepanjang pantai  Teluk Napoli tanahnya sangat subur. Hamparan ladang gandum dan kebun anggur milik masyarakat terbentang luas di dua kota, Pompe dan Herculane. Anggur yang ditanam pun buahnya selalu lebat dan segar. Petani tak pernah rugi.
Sebenarnya beberapa mereka telah menyadari sebuah ancaman di tengah kesuksesan berladang. Namun makhluk yang bernama manusia tak pernah merasa cukup. Mereka selalu menanam, memanen dan menginginkan hasil yang lebih. Tak terkecuali dengan Ibu si anak kecil Italia. Ancaman begitu murka dan ironis, namun manusia adalah makhluk serakah terbaik di dunia. Semua akan baik-baik saja, katanya.

*

Mungkin Somma mulai tak nyenyak dari tidurnya. Ia gusar, selimutnya tak setebal dulu. Ia berdehem, kemudian disusul batuk yang menggoyangkan seisi ranjang. Tak ada yang peduli, semua menghiraukannya. Somma yang terbangun. Malang seperti kesurupan.
Beberapa teman setelahnya, pernah terbangun dengan mengerikan. Selimutnya dikencingi kecoa dan dipenuhi tikus yang hina. Temannya bernama Muria. Ia sangat tidak suka dengan aroma alkohol, perjudian dan hal keji lainnya. Begitulah sifat Muria, menyukai ketentraman jiwa. Hingga suatu hari diusik oleh hal-hal tersebut – tikus dan kecoa – ia terbangun dengan marah yang berkobar. Emosinya meletup tak kenal ampun.
Ada salah satu teman Somma yang bernama Helena. Ia begitu tangguh, lembut dan penyabar. Namun kesabaran Helena hilang ketika seseorang menganggunya. Beberapa orang berusaha mencari tahu tentang kesehariannya. Karena yang orang-orang tahu, Helena selalu berpenampilan cerah dan menarik untuk dipandang. Helena tak mau hal pribadinya dicuri tahu oleh orang lain. Sabar yang di emban Helena pupus.
Meski ia penyabar, Helena tidak seperti Somma. Ia meluapkan emosinya dengan menumpahkan bubur merah yang baru saja mendidih kepada orang-orang tersebut. Helena tak segan menghancurkan tempat rekreasi, jembatan, rel kereta api, dan rumah-rumah. Ketika Helena terbangun lagi, orang-orang malah tertarik menjadikannya model untuk sesi pemotretan. Malang sudah nasibnya.
Namun Somma berbeda, ia sangat sensitif. Kemarahannya mungkin lima kali lipat dari teman-teman sebelumnya.

*

Bulan Agustus tahun 97 M, Pliny ketakutan. Sejuk yang tiap hari ia hirup, tiba-tiba beraroma abu vulkanik. Hari pertama Agustus, ia berlari menuju Ibunya di ladang. Air mukanya gelisah. Ibunya memandang tak mengerti. Satu sampai dua hari, Pliny merasakan demikian. Hingga sang ibu turut merasa tak wajar dengan ladangnya. Gandumnya belum juga menguning. Bahkan beberapa petak ladang terpecah dari kelompoknya.
Anak Italia itu memandang Vesuvius. Puncaknya menjulang ke langit. Berdiri kokoh dengan akar-akar yang menancap kuat. Kaki-kakinya seperti selimut yang dipenuhi dengan ladang-ladang gandum dan anggur. Namun kali ini Vesuvius meledakkan gas dan abunya. Reruntuhan bebatuan dan batu apung baru yang berkilauan dilontarkan ke atmosfer. Namun, untung angin membadai mengarah ke kota Pompe. Seperti pertunjukan awan kelabu yang menyerupai pohon pinus menjulang tinggi. Mengerikan. Di luar dugaan, Vesuvius telah terbangun secepat ini.
Ancaman itu datang. Ibu Pliny segera menjauh dari ladang. Semua penduduk Herculane berlarian, mencari perlindungan.Untunglah kota tersebut hanya terkena semburan abu yang tipis karena arah angin yang berlawanan. Namun kasak-kusuk terdengar dari orang yang berasal dari Pompe. Katanya, kota Pompe sudah ludes. Tembok besar Pompe yang melindungi sekeliling kota dikalahkan oleh dahsyatnya Vesuvius.
 “Ayah!!!” teriak Pliny di tengah hiruk pikuk penduduk yang mencari tempat aman.
Ibunya memeluk Pliny erat sekali. Harta yang dipunyainya dilahap oleh Vesuvius.  Ayahnya bekerja di kota Pompe. Sementara kota itu dihujani bara , abu dan batu apung yang menumpuk dengan ketinggian 15 sentimeter per jam. Air mata pun menghujani pipi Pliny dan sang ibu.
“Suamiku, setidaknya kau beri nama dulu putri yang di rahimku!!” isak wanita yang memeluk Pliny. Pakaiannya lusuh, berantakan. Perutnya yang buncit menahan sakit.
Langit siang dan malam sama saja kelam. Sinar mentari dihalangi abu, semua berhamburan ketakutan. Malamnya, Vesuvius memuntahkan magma kaya gas yang mengisi gumpalan abu membumbung tinggi. Kemudian massa debu dan gas yang tergantung di puncak gunung perkasa itu runtuh. Aliran piroklastik yang besar muncul membakar aliran abu panas. Akibatnya, gelombang gas keluar dari puncak Vesuvius dan bergulung ke Herculane.
Sepanjang malam, aliran-aliran itu terus saja bergerak melewati kota. Vesuvius menguburnya di bawah reruntuhan vulkanis yang membara. Terkadang bentuk awan abunya seperti jamur, spagethi atau pohon pinang yang menjulur ke langit.Herculane hancur tak tersisa. Pliny dan sang ibu kehilangan ladang, harapan membuat kue dan biskuit. Nyawa sang ibu lenyap dimurka Vesuvius
Sepertinya, Vesuvius cenderung mengeluarkan paksa gas berabu dalam jumlah besar. Lalu dilepaskan secara dahsyat menyerupai kembang kol, jamur atau kadang pohon beringin. Ia adalah Vesuvian, letusan berapi Vesuvius.

*

Somma benar-benar terbangun seperti kesurupan. Ia mengamuk setelah gelisah dalam lelapnya. Tepat pada 24 Agustus 79 M, ia menghancurkan selimutnya – ladang gandum dan kebun anggur – yang di lereng-lereng di kakinya. Ia berhasil mengubur dua kota dengan jumlah milyaran manusia. Dua kota itu terkubur dalam batuan apung yang dilapisi dua sampai tiga meter tumpukan piroklastik.
Seperti penyihir, Somma mengerahkan keajaibannya. Menggoncang daratan dan memanggil tsunami raksasa untuk menghisap air dari pelabuhan-pelabuhan. Ia serupa neraka. Memuntahkan lava, menyemburkan lahar, menyiksa manusia. Hei, Somma tidak bersalah. Teman-temannya pun tak bersalah. Para gunung di penjuru dunia tak pernah salah jika ia terbangun dari lelapnya.
Manusia adalah makhluk berbakat untuk serakah. Somma hanya tak suka, mereka terlalu bersemangat tanpa mau menanggung akibat. Somma mempunyai impian sederhana, tidak lebih menemui manusia yang tahu berterima kasih. Meskipun ia hanya sebuah gunung berapi yang dijuluki Vesuvius.
*
End_
Oleh: Shoma Noor Firda Inayah

PARIST. ID- Berdasar pada maraknya pembahasan "Omnibus Law" di berbagai lini, UKM Kelompok Pecinta Nalar (KPN) mencoba mengajak mahasiswa mengenali hukum omnibus law dengan menggelar seminar.

Seminar hukum omnibus law yang digelar di SBSN lantai 1 menghadirkan narasumber Pengacara Lulusan UMK, Izzudin Arsalan yang akan digelar pada Senin, (09/03)

Terbuka untuk kalangan umum, seminar akan dihadiri ketua BEM se-Kabupaten Kudus. (Red)

KAMPUS - Guna memberikan edukasi terhadap generasi milenial mengenai investasi, Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) IAIN Kudus menggelar acara seminar pasar modal syariah. Pasalnya, seminar ini merupakan lanjutan dari sekolah pasar model yang pertama. Bertempat di Gedung V Lantai II, seminar diikuti oleh mahasiswa dari berbagai fakultas pada Senin, (02/03). 

Ketua Panitia, Hilmi Maula, mengatakan, seminar pasar modal kali ini diselenggarakan guna memberikan edukasi terhadap generasi milenial agar tidak tertinggal dengan perkembangan zaman mengenai maraknya investasi. 

“Pemerintah juga menggalakkan kepada generasi  milenial untuk berinvestasi, sehingga penting bagi mahasiswa untuk turut berperan,” kata Hilmi. 

Sementara itu, Narasumber Trainer Indonesia Stock Exchange (IDX) Semarang, Ahmad Nuranyanto, menyampaikan, mengenai investasi dan cara memilih saham, termasuk kriteria saham syariah dan saham reguler. “Hal ini dimaksudkan agar dalam memilih saham dapat terhindar dari spekulasi atau judi yang tidak dibenarkan dalam syariat islam,” jelasnya. 

Ia juga berharap, seminar kali ini dapat menambah minat mahasiswa dalam berinvestasi. “Saya berharap acara seminar pasar modal ini tidak hanya sekadar teori, tapi mahasiswa juga dapat mengaplikasikanya di masa yang akan datang,” harap Nuranyanto.

Trainer Phintraco Sekuritas(Phintas) Nico Pracahya SST, mengapresiasi antusias  mahasiswa dalam memperhatikan materi yang disampaikan narasumber. Ia menilai bahwa seminar ini masih belum cukup dan perlu di lanjutkan untuk level berikutnya.

“Kiranya beberapa istilah yang saya sampaikan masih terdengar asing untuk mereka dan itu perlu untuk ditindak lanjuti lebih dalam dengan mengikuti seminar pasar modal syariah level II,” tandasnya .(Sulaiman/Um)

PARIST.ID - Pertunjukan teater bertajuk 'Rananggana' akan dipentaskan oleh Komunitas Seni Samar. Pertunjukan teater ini akan dilaksankan di Auditorium Universitas Muria Kudus, pada Jum'at (13/03/2020).

Rananggana berkisah tentang kemarahan danyang pepundi tanah muria yang kehilangan keseimbangan alamnya. Peradaban yang kian pesat, menjadikan kian rusaknya bumi, dengan menampilkan berbagai bencana. Pemanasan global, perubahan iklim, rusaknya lapisan ozon, kemarau berkepanjangan, tanah longsor menjadi wajah baru dunia masa kini. Berbagai problem ini, membangkitkan kemarahan danyang pepundi muria yang disebut Rananggana. 

Pertunjukan teater Rananggana ini akan dipentaskan pada pukul 20.00 - 21.00 WIB. Teater dengan judul Rananggana ini merupakan karya Leo Kataris dengan di sutradarai oleh Ramuna Putri Widyastuti.

Komunitas Seni Samar sendiri telah berdiri sejak 1 maret 1998 yang beranggotakan berbagai macam latar belakang. Dalam proses kreatifnya, Komunitas Seni Samar banyak menggunakan karya-karya sendiri namun sering juga menggunakan beberapa karya dari penulis lakon terkenal. (Red)

KAMPUS, Parist.Id -Puluhan Anggota Marga  Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus ikuti  Pra-PJTD sebagai bekal awal anggota marga sebelum mengikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD).  Acara berlangsung di Gedung J5 Kampus Timur IAIN Kudus, Sabtu-Minggu(29-01/03). 

M Nur Ulyanudin, Pimpinan Umum LPM Paradigma, mengatakan, Pra-PJTD bertujuan untuk memperkenalkan LPM Paradigma kepada anggota Marga dan mengajarkan dasar-dasar materi PJTD.

"Mengajarkan dasar materi PJTD agar peserta tidak terlalu kaku pada saat PJTD nantinya,"katanya.

Senada dengan Ulyan, Ketua Panitia, Nonik Nurhanifah, menjelaskan, Pra-PJTD ini sifatnya wajib sebagai bekal dasar ketika mengikuti PJTD nanti. 

"Anggota marga wajib mengikuti pra PJTD, agar nanti ketika PJTD mereka tidak kesulitan dalam mengikuti materi," jelasnya

Selain itu, lanjut nonik, terdapat tiga materi yang disampaikan dalam PJTD kali ini. 

"Materi manajemen redaksi, materi keparadigmaan, materi layout dan fotografi," ujarnya.

Peserta PJTD, Kholilur Rohman, mengaku senang mengikuti pra PJTD, menurutnya materi layout lebih menarik meskipun agak kesulitan.

"Senang bisa mengikuti acara ini, apalagi materi layout langsung praktik, agak kesulitan memang karena masih awal," tandasnya.(Hasyim)



Ini sesungguhnya dongeng gila. Tak seharusnya didengar apalagi diperbincangkan sebelum tidur. Tentang perawan yang digilai seluruh bujang desa Swastamita. Ia memiliki segalanya. Separuh harta milik Fir’aun kira-kira ia kuasai. Lekukan tubuhnya pun bagai seni terindah di dunia. Ah ia menjelma ratu bagi penduduk Swastamita. Baiklah, semua bermula sebelum ada bulan kedua. Tidak perlu repot-repot menyiapkan akal. Bersilalah bersamaku sambil mereguk kopi dan dengarkan kepahitannya.

*

“Mangata, umur Abah tidaklah lama. Bila Abah sudah tiada, kau lekaslah menikah,” suara serak Djarko mengudara bersama kepulan asap rokoknya.
Paru-parunya sudah hampir meledak namun ia tetap hobi mengisap rokok. Sebenarnya ia tidak enak bila menghanguskan harta perawannya secara perlahan. Djarko tahu, tidak ada penjual rokok gratis.
Mangata tidak mengubris. Ia terlalu sibuk dengan lembaran uang dan kepingan emas. Hingga akhirnya Djarko memilih diam. Laki-laki tua itu hanya tak sudi bila terlalu banyak bujang mencuri pandang keelokan putrinya.
Namun tenang saja, kau tidak usah khawatir. Kau akan tahu sifatnya saat ada kerumunan yang datang ke rumah membawa baki-baki kecil semacam lamaran. Satu laki-laki penting yang hendak menanyakan perawan milik Djarko. Belum sampai laki-laki itu duduk di sofa empuk milik Mangata, ia dihujani usiran siempunya rumah. Alhasil, laki-laki itu mau tidak mau mengurungkan niat melamar perawan Djarko. Padahal, ia ­­adalah seorang sarjana anak kepala desa sebelah.
Bukan hanya satu bujang saja, dua, lima bahkan belasan yang Mangata tolak. Alasannya sederhana, ia tidak ingin menikah dan tidak ingin ada yang menganggu hartanya.
Pernah, saat malam hari ada pengemis menghampiri ke rumah—mewah bak istana di tengah desa—perawan itu untuk meminta segenggam beras. Namun kelihatannya pengemis lari terbirit-birit dari rumah istana yang ternyata baginya seperti neraka. Benar saja,ia pulang dengan segenggam cibiran dan olokan Mangata. Bajunya jelek, kata Mangata.
Sebelum malam menggurita, pengemis itu mati kelaparan. Badannya kering kerontang tinggal kulit dan tulang, seluruh nafasnya menghilang.  Sayangnya, aku lupa mengingatkan Mangata untuk berbaik hati pada sesama manusia—pada pengemis itu. Sebagai Abah, Djarko hanya bisa mengelus dada melihat bidadari cantiknya bersikap iblis.
“Apa? Sudah takdirnya dia mati, itu bukan urusanku,” ujar Mangata saat dimintai sumbangan kematian si pengemis.
Bibir mawarnya berucap ketus dan mengiris hati seseorang. Namun siapa yang tak ingin merasakan kesegaran bibir Mangata? Bagaimanapun watak perawan kaya ini, para bujang tak lelah berjuang mendapatkan hatinya.

*

Percayakah bahwa suatu musim panas di Swastamita, perawan yang aduhai itu jatuh cinta pada satu bujang? Ia datang dari tanah Abang, kemudian merasuki jiwa Mangata. Matanya yang teduh berlabuh di hati perawan pujaan para bujang. Mangata setengah gila—ulah bujang itu yang tak henti berlarian dalam fikirannya. Padahal ia hanya memakai baju koko dan bersarung layaknya seorang santri. Namun bukan itu yang Mangata kagumi.
“Semestapun mencatat bahwa akhirnya aku jatuh cinta,” bisik Mangata mengusap wajah abahnya yang kini hanya ada dalam pigura. Ia menangis kali pertama setelah bumi menelan Djarko. Air matanya berguguran mengingat begini.
Beberapa orang memasuki pagar besi yang menjulang tinggi. Depan tembok putih dengan arsitektur mirip belanda nampak didesaki oleh tratak hijau kampungan. Bendera kuning berkibar syahdu di ujung pagar dekat pohon rambutan milik Djarko. Siapa lagi yang meninggal di rumah itu kalau Mangata masih hidup? Beberapa saat setelah proses pemakaman mayat Djarko, seseorang mendekati Mangata.
“Dik Ata, bersabarlah. Barangkali harta berharga dik Ata telah kembali pada Tuhan,” tutur  seorang laki-laki yang membuat hati Mangata meleleh.
Dari puluhan bujang yang ingin merasakan hangat tubuhnya, hanya laki-laki itulah yang hampir dipeluknya. Namun diluar dugaan, ia justru melangkah mundur dan membagi jarak dengan Mangata. Sebenarnya, Ghaftra pun tau perihal keindahan dan kekayaan Mangata. Hanya saja ia lebih menghormati seorang perempuan bagaimanapun wataknya. Kau tahu? Mangata terkejut kala mendapati bujang yang menolak kesempatan emas yang jarang ia berikan. Mangata merasa malu pada rupa hitam manis itu. Namun sepertinya ada benih yang tiba-tiba tumbuh di hati. Semenjak itu, Mangata jarang keluar dari daun pintu mahalnya.
Kata tetangga sekitar, Mangata terlalu larut dalam kesedihan kematian Abahnya jadi ia mengurung diri. Kabar angin juga sempat terdengar bahwa Mangata ingin bunuh diri karena sudah tidak memiliki kerabat yang mau tinggal bersamanya. Atau perawan itu diam-diam menikah siri dengan hartanya? Ah, setahuku Mangata sering berteriak saat langit berwarna hitam pekat. Begini ceritanya.
“Ah!! Siapa kamu? Berhenti meleceti tubuh indahku!!” teriak Mangata mencoba melepaskan tubuhnya dari lilitan seekor ular raksasa. Kepalanya seperti cobra, gigitannya seperti phyton dan bisanya mematikan—namun Mangata tidak mati setiap tetesan bisa menyentuh dagingnya, hanya merasa kesakitan yang luar biasa.
“Lepaskan!! Tubuh indahku bisa lecet semua gara-gara lilitanmu!”
“Katanya engkau menyayangiku, Mangata cantik? Mengapa sekarang kau menyuruhku untuk melepasmu?”
“Tidak ada yang bilang aku menyayangi ular jelek sepertimu! Argkh!!” teriak Mangata kesakitan.
“Kau salah, Mangata. Aku adalah emas yang tiap malam kau ajak tidur sebelum pengemis itu mati. Aku juga adalah rumah istanamu yang orang-orang tidak boleh menyentuhku. Terkadang aku menjadi Abahmu, namun kau tidak menyadarinya. Ya, aku hartamu,” desis si ular tepat di telinga Mangata. Lilitannya semakin erat. Dada Mangata menyesak.
“Abah..”
Ada keresahan di hati nurani si perawan pelit. Mendadak ia kacau balau bagai badai topan. Hingga sudut matanya menitikkan darah. Dalam sekejap, ular raksasa itu tenggelam bersama air mata Mangata yang bewarna merah. Mangata berjalan terseok-seok diatas lantai darah buatannya.
Benarkan? Ini hanya dongeng gila. Pasalnya ini adalah mimpi buruk Mangata kali kedua yang tidak seharusnya kuceritakan. Pamali. Bisa saja lain waktu ular itu datang ke dalam mimpimu kemudian melilitmu!

*

“Kang Ghaftra? Ada apa pagi-pagi menyuruhku datang ke sini?”tanya Mangata memperhatikan raut wajah laki-laki yang tampak bijaksana itu.
Ghaftra diam, ia membiarkan Mangata menikmati kupu-kupu yang terbang di hadapan mereka. Bebunga mekar. Kamboja masih berwarna putih kekuningan, mawar semerah bibir Mangata, melati masih seputih hati Ghaftra dan embun bening tak bewarna. Ada pohon rindang yang tumbuh di hati mereka.
Mangata sudah lama sekali tidak di taman karena tak memiliki teman. Pun malas digoda para bujang. Alhasil, ia bekerja hanya di kamar  yang melahirkan berjibun uang.
“Hanya ingin melihat bunga denganmu saja. Apa kau keberatan?” tanya Ghaftra
“Tidak,”
“Aku sudah membaca artikelmu minggu ini. Jangan bersedih, kematian itu tidak bisa dialarm,”
“Yang kubutuhkan adalah pengunjung websiteku. Bukan menceramahi tulisanku,” jawab Mangata ketus, menyembunyikan perasaan aslinya.
“Bila aku ingin melamarmu, apa kau keberatan?” tanya Ghaftra membuat perawan itu kaget setengah mati.
Alasannya, Ghaftra ingin mengubah sifat buruk Mangata dalam pernikahannya kelak. Namun saat ini, ada yang benar-benar berlabuh—mata Ghaftra—di mata Mangata selepas ia berhenti memperhatikan kupu-kupu merah Swastamita. Dengan cepat, Ghaftra menurunkan bola matanya. Ia takut terhipnotis dengan rupa bidadari milik Mangata. Sementara perawan yang digilai para bujang itu baru pertama kali merasakan degup jantung yang berantakan dan hati yang berdesir. Mungkin saja, dalam perut Mangata dan Ghaftra seperti taman yang dikerumuni kupu-kupu—konon itu menandakan seorang jatuh cinta.

*

Kau masih ingat yang kuceritakan padamu perihal dengki Mangata dan mimpi anehnya? Baiklah, seharusnya ini tak kuungkap lagi. Namun sungguh perawan itu merasakan sakit yang luar biasa. Berulang kali kulit punggungnya terbakar lalu terkelupas secara merata. Meleleh meneteskan nanah dan darah lalu kembali lagi menjadi tulang dan daging. Ada yang menggilasnya. Sebuah setrika dari neraka yang besarnya dua kali dari punggung Mangata. Perawan kaya—yang membuat para bujang ngiler dengan keelokan tubuhnya—mengaduh kesakitan. Ia menjerit di malam yang hitam pekat. Tetangga mengira Mangata berpenyakit jiwa. Padahal ia sedang mimpi buruk, benar-benar buruk.
“Abah.. maafkan putrimu,” kata perawan itu sembari menghujankan air mata.

*

“Aku tidak bisa tidur,” isak seseorang pukul 00.00.
Wanita berpiyama wolfis itu menekuk lutut di mulut jendela. Nada suaranya parau, seperti cericip kelelawar yang masih bertebaran di langit. Biasanya ia menimbang emas bila kantuk belum juga datang atau memuntahkan tulisan semalaman yang berujung pada uang. Namun tidak untuk malam ini. Sudah ada nafas lain di kamarnya.
“Bulan, bisakah aku menjadi bagianmu? Aku ingin mencari Mak di sana. Dulu waktu aku umur lima tahun, Abah sering cerita kalau Mak ada di bulan. Abah menyuruhku tidak usah bersedih dan meraih cita-cita agar suatu saat bila Ata sudah sukses, Mak senang.” rintihnya memandang bulan sembari menenggelamkan wajah diantara kedua lutut.
“Sekarang Ata sudah sukses, Mak! Kekayaan ini untuk Mak! Hahaha,”
Tawa bercampur tangis bergemuruh riuh. Kamarnya yang sunyi, membadai kencang. Mengobrak-abrikan seorang nahkoda yang sedang tidur di kasur beledu milik wanita tadi.
“Dik Ata, hentikan!!” seru Ghaftra—pria yang menahkodai rumah tangga Mangata sejak minggu lalu.
Pria itu meraih tangan Mangata yang berkecamuk melayangkan vas-vas bunga. Pohon-pohon rindang di hati Ghaftra mulai meneduhkan jiwa kekasihnya. Tubuh kekar itu menghangatkan segala yang dingin—termasuk Mangata. Sekarang kau tahu, perawan yang digilai para bujang itu sudah menjadi milik seseorang. Mungkin aku tidak akan bercerita kisah terlarang lagi. Namun parahnya, tetangga mengira bahwa teriakan tadi itu sebab dari pertengkaran rumah tangganya. Padahal Mangata sedang sakit jiwa. Sebaiknya, kutuntaskan dongeng gila ini.

*

Suatu siang, Djarko duduk sembari menyanyikan lagam jawa dengan suara serak yang mengudara bersama kepulan asap rokoknya. Mukanya sedikit pucat pasi seperti sedang sakit berhati-hari. Rencananya ia akan mengajak perawannya jalan-jalan.
“Abah memang sudah lama sekali tidak mengajakku keluar rumah, sampai mobil sepuluh milyar yang kuberi itu tak ada gunanya!” kata Mangata sambil tertawa.
Djarko tersenyum lembut kemudian menggerak-gerakkan tangannya sebagai isyarat untuk jalan kaki saja. Mangata mengangguk faham dan tertawa lagi dengan tingkah Abahnya yang seperti pantomim. Sebelum menikah, Mangata tak pernah tertawa lepas seperti ini. Mangata lupa meminta izin kepada suaminya sebelum keluar rumah. Namun sepertinya Ghaftra sudah tahu bila Mangata hendak jalan-jalan di sekitar desa.
Hingga adzan maghrib, Mangata belum kembali di rumah istananya. Ghaftra berkeringat dingin, takut terjadi sesuatu pada kekasihnya yang aduhai sempurna. Ia mencari ke seluruh rumah di Swastamita. Alhasil, ada seorang yang mengatakan wanita—yang dicari Ghaftra, Mangata—menuju pesisir laut Swastamita. Sontak laki-laki hitam manis itu bergegas ke pesisir laut. Sementara warga membantu mencari Mangata. Mereka memukul-mukul kentongan, sedang para wanita memukul panci agar menimbulkan suara yang berisik.
Konon, seseorang yang belum kembali ke rumah sampai maghrib tanpa kejelasan maka ia diculik oleh makhluk ghaib. Maka mereka akan membuat bunyi yang gaduh agar para dedemit mengembalikan korbannya. Perlu kau ketahui juga, perihal mitos ini disebarkan oleh tetangga dekat Mangata. Padahal, perawan desa itu sedang berjalan menuju bulan.
“Mangata!! Dimana kamu?” teriak Ghaftra pada gerombolan air laut.
Langit alam berubah menjadi warna merah. Spektrum warna yang ciamik itu disebut sebagai senja oleh warga Swastamita. Padahal, waktu ini menghampiri frekuensi jin dan para iblis. Mereka amat bertenaga karena mereka resonan dengan alam. Di saat ini, suami Mangata seharusnya menyembah Tuhan dan meminta kebaikan untuk keluarga kecilnya.
Namun Ghaftra masih saja linglung di serambi laut. Pria hitam manis itu hampir tak percaya dengan omongan wanita yang melihat  Mangata menyusuri pesisir laut Swastamita. Hingga ia lari terbirit-birit meneriakan nama Mangata, seolah telah ditemukan. Sekelebat bayang muncul di laut serupa cahaya. Lebih terang dan lebih oval dari bulan. Ghaftra merekam panorama indah itu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Aku akan mengatakan bahwa banyak fatamorgana yang terjadi pada waktu ini. Alhasil, menyulitkan pandangan mata Ghaftra dan warga setempat ketika melihat sosok Mangata yang cantik, terlihat seperti jalan di atas lautan. Cahayanya berpendar seirama lekukan tubuhnya. Cahaya itu membisiki telinga Ghaftra.
“Aku indah seperti bulan. Maka, aku ingin menjadi bulan. Bila bulan telah menjadi bulan, maka biarlah aku menjadi bulan yang kedua. Bulan adalah tempat tinggal Mak, Abah, dan pengemis yang tak kuberi beras. Bila suatu hari nanti Kang Ghaftra mencariku, lihatlah ke laut Swastamita pada malam sebelum hitam pekat. Ada pantulan cahaya bulan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Itulah aku.. Mangata,”

*

Hingga sekarang, Mangata masih digilai para bujang untuk merayu gebetan. Sudah kubilang, ini hanya dongeng gila yang tak seharusnya menjadi pengantar tidur. Tapi tidak salah bila kau ingin mencari tahu tentang Mangata yang sebenarnya. Dalam dongeng ini hanya fatamorgana. Sekarang kau boleh terlelap dengan tertawa atau menangis sendirian, karena akulah Djarko.

***


 Shoma Noer Firda Inayah,  
Mahasiswi di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam.

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.