Oleh: Janifatur Rohmah Mustika Yanti*


Ilustrasi: http://tribunnews.com
Seonggok songkok beragam corak
Kuborong, lalu kutenteng di muka Bapak
Berharap salah satu kan tersemat di puncak kepalanya
Tika hari raya tiba
Siapa yang tak ingin mencecap harsa?
Pun menyaksikan senyum nan mengulum
Pada wajah yang usianya menjelang senja,
Sang pemilik punggung tangan yang tak pernah jemu kucium
Impian sederhana itu, kini tak lebih sebatas akara
Sebab raga terbentang aksa
Menuju tempat pulang pun tak kuasa
Tinggalah nestapa hinggapi atma

Badai corona membubarkan cita-cita hari rayaku
Pupuslah sudah angan-angan menuju tanah asal
Harapan tuk menimpakan songkok di atas insan terkasih jua gagal
Kendati keluarga menanti, mustilah kurelakan bersama selimut sendu

*Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris Semester 4

Oleh: Anisa Rahmawati*

Ramadhan adalah bulan yang istimewa, diantara keistimewaan bulan Ramadhan adalah dilipat gandakan amal ibadah kita oleh Allah. Banyak umat Islam yang berbondong-bondong melaksanakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Mulai dari shalat tarawih berjamaah, puasa ramadhan, shadaqah, tadarus Alquran dan berbagai macam ibadah lainnya. 

Namun, berbeda dengan ramadhan  kali ini yang tiba di masa pandemi masih berlangsung. Pelaksanaan ibadah bulan ramadhan yang terkait dengan kerumunan banyak orang memiliki peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. 

Salah satu kebijakan pemerintah yakni tidak diperbolehkannya shalat berjamaah di masjid maupun mushala, baik itu sholat fardhu maupun tarawih. Selain itu, masyarakat juga dilarang melakukan pertemuan yang mengakibatkan adanya perkumpulan massa. Sehingga acara keagamaan seperti pengajian, tausiyah, maupun tadarus di masjid terpaksa ditiadakan untuk sementara.

Masa pandemi ini memang menangkal hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Penetapan aturan pemerintah mengenai ritual keagamaan bulan ramadan mengakibatkan munculnya budaya baru. Meskipun begitu, masyarakat tetap menjalankan ibadah rutin bulan ramadhan meski via online. Salah satunya yakni khataman online. Khataman online muncul sebagai tradisi keagamaan baru di masa pandemi ini. Tidak hanya dilakukan oleh masyarakat umum, beberapa komunitas atau organisasi pun turut melaksanakan khataman online.

Begini Perspektif Fikih

Pelaksanaan khataman yang dilakukan secara online seringkali memanfaat media grup WhatsApp atau Telegram dengan membagi 30 juz terhadap 30 orang dengan masing-masing orang membaca 1 juz. Setelah khatam, salah satu anggota ada yang berdoa, baik secara live streaming atau voice note. 

Dalam tinjauan fikih, praktik demikian dikenal dengan istilah Idaroh (membaca Alquran bersama dengan cara membagi bacaan untuk dibaca sendiri-sendiri). Imam an-Nawawi menjelaskan:

فَصْلٌ فِي الْاِدَارَةِ بِالقُرْآنِ وَهُوَ أَنْ يَجْتَمِعَ جَمَاعَةٌ يَقْرَأُ بَعْضُهُم عَشرا أو جُزٰءًا أَو غَيْرَ ذَلِكَ ثُمَّ يَسْكُتُ وَيَقرَأُ الْآخَرُ مِنْ حَيْثُ انْتَهَى الأوَّلُ ثُمَّ يَقْرَأ الآخَرُ وَهَذَا جَائِزٌ حَسَن 

“Pasal menjelaskan praktek Idaroh Alquran yaitu perkumpulan sebuah golongan yang mana sebagian dari mereka membaca sepuluh juz, satu juz, atau selainnya kemudian yang lain membaca kelanjutan dari bacaan sebagian yang lain. Hal ini diperbolehkan bahkan termasuk kebaikan.” (At-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an, hlm. 103)

Syekh Khatib as-Syirbini juga menegaskan:

وَلَا بَأْسَ بِالْإِدَارَةِ لِلْقِرَاءَةِ بِأَنْ يَقْرَأَ بَعْضُ الْجَمَاعَةِ قِطْعَةً، ثُمَّ الْبَعْضُ قِطْعَةً بَعْدَهَا
“Tidak ada masalah dengan praktek Idaroh Alquran yaitu sebagian kelompok membaca bacaan Alquran tertentu kemudian sebagian yang lain membaca bacaan yang lain setelahnya.” (Mughni al-Muhtaj, VI/348)

Bahkan Imam ash-Shan’ani mengutarakan:

وَيَصْدقُ عَلَى جَمَاعَةٍ كُلٌّ يَتْلُو لِنَفْسِهِ عَلَى الٰاِسْتِقْلَالِ
“Dan (termasuk mudarosah) ialah sekelompok orang yang membaca Alquran sendiri-sendiri secara mandiri.” (At-Tahbir li Idhah Ma’ani at-Taysis, VI/554)

Berdasar pada keterangan tersebut, praktik khataman Alquran online melalui grup media sosial dapat dibenarkan karena tergolong Idaroh Alquran yang bernilai pahala. Yang tentunya dalam praktik Idaroh tidak memerlukan perkumpulan dalam tempat tertentu serta tidak memerlukan proses saling menyimak sebagaimana dalam tadarus. [] waAllahu a’lam.

Referensi : Ngaji Rutin Jumat oleh Kyai Aniq Abdullah, Piji Dawe Kudus

*Mahasiswa Pendidikan Agama Islam semester 6



KUDUS, PARIST.ID - Pesantren Al Mawaddah menggelar Seminar Nasional Online berjudul “Menulis Buku Semudah Chatting” dengan narasumber Amir Faisal, penulis 13 best seller buku Kompas Gramedia. 

Seminar yang diselenggarakan selama dua hari yaitu pada tanggal 14-15 Mei 2020. Telah mencatat rekor baru Leprid, dengan jumlah peserta terbanyak. Penghargaan tersebut diserahkan di Pesantren Entrepreneur Al-Mawaddah, Honggosoco, Jekulo, Kudus. Minggu, (17/05/2020)

Seminar tersebut dilaksanakan secara live streaming di Youtube dan 31 grub Whatsapp dan diikuti dengan jumlah peserta sebanyak 7.777 yang berasal dari 27 provinsi di Indonesia.

Dilansir dari Muria News, penghargaan tersebut tercatat dalam Rekor Indonesia Dunia dengan nomor prestasi 582. Adapun penghargaan tersebut ditujukan kepada Sofiyan Hadi, selaku pemrakarsa dan pembicara seminar. Dan juga kepada Mawaddah Center for Training and Coaching sebagai penyelenggaranya.

Dilansir dari Sindonews.com, Sofiyan mengungkapkan alasan dengan digelarnya seminar dengan judul menulis buku semudah chatting  tersebut  agar dapat diterima semua orang, baik dari kalangan anak-anak  sampai dengan orang dewasa.

"Karena sampai hari ini dari anak TK hingga embah-embah pegang HP dan bermain WA untuk sekedar update status," ujarnya.

Pada seminar tersebut, Sofiyan menyampaikan tentang etika menulis yakni hati-hati bertutur kata bisa jatuh pada dusta, fitnah, bohong hinga hoaks. Begitu juga pada tulisan bahkan taruhlah kita tidak ngetik sendiri dan sekadar share.

"Kita bertanggung jawab atas hal itu karena bisa berurusan dengan UU ITE bahkan akhirat," imbuhnya. (Fiski)

Ilustrasi: http://flickr.com
Oleh: Ilham Wiji Pradana*

Lamunan di batas senja ini, 
Terhenti sebab hati sepi, 
Hamparan permadani tersohor di pematang sawah,
Kupandangi sudut-sudutnya yang membuat bungah
Nampak wanita paruh baya sedang sibuk menjamu rayu riang tanaman,
Lalu suaranya menyusup ke gendang telingaku
 _“cah mbarek jam pinten niki?”_ 

Terhentak kaget
Sejenak kuterdiam tanpa jawaban
Lamunan dan pertanyaan kupendam 
Ia pun pergi tanpa suara lagi

Batas senja ku melayangkan raga
Apa yang kurasa ?
Apa iya sebab hati sepi tanpa cinta?

Dibatas senja
Aku terdiam
Berandai jika awan menerbangkan rayu canduku
Atas perempuan kala itu
Ahh 
Aku berkhayal tanpa logika
Ia seorang putri
Dan aku hanya petani puisi


*Pegiat Aksara dan Mahasiswa BKPI IAIN kudus


KUDUS, PARIST.ID- Dalam rangka mengantisipasi penyebaran covid-19 di bulan Ramadan, tim Yayasan NU Nurussalam Besito mengadakan kegiatan pembagian 1000 masker dan 600 takjil pada (16/05/2020). Aksi pembagian masker tersebut ditujukan kepada masyarakat yang melintasi jalan raya Besito nomor 7A, tepatnya di depan gerbang masuk madrasah NU Nurussalam dari pukul 16.00 hingga 17.00 WIB.

Penanggungjawab pelaksana sekaligus Kepala MTs NU Nurussalam, Julal Umam, mengatakan, kegiatan ini dilakukan untuk membantu pemerintah dalam mencegah penyebaran virus korona yakni dengan pembagian masker dan takjil.

“Kami bersama masyarakat, semangat untuk melawan virus korona," tandasnya.

Sementara itu, Kepala MA NU Nurussalam , Ridlwan, mengungkapkan, aturan PSBB membuat siklus ekonomi terhambat. Meskipun begitu, banyak kegiatan bermanfaat yang masih bisa dilakukan contohnya dengan pembagian masker dan takjil ini.

“Momen kegiatan ini juga bagus sekali, karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan,” ungkapnya.

Babinkamtibnas Desa Besito, Airda Agus Susanto, yang bertugas untuk mengawal acara tersebut, sangat mendukung dengan kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan NU Nurussalam, ia berpesan dan berharap kepada madrasah bahwa agenda seperti ini harus dilaksanakan setiap tahun.

“Kegiatan ini sangat bagus, Nurussalam memang hebat," katanya.

Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama dewan Guru MTS-MA dan segenap OSIS MTS-MA untuk menumbuhkan rasa keagaaman, serta menerapkan jiwa peka sosial terhadap masyarakat.

Selain bagi-bagi masker dan takjil sekaligus  pemberian pamflet pendaftaran siswa baru Nurussalam yang dibuka pada gelombang 1, 6 Mei  sampai 20 Juni, dan gelombang 2, 30 sampai 13 Juli 2020.

 *(Ren)*


KAMPUS-PARIST.ID, Sebanyak 923 mahasiswa Indonesia antusias mengikuti seminar beasiswa yang diselenggarakan HIMATIKA (HMPS Tadris Matematika) IAIN Kudus. Mengangkat tema Follow Your Passion, Build Your Creation with International Scholarship Education. seminar berlangsung pada Sabtu, (16/05/2020) via live streaming YouTube.

Hadir sebagai Kepala Program Studi (Ka. Prodi) Tadris Matematika IAIN Kudus, Arghob Khofya Haqiqi, dalam sambutannya menyampaikan harapannya dengan seminar online ini akan menumbuhkan minat dan semangat mahasiswa untuk mencari dan menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang beasiswa untuk melanjutkan kuliah di dalam maupun luar negeri.
"Melalui seminar online ini diharapkan mampu memberikan informasi kepada seluruh mahasiswa atau calon mahasiswa mengenai beasiswa," harap.

Selain itu, ia menambahkan, dapat menginspirasi atau memotivasi para mahasiswa agar terus bersemangat meraih impiannya untuk dapat kuliah di luar negeri melalui jalur beasiswa.

 Narasumber utama seminar, Muzakki Bashori, mengaku, ia dapat meneruskan pendidikan S2 dan S3 di Belanda menggunakan jalur beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).

 Misi dan program strategis yang dilakukan oleh lembaga ini antara lain; beasiswa, pengembangan dana, dan riset. Adapun syarat pendaftaran program reguler dapat dicek di website resmi LPDP, www.lpdp.kemenkeu.go.id. karena selalu ada informasi terbaru.

"Dari tahun ke tahun beasiswa ini banyak mengalami perubahan, terutama terkait jenis. Jadi harus selalu keep up informasinya agar tidak tertinggal," jelasnya.

Adapun, lanjut Muzakki, komponen biaya yang diberikan oleh LPDP ini meliputi biaya persiapan studi yang mencakup biaya hidup bulanan, biaya transportasi keberangkatan dan kepulangan ke provinsi asal.

"Dan juga biaya pendaftaran, biaya SPP, biaya untuk buku, tesis, atau disertasi, seminar, publikasi, dan jurnal internasional," tambahnya.

 Ada juga biaya pendukung yang meliputi biaya transportasi keberangkatan dan kepulangan studi dari domisili asal ke perguruan tinggi tujuan, biaya visa dan paspor, biaya kedatangan, biaya hidup bulanan, tunjangan keluarga (untuk program doktoral), biaya asuransi kesehatan dasar, dan biaya keadaan darurat yang disetujui LPDP.

Terakhir, Muzakki, merasa belum ada kekurangan pada beasiswa LPDP ini. Sedangkan kelebihannya LPDP merupakan beasiswa paling bagus dibandingkan yang lain, baik pendanaan, pengawalan, dan juga full scholarship. Selain itu, dalam LPDP terdapat ikatan alumni, organisasi alumni, dan lain-lain.

"Sehingga para mahasiswa atau alumni beasiswa ini masih terus terpantau," pungkasnya.
(Yan/*)


Hampir dua bulan virus korona menjadi perbincangan akibat efeknya pada tingkat penyebaran kematian di seluruh negara di dunia. Dilansir dari Liputan6.com, tercatat covid-19 telah menginfeksi 1.282.259 orang di seluruh dunia. Dari total seluruh kasus itu, 269.484 pasien sembuh, sementara 70.172 lainnya meninggal dunia.

Penanganan terhadap covid-19 ini berbeda-beda di masing-masing negara. Ada beberapa negara yang telah berhasil menangani virus korona, seperti Vietnam, Selandia, Taiwan, Korea Selatan dan Jerman.

Di Indonesia, penanganan kasus covid-19 dianggap lebih lambat dari negara lain. Pemerintah Indonesia disebut telah menyangkal penyebaran virus corona selama berminggu-minggu. Kurang dari sebulan sejak kasus positif pertama diumumkan ke publik, jumlah kasus terus melonjak drastis dengan persentase kematian mencapai 8,43 persen.

Selain itu, Indonesia belum memiliki aturan khusus terhadap kedatangan warga asing terutama dari negara terpapar corona. Pemerintah kurang memperketat pintu masuk bandara di daerah-daerah. 

Hingga kini, Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang dilansir pada Kamis sore, 30 April 2020 menunjukkan total jumlah kasus positif korona di Indonesia telah sebanyak 10.118 pasien. Jumlah pasien baru yang terkonfirmasi positif korona dalam 24 jam terakhir hingga pukul 12.00 WIB hari ini tercatat mencapai 347 orang. Dengan penambahan itu, total jumlah pasien yang sembuh dari penyakit Covid-19 saat ini sudah berjumlah 1.522 orang.

Meskipun pemerintah Indonesia sudah memberlakukan himbauan di rumah saja, setidaknya diiringi juga dengan menurungnya angka kematian akibat covid-19. Dalam hal ini Indonesia bisa meniru strategi pemerintah Jerman yang berhasil menekan angka kematian. 

Sebagaimana di beberapa negara lain di Eropa, penyebaran COVID-19 di Jerman terbilang tinggi dengan 150.00 kasus positif. Lain dari Spanyol, Italia, Prancis, dan UK yang jumlah kematiannya mencapai puluhan ribu. Dengan laju kematian (fatality rate) dalam kisaran 10-14%, Jerman sanggup menekan jumlah korban: 5.900 kematian, dengan laju 3,7%.

Menurut data Robert Koch Institut (RKI), lembaga resmi di Jerman yang mengeluarkan statistik Covid-19, tingkat kematian di Jerman berada di bawah 0,5 persen. Bandingkan dengan tingkat kematian di Italia (10 persen), Spanyol (7 persen). Angka infeksi aktual berdasarkan data RKI tanggal 27 Maret adalah 42.288 kasus, dengan angka kematian 253 kasus. Lebih 6.000 orang sudah dinyatakan sembuh.

Pasalnya, Jerman dari awal telah responsif memberlakukan lockdown wilayah. Bahkan, sejak tingkat kasus positif korona di negara itu masih tergolong rendah. Pemerintah juga maksimalkan penambahan jumlah tes, tracking, dan treatment terhadap pasien positif korona.

Tes Swab Besar-besaran
Di masa awal pandemi virus korona hingga saat ini, pemerintah pusat Jerman dan negara-negara bagiannya terus berkoordinasi untuk menambah jumlah kapasitas tes swab bagi penduduk. Jerman juga melakukan tes masif sebanyak dua juta kali atau 24.000 tes per sejuta populasi. Jumlah tes yang digelar Spanyol hanya separuhnya, dengan jumlah kematian nyaris empat kali lipat.

Sistem layanan kesehatan Jerman yang mumpuni, hal ini karena virus korona masuk ke Jerman, pemerintah pun sudah menyiapkan ancang-ancang seperti peningkatan pasokan alat-alat medis. Sejumlah industri, juga didorong untuk menambah stok kebutuhan dalam negeri agar tenaga medis tak kekurangan alat perlindungan diri atau APD.

Pada Januari, Jerman telah memiliki 28.000 tempat tidur khusus perawatan intensif yang masing-masing dilengkapi dengan ventilator atau 340 ranjang untuk setiap sejuta orang—berbeda dari Italia yang hanya memiliki 120 ranjang perawatan intensif per sejuta orang. Fasilitas kesehatan Jerman bahkan sanggup menyerap pasien dari negara-negara lain.

Kepercayaan Publik
Dari hal itu semua, Kanselir Jerman, Angela Merkel berhasil menyampaikan informasi ke publik secara transparan, jelas, dan rutin.

Pada Maret lalu, Merkel tampil di televisi untuk memaparkan tingkat keseriusan pandemi covid-19 secara tenang dan apa adanya. Ia membandingkan krisis covid-19 dengan Perang Dunia II, di mana keduanya butuh solidaritas semua orang lebih besar daripada biasanya.

Merkel menjelaskan tentang angka reproduksi (reproduction number) covid-19. Dengan angka reproduksi di Jerman yang saat itu sebesar 1 (setiap orang dapat menginfeksi satu orang lainnya), ia menjelaskan apa yang akan terjadi jika angkanya meningkat. Jika angka reproduksinya meningkat menjadi 1,1, sistem kesehatan Jerman akan kewalahan pada Oktober. Jika meningkat menjadi 1,2, rumah sakit akan mengalami krisis pada Juli, dan jika meningkat menjadi 1,3, rumah sakit akan mengalami krisis pada Juni.

Respons Merkel terhadap pandemi covid-19 telah membuatnya menerima kepercayaan publik 89% warga Jerman menganggap pemerintah telah menangani covid-19 secara baik.

Merkel mengakui pemerintah tidak dapat bergerak sendiri dan tak boleh berlagak serbatahu. Ia bersandar pada lembaga penelitian dan jaringan universitas negeri untuk menangani krisis. The Berlin Institute of Health, sebuah lembaga penelitian biomedis, bekerja sama dengan pemerintah dan institusi-institusi penelitian lain di Jerman untuk memimpin penelitian virus korona. Pemerintah Jerman pun menghimpun departemen medis di semua universitas ke dalam satuan tugas penanganan virus korona. Informasi yang disampaikan Merkel ke publik terkait covid-19 pun bersandar pada ahli virologi Christian Drosten.

Tinjau Perekonomian
Dalam perkara sosial dan ekonomi, pemerintah Jerman mencegah kedatangan gelombang pengangguran dengan memastikan perusahaan tak mencampakkan para pekerja. 67% upah pekerja dibayarkan oleh negara lewat perusahaan. Para pekerja pun berhak untuk kembali ke pekerjaan mereka seperti semula dengan besaran upah yang sama ketika krisis berakhir. Dana bantuan langsung tunai juga disalurkan ke masyarakat untuk mencegah orang-orang kelaparan dan kehilangan tempat tinggal.

Saat ini, jumlah kasus baru harian di Jerman kian surut. Kebijakan lockdown pun mulai dilonggarkan. Toko-toko dengan luas maksimal 800 m2 diperbolehkan untuk beroperasi kembali sejak Senin dengan tetap menjalankan social distancing secara ketat dan mempertahankan kebersihan. 
Pemerintah Jerman mengatakan aturan social distancing tetap berlaku setidaknya hingga 3 Mei mendatang. Mereka juga menargetkan akan mulai membuka sekolah pada tanggal tersebut.

Keberhasilan Jerman dalam menangani covid-19 turut menjadi acungan jempol dan patut dierapkan di Indonesia. Selain pemerintah, tenaga medis dan tenaga keamanan yang sudah berusaha keras,  perlu adanya kepercayaan dan dukungan rakyat Indonesia dalam bersama-sama menangani virus korona. Harapan besar tentu semoga pandemi wabah virus korona 
segera berakhir.



Umi Zakiatun Nafis,
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam, IAIN Kudus Semester 6.

Jakarta, PARIST.ID - Pada anggaran 2020 program Bidikmisi diperluas/ditrasformasikan menjadi program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah). Pada tahun anggaran 2020 Ditjen Pendidikan Islam mendapat alokasi 17.565 mahasiswa 3000 diantaranya diberikan ke PTKIS.

Hal tersebut disampaikan Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan, Ruchman Basori, saat rapat koordinasi dengan Koordinatorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) I-XV melalui daring pada Kamis (14/05).

“Pada bulan Mei-Juni ini kita akan merekrut Perguruan Tinggi Penyelenggara (PTP) KIP Kuliah pada PTKIS untuk mengimplementasikan 3.000 mahasiswa calon penerima”, terang Ruchman.

Dalam forum tersebut, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Ditjen Pendidikan Islam, Arskal Salim GP, juga turut membahas tuntas program KIP Kuliah, menurutnya, Program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) harus menyasar pada mahasiswa yang berasal dari Daerah 3T tertinggal, terdepan dan terluar di Indonesia, dari Sabang-Merauke.

“Baik Perguruan Tinggi Penyelenggara (PTP) dan mahasiswa sasaran harus mendapat afirmasi agar mendapatkan KIP Kuliah”, kata Arskal.

Harus diakui lanjut Arskal, di daerah Merauke misalnya masih ada PTKIS yang memiliki jumlah mahasiswa yang kurang dari 300, sementara masyarakatnya sangat membutuhkan.

“Kopertais harus memantau PTKIS yang berada pada wilayah 3T agar mendapat perlakuan khusus sebagai bentuk afirmasi," katanya.

Selain membahas pelaksanaan KIP Kuliah, pada tahun anggaran 2020 forum rapat juga membahas tunjangan sertifikasi dosen PTKIS, perkualiahan daring selama covid-19 dan berbagai dampak yang ditimbulkan kepada PTKIS.

“Saya minta walaupun pada masa pandemi covid-19 pembelajaran melalui online/daring jangan sampai mengurangi substansi dan mutu akademik,” tegas Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Terkait adanya tunjangan sertifikasi dosen PTKIS yang pada tahun 2019 dan 2020 ini belum terbayarkan, Arskal meminta kepada Wakil Koordinator dan Sekretaris Kopertais untuk melakukan pendataan yang akurat dan nanti akan dicarikan solusinya.  
“Jangan khawatir tunjangan serdos terhutang pasti akan dibayarkan karena itu menyangkut hak para dosen yang telah berjasa memajukan PTKI”, katanya.

Kegiatan rapat koordinasi Direktorat PTKI-Kopertais I-XV via daring diikuti oleh Wakor dan Sekretaris Kopertais, Kasubdit Ketenagaan Ahmad Syafi’i, Kasubdit Akademik Mamat Salamat Burhanuddin, Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama M. Adib Abdushomad, Kasudit Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan Ruchman Basori, Kasi Penelitian Mahrus El-Mawa, Amiruddin Kuba Kasi Kemahasiswaan dan Kasubbag TU Diktis Abdulloh Hanif. (rls)

KAMPUS, PARIST.ID  – Dampak adanya pandemi covid-19 yang dirasakan semua kalangan, akhirnya berujung pada pencabutan diskon UKT Mahasiswa oleh Kementrian Agama (Kemenag). Merasa dirugikan, mahasiswa mengadu kepada pimpinan dan menyampaikan aspirasinya. 

Menanggapi hal tersebut, Senat Mahasiswa (Sema) IAIN Kudus mengadakan virtual discussion   tentang polemik Kemenag terkait UKT  bagi mahasiswa PTKIN  via Zoom Meeting, Rabu (13/05). Virtual discussion ini diselenggarakan berdasar atas Kementerian Agama (Kemenag) mencabut pengeluaran surat edaran pemotogan UKT 10 persen bagi mahasiswa PTKIN. 

Pemateri pertama, Aghisna Bidikrikal, selaku Korpus SEMA PTKIN se-Indonesia, menjelaskan,  pencabutan diskon ukt 10 persen dilakukan karena Kemenag terkena dampak potongan anggaran oleh negara dan dibebankan pada lembaga dibawahnya. 

Menurutnya, surat kementerian keuangan dana yang dipotong negara adalah dana perjalanan dinas, honorarium, kegiatan yang bisa ditunda sampai tahun depan.  Pemotongan terjadi didana penunjang birokrasi, dosen dan tenaga pendidik, bukan dana mahasiswa.

“Ini yang menjadi alasan kami meminta potongan UKT untuk meringankan beban ekonomi mahasiswa,” jelasnya. 

Aghisna menambahkan, hal tersebut berdasar Perpu No. 1 tahun 2020 tentang kebijakan keuangan negara dan stabilitas sistem keuangan untuk penanganan pandemi corona. Sementara itu, ketidakstabilan ekonomi keluarga mahasiswa berdampak bisa tidaknya membayar ukt untuk semester depan. Hal ini SEMA PTKIN maju untuk mengawal ditataran pusat.

“Temen-teman di kampus menyampaikan aspirasi ke pimpinan agar kita bisa bersama mengawal pengurangan UKT meski hanya 10% tapi bagi mahasiswa bermakna,” tambahnya.

Ketua SEMA IAIN Kudus 2019, Nila Hasanul M, mengajak kepada mahasiswa agar tetap memperjuangkan dan bertindak terhadap pencabutan potongan UKT oleh Kemenag ditengah pandemi ini.

“Mari kita sama-sama mengawal dan memperjuangkan UKT, karna ini hak kita dan menguntungkan segala elemen,” ucapnya. 

Pada awal pandemi, lanjut Nila, SEMA IAIN Kudus telah melayangkan surat permohonan kepada pimpinan kampus untuk memberikan penjelasan terkait kuliah bimbingan online, paket internet, pelayanan dan potongan UKT. 

“Semua fasilitas yang diberikan kampus sudah terealisasikan, kecuali potongan UKT karena ranahnya ke Kemenag,” jelas Nila.

Terakhir, ia berharap meski dengan adanya covid, kita bisa memperjuangkan pencabutan pemotongan UKT oleh Kemenag supaya hal ini bisa ditindaklanjuti. 

“Contohnya dengan membuat tagar di twitter dan kita ikut andil dalam memperjuangkan hak kita,” harapnya. (shofiana/mirna)

KUDUS, PARIST.ID – Memahami aspek internal, eksternal, fokus, dan orisinalitas merupakan empat kunci yang harus dikuasai seseorang yang ingin menjadi pemikir Islam baru pada masyarakat global yang dinamis.

Menjadi agenda rutin bulanan, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pemikiran Politik Islam (PPI), mengadakan diskusi online edisi Mei. Diskusi yang diperuntukkan khusus mahasiswa PPI kali ini mengusung tema  “Menjadi Pemikir Politik Islam Baru pada Masyarakat Global yang Dinamis”.

Dengan menghadirkan Dosen PPI, Ozi Setiadi, sebagai pemateri tunggal, diskusi yang dipandu oleh Hamam Nasirudin ini berlangsung melalui Whats App Group (WAG), Selasa (12/05).

Pada kesempatan itu, Ozi menjelaskan secara gamblang mengenai empat kunci menjadi pemikir politik islam di era global, yakni memahami aspek internal, eksternal, fokus, dan orisinalitas. Sementara, peserta diskusi terlihat antusias mengikuti jalannya diskusi yang dimulai pukul 15.30 – 17.00 WIB tersebut.

“Aspek internal terdiri dari kemampuan intelektual, kemampuan retoris, kemampuan menulis, kemampuan menonjolkan diri, serta kemampuan berpenampilan," jelasnya. 

Aspek kedua, lanjut Ozi, terdiri dari jaringan,  media, dan kapital atau modal. Sedangkan aspek ketiga dan keempat secara berturut-turut adalah fokus dan orisinalitas.

Terakhir, Setiadi berpesan seorang pemikir politik harus mempunyai komitmen dan konsistensi yang kuat dalam menjalani setiap prosesnya. Karena itu menjadi kunci kesuksesan bagi seseorang dalam mencapainya.

“Teruslah konsisten, jika kamu mau menulis ya nulis saja. Biarpun sedikit cobalah untuk tetap konsisten," pesannya. (Fatw)

KAMPUS, PARIST.ID – Metode daring masih menjadi andalan mahasiswa dalam mengisi kegiatan selama di rumah saja. Tak mau ketinggalan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus ( LDK) IAIN Kudus ikut meramaikan bulan suci Ramadan dengan mengadakan kultum bersama secara online. Kultum yang akan  diadakan mulai Rabu sore (13/05/2020) ini akan digelar melalui Whats App Group (WAG) dan Youtube channel.

Dalam flayer rilis yang diterima parist.id, kultum akan berlangsung setiap Rabu sore mulai pukul 16.00-selesai selama bulan Ramadan. Dengan pengampu salah satu dosen IAIN Kudus sendiri, yakni Bahaudin Nur Salim, kultum diikuti oleh mahasiswa IAIN Kudus yang telah mendaftar sebelumnya.

Berbeda dari tahun kemarin, kultum online ini diadakan untuk mengisi program kerja UKM LDK. Ketua Panitia, Yusuf Saeful Bahri, mengatakan, adanya kultum ini untuk mengganti agenda kegiatan pesantren kilat selama bulan Ramadan di sekolah-sekolah pada tahun sebelumnya.

”Dulunya mengajar di sekolah-sekolah, sekarang dialihkan ke kultum,” katanya melalui pesan singkat via Whatsapp.

Ia menambahkan, kultum online ini akan dijadikan sarana dan media dalam menjalankan fungsi UKM LDK sebagai lembaga dakwah kampus

"Tujuannya untuk menjalankan program kerjaa dan fungsi UKM LDK untuk berdakwah," pungkasnya. (may/hasy)

PARIST.ID - Tinta Pergerakan PMII Komisariat Sunan Kudus menggelar ngaji desain grafis. Kegiatan yang bertema "Jurnalistik Kritis, Kreatif lewat Desain Grafis" ini digelar dalam rangka memperingati Harlah Tinta Pergerakan yang ketiga.

Diikuti oleh anggota dan juga kader PMII Kudus, acara berlangsung di grup Whatsapp, Senin  (11 / 05).

Pemateri Utama, Satriani Qurrota A'yun, mengatakan, mahasiswa harus tetap produktif dalam menambah dan mengasah skillnya di masa-masa sulit seperti sekarang. Menurutnya, mahasiswa yang bergerak dalam bidang kepenulisan dituntut untuk kreatif dalam desain grafis. 

Berbicara desain grafis, lanjut Ayun, sangat penting bagi setiap jurnalis untuk menyertakan sebuah gambar atau visualisasi dari berita yang dibuat. 
"Kita harus bisa membuat gambar yang dapat menarik hati orang lain untuk membaca berita kita," jelas.

Selain itu, gambar yang dibuat harus sesuai dan dapat memvisualisasikan isi berita.

Ayun yang sekaligus Anggota Devisi Paragraph dan Parist LPM Paradigma 2020, menambahkan, seorang desain grafis harus bisa menyimpulkan keseluruhan isi berita ke dalam sebuah gambar. Oleh karena itu, sangat penting untuk bisa melihat ide-ide berita yang termuat dalam 5w+1H.

"Kita bisa menyisipkan ilustrasi, karikatur, atau tulisan yang mendukung isi berita," tandasnya.

Terakhir, ia berpesan meskipun di tengah pandemi, jangan sampai lengah dan tidak produktif dalam meraih impian.
"Kejarlah sesuai passion dan jangan takut untuk berkarya sebanyak mungkin," pesan Ayun.

Sementara itu, ketua panitia, Titin Suharni berharap setelah mengikuti ngaji jurnalistik ini, para peserta dapat mengembangkan kemampuan di bidang desain grafis
"Semoga ilmu yang mereka dapatkan ini bisa bermanfaat" tuturnya. (Hasyim)


Marsinah. Nama yang tak asing lagi terdengar di telinga para aktivis. Tepat di tanggal, 08 Mei 2020 kemarin, 27 tahun tahun yang lalu. Menjadi sejarah kelam yang mencoretkan sejarah hitam Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Pada tahun 1993, Marsinah dibunuh saat usianya 24 tahun. Ia dibunuh lalu diperkosa. Luka parah di sekujur tubuhnya menjadi saksi atas kekejaman yang dilakukan oleh orang yang tak bertanggungjawab. 

Usia yang sangat muda untuk kematian yang tak sia-sia. Kini namanya masih dikenang sebagai simbol perjuangan buruh di Indonesia. Di setiap hari-hari buruh maupun aksi kamisan yang masih disuarakan hingga sekarang, namanya kerap kali disebut dan diteriakkan. Sebuah spirit yang masih berlanjut, meski nyawa telah direbut.

Dengan keberanian dan perlawanannya,  menuntut hak-hak buruh membuatnya terjerat ke dalam masalah. Di orde yang syarat akan kekejaman dan sangat militeristik, siapapun yang menentang aturan harus berurusan dengan militer. Demokrasi seolah-olah telah dikebiri. Dan otoritarianisme gagah berdiri.

Saat itu, Marsinah tercatat sebagai Buruh di PT Catur Putera Surya (CPS) di Porong, Sidoarjo Jawa Timur. Pabrik yang beroperasi memproduksi jam tangan/arloji ini menyalahi peraturan yang telah ditetapkan . Marsinah menuntut kenaikan upah buruh yang berdasarkan surat edaran Nomor  50 Tahun 1992 yang dikeluarkan Gubernur Jawa Timur. UMR Jawa Timur yang seharusnya ditetapkan sebesar Rp.2.250 per hari dan malah waktu itu buruh hanya digaji Rp. 1.700 per hari. Melihat ketidakadilan dan merugikan bagi para buruh dan hanya menguntungkan bagi para pemilik modal. Tentunya hal ini yang membuatnya meradang dan segera ia bergerak bersama barisan buruh untuk melakukan perlawanan.

Marsinah melakukan aksi demonstrasi dan mogok kerja bersama para buruh PT CPS demi mencapai semua tuntutannya. Meskipun mendapatkan tindakan represif dari satpam perusahaan yang dibantu Kodim Sidoarjo, tak menghalangkan tekadnya untuk mencapai sebuah kepengtingan mulianya itu. Akhirnya setelah berhasil membawa perusahaan ke meja perundingan, mereka sukses memperjuangkan apa yang dicita-citakan; kenaikan upah pokok buruh.

Namun tak lama kemudian, setelah Kodim Sidoarjo menangkap 13 orang temannya pada tanggal 04 Mei 1993 karena dianggap sebagai provokator yang kemudian dipaksa mengundurkan diri dari perusahaan PT CPS, Marsinah berusaha membelanya. Karena tidak sesuai dengan perundingan kesepakatan yang sebelumnya.Meskipun dalam hal ini, ia tidak terlibat. Tapi ia berencana untuk melakukan advokasi dengan menempuh jalur hukum bagi keadilan teman-temannya.

Akan tetapi setelah itu, maut menimpanya. Pada Rabu, 05 Mei 1993 malam adalah hari perpisahan ia dan teman-temannya sesama buruh. Mayatnya baru diketemukan  pada 08 Mei 1993, tepat hari ini. Mayatnya ditemukan di hutan Dusun Jegong, Desa Wilangan, Nganjuk. Hasil visum menunjukkan sesuatu yang memprihatinkan. Kemaluannya penuh luka dan bekas diperkosa serta disiksa pedih hingga meregang nyawanya.

Sedangkan polisi memang sudah menangkap sembilan terdakwa yang kemudian dibebaskan dalam persidangan, tetapi sampai sekarang masih belum jelas siapa pembunuhnya. Namun berdasarkan laporan Amnesty Internasional yang dikutip tirto.id, Persidangan dimaksudkan untuk mengaburkan militer tanggung jawab atas pembunuhan itu, tulisnya.

Marsinah memang sudah mati, tapi spirit perjuangannya takkan pernah mati. Selagi kapitalisme dengan moncongnya yang menindas segalanya. Perjuangan buruh untuk mendapatkan hak-hak yang sepantasnya takkan surut. 

Perjuangan kolektif seperti Marsinah pasti akan tumbuh bergenerasi. Benar saja ungkapan mati satu tumbuh seribu, karena orang yang memperjuangkan itu mati akan meninggalkan jasa dan semangatnya yang abadi. Jika hari-hari ini pemerintah mencanangkan dengan membuat undang-undang yang menyengsarakan rakyat, RUU Ciptaker atau Omnibus Law, seperti apa kata Widji Tukul, Maka hanya ada satu kata: lawan!



Muhammad Fatwa Fauzian, 
Mahasiswa PPI angkatan 2018 yang gemar minum kopi.


2020 ini,  semakin banyak masyarakat Indonesia terjun sebagai content creator yang merambah di dunia Youtube. Hal ini menjadikan persaingan dunia Youtube pun semakin ketat. 

Data terbaru melaporkan pengguna bulanan layanan milik Google ini mencapai 1,8 miliar pengguna setiap bulan. Maka tidak heran banyak orang yang kini mulai merambah dunia YouTube, termasuk sejumlah publik figur. Sebab, tidak hanya media untuk mengunggah karya, platform ini juga dapat menghasilkan pemasukan bagi sang kreator

Semenjak melejitnya youtuber Atta Halilintar, Ria Ricis, Raditya Dika, Jess No Limit hingga selebritis Rafi Ahmad, Baim Paula serta youtuber Bayu Skak, membuat banyak orang termotivasi untuk melakukan hal yang sama untuk menjadi kreator konten.

Tren tontonan yang digemari penonton global dan Indonesia masih sejalan. Selain musik, konten hiburan pun didominasi oleh masyarakat Indonesia saat ini. Sayangnya, orang sering salah kaprah dan kelewat batas dalam menggunakan platform yang satu ini.

Seperti halnya Ferdian Paleka, bermaksud menggugah perhatian, Youtuber asal Bandung dan timnya itu menjadi perbincangan hangat  karena aksi pranknya yang tidak terpuji kepada transpuan di Bandung. Dia membuat prank dengan modus membagi-bagikan sembako mereka, namun sembako tersebut diisi dengan batu bata dan sampah.

Meski bermaksud sebagai hiburan semata dan menangkal adanya transpuan di bulan ramadhan, tetap saja Ferdian dan temanya yang kini telah ditangkap kepolisian dan masih menjadi bahan bully masyarakat. 

Sebenarnya itu bukanlah video prank pertama Ferdian Paleka. Sebelumnya dia sudah sering membuat video prank dan mengunggahnya di Youtube. Tidak hanya Ferdian, Youtuber lain pun senang membuat konten video prank yang ternyata banyak diminati oleh para warganet. 

Belum lama, YouTuber Indonesa bernama Hasanjr11 juga menjadi bulan-bulanan netizen akibat ulahnya. Dalam videonya, ia menawarkan pizza dan sebuah koper berisi uang tunai bernilai Rp 10 juta kepada banyak orang, mulai dari petani, tukang sapu, anak-anak dan penjaga kolam renang. Bagi mereka yang mau memakan pizza di bulan puasa itu akan diberikan uang 10 juta. Beruntung, iman mereka tak goyah meski digoda uang dan pizza si YouTuber.

Rasa Kemanusiaan yang Hilang

Aksi kedua youtuber yang menunjukkan pudarnya rasa kemanusiaan bukan sepenuhnya menjadi kesalahan mereka. Pada dasarnya, konten prank memang hampir menjadi primadona bagi masyarakat Indonesia bahkan sering diviralkan. 

Banyaknya penikmat yang menyukai video prank seakan membukakan akses pembuat konten untuk semakin semangat dalam menyajikan video prank padahal banyak pihak yang akan dirugikan. 

Dalam prank orang akan merasa ditipu dan dikerjai. Hanya membayangkan prank dan reaksi orang yang terkena prank tersebut saja sudah cukup membuat seseorang tertawa. Saat seseorang melihat reaksi terkejut dari orang lain ketika mendapatkan prank, seperti berteriak atau melompat. 

Namun kebanyakan orang akan berhenti tertawa jika prank tersebut berubah menjadi berbahaya atau malah kelewat batas seperti yang dilakukan Ferdian Paleka. Sebagian humor dari prank mungkin juga berasal dari rasa superioritas setelah membuat orang lain terlihat bodoh.

Menurut penelitian pada 2007 dalam jurnal Review of General Psychology, sebenarnya orang tidak suka ketika mendapati dirinya ditipu. Orang-orang yang ditipu biasanya akan menyalahkan dirinya sendiri dan berharap mereka bisa mengubah dan memainkan peran itu secara berbeda pada saat mereka tertipu. 

Bukan hanya pembuat konten yang keliru, masyarakat Indonesia justru lebih keliru jika hingga saat ini lebih banyak yang mengonsumsi konten-konten di platform youtube yang tidak berbobot. Masyarakat jagad maya tentu harus lebih pintar dalam memilih konten yang sesuai dan tidak dirasa merugikan orang lain.

Sejatinya sebagai masyarakat jagad maya yang cerdas, tidak perlu mencari kesalahan bahkan ikut membully apa saja yang viral, belum tentu diri kita sudah benar dalam segala hal. 


Windy Aprilya Pangastutik, 
Mahasiswa Prodi PGMI Semester 4.


PARIST.ID - Lembaga Pers Siswa (LPS) Cendekia MA Manahijul Huda (MAHIDA) Dukuh Seti adakan Diskusi Online dengan menggandeng LPM Paradigma IAIN Kudus dan SKM Amanat. Mengangkat tema “Urgensi Pers dan Jurnalistik bagi Siswa” diskusi online perdana ini diselenggarakan melalui aplikasi zoom, Sabtu (09/05/2020).

Pimpinan Redaksi LPS Cendekia MAHIDA, Vida Atiatul Izza, menilai masih banyak masyarakat era milenial yang mudah  terpapar berita hoax. Menurutnya pers dan jurnalistik sangat penting diterapkan untuk kalangangan pelajar.

"Agar kita  dapat membedakan antara berita hoax dengan berita yang valid," jelasnya.

Pemateri pertama, Pimpinan Umum LPM Paradigma, Muhammad Nur ulyanuddin mengatakan, generasi muda harus teliti dalam mengkaji berita agar tidak mudah termakan berita hoax.

"Harapan saya kepada siswa LPS Cendekia MAHIDA jadilah jiwa jurnalis yang hebat serta idealis," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Pimpinan Redaksi LPM Paradigma, Umi Zakiatun Nafis,  membenarkan urgensi pers di kalangan siswa. Menurutnya, jika melihat zaman sekarang orang mudah terpengaruh dengan berita yang belum tentu benar dan jika memang berita tersebut benar seharusnya tidak langsung terbakar api kemarahan dengan melontarkan kata-kata kasar.

Baik siswa atau mahasiswa, lanjut Umi,  harus dapat menjadi penikmat media bijak menyikapi berita.

"Lagi pula kita kan sebagai generasi penerus. Kalau bukan kita yang belajar pers mau siapa lagi," ujarnya.

Sementara itu, Pimpinan redaksi LPS Cendekia MAHIDA, Vida,  berharap setelah diskusi online ini dapat diterapkan oleh semua anggota LPS. 

"Semoga kita bisa mempraktikkan dan meningkatkan literatur di MA Manahijul Huda," harapnya.(Vina/Mirna)


Isi surat terbuka aliansi ORMAWA IAIN Kudus.
KAMPUS, PARITS.ID - Sehubungan dengan adanya aspirasi mahasiwa IAIN Kudus dan rapat koordinasi aliansi organisasi kemahasiswaaan IAIN Kudus, Senat Mahasiswa (SEMA) bersama Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) mengeluarkan surat terbuka kepada pimpinan IAIN Kudus terkait problematika perkuliahan online atau daring di tengah pandemi yang dirasa kurang efektif dan memerlukan evaluasi, Senin (04/05/20)

Berisi empat poin, surat terbuka yang dilayangkan tersebut meminta kepada pimpinan IAIN Kudus untuk mengevaluasi dan memberi kebijakan yang sesuai dengan Surat Edaran Dirjen Pendis Kemenag RI No 679/03/2020. Membela dan memperjuangkan hak mahasiswa dalam Forum Pimpinan PTKIN serta, mengawal sampai pada Kementrian Agama RI. 

Selain itu, pimpinan IAIN Kudus diminta untuk mendesak Dirjen Pendis Kemenag RI dalam forum tersebut agar mempertimbangkan kembali perihal pembatalan pemotongan UKT semester ganji tahun akademik 2020/2021 dan memberikan keringanan UKT mahasiswa di semester genap tahun akademik 2019/2020 karena tidak menerima fasilitas secara penuh.

Melalui surat terbuka yang dilayangkan oleh SEMA dan DEMA dengan harapan agar pimpinan IAIN Kudus dapat menerima dan menindak lanjuti dengan bijak. Serta, melihat kepedulian terhadap mahasiswa dan memperjuangkan hak mahasiswa kepada Kementrian Agama RI. (Olip)

QOV LPM PARADIGMA IAIN KUDUS PROUDLY PRESENT

Hallo mahasiswa IAIN Kudus!!!
Qov LPM Paradigma IAIN Kudus
mempersembahkan Sayembara Cipta Puisi dengan tema "Kenangan"

Kalian pecinta sastra berjiwa muda dan yang mengaku kaum buciners saatnya unjuk jari.
Rebahan kalian bisa lebih produktif dan berkelas daripada sekadar scroll story sampai bosan.

Timeline :
Pendaftaran : 30 April-10 Mei 2020
Pengiriman karya : 30 April-15 Mei 2020
Pengumuman pemenang : 22 Mei 2020

》Pendaftaran melalui : https://bit.ly/SayembarapuisiLPMParadigma2020
》Pengiriman naskah puisi melalui email : sastraparadigma@gmail.com
Format Pengiriman :
1. Sertakan biodata penulis
2. Format: Paradigma-Judul Puisi-Nama

Persyaratan :
1. Mahasiswa IAIN Kudus
2. Sertakan bukti dengan scan KTM
3. Penulis mengirimkan karya maks. 2 karya
4. Wajib follow IG LPM Paradigma (akun jangan diprivat)
5. Pantau web parist.id untuk update informasi peserta

Are you ready ??
Kami tunggu kontribusi kalian untuk Sayembara Puisi. It's your time!!!

CP :
Nonik : 0823-2852-7528
Zakiyya : 0896-6996-5358
Dewi : 0858-6625-5010

Jurnalis mana yang tidak tahu jika 3 Mei merupakan Hari Kebebasan Pers Sedunia atau World Press Freedom Day (WFDH). Hari ini banyak wartawan dan media yang tentu menginginkan kriminalitas jurnalis tidak lagi menjadi isu. 

Namun faktanya, kekerasan terhadap wartawan masih mengancam saat wartawan menjalankan fungsi kontrol. Kebebasan pers yang disematkan pada 3 Mei masih menjadi tanda tanya. Lantaran beragam jenis represi yang masih dialami para jurnalis.

Survei Indeks Kebebasan Pers Dunia 2020 yang dilakukan Reporters Without Borders (RSF) menempatkan Indonesia di posisi ke-119 atau meningkat dibanding pada 2019 yang berada di posisi ke-124 dari 180 negara yang disurvei. Muncul kekhawatiran kasus kekerasan terhadap jurnalis akan terus bertambah pada tahun politik seperti saat ini.

Apalagi berkaca pada kasus tiga aktivis pers mahasiswa UM Malang yang di masa pandemi seperti ini justru mendapat sikap tidak demokratis. Ketiganya Alfian, Saka Ridho dan Fitron ditangkap dan ditahan oleh Polres Malang atas tuduhan vandalisme yang kemudian melebar jadi penghasutan. 

Ketidakelokan penangkapan di masa darurat seperti ini tentu menjadikan nasib wartawan semakin terancam. Meskipun begitu, di masa pandemi seperti ini media sedang berusaha menyajikan berbagai berita demi kepentingan publik atau bahkan kepentingan perusahaan dan kepentingan tertentu.

Media di Masa Pandemi

Menanggalkan kasus kebebasan pers, media harus tetap menjadi sebagai penyedia informasi di masa pandemi seperti ini.  Selain berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik (KEJ), dalam menyajikan berita media pun tidak boleh melupakan prinsip etis jurnalis. 

Jika prinsip etis jurnalis diabaikan, kecenderungan yang kuat dari tuntutan pasar telah mengubah secara mendasar sistem media. Pertimbangan pendidikan, pencerahan, dan hiburan yang sehat diabaikan. 

Termasuk dalam memberitakan isu covid-19. Banyak media yang cenderung melupakan The Principle of the Golden Mean (Aristotles) yakni prinsip kebajikan moral berada pada dua titik ekstrim moderation (pengendalian diri) dan balanced (keseimbangan).

Dalam praktik media, prinsip etis ini mengarahkan media untuk memberikan keseimbangan pandangan (point of view). Pada prinsip ini keberimbangan ditekankan pada dramatisasi sebuah berita dan detail berita yang memenuhi kepentingan publik.

Dalam cara pandang Aristotle’s Golden Mean, media seharusnya secara sukarela tidak memberitakan atau menghilangkan hal-hal yang rinci yang bias membuat  kepanikan publik dan mengarah pada  kerusakan yang lebih besar.

Sebagaimana pemberitaan tentang Imam Suroso yang meninggal akibat covid-19 sehingga 10 orang diisolasi. Hal ini membuat kepanikan masyarakat Pati dengan sejumlah pemberitaan yang didramatisir dan menakut-nakuti warga sehingga tidak kondusif. Belum lagi berita lainya seperti jumlah kasus meninggal di beberapa daerah yang seringkali kurang valid. 

Selain kepenulisan berita yang tidak didramatisir dan berlebihan, penggunaan bahasa juga perlu diperhatikan. Terlebih berita yang dibuat berlebihan dapat menimbulkan rasa waswas dan keresahan bagi masyarakat.

Selain itu, hal yang menyangkut martabat dan kehormatan seseorang harus dirahasiakan, seperti halnya identitas pasien covid-19. Media juga seharusnya memikirkan bagaimana berita itu dijadikan sebagai informasi bukan sebagai keuntungan meraih rating. Memikirkan psikologi pembaca berita juga penting, tidak menjadikan penikmat berita merasa takut dengan adanya pandemi. 

Meskipun begitu, tidak hanya pihak medis, pemerintah atau pengendali keamanan, jurnalis juga turut menjadi garda depan dalam memberikan informasi yang diharapkan masyarakat.

Selamat Hari Kebebasan Pers Sedunia


Rohmatus Saidah,
Penulis merupakan Pegiat Pers Mahasiswa IAIN Kudus


Redaksi Web Parist.Id menerima karya sahabat semua baik dari mahasiswa, dosen maupun civitas akademika IAIN Kudus.

Karya berupa :
1. Cerpen
2. Puisi
3. Esai 
4. Opini
5. Resensi

Karya merupakan orisinil dan tidak mengandung plagiarisme sesuai ketentuan yang berlaku. Redaksi berhak menyunting naskah kiriman. 

Naskah diketik dan dikirim CP tertera dengan menyertakan foto dan identitas. 

CP Redaktur Web :  
WA  0856 0278 0216 (Fiski)
WA 0896 6996 5358 (Zakiya)

Yuk kirim naskahmu.. Ada hadiah menarik setiap bulannya bagi karya terbaik.

KAMPUS, PARIST.ID - Diskon UKT yang pernah disetujui oleh Dirjen Pendidikan Islam  melalui Surat Edaran Nomor B-752/DJ.1/HM.00/04/2020 tanggal 30 Maret 2020 perihal Pengurangan UKT/SPP PTKIN dengan besaran minimal sebesar 10 % dari UKT masing -masing mahasiswa oleh Para Rektor PTKIN akibat pandemi covid -19 akan dibatalkan. Hal ini tentu menuai berbagai respon dari kalangan mahasiswa dan angkat suara pihak kemenag. 

Dilansir dari Kompas.com, Dirjen Bimbingan Mayarakat Islam, Kamarudin Amin, mengatakan, pihaknya belum bisa merealisasikan program diskon UKT bagi mahasiswa dikarenakan adanya penghematan anggaran Kemenag yang berdampak pada anggaran PTKIN.

“Sementara ini belum terealisasi. Ada Penghematan anggaran di Kemenag sebesar 2,6 trliiun yang berdampak pada anggaran PTKIN,” ujar Kamaruddin. Rabu (29/04/2020).

Berkaitan juga dengan itu, Menteri Agama, Fachrul Razi, mengatakan niat baik pemotongan biaya UKT mahasiswa PTKIN batal karena ada kebutuhan untuk penanganan covid 19.

Menurutnya, niat baik memotong UKT mahasiswa PTKIN adalah wujud nyata mengurangi beban mahasiswa selama masa pandemi covid -19, akan tetapi adanya pemangkasan sebesar 2,6 triliun dari Kemenkeu berdampak terhadap  pengalokasian dana yang sudah terprogram baik untuk penanganan covid-19 dan juga kebutuhan kemenag sendiri yakni membantu kekurangan pendapatan dari Lembaga Pendidikan Islam.

“Ada Keputusan Kemenkeu bahwa dana  dipotong untuk mengatasi covid 19 sebesar 2,6 triliun. Angka itu besar sekali bagi kemenag karena semua sudah ada programnya masing-masing. Begitu dipotong, maka kami tidak bisa bergerak apa-apa lagi untuk membantu mengatasi kekurangan pendapatan pada Lembaga Pendidikan Islam jika UKT masih dipotong,” jelas kemenag. (Maya)

PRC (Paradigma Riset Center), PARIST.ID - Menindaklanjuti surat edaran yang dikeluarkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Direktur Jendral Pendidikan Islam, dan gubernur Jawa Tengah, Rektor IAIN Kudus menerbitkan surat edaran sebagai dasar upaya peningkatan kewaspadaan terhadap pencegahan virus corona. Dengan memperhatikan kondisi darurat wabah corona saat ini, Rektor memutuskan untuk memperpanjang perkuliahan dengan sistem daring sampai akhir semester genap.

Selang beberapa minggu berjalan, pembelajaran daring ternyata menuai pro dan kontra dari mahasiswa. Pembelajaran daring mencakup perkuliahan, ujian tengah semster, ujuan akhir semester, serta tahap bimbingan skripsi dan tesis. 

Melihat kondisi tersebut, Tim Riset LPM Paradigma mengadakan survei tentang serba serbi pembelajaran daring. Berdasar pada polling yang dilakukan dengan 100 responden melalui penyebaran secara online. 

Keterbatasan ruang dan waktu menjadikan beberapa dosen juga berusaha mencari metode pembelajaran yang sesuai kondisi. Materi yang disampaikan selain berbasis tulisan juga bentuk video yang kadang masih membingungkan. Sebanyak 47% responden  menyatakan penjelasan dari dosen susah dipahami mahasiswa, 38% mahasiswa memahami, 6% sangat paham penjelasan dari dosen, dan 9% mahasiswa sangat tidak paham. 

Berdasar pada hal itu, banyak varian metode yang digunakan oleh dosen dalam pembelajaranya. Namun, 51% mahasiwa menyatakan sangat setuju dosen harus memperbaharui metode yang digunakan dalam kuliah daring, 45% menyatakan setuju, dan hanya 4% yang tidak setuju.

Metode pembelajaran daring yang diterapkan dosen memang bervarian dengan menyesuaikan mata kuliah dan kondisi mahasiswa. Sebanyak 20% mahasiswa  menyatakan pembelajaran online hanya dengan presentasi, sebanyak 7% menyatakan dosen hanya memberi tugas, 2% mahasiswa hanya diberj materi dan 71% menyatakan pembelajaran online dengan gabungan dari ketiga model tersebut.

Sementara itu, berbagai media menjadi alternatif keberlangsungan kuliah online termasuk aplikasi whatsapp yang menjadi dominan digunakan mahasiswa dan dosen yakni sebanyak 62% mahasiswa  dan video converence sebagai media yang paling efektif digunakan dalam pembelajaran daring, sebanyak 29% mahasiswa memilih google classroom, 6% aplikasi zoom dan 3% schoology. 

Bermaksud meringankan beban mahasiswa selama kuliah daring (online), Pihak TIPD IAIN kudus memberikan pelayanan dengan memanfaatkan virtual classroom. Bekerja sama dengan provider Indosat, TIPD mengeluarkan program kuota gratis untuk menunjang perkuliahan secara daring.

Namun, melihat hasil survei yang ada ternyata hanya 4% mahasiwa yang menyatakan sangat setuju classroom IAIN Kudus dapat memenuhi kebutuhan pembelajaran. Sebanuak 37% mahasiswa menyatakan setuju, 48% tidak setuju, dan 11% mahasiswa menyatakan sangat tidak setuju. 

Tidak jauh berbeda, sebesar 35% mahasiswa menyatakan kuota gratis yang difasilitasi kampus tidak membantu meringankan mahasiswa, sebesar 23% mahasiswa menyatakan sangat tidak membantu, 29% mahasiwa menyatakan membantu, dan sebesar 13% mahasiswa menyatakan sangat membantu.

Selain itu, banyak mahasiswa yang mengeluhkan adanya perkuliahan online karena terkendala oleh berbagai hal. Berdasarkan hasil survei, terlihat sebanyak 47% mahasiswa menyatakan terkendala oleh sinyal, sebanyak 30% mahasiswa terkendala kuota, 17% terkendala oleh pekerjaan rumah, dan 6% mahasiswa menyatakan terkendala oleh urusan lainnya.

Selama perkuliahan online, dilihat dari hasil responden mahasiswa, ternyata sebesar 48% mahasiswa menyatakan diskusi kelas sebagai hal yang paling dirindukan dari kampus. sebesar 47% mahasiswa merindukan teman, 3% dosen dan 2% merindukan pacar dan mantan. Tim Riset LPM Paradigma

Selamat menjalankan kuliah daring. Stay healthy 😊

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.