Kudus - Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) menggelar agenda akhir  tahun 2019 dengan lagu Nyambung Tresno. Lagu terbaru yang dibawakan oleh grub musik Keroncong Gado-Gado dari Kudus ini diselenggarakan di Gedung Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Minggu (29/12/2019).

Salah satu pemain grub musik Gado-gado, Lilik Nor Cahyo, menjelaskan, lagu berjudul "nyambung tresno" ini merupakan lagu baru yang diciptakan oleh seseorang yang berinisialkan Arakhsya, yang kemudian diaransemen oleh grub musik keroncong Gado-Gado.

"Dari lagu yang diciptakannya dipasrahkan kepada kami agar dapat diaransemen dengan baik," katanya.

Nyambung Tresno merupakan bukti kecintaan para personil (yg mayoritas masih muda) terhadap perkembangan musik keroncong di Kudus. Mereka ingin terus menyambung rasa cinta itu terus menerus agar musik keroncong kudus tidak mati. 

"Sebagai bukti kecintaan oleh para pemain Gado-Gado ini kemudian diciptakanlah lagu nyambung tresno", tambahnya.

Selain itu, Lilik, berpesan, perlunya nyambung tresno kepada generasi muda, bahwa para pendahulu kita entah kakek nenek, ayah ibu, moyang kita itu pernah memiliki rasa cinta pada musik keroncong, "Anak muda khususnya memang perlu nyambung tresno agar rasa kecintaan keroncong tidak terputus agar kebahagiaan di tahun 2019 bisa disambung ditahun berikutnya", tandasnya. 

Sementara itu, Arfin Ahmad Maulana, Ketua FASBuK, mengatakan, sesuai dengan namanya, grub musik Gado-Gado tidak hanya membawakan lagu yang bergenre keroncong saja tetapi juga membawakan lagu genre dangdut pada acara ini.

"Dalam agendaFASBuK kali ini, Gado-Gado tidak hanya berpaku pada satu jenis musik saja, tetapi kita juga membawakan lagu dengan berbagai genre musik agar bisa dinikmati oleh khalayak," tandasnya.

Arfin menambahkan, acara kali ini difokuskan pada penampilan musik saja yang menjadi penutup agenda FASBuk pada 2019. 

"Malam minggu terakhir di tahun 2019 ini memang kami khususkan untuk hiburan sebagai penutup agenda FASBuK di akhir tahun", pungkas Arfin.
(arum-fiski/umi)


KAMPUS - Tim basket putra dan putri IAIN Kudus mendapatkan juara 1 di perlombaan Basket Ball Invitation PTKIN Se-Jateng dan DIY, yang diselenggarakan oleh UKM Olga dari 20-22 Desember 2019 kemarin di GOR IAIN Kudus. Atas kemenangan tersebut, IAIN Kudus berhasil menjadi juara umum.

Ketua UKM olahraga, Ilma menjelaskan bahwa lomba tersebut merupakan agenda dari UKM Olahraga sekaligus menjadi peserta.

 "Kita yang mengadakan kita juga ikut lomba," ujar Ilma saat ditemui wartawan parist.id, Senin (23/12/2019).

Ilma juga berterimakaish kepada Warek III IAIN Kudus, Ihsan, atas partisipasi dan dukungan dalam lomba, sekaligus mempersembahkan kemenangan ini sebagai hadiah dari usaha bersama.

"Juara 1 ini merupakan kado dari kepengurusan saya, dan untuk IAIN Kudus," katanya.

Sedangkan, salah satu panitia penyelenggara, Anam menjeskan bahwa perlombaan tersebut bertujuan untuk menjalin silaturahmi antar kampus dan memperkenalkan basket di kampus PTKIN se-jateng DIY.

"Ini merupakan langkah kita untuk membangkitkan budaya olahraga dan menjadi tolak ukur bagi tim IAIN Kudus", ungkap Anam selaku panitia dan tim peserta.

Ia juga berpesan kepada tim agar lebih semangat lagi dan tidak berbangga diri.

" Pesan saya tim dapat lebih meningkatkan lagi kinerja nya," pesannya. (Intan)


Yogyakarta - Tingkatkan wawasan berorganisasi Mahasiswa IAIN Kudus ikuti Benchmarking (studi banding) ke Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakart, Selasa (17/12/2019).

Kunjungan ini diikuti oleh 24 delegasi mahasiswa dari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), UKK (Unit Kegiatan Kampus), SEMA (Senat Mahasiswa)Institut, SEMA Fakultas, DEMA (Dewan Eksekutif Mahasiswa) Institut, dan DEMA Fakultas. Juga didampingi oleh Wakil Rektor tiga IAIN Kudus  Ihsan, beserta ketua dan beberapa staff akademik kemahasiswaan. 

Bertempat di Aula Rektorat lantai dua kampus satu UIN Sunan Kalijaga, rombongan disambut hangat oleh Wakil Rektor III Waryono. Hadir pula pada kunjungan tersebut kepala biro AAKK, para staff kemahasiswaan, Presiden Mahasiswa, dan beberapa ketua UKM UIN Sunan Kalijaga.  

Dalam kunjungan tersebut, Wakil Rektor III IAIN Kudus, Ihsan mengucapkan banyak terima kasih atas sambutan baik pihak UIN sunan Kalijaga yang bersedia menerima kunjungan dari IAIN Kudus. 


Ia juga mengungkapkan tujuan dan harapan kunjungan tersebut yaitu untuk mengembangkan dan meningkatkan mutu serta menjalin kerjasama di bidang akademi dan kemahasiswaan. 


"Melalui kunjungan ini kami berharap dapat membangun hubungan kerja sama yang baik antar perguruan tinggi di bidang akademi kemahasiswaan,serta dapat menambah ilmu dan wawasan mahasiswa untuk lebih mengembangkan organisasi mahasiswa di kampus," harapnya. 

Menaggapi hal tersebut, Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga, Waryono juga mengucapkan terima kasih atas kepercayaan IAIN Kudus yang telah memilih UIN Sunan Kalijaga sebagai kampus kunjungan. 

"Saya ucapkan terima kasih dan mengapresiasi atas kunjungan IAIN kudus ke UIN Sunan Kalijaga, semoga terjalin kerjasama yang baik kedepannya," katanya.

Suasana diskusi saat kunjungan di Aula Rektorat lantai dua kampus satu UIN Sunan Kalijaga
Pada sesi diskusi dan sharing peserta tampak antusias mendengarkan paparan dari beberapa ketua UKM UIN Sunan Kalijaga. Mulai dari kegiatan kampus,keunggulan dan prestasi yang di raih. Selain itu hadir pula Khamdan, Presiden Mahasiswa yang mengaku telah berhasil menerapkan E-Voting pada pemilwa tahun ini. 


"Dengan E-Voting jumlah mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya meningkat," ujarnya.

Ana Wahyu Fadhillah (21) salah satu peserta benchmarking mengaku dapat memetik manfaat dari kegiatan tersebut. diantaranya yaitu dapat mengetahui program-program unggulan dari masing-masing UKM, mengetahui prestasi hebat yang pernah diraih. Selain itu juga dapat mengetahui pengelolaan UKM dari UIN Sunan Kalijaga untuk dapat mengadopsinya. 

"Dengan mengikuti kegiatan ini saya bisa tau bagaimana pengelolaan UKM dari UIN Sunan Kalijaga dan berharap bisa mengadopsinya," ungkap Ana, Plt Ketua Dewan Racana IAIN Kudus. 

Selain diskusi dan sharing, benchmarking ini di lengkapi dengan penandatanganan MOU antara kampus Institut Agama Islam Negeri Kudus dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta di bidang kemahasiswaan dan kerjasama. (Ifa)


PATI - Persoalan HIV-AIDS tidak dapat hanya diselesaikan oleh penggiat HIV-AIDS. Upaya penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia harus didukung oleh KPA, Dinkes, LSM, akademisi, serta masyarakat luas. 

"Masyarakat harus berani mempunyai visi yaitu dunia di masa depan tak ada kasus HIV baru, tak ada kematian yang berkaitan dengan HIV, serta tak ada deskriminasi pada Orang dengan HIV-AIDS (ODHA)," kata Ketua Panitia, Anang Setiyoko dalam peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) dan Hari HIV-AIDS Sedunia yang diadakan oleh ARI Jawa Tengah dengan tema Gerak bersama ciptakan ruang aman dan tegakkan keadilan bagi semua di alun-alun Pati, Minggu (01/12/2019).

Dengan mengetahui status kesehatan sejak dini, lanjutnya, maka dapat segera dilakukan pengobatan antiretroviral. Antiretroviral merupakan satu-satunya obat HIV.

"Maka kesehatan dan kualitas hidup tetap terjaga sehingga tetap produktif untuk memberikan yang terbaik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat," jelasnya. 

Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Joko Santoso memaparkan data yang dilansir Dinas Kesehatan Kabupaten Pati sampai Oktober 2019 sebanyak 1532 kasus pengidap HIV-AIDS dan 217 diantaranya meninggal dunia. Sebaran kasusnya sangat merata di 21 kecamatan. 

"Kasus tersebut tidak hanya dari kelompok resiko tinggi tetapi sudah merambah pekerja usia produktif, ibu rumah tangga dan anak-anak," terang Joko.

Joko juga menjelaskan HIV-AIDS bisa terjadi pada semua orang tidak hanya orang dewasa tetapi juga remaja. Menurutnya, Korban HIV-AIDS tidak boleh didiskriminasi dan diintimidasi.

"Jangan jauhi orangnya tetapi jauhi penyakitnya. Mulailah dari kita untuk berhati-hati. Jangan lupa jaga kebersihan lingkungan," pesannya. 

Selain memerangi HIV-AIDS, Acara ini juga mengajak untuk seluruh komponen masyarakat, aktivis HAM Perempuan, maupun pemerintah untuk berupaya menghapus kekerasan seksual.

Di antaranya menggalang gerakan solidaritas kesadaran bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan pelanggaran HAM, mendorong kegiatan bersama untuk menjamin perlindungan bagi survivor (korban yang melampaui pengalaman kekerasan), dan mengajak semua orang untuk terlibat aktif dalam upaya penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. (Nonik)


KAMPUS - Sejumlah 18 Program Studi (Prodi) di IAIN Kudus sudah terakreditasi di tahun 2019 dan 8 diantaranya telah submit di bulan Maret 2019. Hal tersebut disampaikan oleh rektor IAIN Kudus, Dr. H. Mudzakir dalam sidang senat terbuka wisuda ke-26 program sarjana S-1 dan wisuda ke-8 program Pascasarjana S-2 di GOR IAIN Kudus, Sabtu (30/10/2019).

Ia menjelaskan bahwa dengan beberapa akreditasi yang telah tercapai, untuk dapat diterima menjadi mahasiswa IAIN Kudus perlu adanya kompetisi yang ketat.

"Untuk dapat menjadi mahasiswa IAIN Kudus perlu adanya kompetisi dengan rasio perbandingan 1:7 calon mahasiswa baru," jelasnya.

Lebih lanjut, rasio tersebut dapat dilihat dari mahasiswa baru tahun 2019 yang berjumlah 3.268 dari 23.894 pendaftar.

"Maka, kompetisi mahasiswa pun perlu ditingkatkan lebih baik sebelum maupun sesudah menjadi mahasiswa," jelas Mudzakir.

Ia juga menambahkan bahwa ada banyak organisasi baik di dalam maupun luar kampus yang dapat menunjang kreativitas mahasiswa. 

"Ada 53 organisasi kemahasiswaan yang terdiri dari 12 Senat Mahasiswa (SeMa) dan Dewan Mahasiswa (DeMa), 26 Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), 15 Unit Kegiatan Kemahasiswaan," tambahnya.

Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan tersebut ditunjang dengan fasilitas yang sediakan kampus seperti lapangan tenis, Gedung Olahraga (GOR), Lapangan Voly, Ruang Multimedia, Studio Musik, Peralatan Musik, Peralatan Musik Tradisional dan Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM).

Selain itu, Mudzakir mengaku fasilitas-fasilitas dan sarana prasarana dimanfaatkan dengan baik. Terbukti dengan banyak prestasi yang diraih. 

"Beberapa prestasi yang telah diraih oleh mahasiswa diantaranya di ajang PIONIR 2019, POM-RAYON Jawa Tengah, MTQ mahasiswa se-Jawa Tengah dan Penulisan Karya Tulis Ilmiah," ungkapnya. (Diah/Arum)

Foto Mahasiswa PPI bersama wakil ketua DPRD Komisi A di gedung Berlian
Semarang - Puluhan  mahasiswa Progam Studi (Prodi) Pemikiran Politik Islam (PPI) semester tiga melakukan Education Trip di Komisi Informasi Provinsi (KIP) dan DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Jawa Tengah, Kamis kemarin (28/11/2019).

Ketua jurusan PPI, Siti Malaiha Dewi mengatakan maksud dan tujuan education trip ini adalah dalam rangka perkenalan. Karena dari IAIN Kudus, Prodi ini adalah tergolong masih baru, sebagai ikhtiar dari Prodi untuk memperkenalkan ke berbagai pihak yang terkait antara lain ke KIP dan ke DPRD Jawa Tengah. 

“Karena ada semangat dari mahasiswa, maka kami dari prodi berusaha untuk memfasilitasinya,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, mahasiswa dapat melihat langsung di lokasi, bagaimana proses dan bisa berdialog dengan orang-orang yang memang sudah di bidangnya.

“Selanjutnya untuk tholabul ilmi, karena di mata kuliah tidak diajarkan hal-hal yang spesifik,” tambah Malaiha.
Suasana diskusi saat kunjungan di gedung DPRD
Sedangkan Ketua panitia Education Trip Hamam, menjelaskan Education Trip bermanfaat untuk mengetahui secara langsung tentang fungsi dari KIP sekaligus dapat mengutarakan aspirasi dan belajar secara langsung dengan anggota dewan.

“Saya cukup puas karena dapat ditterima langsung oleh ketua KIP Provinsi Jateng dan Wakil Ketua Komisi A Jateng  yang di mana menjadi langkah besar prosi PPI dalam meningkatkan eksistensisnya,” katanya.

Ia juga memiliki harapan besar terutama yang menyangkut kemajuan prodi PPI.

“Semoga setelah ini semamgat teman-teman bertambah dalam memajukan prodi PPI,” harapnya.

Ketua Komisi Informasi Provinsi (KIP) Jawa Tengah, Sosiawan menyatakan ada tiga fungsi utama KIP, menurut UU No. 14 tahun 2008, yakni menjalankan UU informasi, menetapkan/menyelesaikan informasi publik, dan menetapkan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis standar layanan informasi publik. 

“UU No. 14 tahun 2008 informasi ini mengalami proses yang alot karena memang keterbukaan itu bukan budaya kita (masyarakat Indonesia) segala hal ihwal termasuk penyelenggaraan negara dan pemerintahan itu selalu bersifat tertutup,” paparnya. (Fatwa)



Kuala Lumpur
- Student Mobility Program (SMP) menjadi wadah pimpinan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) dan Senat Mahasiswa (SEMA) PTKIN se-Indonesia untuk kenali dunia luar. SMP diyakini dapat memberikan pengalaman baru kepada mahasiswa mengenal sistem pendidikan, tradisi akademik dan kemahasiswaan perguruan tinggi di luar negeri.

Kasubdit Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, Ruchman Basori, mengatakan pimpinan mahasiswa harus berani mengenal dunia luar agar tidak terkurung dan minim pengetahuan untuk menghadapi masa depan. 

"Penting bagi pimpinan Mahasiswa mengenal dunia luar agar mampu mengikuti pergaulan global dan membekali diri sejumlah ilmu dan pengalaman untuk masa depannya” kata Ruchman Selasa (26/11/2019) di Kuala Lumpur.

Mantan Ketua Senat Mahasiswa IAIN Walisongo ini berharap agar moment SMP dimanfaatkan dengan baik untuk menggali sebanyak-banyaknya pengetahuan dan pengalaman.

"Gali sebanyak-banyaknya ilmu dan pengetahuan saat mengikuti SMP," jelasnya. 

Ketua Forum WR/WK III PTKIN se-Indonesia, Waryono Abdul Ghofur menjelaskan agenda penting SMP adalah mahasiswa mengikuti seminar dan mempresentasikan makalah moderasi beragama, berdiskusi dengan para mahasiswa PT tujuan dan juga melakukan memorandum of understanding (MoU) untuk pengembangan PTKI.

“SMP kita desain agar mahasiswa dapat banyak belajar di kampus-kampus di luar negeri dan mereka mengenalkan moderasi beragama sebagai bentuk tanggungjawab global”, terang Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Sunan Kalijaga ini

Sedangkan, Rektor IAIN Purwokerto, Muhammad Rokib yang turut serta dalam rombongan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap program SMP Kemenag. Menurutnya, Student Mobility merupakan program penting bagi mahasiswa dan Wakil Rektor/Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama PTKIN untuk mengetahui seluk beluk pendidikan di luar negeri.

“Jika yang di lihat nanti ternyata lebih unggul dari apa yang ada di Indonesia maka bisa ijadikan roole model, tetapi jika lebih rendah dengan apa yang kita miliki akan menambah kepercayaan diri mahasiswa," terang Rokib.

Kegiatan SMP ini di inisiasi oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama bersama Wakil Rektor/Wakil Ketua PTKIN se-Indonesia yang berlangsung tanggal 24-30 November 2019. Dan diikuti 68 mahasiswa yang tergabung dalam DEMA dan SEMA PTKIN, yang didampingi oleh 36 WR/WK III PTKIN se-Indonesia dan 13 dosen dan juga tenaga kependidikan.

Rombongan akan mengunjungi tiga negara yakni Singapura, Malaysia, dan Thailand. Serta empat perguruan tinggi tujuan, diantaranya Kolej Az-Zuhri di Singapura, KUIS-Kolej Universiti Islam Antarbangsa Selangor (Universitas Islam Antarbangsa Selangor), International Islamic University of Malaysia (IIUM) dan di Fathoni University Thailand. (Falis/RB)



KAMPUS -  Rumah Konseling Mahasiswa (RKM) mengajak mahasiswa untuk mengeluarkan uneg-unegnya di Home Room. Home Room merupakan wujud pelayanan dari rumah konseling untuk mahasiswa IAIN Kudus.

Demikian itu disampaikan oleh Wakil Ketua RKM, Husnul dalam acara Home Room With Konselor dengan tema "Manajemen Stress Mahasiswa" di gedung PKM, Senin (25/11/2019). 

Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Saliyo menjelaskan bahwa stres bisa berdampak baik dan buruk. Untuk itu RKM hadirsebagai tempat untuk mahasiswa yang mengalami kegelisahan. 

"Saat stres jangan sungkan untuk bercerita kepada RKM," ajaknya. 

Sedangkan Founder RKM, Khilman Rofi Azmi mengatakan RKM penting dan wajib bagi fakultas yang mempunyai program studi bimbingan konseling.

"RKM seperti ini diharapkan dapat membangun keakraban bersama dan terjalinnya Komunikasi yang hangat. Seperti layaknya suasana rumah antara kakak dan adik atau ayah/ibu dengan anak," katanya.

Azmi berharap RKM dapat menciptakan kedekatan antara mahasiswa dengan fakultas atau program studinya, terutama Bimbingan Konseling Islam (BKI).

Salah satu peserta, Rizal mengaku  merasa terbantu atas hadirnya RKM karena ia dapat bercerita seputar probelmnya di semester yang sudah tua.

"Alhamdulillah saya merasa terbantu atas hadirnya RKM. Curhat di tempat yang tepat," katanya. (Anam)



JEPARA - Masyarakat Adat Nusantara (Matra) DPD Jepara Jawa Tengah mengajak generasi muda untuk sadar akan budaya lokal. Budaya lokal diharapkan menjadi benteng kepribadian bangsa Indonesia, mengingat pesatnya perkembangan teknologi dan informatika yang merubah gaya berpikir masyarakat agar tetap terjaga dengan terus melakukan inovasi budaya yang lebih baik sesuai zaman.

Hal itu disampaikan oleh Lena Efendi selaku Ketua Matra DPD Jepara pada saat Peringatan HUT Pertama Matra Jepara dan Rapat Koordinasi Matra Eks-karesidenan Pati di Pendopo Nalumsari Jepara, Minggu (24/11/2019).

Menurut Lena, sudah saatnya generasi muda menjadi pelaku budaya yang berada di daerahnya masing-masing.  Bukan lagi sebagai 'penonton' budaya asing dengan meninggalkan budaya khas daerah masing-masing.

"Tentu kita akan kemas budaya itu dengan tidak menghilangkan pesan didalamnya agar diminati banyak generasi muda," ujarnya.

Budaya lokal sebagai basis kontrol sosial terlebih saat ini sedang maraknya paham radikalisme dan terorisme.

"Budaya lokal mampu menangkal semua itu karena sama halnya kita mengingat leluhur yang telah berjasa pada Nusantara," tambahnya.

Sementara itu, salah satu penasehat Matra, Kyai Su'udi menghimbau seluruh anggota Matra Jepara agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Kebudayaan lokal harus disokong bersama masyarakat. Jangan mau diadu domba dengan budaya yang sekiranya melanggar norma-norma yang berlaku.

"Untuk itu, esensi dari budaya apapun itu, selama baik untuk kehidupan, maka lestarikanlah sebagai warisan dari leluhur kita," pesan Kyai Su'udi dihadapan para anggota muda Matra.

Hadir dalam acara tersebut yakni pengurus  Matra se-Eks-karisidenan Pati, Pepadi Jepara, Srikandi Matra, dan tamu undangan lainnya. (Salim)


KAMPUS - Asosiasi Mahasiswa Dakwah Indonesia (AMDIN) menggelar rapat kerja wilayah (RAKERWIL) III selama dua hari di IAIN Kudus. Acara tersebut dihadiri dari lima perwakilan kampus wilayah Se-Jateng dan DIY, Kamis (21/11/2019)

Wakil Dekan I Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) Saliyo, menyambut hangat kedatangan para peserta yang telah menghadiri kegiatan tersebut.

"Selamat datang dan selamat berkunjung di kampus IAIN Kudus. Maaf apabila ada dari kekurangan penerimaan kami," Sambutnya.

Ia berharap kegiatan ini nantinya dapat berkonsolidasi dalam memperjuangkan orientasi mahasiswa dengan studi dan masa depannya.

 "Dengan aktif berorganisasi ini, bisa berkenalan dan ta'aruf dan diskusi di berbagai daerah dengan bisa saling sharing. Sehingga asosiasi dakwah bisa saling melengkapi mengisi pos-pos untuk penerus generasi bangsa," harapnya.

Sedangkan, pengurus AMDIN perwakilan dari UIN Walisongo, Kudiantoro  mengucapkan terimakasih karena sudah diterima dengan baik di IAIN Kudus.

 "Saya perwakilan dari pengurus AMDIN mengucapkan terimakasih karena sudah diberikan jamuan luar biasa dan dipersilakan untuk mengadakan acara di IAIN Kudus ini." Sanjung Kudiantoro.

AMDIN merupakan perkumpulan mahasiswa Dakwah yang terdiri dari beberapa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI)  Se-Indonesia yang memiliki fakultas dakwah. tujuannya sebagai penyalur wadah penyalur aspirasi para mahasiswa jurusan dakwah.

"Dulu AMDIN awalnya bernama FKMDI (Forum Komunikasi Dakwah Indonesia) dan untuk AMDIN wilayah III daerah JATENG dan DIY itu terdiri dari tujuh kampus. tetapi yang bisa hadir pada kegiatan ini hanya ada 5 kampus yaitu IAIN Pekalongan, UIN Walisongo Semarang, IAIN Purwokerto, IAIN Surakarta, dan IAIN Salatiga", Jelasnya.

Kegiatan RAKERWIL tersebut digelar setelah mengikuti adanya Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) AMDIN. 

"Kemarin RAKERNAS dilaksanakan di IAIN Jember, Jawa Timur kemudian masing-masing wilayah mengadakan RAKERWIL," tambahnya.

Serangkaian acara tersebut merupakan rapat kerja dari pengurus baru korwil wilayah III dan juga sekaligus pelantikan dari pengurus baru. Selain itu, juga ada kegiatan lomba da'i, fan trip dan pengenalan wisata. (Fiski)

KAMPUS - Sejumlah mahasiswa KPI-D semester 5 mengadakan kampanye "Gerakan kampus bebas asap rokok" di lingkungan kampus IAIN Kudus, Jumat (16/11/2019). Kampanye tersebut bertujuan untuk meminimalisir dampak dari asap rokok yang merugikan kesehatan. Kampanye ini berawal dari issu mengenai banyaknya mahasiswa yang masih merokok di sembarang tempat dalam lingkup kampus IAIN Kudus.

Kustina, salah satu mahasiwa KPI-D mengatakan bahwa selain menjadi tugas mata kuliah profesi kehumasan, hal tersebut memang perlu diperhatikan agar dapat menumbuhkan kesadaran dari para perokok. 

"Banyak dari perokok aktif yang tidak sadar kalau asap rokok itu berdampak buruk juga bagi yang tidak perokok. Kalau mau merokok ya di luar Kampus," katanya. 

Walaupun banyak pro dan kontra dari aksi kampanye tersebut, namun diharapkan aksi tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian para mahasiswa terhadap lingkungan kampus yang bersih dari asap rokok.

"Saya dan teman-teman KPI-D yang lain tidak melarang orang untuk merokok, itu hak individu. Akan tetapi, kita ingin supaya tidak ada mahasiwa maupun seluruh civitas akademika IAIN Kudus yang merokok di lingkungan kampus," jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Riza Zahriyal Falah ketua prodi KPI sangat mengapresiasi dosen yang mengampu mata kuliah dan juga para mahasiswa yang telah menyelenggarakan kampanye tersebut. Beliau menyampaikan bahwa memang sudah ada regulasi mengenai kawasan tanpa asap rokok. Akan tetapi karena ketidaktertiban dari mahasiswa, dosen, atau pegawai peraturan tersebut masih dilanggar.

"Ketidaktertiban tersebut bisa jadi karena memang tidak tahu mengenai regulasi yang ada atau bisa jadi karena tidak ada sanksi yang tegas bagi yang melanggar itu," ungkapnya.

Beliau berharap kampanye tersebut dapat dilakukan secara konsisten sebagai bentuk sosialisasi kepada warga kampus.

"Kampanye yang dilakukan secara continue dapat dilakukan dengan membuat banner atau pamflet yang bentuknya sosialisasi supaya tidak ada lagi orang yang merokok di lingkungan kampus. Kalaupun mau merokok ya di luar lingkungan kampus," harapnya. (Arum)


PATI - Mahasiswa Manajemen Dakwah (MD) IAIN Kudus gandeng biro umroh MAIS Impressa Media Wisata adakan bakti sosial kepada masyarakat Pati Kidul. Aksi peduli masyarakat tersebut diwujudkan dalam bentuk pendistribusian air bersih ke beberapa titik rawan air bersih, Sabtu (09/11/2019).

Pemimpin kantor cabang biro umroh MAIS, Dewi menyebutkan Air dari tangki-tangki dikirim ke desa Tanjunganom kecamatan Gabus, desa Paras kecamatan Gabus, desa Triguno kecamatan Pucakwangi, dan ke desa Carikan kecamatan Kayen. Keempat desa tujuan tersebut sangat membutuhkan air bersih sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

"Air didistribusikan ke empat titik. Masing-masing berada di kecamatan Gabus, kecamatan Pucakwangi, dan kecamatan Kayen," jelasnya.

Sementara itu, salah satu mahasiswi MD Nur Kholifah mengaku merasa takjub dengan rutinitas yang ada pada MAIS Impressa Media Wisata. Sebagai perusahaan biro yang mengejar profit, ternyata memiliki program yang berdaya guna untuk masyarakat. 

"Saya kagum dan tidak menyangka. Banyak yang bisa Saya pelajari. Tidak melulu tentang bisnis, ternyata juga penting untuk berguna di masyarakat." Jelas Nur Kholifah.

Lebih lanjut, mahasiswi semester tiga ini juga berharap agar kegiatan bakti terhadap masyarakat ini dapat terus dilaksanakan. Berpikir tidak hanya usaha tapi juga berdaya guna.

"Harapannya ini terus berlanjut. Kita berusaha untuk mencukupi kebutuhan dunia dan berbagi agar kita menjadi manusia yang berguna." Tutup Nur Kholifah mengakhiri perbincangan.  (Dwi/ Fandi)


KUDUS - Kudus Walking Tour mengadakan berlelana atau mplaku-mplaku sambil belajar sejarah dengan tema "Tentrem Ayem Ing Langgar Dalem". Kegiatan yang diadakan perdana ini bertujuan mengajak masyarakat khususnya Kudus untuk mplaku-mplaku sambil belajar sejarah di desa Langgar Dalem Kudus, Minggu (10/11/2019).

Founder Lelana Kudus Walking Tour, Rahmat Hidayat mengatakan nama Lelana terinspirasi dari nama samaran Bupati Kudus yakni Raden Mas Arya Purwalelana yang juga seorang penjelajah, petualang sekaligus pencerita. 

“Lelana berarti bepergian menuju tempat yang tenang dan sunyi. Mengambil tema Tentrem Ayem Ing Langgar Dalem, menjadi titik fokus bahwa dengan berlelana di langgar dalem bisa menciptakan ayem (red: nyaman) pada rencang lelana (panggilan untuk peserta lelana)," jelasnya saat memulai perjalanan menuju langgar dalem.

Perjalanan ini dimulai dari mempelajari keberadaan klenteng Hok Hien Bio, kemudian menyusuri jalan madurekso hingga singgah di tempat pabrik rokok dan berakhir di masjid langgar dalem. 

Sementara itu, peserta lelana, Karina Hasbi Jantari mengaku merasa bangga dengan adanya kegiatan berlelana khususnya sejarah di Kudus ini yang bisa dipelajari kembali.

“Saya suka dengan kegiatan semacam ini karena bisa menambah kecintaan dan rasa bangga pada kota Kudus.  Selain itu, saya jadi Indonesia ada karna terselip perjuangan dibaliknya," katanya. (Umi)


KAMPUS - Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah (ES) dan prodi Manajemen Bisnis Syariah (MBS) IAIN Kudus mengadakan ekspo Fakultas Ekonomi dan Bisnis Syari'ah (FEBI) 2019 bertema "entrepreneurship as a soul of change" sebagai salah satu kegiatan mata kuliah kewirausahaan di GOR IAIN Kudus, Rabu (06/11/2019) kemarin.

Ketua panitia ekspo FEBI, Basri mengatakan acara yang diikuti 384 peserta dari 34 stand ini sebagai sarana memunculkan inovasi dan mengembangkan ide-ide bisnis bagi mahasiswa semester 3 dan semester 5, khususnya yang mendapat mata kuliah kewirausahaan. 

"Banyak sekali kegiatan yang diperlombakan, seperti lomba menghias stand, lomba presentasi produk, dan lomba vlog," katanya.

Basri berharap, dengan adanya Expo FEBI 2019 mahasiwa prodi ES dan MBS dapat melatih diri untuk mulai berwirausaha dan memiliki pengalaman berdagang dari acara expo tersebut.

"Melalui kegiatan ini, kami berharap kreativitas dan inovasi yang dimiliki mahasiswa dapat dikembangkan dan diekspresikan dengan baik," harapnya. 

Sementara itu, salah satu pengunjung, Faizi mengaku acara ekspo FEBI 2019 cukup menarik dari segi produk yang dijual.

"Semoga tahun depan acaranya dapat lebih meriah dan melibatkan semua mahasiswa fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang diselenggarakan tidak hanya satu hari saja, akan tetapi dalam beberapa hari," terangnya. (Sulaiman)

KAMPUS - Program Studi (Prodi) Manajemen Dakwah (MD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus akhirnya meluncurkan website. Website yang diberi nama manajemendakwah.com tersebut merupakan upaya untuk mendokrak akreditasi Prodi MD.

"Sebenarnya mahasiswa MD sudah mempunyai cara sendiri untuk mengolah informasi seputar kampus. Untuk itu alangkah baiknya kemampuan tersebut dituangkan dalam website sehingga mampu menjadi wadah pusat informasi seluruh mahasiswa MD” kata Kepala Prodi MD, Mas’udi dalam acara peresmian website Prodi MD dakwah.com di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), Selasa (05/11/2019).

Senada dengan Mas'udi, Penanggung Jawab website manajemendakwah.com, Wahyu Khoiruz Zaman, mengatakan website manajemendakwah.com ini nantinya menjadi wadah aspirasi mahasiswa. Jadi diharapkan mahasiswa dapat berpartisipasi dengan mengisi website tersebut.

“Harapan saya mahasiswa bisa aktif menulis dan meramaikan website. Nanti akan ada timbal balik atau hadiah bagi mahasiswa yang aktif mengisi website," harapnya.

Sementara itu, Tim Redaksi manajemendakwah.com, Fandi Fajar mengaku sangat tertarik akan website terbaru tersebut. Ia juga merasa bangga dengan adanya website karena bisa menjadi wadah untuk berpartisipasi.

“Bangga dengan peresmian website terbaru, apalagi kita ketahui minat menulis mahasiswa sangat minim. Sehingga dengan adanya website dan pelatihan jurnalistik selanjutnya bisa meningkatkan minat mahasiswa dalam bidang kepenulisan,” katanya. (Intan)


DEMAK - Sejumlah 160 peserta mengikuti pelatihan pemandu wisata yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata (DinPar) Demak. Pelatihan tersebut merupakan pendayagunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik Tahun 2019 di Hotel Amantis Demak, Senin-Rabu (28-30/10/2019).

Kepala Dinas Pariwisata Demak, Agus Kriyanto mengatakan pelatihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai pelaku usaha kepariwisataan dan dalam rangka mendukung sektor pariwisata yang menjadi salah satu program unggulan kabupaten Demak.

"Kita punya tempat wisata yang bermutu jadi sayang bila tidak ada pemandu wisatanya," kata Agus.

Ia juga memaparkan 160 peserta akan dibagi menjadi tiga kelompok. Untuk 60 peserta pertama akan dilatih tentang wisata yang mencakup kuliner dan belanja, 50 peserta dilatih sejarah, dan 50 sisanya dilatih mengembangkan wisata di pedesaan dan perkotaan.

"Ketiga kelompok ini saya harap berlatih dan belajar serius. Pelatihan selama tiga hari dimanfaatkan agar mendapatkan ilmu baru," harapnya. 

Menanggapi hal tersebut, asisten 2 bupati Demak, Windu Sunardi mengaku prihatin Demak hanya dijadikan destinasi transit makan saja. Beli di tempat lain, makan di Demak dan sampah makanan dibuang di Demak.

"Saya melihat banyak wisatawan datang bawa makanan sendiri. Mereka beli di tempat lain, makan di sini dan sampahnya dibuang di sini. Kita hanya dapat sampahnya," terangnya prihatin.

Padahal menurutnya ada dua icon khas Demak yang tidak dimiliki kabupaten lain berupa Masjid Agung Demak dan Makam Sunan Kali Jaga. 

"Untuk itu, pelatihan ini dirasa mampu mencetak pemandu wisata handal dan mendatangkan wisatawan untuk meningkatkan sektor ekonomi," kata Windu

Ia berharap Demak menjadi destinasi wisata seperti Hongkong. Menurutnya, sebagai tempat wisata modern Hongkong dapat menyediakan view dan seluruh panorama indahnya melalui kelihaian pemandu wisata dalam menawarkan paket wisata.

"Saya berkaca dengan ketika saya di Hongkong. Di sana tour guide dapat membius wisatawan untuk berkunjung keliling kota. Jika ini terjadi di Demak, pastinya akan menekan angka kemiskinan dan meningkatkan sektor ekonomi," jelasnya. (Fandi)


Berkaitan dengan pengumuman sayembara cerpen puisi yang mengususng tema "Perempuan Hutan"  yang telah dilangsir di media daring https://www.parist.id/ pada tanggal 07 oktober 2019  tentang E- sertifikat  yang dapat diunduh di media daring https://www.parist.id/ . kami selaku panitia pelaksanaan Sayembara Cepen Puisi dengan ini, memberitahukan kepada semua kontributor bahwa  E-Sertifikat bisa di unduh  di link dibawah ini;

https://drive.google.com/file/d/1bYZ-UIHoq7U0k1x692KFbq90DXmPHM0R/view?usp=sharing


KAMPUS - Era Revolusi 4.0 sangat identik dengan teknologi dengan perubahan yang sangat cepat. Perubahan itupun terjadi di dalam dunia kerja. Bagaimana membangun komunikasi terhadap rekan kerja dalam menyelesaikan masalah. Walaupun begitu ternyata ada dua skill yang tidak akan tergantikan dan akan bertahan yaitu kemampuan public speaking dan berbagi inspirasi.

Hal tersebut disampaikan oleh Inspirational Speaker, Erma Assegaf dalam acara Trining Public Speaking dan Motivation dengan tema "Built Confidence and Speak Up Your Mind", yang diselenggarakan oleh UKM Kelompok Pecinta Nalar (KPN) di Aula lantai 2 Gedung SBSN, Senin (28/10/2019).

Erma mengatakan bahwa mahasiswa harus bisa mengubah dan menggerakkan diri menjadi pemimpi masa depan. Hal tersebut dapat dilakukan apabila kita mempunyai public speaking dan memiliki motivasi yang baik untuk mewujudkannya.

"Saya mempunyai impian menjadi seorang inspirator, dan itu terbukti ketika saya sudah berumur 50 tahun sekarang ini, karena Allah mewujudkannya", jelasnya.

Menurutnya, impian adalah satu-satunya bahan bakar yang bisa menggerakkan kita ke arah yang lebih baik lagi dan membuat kita sukses dalam mencapai kebahagiaan kita sendiri.

"Semua orang mempunyai impian, I want to start; dan selalu saya deskripsikan, lalu meminta Ibu untuk mendoakan dan tentukan target untuk meraihnya," katanya.

Berbeda dengan Erma, penyiar radio Suara Kudus, Rizaldo Ahmad Wildan mengatakan menurutnya public speaking merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh calon-calon pemimpin masa depan, pada dasarnya seorang pembicara yang hebat  adalah  pembicara yang buruk terlebih dahulu.

"Jangan takut gerogi, sebab itulah awal langkah kita agar berani berbicara di depan umum. Yang perlu kita persiapkan adalah mental, sistem penyampaian dan membangun keakraban dengan audiens," jelasnya.

Ia berharap acara ini dapat memberikan dampak yang luar biasa bagi mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan public speaking mereka

"Saya harap peserta nantinya memiliki kemampuan baik dal berpublic speaking, tidak hanya ketika presentasi di kelas, tapi bisa menjadi  seorang MC  berbagai event yang mampu menghidupkan acara," harapnya. (A'yun)


KAMPUS - Mahasiswa memiliki peran penting dalam menjaga dan mempertahankan keutuhan NKRI. Yakni dengan mengetahui makna kebangsaan dan latar belakang masalah sehingga mampu mengambil keputusan secara bijak. Selain itu, mahasiswa dituntut menciptakan keamanan dan ketertiban dalam suatu negara.

Hal tersebut dikatakan oleh Rektor IAIN Kudus, Mundakir dalam acara halaqah kebangsaan yang bertajuk “Menguatkan Semangat Berbangsa dan Bernegara Demi Keutuhan NKRI” yang diadakan oleh Dewan Eksekutif Mahasisiwa (DEMA) Institut di GOR IAIN Kudus, Senin (28/10/2019).

Sebab, menurutnya mahasiswa mengetahui bahwa perbedaan merupakan suatu hal yang biasa dan ada sejak manusia dilahirkan di muka bumi.

"Dengan adanya perbedaan tidak membuat semangat dalam berbangsa dan bernegara runtuh, melainkan semakin menguatkan manusia dalam menjaga dan mempertahankan NKRI," kata Mundakir.

Sedangkan secara realitas, Mundakir menyebutkan adanya perbedaan di Indonesia terbagi dalam tiga gologan, yaitu priyai tokoh sekuler yang tidak kental dengan hal-hal yang sifatnya religius, abangan tidak bersentuhan dengan ajaran agama, dan santri tokoh yang memiliki sifat religius atau mempertahankan nilai-nilai ajaran agama.

“Kita lahir di Indonesia merupakan sebuah anugrah dan kodrat. Bangsa Indonesia terkenal multikultural terdiri dari 746 bahasa, 17.508 pulau, 300 etnik dan 1.340 suku yang disatukan dengan ketuhanan yang Maha Esa dan universum atau menghubung berbagai unsur dari bahasa, adat dan budaya. Sehingga terciptanya pluralisme dalam suatu bangsa," jelasnya.

Selain itu, menurut Kapolres Kudus, AKBP Saptono, menjelaskan bahwa ada tiga unsur utama yang mendorong mahasiswa mampu menjadi rakyat yang kreatif, baik dan mampu memanfaatkan perkembangan IPTEK.

Pertama, bangsa Indonesia lahir dari Bhineka Tunggal Ika sehingga antar manusia mampu memahami dan mengerti dengan lainnya.

"Dari lahir kita sudah dibiasakan dengan perbedaan. Ini yang diharapkan agar bangsa kita menjadi bangsa yang baik," jelas Saptono.

Kedua, bangsa Indonesia mampu menghargai para pejuang muda terdahulu yang menyatukan dalam sumpah pemuda. Ketiga, sebagai mahasiswa mampu mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang inovatif, kreatif dan menjadikan lebih baik sesuai dengan role atau peraturan yang ada.

"Mahasiswa harus mampu memanfaatkan IPTEK sesuai tuntutan zaman," ungkapnya.

Sedangkan Badan Bispanpol Jawa Tengah, Atik Suniarti berharap mahasiswa mampu mewaspadai dan menghentikan gejolak-gejolak yang timbul dari golongan-golongan yang berusaha merusak NKRI yang berideologi pancasila dan UUD 1945.

"Jangan sampai negara kita diporak pandakan karena tepapar paham radikalisme yang disebarkan oleh golongan tertentu," harapnya. (Lenny/Azkal)

KAMPUS - Sebagai minuman yang paling banyak diminum nomor dua di dunia, Menarasikan kopi lokal menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kopi lokal agar dikenal sampai internasional. Langkah ini yang dilakukan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma dalam menarasikan kualitas kopi lereng muria yang belum diketahui banyak orang. 

"Banyak orang yang hanya mengenal Kudus sebagai kota kretek maupun santri. Tapi belum banyak yang mengetahui bahwa Kudus punya kopi yang kualitasnya tak kalah bagus dari kopi daerah lain," kata Pimpinan Redakasi LPM Paradigma 2018, Faqih Mansyur Hidayat dalam bedah majalah edisi 33 “Narasi Kopi Lereng Muria” yang diadakan  dalam serangkaian acara Haflah Ilmiah Jilid 4 di GOR IAIN Kudus, Selasa (21/10/2019).

Meski begitu, daerah muria yang belum begitu tereksplor menjadi salah satu kendala dalam pembuatan majalah narasi kopi lereng Muria ini.

“Daerah muria yang belum begitu tereksplor sedikit menjadi kendala kami saat melakukan peliputan tentang kopi," ungkap Faqih.

Sementara itu, ahli kopi lereng muria, Dani Dole mengatakan masyarakat lokal Kudus yang tak percaya dengan kualitas kopinya sendiri juga menjadi kendala dalam memperkenalkan kopi lereng muria.

"Kunci utama kesuksesan adalah percaya pada diri sendiri. Kalau kita tidak percaya dengan kualitas kopi kita sendiri bagaimana kopi kita dikenal banyak orang," tuturnya.

Di coffe shop Kudus misalnya, Doni mencontohkan, coffe shop cenderung menggunakan kopi daerah lain daripada kopi daerahnya sendiri. Hal ini dikarenakan paradigma mereka yang menganggap kopi lereng muria belum terkenal dan diragukan kualitasnya.

"Persaingan bisnis dan paradigma yang salah akan mempersulit keyakinan kita pada produk kita sendiri," jelas Doni.

Untuk itu, menurutnya, langkah awal dalam menarasikan kopi lokal harus didukung penuh. Narasi kopi tidak hanya sebatas bagaimana meminum kopi, akan tetapi yang dimaksud menuliskan segala hal tentang kopi mulai dari menanam kopi, mengolah kopi, hingga memproduksi kopi dalam kemasan yang siap di seduh.

"Masyarakat harus diberi pemahaman bahwa memajukan produk lokal adalah hal yang paling utama," tambahnya.

Lebih lanjut, Doni mengatakan bahwa sebagai mahasiswa kita harus berkarya di negeri sendiri dan memberikan citra baik kopi muria kepada masyarakat.

”Tunjukkan kepada seluruh masyarakat bahwa lereng Muria merupakan daerah penghasil kopi dengan kualitas baik," ungkapnya.

Sedangkan, Founder Kopi Tasty Muria Kudus, Shinta Dwi Mutiarani menjelaskan bahwa untuk memperkenalkan kopi muria harus diawali dari petani kopi. Sebab dari langkah awal ini yang akan memperkenalkan kualitas kopi muria.
"Dulu para petani sering memanen kopi sebelum masa panen dan dijual begitu saja ditengkulak. Lebih parahnya tengkulak tidak memberikan label bahwa itu kopi muria," keluhnya.

Itu sebabnya, lanjutnya, kopi muria hilang di pasaran. Petani yang asal-asalan memanen menjadi langkah awal kami untuk memberikan sosialisasi bagaimana proses penanaman, panen, pengolahan sampai berupa produk kepada para petani.

"Alhamdulillah, sekarang sudah ada sekitar 20 UKM kopi lereng muria yang turut memperkenalkan kopi muria," katanya. (Hasyim/Fal)

KAMPUS - Bedah buku "Hati Suhita" karya Khilma Anis yang diselenggarakan oleh LPM Paradigma dalam rangkaian acara Haflah Ilmiah Jilid 4 berhasil menyedot perhatian publik. Ratusan penggemar dan sejumlah dosen turut hadir dan memadati GOR IAIN Kudus, Kamis (24/10/2019).

Salah satu penggemar novel hati suhita, Nurul Mubari'ah mengaku senang dapat melihat penulisnya secara langsung. Meski tak dapat berjabat tangan, baginya dapat hadir di acara bedah buku kegemarannya sudah menjadi hal yang membanggakan.

"Sempat menyesal karna datang terlambat. Akibatnya kursi dan tribun sudah penuh. Tapi beruntung ada orang yang mau memberikan kursinya untuk saya," kata mahasiswi semester tujuh Pendidikan Bahasa Arab (PBA) ini.

Menurutnya, cerita yang paling membuatnya termotivasi adalah mikul duwur mendem jero yang sulit dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang.

"Saya dapat memetik pelajaran bahwa tak selamanya masalah harus diumbar. Tapi bagaimana harus bersikap dewasa. Khilma Anis suskes memotivasi saya lewat novel hati suhita," ungkapnya.

Berbeda dengan Nurul, penggemar lain, Cindi Fatmawati mengaku suka dengan karakter Rengganis yang ikhlas dan legowo dengan takdir Tuhan saat harus berpisah dengan Gus birru.

"Tidak semua wanita bisa ikhlas bila berada di keadaan seperti itu. Dan Khilma Anis mampu menceritakan dengan baik dan mampu membuat saya menangis saat membaca novelnya," jelasnya.

Lebih lanjut, menurutnya Khilma Anis mampu memperlihatkan harkat dan martabat seorang perempuan di novelnya.

"Novel hati suhita melihatkan marwah dan keteguhan perempuan. Hal itu yang membuat novel ini menarik dibaca," tambahnya.

Terakhir, ia berharap akan ada novel-novel dari Khilma Anis yang tak jauh bagusnya dari novel hati suhita dan novel-novel sebelumnya.

"Siap menunggu novel selanjutnya, dan siap menjadi penggemar setia," katanya. *(A'yun/Falis)*


KAMPUS - Setelah sukses menjadi novel best seller, novel Hati Suhita karya Khilma Anis akhirnya akan difilmkan 2020 mendatang. Hal tersebut menjadi kabar yang menggembirakan bagi penggemar novel Hati Suhita.

Penulis Novel Hati Suhita, Khilma Anis mengatakan Hati Suhita merupakan novel pertamanya yang akan difilmkan. Ia mengaku pihaknya dengan sutradara starvision sudah membicarakan novel yang akan difilmkan tersebut.

"Saya selalu diikut sertakan dalam penggarapan film. Mulai dari part-part yang tidak boleh dihilangkan, pemilihan tempat sampai dengan olah rasa," jelasnya kepada wartawan parist.id dalam acara Haflah Ilmiah Jilid 4 LPM Paradigma, Kamis (24/10/2019).

Untuk siapa aktor yang akan membitangi, Khilma masih merahasiakan dan berharap film tersebut akan memberikan motivasi kepada banyak orang.

"Kalau aktornya saya kasih tahu sekarang tidak kejutan dong. Tunggu saja nanti saat mulai rilis pemutaran film yang akan tayang di seluruh bioskop tanah air," tuturnya.

Lebih lanjut, ia berharap akan muncul kritikus-kritikus film yang akan mengkritik dan mengevaluasi film Hati Suhita untuk pembelajaran ke depannya.

"Kritikan novel menjadi film pasti berbeda. Nah ini nantinya yang akan jadi bahan evaluasi," jelas Khilma.

Salah satu penggemar novel Hati Suhita, Cindi Fatmawati berantusias menyambut film hati suhita. Ia mengaku akan meluangkan waktu untuk menonton film dari novel yang penuh pembelajaran tersebut.

"Saya sudah mulai membayangkan ceritanya ketika difilmkan. Saat membaca saja sudah mampu membuat orang menangis apalagi saat difilmkan," ungkapnya. (Falis)

KAMPUS – Acara haflah ilmiah jilid 4 Lempaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma yang sudah terlaksana selama empat hari 21-24 Oktober 2019 resmi ditutup. Penutupan dilakukan oleh pembina LPM Paradigma dengan pemukulan jidor secara simbolis di GOR IAIN Kudus, Kamis (24/10/2019).

Pembina LPM Paradigama, Any Ismayawati mengatakan, apapun kegiatan pasti ada positif dan negatifnya karena tidak ada yang sempurna di dunia ini, kesempurnaan hanya milik Tuhan. Menurutnya tidak mudah suatu kegiatan yang melibatkan banyak pihak di dalamnya.

“Saya sangat berterima kasih dan bangga dengan LPM yang mampu menyelenggarakan kegiatan yang cukup besar ini. Dan terima kasih kepada UKM lain yang bersedia untuk berkolaborasi dan bersinergi menjadikan acara paradigma ini sukses,” kata Any.

Lebih lanjut, ia menghimbau perlu adanya evaluasi terhadap serangkaian kegiatan acara yang telah diselenggarakan. Mulai dari evaluasi kelebihan, kekurangan dan, kendala dengan harapan ke depannya akan lebih baik lagi.

"Evaluasi adalah hal penting yang wajib dilakukan setelah melakukan apapun. Untuk itu saya harap evaluasi dapat menjadi jembatan memperbaiki diri," jelasnya.

Sedangkan, Pimpinan Umum (PU) LPM Paradigma, Ali Murtadho berharap nantinya apa yang telah di rencanakan dapat di wujudkan sebagai bentuk implementasi dari teori menjadi kenyataan.

“Terima kasih atas partisipasinya dari awal hingga akhir kegiatan acara. Semoga kegiatan Haflah Ilmiah Jilid 4 dapat berlangsung berjilid-jilid dan semakin lebih baik, harapnya. (Ayu


KAMPUS – Di era digital penyebaran literasi semakin dipermudah dengan media online. Media Online menjadi alat untuk menumbuhkan kesadaran literasi. Literasi santri misalnya, sebagai santri tidak boleh hanya membaca, tetapi harus mampu menulis, mencari informasi, mengolah informasi, dan memproduksi menjadi tulisan yang positif. 

"Dalam menulis juga harus memperhatikan regulasi dan etika ketika menulis," kata Sunarni, dosen IAIN Kudus dalam diskusi bincang media online yang bertajuk “Menakar Potensi Media Lokal Kudus dalam Literasi Santri” yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma dalam rangkaian acara Haflah Ilmiah Jilid 4 di GOR IAIN Kudus, Senin (21/10/19). 

Sebab, menurutnya santri yang baik harus mampu menulis dan membuat konten yang mendalam dan menarik sehingga dapat memberikan banyak informasi kepada pembaca.

"Santri tak hanya mengaji kitab, tetapi harus mampu meliterasikan dirinya sendiri," jelasnya. 

Senada dengan Sunarni, Pimpinan Umum (PU) Suara Nahdliyin, Qomarul Adib mengatakan santri sebagai salah satu pengguna media sosial harus mampu meliterasi diri dengan baik agar tidak mudah terpengaruh oleh propaganda negatif dari media lain. 

”Media sebagai komunikasi, edukasi dan kontrol sosial. Pelaku media harus meliterasi diri dengan baik, dan menghindari propaganda dari pengaruh negatif” Jelasnya. 

Lebih lanjut, literasi santri bisa dimulai dari kiyai untuk lebih produktif dan melek teknologi agar dapat menjadi teladan bagi para santri dalam berliterasi. 

“Menumbuhkan kesadaran media online bukan hanya tugas santri, tetapi kiyai juga harus produktif agar menjadi teladan bagi para santri dan kiyai yang lain," katanya.

Sementara itu, pegiat fanspage santri mbareng, Ilyas Alkayisi menghimbau agar para santri harus mewarnai dunia, melalui inovasi dan kreativitas dalam menulis. 

Ilyas juga berharap media online santri mbareng dapat mengenalkan santri dan kegiatan kepesantrenan kepada masyarakat melalui literasi. 

”Melalui fanspage dan instagram, kami berharap dapat mengenalkan kegiatan santri kepada masyarakat sekitar,” harapnya. (Hasyim)


KAMPUS – Mahasiswa harus mampu berperan aktif di masyarakat dalam memberikan contoh pendidikan politik yang baik. Sebagai orang berpendidikan, mereka dituntut untuk memberikan pencerahan di masyarakat. 

“Mahasiswa menjadi panutan di masyarakat dan dianggap punya kepandaian yang lebih. Maka mereka harus mampu mengarahkan pandangan mayarakat  ke arah yang lebih baik, jangan malah sebaliknya,” kata Wakil Ketua DPRD Kudus, Ilwani, dalam dialog politik, yang bertajuk “Peran Mahasiswa dalam Mengontrol Inklusifitas Parlemen Indonesia” yang diadakan oleh Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam di gedung SBSN lantai 1, Rabu (16/10/2019).

Untuk itu, lanjutnya, mahasiswa perlu memahami ilmu politik terlebih dulu agar tidak salah paham terhadap politik. Sebab, Orang yang tidak mengerti ilmu politik maka dia akan menyesatkan dirinya dan orang lain.

"Sebelum memberikan pemahaman kepada masyarakat kalian harus paham terlebih dahulu ilmu politik agar yang kalian sampaikan tidak menyesatkan," imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, salah satu anggota DPRD Kudus, Ali Ihsan menyampaikan bahwa mahasiswa sangat ideal dalam menjadi pemimpin di masa depan. Sebab masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda. 

“Mahasiswa bisa aktif di BEM dan organisasi-organisasi yang ada di dalam kampus, ibarat kata sudah tiba di sebuah terminal, tinggal bisa memilih ke mana tujuan dan cita-cita yang kita inginkan tergantung dari kita,” jelasnya.

Sementara itu, Dosen IAIN Kudus, Muhtarom berpesan kepada mahasiswa agar mereka tidak apatis terhadap politik. 

“Mahasiswa jangan anti terhadap politik. Karena kampus menjadi bagian penting bagaimana kinerja politik dan bagaimana memberikan masukan ke sana,” katanya.

Sebab menurutnya, mahasiswa yang terpaku pada bangku perkuliahan akan sulit untuk mengembangkan potensinya.

“Mahasiswa yang mampu untuk menunjukan berbagai disiplin ilmu, berbeda tipologi mahasiswa yang hanya kutu buku dan terfokus dengan jurusannya,” katanya. (Fatwa)

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.