KUDUS - Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kudus harus memperkuat hubungan antar tokoh umat beragama maupun organisasi di Kudus. Hal ini penting dilakukan mengingat isu-isu intoleransi yang semakin kuat mengancam keutuhan bangsa.

Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kudus Muhammad Ikhsan, mengatakan pihaknya bersama seluruh jajarannya akan mulai mensinergikan tokoh-tokoh agama untuk menyamakan persepsi umat masing-masing terkait toleransi dan kerukunan.

”Kalau kemarin-kemarin kami hanya berkutat dengan wacana toleransi, kerukunan, dan persatuan, kini sudah saatnya untuk melakukan aksi nyata agar wacana-wacana itu membumi,” ungkapnya pada acara dialog lintas agama di Hotel @Home Kudus, Minggu (18/08/2019) kemarin.

Sebab, menurutnya patronase di masyarakat saat ini masih kuat. Hal itulah yang akan dikuatkan dengan cara menurunkan tokoh-tokoh paling berpengaruh di Kudus ke kelompok-kelompok kecil.

 "Kalaupun ada konflik, masyarakat akan tetap mengikuti komando pemimpinnya," jelas Ihsan.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kudus, Noor Badi, mengatakan menurutnya tokoh-tokoh agama maupun organisasi masyarakat di Kudus memang harus menyepahamkan pandangan tentang toleransi dan keberagaman. Hal ini penting dilakukan karena tokoh-tokoh agama merupakan kunci sinergitas hubungan antar umat beragama, suku, maupum ras.

"Kultur keberagamaan masyarakat Kudus kini masih berkutat pada patronase agamanya. Kudus tidak boleh tertular virus-virus intoleransi yang menyerang daerah-daerah lain. Untuk itu peran tokoh-tokoh agama sangatlah penting,” tegasnya. (Falis)


KAMPUS - Sejumlah 120 Pegawai Negeri Sipil (PNS) diumumkan mendapat tanda kehormatan Satya Lencana Karya Satya pada upacara hari kemerdekaan Negara Kesatuan Repubik Indonesia (NKRI) yang diselenggarakan di lapangan utama IAIN Kudus, Sabtu (17/08/19).

Karsa Sukarsa menyampaikan tanda kehormatan diberikan berdasarkan tiga golongan masa tahun kerja.

"Tanda kehormatan akan diberikan kepada PNS yang telah mengabdikan diri selama lebih dari tiga puluh tahun, dua puluh tahun dan sepuluh tahun," kata Karsa dalam sesi penyampaian keputusan presiden RI Joko Widodo. 
Penyerahan Tanda Kehormatan Satya Lencana Karya Satya Oleh Dr. H. Mudzakir, M.Ag Kepada Salah Satu Dosen IAIN Kudus.
Nama-nama tersebut di antaranya Dr. H. Yasin, M.Ag untuk tanda kehormatan masa pengabdian 30 tahun, Dr. Mamun Mumin, M.Ag. untuk masa pengabdian 20 tahun dan Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc., M.Si. sebagai perwakilan penerima anugerah untuk masa pengabdian 10 tahun. 

Dari total 120 PNS yang mendapat kehormatan Satya Lencana Karya Satya, enam diantaranya diberikan kepada PNS untuk masa bakti 30 tahun, sembilan belas untuk masa kerja 20 tahun dan sembilan puluh lima PNS mendapatkan tanda anugerah untuk masa kerja 10 tahun.

Ketiga perwakilan menerima berkas oleh Rektor IAIN Kudus, Dr. H. Mudzakir, M.Ag yang disaksikan seluruh civitas akademik dan peserta upacara. 

Menanggapi hal tersebut, Rektor IAIN Kudus, Mundzakir memberikan selamat kepada para penerima penghargaan. Ia berharap penghargaan tersebut  bisa menjadi semangat untuk bekerja lebih keras dan giat lagi.

“Semoga menjadi support dan penyemangat kepada kalian semua dalam bekerja untuk masa-masa yang akan datang," harapnya. (Fandi)

KAMPUS - Memperingati Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ke-74 dengan mengusung tema "SDM maju, Indonesia unggul", seluruh civitas akademika IAIN Kudus melaksanakan kegiatan seremonial upacara dengan khidmat di lapangan kampus timur, Sabtu (17/08/2019).

Hadir sebagai Inspektur Upacara, Rektor IAIN Kudus, Dr. Mundzakir  menyampaikan bahwa tema Sumber Daya Manusia (SDM) Maju, Indonesia Unggul merupakan tema serentak upacara kemerdekaan di seluruh Indonesia.

"Indonesia akan bisa maju dengan unggulnya sumber daya manusianya. Bila begitu, bangsa kita dapat bersaing terhadap bangsa lain," jelasnya.

Mundzakir juga mengatakan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (KEMENRISTEKDIKTI) bahwa pembangunan SDM menjadi kunci keberhasilan dan kesuksesan Indonesia di masa depan.

"Kemajuan Indonesia tidak hanya dengan pembangunan infrastruktur saja, akan tetapi juga peningkatan kualitas SDM," katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, untuk mewujudkan keunggulan bangsa perlu adanya perbaikan serta peningkatan pendidikan dan teknologi yang relevan dengan perkembangan zaman.

"Dalam mencetak SDM unggul, perguruan tinggi sebagai wadah agen perubahan harus bisa menjadi garda terdepan dalam menyelesaikan sengketa SDM dan mampu mencetak penerus bangsa yang unggul untuk masa mendatang," katanya. (Intan) 



KAMPUS
- Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR-PMI) IAIN Kudus adakan tensi tekanan darah secara gratis pada hari terakhir Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2019, Sabtu (10/08/2019) kemarin.

Ketua KSR-PMI IAIN Kudus, Moh Ilham Mudhoaf Munir mengatakan bahwa diadakannya tensi tekanan darah secara sukarela bukan sekedar untuk menarik perhatian mahasiswa baru (Maba). Namun lebih kepada penerapan ilmu yang mereka miliki.

"Kita hanya ingin mengaplikasikan ilmu yg kita dapat selama di KSR-PMI. Manfaatnya mereka bisa tahu dan lebih bisa menjaga tekanan darah agar tetap stabil," jelasnya.

Senada dengan Ilham, salah satu anggota KSR-PMI, Annisa mengungkapkan jika diadakannya tensi tekanan darah secara gratis bukan semata-mata untuk meraih keuntungan sendiri, tetapi memang wujud kesukarelaan untuk membantu sesama manusia.

"Kita hanya melakukan tindakan wujud kemanusiaan. Tidak berpikir bakal untung apa tidak. Bila ada keuntungan berarti itu bonus. Alhamdulillah sudah 200 lebih pendaftar yang datang ke stand," katanya.

Kegiatan tersebut direspon baik oleh Mahasiswa Baru (Maba), salah satu Maba, Nailis sa'adah mengaku tertarik dengan KSR-PMI. Apalagi ada kegiatan tensi gratis.

“Sebelumnya saya sudah ada niatan untuk mendaftar UKM yang ada di kampus ini. Sejumlah informasi sudah saya cari beberapa hari yang lalu, jadi hari ini saya bisa langsung mendaftar UKM yang saya minati," jelasnya. (Dewi)


KAMPUS - Stadium General (SG) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus akan menghadirkan narasumber bertaraf nasional. Hal ini dimaksudkan agar mampu membentuk karakter mahasiswa yang memiliki jiwa kompetensi dan bermanfaat bagi masyarakat.

Beberapa narasumber tersebut di antaranya, Fakultas Ushuluddin diisi oleh mantan direktur diktis Yogyakarta Prof. Dr. Amsal Bahtiar., MA, Fakultas Syariah diisi oleh mantan pengurus tim komisioner KPK Dr. H. Yasin., MA, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam diisi oleh dosen UIN Syarif Hidayatullah, Dr. Gun Heryanto, M.Si, Fakultas Tarbiyah diisi oleh dosen pascasarjana UNY Prof Kumaidi P.h.D, dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam diisi oleh guru besar UII Prof. Dr. Hadri Kusuma M.B.A. 

“Dengan dihadirkan pemateri SG bertaraf nasional, saya berharap semoga kalian bisa bersikap sebagai mahasiswa IAIN Kudus dan melakukan perubahan ke arah positif sehingga menjadi cerminan baik di dalam masyarakat,” ucap Rektor IAIN Kudus, dalam acara penutupan PBAK 2019 di lapangan kampus timur IAIN Kudus, Sabtu (10/08/2019).

Bila sudah begitu, lanjutnya, kalian akan mudah diterima di masyarakat dengan bekal yang kalian dapatkan dari kampus sebagai agen perubahan.

"Jadilah mahasiswa yang membawa perubahan ke arah positif di masyarakat. Karena begitulah esensinya seharusnya mahasiswa bersikap," jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, salah satu peserta PBAK, Riza Umami mengaku sangat senang dengan acara PBAK. Selain itu ia juga antusias menanti pemateri SG yang akan dihadirkan kampus.

"Kegiatan PBAK ini seru, butuh banyak perjuangan dan dapat membentuk pola pikir saya yang lebih kritis dan kreatif. Apalagi nanti saat SG akan dihadirkan pemateri bertaraf nasional," Ujarnya. 

Selain itu, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), Gatot Priambodo Agusta mengucapkan terima kasih kepada para mahasiswa baru yang antusias mengikuti kegiatan PBAK 2019 dari awal sampai akhir kegiatan. 

"Kegiatan ini cukup menguras tenaga dan pikiran. Namun, setelah kegiatan ini jangan lupa masih ada kegiatan SG yang wajib diikuti," jelasnya. (Lenni)


KAMPUS - Hari terakhir Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2019 diwarnai dengan pembuatan paper mop 13 formasi oleh seluruh peserta PBAK di lapangan kampus timur Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Sabtu (10/08/2019)

Salah satu panitia OC, A'yun mengatakan paper mop tahun ini menampilkan lebih banyak formasi sehingga cenderung lebih memukau dan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. 

"Kalau tahun kemarin cuma sedikit formasinya, tahun ini kami membentuk lebih banyak formasi, sekitar 13 formasi. Jadi ada kemajuan dibandingkan tahun sebelumnya," jelasnya.

A'yun juga menambahkan bahwa membutuhkan 2000 sampai 3000 kertas untuk membentuk 13 formasi. Diantaranya ada formasi tombol play button 123, tulisan IAIN KUDUS, emoticon, love, dan dirgahayu RI. 
"Kami harus bekerja ekstra agar formasi bisa berjalan dengan lancar," ungkap A'yun.

Sementara itu, salah satu panitia SC, Aris mengatakan bahwa desain paper mop mulai dipersiapkan setelah PBAK tahun kemarin.

"Desain paper mop yang kami buat sudah dipersiapkan sejak lama setelah PBAK tahun kemarin. Saya yang mendesain dan dibantu dengan rekan-rekan yang lain," jelasnya. 

Sedangkan, salah satu peserta PBAK, Anisa mengaku senang dengan adanya paper mop tersebut.  meskipun kepanasan dan kelelahan, ia sangat menikmati keseruan membuat formasi paper mop.

"Saya senang  dan sangat menikmati karena banyak formasi yang dibentuk meskipun cukup melelahkan dan panas," ungkapnya. 

Senada dengan Anisa, salah satu peserta PBAK lain, Amirul juga mengakui keseruan membuat paper mop. Meski persiapan pembuatan paper mop memakan waktu lama dan banyak peserta pingsan karena kepanasan dan kecapekan. 

"Intinya seru, meski banyak yang pingsan dan memakan waktu lama dalam pembuatan karena harus ganti pemain," katanya. 

Ia berharap paper mop tahun depan lebih kreatif lagi baik dari segi penataan maupun koreografinya.

"Semoga panitia lebih kreatif lagi dengan melihat tutorial di youtube seperti universitas lain yang bagus-bagus," imbuhnya. (Hasyim)


KAMPUS - Kurangnya lahan parkir di kampus untuk peserta Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) mengakibatkan alih fungsi taman kampus barat IAIN menjadi lahan parkir. Akibatnya sejumlah tanaman menjadi rusak.

Petugas kebersihan, Zainal khalimi mengatakan karena kekurangan tempat parkir terpaksa taman dijadikan tempat parkir. Akibatnya taman menjadi rusak.

“Karena dijadikan lahan parkir para peserta PBAK taman jadi rusak. Ini jadi tugas kami ke depannya untuk memperpaiki taman yang rusak sehingga kembali baik lagi," katanya. 

Sedangkan Satpam kampus barat IAIN Kudus, Ahmad Riza mengaku kewalahan dalam mengatur area parkir karena kurangnya lahan parkir, serta banyaknya mahasiswa baru yang keluar dan masuk saat PBAK.

"Kemarin saya sudah koordinasi dengan SC dan meminta beberapa panitia untuk membantu mengatur parkir di kampus barat waktu pagi hari, karena jadwal piket pagi dari kami cuma tiga orang untuk mengatasi banyaknya mahasiswa baru yang masuk," ungkapnya.

Ketua OC, Ahmad Riza membenarkan jika lahan parkir kurang memadahi. Hal ini yang menyebabkan pihak panitia tidak memberi larangan untuk peserta PBAK memakirkan motor di luar kampus. 

“Tempat parkir sudah kami beritahukan dan kita arakan kepada mahasiswa baru untuk tempat parkir kami tempatkan dikampus barat, jika ada jasa penitipan dan ada peserta yang parkir di luar kampus, kami dari pihak panitia tidak melarang yang terpenting tetap menjadi kondusifitas," jelasnya. (Ayu)

KAMPUS -  Sebanyak 50 mahasiswa baru (MABA) telat hadiri Technical Meeting (TM) pada kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2019 di lapangan kampus timur IAIN Kudus, pada Rabu (07/08/19). 

Azizatul Khumairoh selaku seksi pembinaan PBAK menjelaskan, sejumlah 3.060 MABA berhasil tertib mengikuti jadwal yang telah ditentukan oleh panitia.

Sedangkankan untuk 50 Maba belum bisa hadir tepat waktu sesuai jadwal. 
"Terjadwal pukul 05.00 hingga 06.30 WIB pintu gerbang dibuka. Melebihi waktu yang telah ditentukan akan ditutup oleh panitia," jelasnya.

Azizah juga mengatakan, banyaknya peserta yang terlambat memiliki alasan yang beraneka ragam. Sebagian peserta PBAK sebagai santri pondok. Antri mandi menjadi penyebab utama tidak tepat waktu. 

"Tak hanya alasan di pondok pesantren, Maba juga ada yang beralasan belum hafal jalan ke kampus, terkena macet, dan kembali mengambil perbekalan yang tertinggal hingga mendapati ban bocor," jelas Azizah.

Maghfiroh mahasiswi Ilmu Hadist menjelaskan, dirinya tidak bisa datang tepat waktu karena harus mengambil id-card di pondok pesantren.

"Perlu beberapa menit untuk mengambil id-card, ternyata pintu gerbang sudah diutup oleh panitia," ungkapnya.

Maghfiroh menjelaskan, walaupun tidak bisa bergabung bersama peserta lainnya. lanjutnya, ia harus menjelaskan alasan keterlambatan kepada panitia PBAK terlebih dahulu.

"Saya dikumpulkan bersama pserta yang terlambat di lapangan tenis kampus timur," terang mahasiswi asal Magelang. (Nonik/Fandi)

KAMPUS - Mahasiswa yang berprestasi dalam laga pertandingan  POM Rayon, POMPROV, dan PIONIR ke-IX mendapat penghargaan dari pihak kampus. Penghargaan tersebut diberikan kepada para juara yang telah berhasil menyumbang medali bagi IAIN Kudus di gedung rektorat lt 3, Jumat (02/08/2019).

Rektor IAIN Kudus, Dr. H Mundzakir menekankan terkait pentingnya pembelajaran dalam setiap perlombaan yang diikuti. Menurutnya, prestasi yang lebih membanggakan adalah ketika menjadi juara secara objektif. 

"Menimba pengalaman menjadi sangat penting dalam setiap kegiatan,"ucapnya. 

Kedepannya, Mundzakir menjelaskan bahwa prestasi-prestasi yang berhasil diraih oleh para mahasiswa akan Diintegrasikan dengan beasiswa.

"Beasiswa yang diberikan bagi mahasiswa berprestasi bisa bermacam-macam, bisa juga gratis Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama beberapa tahun," jelasnya.

Senada dengan Mundzakir, Warek III Ihsan juga lebih menekankan pentingnya persiapan  dan pelajaran para mahasiswa dalam menghadapi event-event berikutnya.

"Persiapan ini yang perlu dimintakan ke seluruh mahasiswa untuk bisa membantu lembaga dalam rekruitment calon mahasiswa baru dalam masing-masing kegiatan sebagai kaderisasi," kata Ihsan.

Terakhir, ia menjelaskan bahwa anggaran bagi mahasiswa berprestasi masih sebatas tiga ajang tersebut dan beberapa ajang yang diselenggarakan oleh Kemenag. 

"Selain dari tiga ajang tersebut, mahasiswa bisa koordinasi ke bidang keuangan supaya bisa di support keuangan," tegasnya. (Arum)


KAMPUS - Panitia Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2019 IAIN Kudus membatasi jumlah stand PBAK mahasiswa. Pembatasan tersebut dilakukan agar tidak mengganggu proses pendaftaran dan screening Mahasiswa Baru.

Panitia pelaksana, Tubagus Fahmi mengatakan jumlah stand yang didirikan tahun ini dibatasi hanya 30 stand dibanding tahun lalu yang berjumlah 75 stand.

“Tahun ini hanya 30 stand yang diperbolehkan berjualan di dalam kampus, jika ada yang membuka stand di luar kampus silakan tapi itu bukan tanggung jawab kami.” kata Tubagus, Rabu (31/07/2019).

Selain itu, ketua OC (Organizing Committee) Ahmad Riza menjelaskan bahwa dalam mendirikan stand para pedagang diharuskan tertib, tidak mengganggu mahasiswa baru serta mentaati aturan yang sudah ditetapkan panitia mulai dari pendirian stand sampai selesai.

“Para pedagang memang harus taat aturan terlebih lagi dalam soal harga, pedagang diharuskan memperlihatkan daftar harga dengan jelas di stand yang didirikan. Enggak boleh seenaknya pasang harga sendiri. Kalo ada yang melanggar bisa kami hentikan dagangannya,” tuturnya.

Ia juga mengaku pihak panitia tidak merasa dirugikan dengan keberadaan stand-stand yang ada. Dengan adanya stand diharapkan dapat menjadi informan yang baik mengarahkan mahasiswa baru dalam mempersiapkan perlengkapan dan pembekalan PBAK 2019 IAIN Kudus. 

"Malah bagus ada stand-stand PBAK. Jadi para mahasiswa baru bisa terbantu menyiapkan perlengkapan PBAK nantinya," jelas Riza.

Salah satu mahasiswa yang mendirikan stand, Herda mengaku bahwa pihaknya ingin membantu para mahasiswa baru untuk mepermudahkan mendapatkan perlengkapan dan pembekalan selama PBAK berlangsung. Selain itu ia dan teman-temannya juga memberi ruang kepada mahasiswa baru untuk memberi informasi mengenai hal yang berkaitan dengan kampus dan perkuliahan ke depannya.

“Karena dulu kami juga pernah merasakan jadi mahasiswa baru, masih bingung harus ngapain di kampus, masih minim informasi. Dari situ kami punya niat untuk membantu mahasiswa baru yang sedang mengalami kondisi seperti yang kami rasakan dulu," tutur mahasiswa semester 5 ini.  

Hal tersebut direspon baik mahasiswa baru. Fauzan, salah satu mahasiswa baru mengaku terbantu dengan adanya stand-stand yang berada di kampus. 

“Seneng juga ada yang jual perlengkapan buat PBAK. Soalnya rumah saya di Rembang disini ngekos. Jadi enggak usah bingung lagi harus cari barangnya. Kakak-kakak disini juga sangat membantu buat arahin perlengkapan apa aja yang harus dibawa," ungkapnya. (Riza)

KAMPUS - Gedung perpustakaan terpadu yang dibangun dari anggaran Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) tahun 2018 diresmikan langsung oleh Direktur Jendral Direktorat Jendral (Dirjen) Pendidikan Islam Kementrian Agama RI, Kamaruddin Amin, Selasa (30/07/2019).

Dalam sambutannya, Kamaruddin menyampaikan bahwa ada 5 hal yang perlu diperhatikan oleh para civitas akademika terkait perpustakaan, yaitu pertama, Kelembagaan perpustakaan harus ditingkatkan statusnya tidak hanya dari fasilitas dan  infrastruktur saja, tetapi dari koleksi buku yang bagus dan pelayanan yang baik.

"Perpustakaan yang baik memiliki koleksi buku yang bagus dan bermutu," jelas Kamarudin.

Kedua, lanjutnya, meningkatkan anggaran dana  untuk menunjang administrasi perpustakaan. Ketiga, Sumber Daya Manusia (SDM) yang dapat mengelola perpustakaan baik secara administrasi maupun sebagai profesional.

Kemudian kempat, digitalisasi dalam infrastruktur perpustakaan sangat penting mengingat sekarang ini kita hidup di era digital. Dan yang Terakhir, memperlengkap koleksi buku perpustakaan.

"Hal tersebut menjadi tantangan bagi kita bersama untuk berkontribusi dan berikhtiar meningkatkan kualitas perpustakaan di lingkungan PTKI," jelasnya.

Kamaruddin juga menambahkan, bahwa kualitas perguruan tinggi bisa terlihat dari kualitas perpustakaannya.

"Bagus tidaknya sebuah studi dilihat dari 2 hal, yaitu mempunyai profesor ahli di bidangnya dan perpustakaan yang lengkap. Oleh karena itu, mari kita bangun komitmen untuk memajukan perpustakaan," tegasnya.

Selain itu, Rektor IAIN Kudus Dr H Mundzakir memaparkan bahwa perpustakaan yang dibangun dengan luas 6700 M persegi yang terdiri dari 4 lantai diharapkan mampu memenuhi kebutuhan informasi para civitas akademika.

"Dengan fasilitas yang cukup memadai, diharapkan mampu terkoneksi dengan berbagai arus informasi dan menjadi tempat belajar yang nyaman," ungkapnya.

Terakhir, ia mengatakan bahwa di tahun-tahun mendatang IAIN Kudus akan memperluas bangunannya.

"Kampus IAIN Kudus terdiri dari 2 gedung,  Gedung lama di sebelah barat dan Gedung yang baru di sebelah timur. Di tahun yang akan datang kami mencoba lebih memperluasnya," katanya. (Arum) 

KUDUS - Hadir di panggung Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK), GAGEGO Moesik Kampoeng sukses memukau penonton dengan suguhan musik-musik khas ciptaan mereka. Pertunjukan yang bertajuk "Ngeja Kahanan" tersebut digelar di Auditorium Universitas Muria Kudus, Senin malam (29/07/2019).

Vokalis generasi lama Nursam, menjelaskan bahwa tema "Ngeja Kahanan" yang dimaksud, yaitu menceritakan mengenai alam, manusia dan kehidupan sosial serta berbagai warna persoalan hidup yang ada di masyarakat lewat syair-syairnya.

"Dengan mengeja kita dapat memperhatikan hal-hal yang kecil di sekitar kita dan mengajarkan bahwa semuanya itu tergantung dari sudut pandang," jelas Nursam.

Ia melanjutkan bahwa semua persoalan hidup pun perlu adanya musyawarah untuk mencapai kata mufakat dan tidak hanya menganut ego pribadi.

"Kalau hanya menganut ego masalah tidak akan cepat selesai," tambahnya.

Seperti ada adegan orang mabuk tadi, Nursam mencontohkan, bahwa orang mabuk itu biasa terjadi dan lumrah. Itu sebabnya jangan gumunan dan tergantung bagaimana sudut pandang kita melihatnya.

"Kalau menurut sudut pandang agama mabuk itu dosa. Tapi kalau menurut sudut pandang tanpa agama mabuk itu lumrah. Itu yang ingin kami tunjukkan bahwa semua menurut sudut pandang masing-masing," jelasnya.

Selain itu ia berharap kedepannya GAGEGO dapat tetap eksis dan mengajak para generasi muda baik dari kalangan SMP maupun SMA untuk mengenal grup musik GAGEGO serta syair-syairnya.

"Kami juga memaksa diri untuk membuat album supaya karya kita tidak hilang dan semoga dapat memancarkan energi positif bagi para pendengar," harapnya.

GAGEGO Moesik Kampoeng sendiri merupakan grup musik asal Gabus, Pati. Berawal di tahun 2006 ketika anak-anak Teater Gong Gabus, Pati meramu musik serta bunyi-bunyian dengan lebih sederhana.

"Kesederhanaan baik dari alat musik, lagu dan syairnya menjadi alasan utama mengapa eksistensi GAGEGO Moesik Kampoeng dapat bertahan sampai saat ini," katanya. (Arum) 


WONOSOBO - Semakin berkembangnya zaman tantangan bagi mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) di era industri 4.0 kian berat, sehingga perlu meningkatkan pengetahuan dan skill yang mumpuni di bidang teknologi dan informasi.

Hal tersebut disampaikan oleh ketua dewan pimpinan pusat Asosiasi prodi KPI (ASKOPIS) Muhammad Zamroni dalam acara muskerwil forkomnas KPI wilayah III Jateng-DIY dan seminar kepenulisan di aula Kampus Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ)  Wonosobo, Sabtu (27/07/2019).

Dalam sambutannya ia menjelaskan bahwa branding mahasiswa KPI perlu ditingkatkan supaya tidak tertinggal dengan mahasiswa ilmu komunikasi di perguruan tinggi umum.

"Dalam dunia kerja yang dipertanyakan nanti tentang keahlian yang dimiliki kalian itu apa, bukan nilai kalian berapa," jelas Zamroni.

Menurutnya,  mahasiwa KPI memiliki nilai lebih karena selain dibekali dengan kurikulum mengenai komunikasi pada umumnya, juga nilai-nilai agama Islam sehingga antar keduanya dapat seimbang.

"Kelebihan mahasiswa KPI itulah yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin," tuturnya.

Namun ia menyayangkan, program Studi KPI dianggap masih merangkak karena riset rentang komunikasi islam masih sangat jarang.

"Walaupun secara keilmuan kita sudah tuntas, namun riset tentang komunikasi islam masih belum banyak. Untuk itu ini menjadi tantangan untuk mahasiswa KPI," katanya. (Arum) 


KAMPUS - Minimnya literasi keuangan di masyarakat mendorong Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus untuk bertekad menjadikan galeri Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai pusat literasi keuangan mahasiswa. 

Merujuk data dari survei internal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) regional Jawa Tengah-Jogjakarta, hanya 3-4 persen masyarakat Indonesia yang mengerti tentang literasi keuangan. Hal ini penting untuk dipelajari mahasiswa mengingat perkembangan pasar modal syariah dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan positif.

"Melalui galeri BEI tersebut, kampus kita bertekad untuk memfasilitasi mahasiswa khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) dalam mempelajari berbagai hal yang melingkupi pasar modal dan bursa efek," kata Dewan Kemahasiswaan (Dekan) FEBI, Supriyadi, dalam sambutannya di acara peresmian galeri Bursa Efek Indonesia (BEI) IAIN Kudus, Kamis (25/07/2019).

Dengan belajar literasi keuangan, lanjut Supriyadi, mahasiswa akan turut mendukung fungsi-fungsi ekonomi. Bila sudah begitu roda perekonomian akan berkembang lebih pesat.

"Semakin banyak masyarakat atau mahasiswa yang tahu mengenai manfaat produk dan jasa keuangan, semakin besar transaksi keuangan yang dapat diciptakan dan pada akhirnya akan menggerakkan roda perekonomian," jelasnya. 

Sedangkan menurut Kepala Devisi Pengembangan Pasar BEI Rahma Handayani menyatakan, melalui galeri tersebut, mahasiswa bisa mempelajari, menganalisa dan berlaku sebagai investor. Sebab, menurutnya saat ini sudah banyak investor dan pemain pasar modal yang berasal dari kalangan muda.

"Dari segi ruangan dan kelengkapannya, galeri yang dimiliki IAIN Kudus ini cukup bagus jika dibanding dengan kampus-kampus lain. Melalui layar yang menyiarkan pergerakan efek atau saham, mahasiswa bisa menganalisanya. Lebih bagus lagi kalau berani berinvestasi,” katanya. 

Selain itu Rektor IAIN Kudus Mundzakir berharap, hadirnya galeri BEI tersebut semakin menambah kualitas mahasiswa. Sebab, pihaknya juga menginginkan supaya jebolan-jebolan FEBI IAIN Kudus banyak yang menjadi praktisi ekonomi. Terutama ekonomis syariah.

"Kalau sudah ada fasilitasnya jangan sampai disia-siakan. Harus dimanfaatkan sebaik mungkin," pesannya. (Falis)

KUDUS - Demi kenyamanan, empat jalur pedestrian kota Kudus akan dibenahi. Di antaranya jalan Sunan Kudus, jalan Loekmonohadi, jalan dr. Ramelan, dan jalan Lingkar Utara Bae. 

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kudus, Heru Subiantoko dalam acara Jagong Pelataran di halaman kantor PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Kudus bertema "Masa Depan Pedestrian Kudus", Rabu (24/07/2019)

Heru mengaku pembenahan  pedestrian tersebut dilakukan karena jalur pedestrian kota kudus saat ini tidak ramah untuk kaum disabilitas dan banyak disalahgunakan oleh warga setempat.

"Kalau hal ini terus dibiarkan jalur pedestrian kota Kudus akan semakin buruk," kata Heru.

Untuk itu, Heru melanjutkan, pembenahan pedestrian nantinya akan diberikan fasilitas umum yang khususnya mengedepankan keramahan PKL (Pedagang Kaki Lima) dan penyandang disabilitas dengan mengambil berbagai referensi pedestrian.

"Nantinya akan disediakan tempat duduk, tempat parkir dan pada malam harinya bisa digunakan untuk kegiatan kuliner serta ruang bagi pejalan kaki yang dikembangkan pula untuk kaum disabilitas," jelasnya. 

Sedangkan menurut Kritikus  kebijakan publik pemerintahan, Kholid Mawardi menyarankan agar pemerintah kota Kudus tidak hanya memperhatikan pembangunannya saja, tetapi juga dalam hal perawatannya. 

“konsep yang baik tetap harus ditambahi dengan perawatan yang baik juga,” ungkapnya. 

Tidak hanya itu, ia menambahkan diperlukan penertiban tempat oleh petugas keamanan, seperti satgas maupun satpol PP agar tidak terjadi dalam hal penyalahgunaan tempat.

"Kita memang harus bekerjasama dengan aparat untuk melakukan perawatan jalur pedestrian," jelasnya.

Ketua DPRD Kudus Ahcmad Yusuf Roni mengatakan pembangunan pedestrian ini diharapkan dapat meningkat perekonomian warga dan berfungsi sebagaimana mestinya. 

"Semoga pembangunan ini dapat menjadi pusat keramaian yang baru dan memunculkan pelaku ekonomi sehingga dapat meningkat pendapatan masyarakat,” ungkapnya. 

Selain Yusuf, Salah satu mahasiswa penyandang disabilitas, Anjas Pranomo juga berharap pembenahan pedestrian ini benar-benar bisa terealisasi, dan bukan hanya formalitas dari kerja pemerintah daerah.

"Saya mewakili teman-teman disabilitas berharap pembenahan pedestrian tersebut benar-benar terealisasi. Kami hanya membutuhkan tindakan dan bukti yang konkrit, mengingat pedestrian di kota Kudus kurang ramah terhadap disabilitas," harapnya. (Fiski)

MALANG - Perhelatan PIONIR Ke-IX secara resmi di tutup oleh Sekretaris Jenderal Pendidikan Islam (Sekjen Pendis) Kemenag RI, Dr H. Imam Syafi'i di lapangan utama Kampus 1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Sabtu malam (20/07/2019).

Dalam sambutannya, Imam mengaku sangat bangga kepada seluruh peserta, baik yang telah mendapat gelar juara maupun tidak. Menurutnya, semua usaha yang telah dilakukan dengan darah, keringat dan air mata patut di apresiasi karena mereka adalah orang-orang hebat.

"Mari kita bangun cara pandang yang menang tidak merasa mengalahkan, yang kalah tidak ada yang merasa ditinggalkan, supaya PTKIN tetap terus bersatu," Ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa PTKIN mampu melahirkan para juara dengan di adakannya ajang PIONIR dan mampu menjadi andalan bagi Indonesia maupun Dunia. 

"Semua ini adalah potensi yang akan di support dan di dukung bersama-sama. Mudah-mudahan ini adalah awal kebangkitan PTKIN untuk menuju lebih baik lagi. Awal prestasi untuk lebih mendunia dengan kesempatan mengikuti PIONIR," harapnya. 

Selain itu, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof Abdul Haris menjelaskan bahwa PIONIR merupakan salah satu ajang untuk mengukur sejauh mana keberhasilan pembinaan mahasiswa PTKIN serta sejauh mana kemajuan yg dihasilkan oleh unit kemahasiswaan. 

"Jadikan PIONIR sebagai sebuah pengalaman berharga dalam sejarah hidup untuk menjadi pemimpin bangsa," jelas Abdul.

Ia juga merasa bangga kepada para Atlet dan seniman dari  PTKIN yang dapat mengikuti kegiatan PIONIR dengan sportif, toleran dan cinta perdamaian. 

Berikut 10 PTKIN yang memperoleh medali terbanyak dalam PIONIR Ke-IX tahun 2019 : 
1. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
10 emas 5 perak 7 perunggu
2. UIN Sunan ampel Surabaya 
7 emas 3 perak 2 perunggu 
3. UIN Sunan Gunung Djati Bandung
5 emas 3 perak 10 perunggu 
4. UIN Riau 
5 emas 2 perak 3 perunggu 
5. UIN Sunan Kalijaga Jogja 
5 emas 2 perak 3 perunggu 
6. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 
4 emas 4 perak 2 perunggu 
7.  IAIN Tulungagung
4 emas 4 perak 2 perunggu 
8. UIN Metro 
3 emas 2 perak 2 perunggu 
9. UIN Palembang
 3 emas 1 perak 4 perunggu 
10. Stain bengkalis 
3 emas 1 perak 

Terakhir, Abdul Haris berharap di event 2 tahunan ini akan menghasilkan bibit-bibit unggul dalam kancah nasional

"Selamat jalan bagi para kontingen dan sampai berjumpa kembali 2 tahun yang akan datang", ungkapnya.  (Arum) 


KUDUS - Sebagai salah satu kontingen yang ikut andil dalam menyukseskan PIONIR Ke-IX, IAIN Kudus berhasil meraih beberapa kejuaraan. Di antaranya, juara III cabang lomba cipta lagu Islami, juara harapan I cabang lomba hadrah, juara harapan I cabang lomba kaligrafi dekorasi putri, dan juara harapan II cabang lomba kaligrafi naskah putri.

Wakil Rektor III Dr. H. Ihsan, mengatakan IAIN Kudus berhasil meraih kemenangan karena buah dari sportivitas dan obyektivitas para kontingen IAIN Kudus. 

“Karya dan prestasi kontingen tidak semata hanya dinilai dan diukur dengan perolehan medali semata. Untuk itu apapun hasilnya kita harus bersyukur dan bangga," kata Ihsan saat ditemui reporter paradigma, Sabtu (20/07/2019).

Ia menjelaskan bahwa semua kontingen dapat menjadikan perlombaan ini sebagai pengalaman untuk dapat terus belajar dan mempertahankan kualitas yang ada.

“Apa yang dihasilkan dari proses yang berkualitas akan melahirkan juara yg bertanggungjawab  sekaligus dapat mempertanggungjawabkan hasil kejuaraan secara konsisten," jelasnya.

Selain itu, salah satu kontingen cabang lomba tenis meja putri, Ika shoffiya alfiyani, mengaku walaupun tidak dapat lolos dalam perlombaan dan membawa nama baik kampus, menurutnya kekalahan awal dari proses untuk terus maju. 

"Menang kalah itu sudah biasa. Yang terpenting pengalaman yang didapat selama disana dan juga usaha maksimal yang telah dikerahkan bisa menjadi acuan untuk dapat lebih baik lagi di event yang lain," jelasnya. (Arum)


MALANG - Lagu berjudul "Seindah-Mu" berhasil membawa mahasiswi IAIN Kudus, Hidayatul Muharromah meraih medali perunggu dalam cabang lomba Cipta Lagu Islami di acara Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset IX 2019 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Rabu (17/07/2019). 

Sedangkan untuk posisi juara I diraih oleh Busthomil Karim dari UIN Malang yang berjudul Sang Pemilik Hati, dan juara II diraih oleh Yuliadi Yusuf dari UIN Makassar yang berjudul Memohon Ampun.

Mahasiswi jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Hidayatul Muharromah merasa senang dapat masuk 10 besar dan akhirnya terpilih menjadi juara tiga.

"Saya sudah bersyukur dapat juara tiga. Apalagi untuk masuk 10 besar perlu perjuangan yang tidak gampang," kata mahasiswi semester 6 ini. 

Ida mengaku membutuhkan waktu 5 bulan dari bulan Maret hingga Juli 2019 untuk dapat merampungkan lagunya yang berjudul "Seindah-Mu".

"Untuk membuat lirik lagu saya melakukan penelitian ke 30 orang dan juga mengambil beberapa referensi dari Al-Qur’an dan Hadits, jadi tidak sembarangan membuat lirik," jelasnya. 

Ia juga berterima kasih kepada UKM SMS IAIN Kudus, Eko Budiarto selaku official, dan gab studio karena telah membantu menggarap lagu ciptaannya sendiri.

"Tanpa mereka semua mungkin saya belum tentu bisa dapat medali perunggu," ungkapnya.

Ida juga berharap isi pesan yang disampaikan dalam lagu yang diciptakannya dapat diterima oleh para pendengar dengan baik. 

"Bagi saya, menjadi Juara bukan tujuan utama. Tujuan utama saya sebenarnya menyampaikan isi pesan dari lagu itu dan menjadikan lagu sebagai media dakwah. Juara hanya sebagai bonus," jelasnya.

Selain itu pendamping pelaksanaan lomba Cipta Lagu Islami, Eko Budiarto mengatakan bahwa lagu yang ditampilkan oleh Ida memiliki keunikan tersendiri dan terinspirasi dari kisah kehidupan. 

“Lagu yang dibawakan ber-genre pop balada yang menyentuh hati, sehingga hal tersebut menjadi keunikan tersendiri dan dapat dinikmati oleh banyak orang,” terang Eko.

Wakil Rektor III IAIN Kudus, H. Ihsan mengapresiasi prestasi Ida dalam lomba cipta lagu islami dan berharap hal tersebut menjadi titik awal untuk lebih bersemangat dalam pelaksanaan PIONIR IX 2019 di UIN Malang. 

“Selaku civitas akademika IAIN Kudus, selalu mendukung dan mendampingi setiap perserta yang bertanding. Semoga cabang lomba lainnya mampu meraih prestasi seperti cabang lomba Cipta Lagu Islami ini,” harapnya. (Arum)


MALANG - Tokoh Nahdhatul Ulama', KH. Ahmad Muwafiq atau yang lebih dikenal Gus Muwafiq mengatakan eksistensi Islam sebagai umat yang terbaik di era globalisasi saat ini perlu dipertanyakan. Pasalnya, Islam yang dulu memiliki peradaban yang sangat maju masih bisa terkalahkan oleh bangsa lain yang tanpa disadari telah menguasai pasar dunia. Hal itu menjadi tantangan besar bagi para mahasiswa PTKIN.

"Ternyata Islam ditarik mundur di titik nadir supaya tidak dapat kembali maju ke depan," kata Gus Muwafiq pada acara PTKIN Bersholawat di panggung utama PIONIR IX UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Kamis (18/07/2019).

Kemunduran kejayaan Islam, Gus Muwafiq mencontohkan, bisa disebabkan oleh umat muslim sendiri seperti karena tidak bisa menghargai perbedaan baik dari segi agama, ras, suku dan lain sebagainya. 

"Manusia itu disuruh Allah _Lita'arofu_ untuk mengerti satu sama lain dan harus ada pengertian. Kita umat Islam akan bertemu dengan bangsa lain yang berbeda dari suku, ras, dan agama seperti yang ada di Indonesia. Rasulullah bertemu dengan bangsa yang berbeda saja tidak masalah," jelasnya. 

Oleh karena itu, Gus Muwafiq menambahkan, sebagai negara dengan umat muslim terbesar di dunia, umat muslim Indonesia harus mampu mempertahankan eksistensi Islam negaranya yang beranekaragam bangsa, suku dan budaya untuk perlu dibekali dengan narasi kebangsaan supaya tidak mudah terkejut dengan hal yang berbeda.

"Mari bersama-sama memahami Islam dari tingkat paling dasar sampai menjadi sempurna supaya negara ini menjadi _Baldatun Thoyyibatun_ ," tegasnya. 

Selain itu, wakil rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. H Isroqunnajah mengatakan bahwa Indonesia Punya tantangan yang sangat besar untuk ke depannya. Tantangan itu sebuah hal yg tidak sulit jika kita terus bersama dalam kebhinekaan.

"Sebagai bangsa Indonesia jangan jadikan perbedaan sebagai pemicu untuk tidak bersatu. Apalagi sebagai negara yang mayoritas umat muslim. Umat muslim harus bisa mencontohkan perilaku yang baik di mata dunia nantinya," katanya. (Arum)


MALANG - Rektor IAIN Kudus, Dr. H Mundzakir melakukan kunjungan kepada para peserta lomba PIONIR IX di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Selasa (16/07/2019).

Kunjungannya kali ini merupakan bentuk dukungan dari Rektor untuk para peserta lomba agar secara psikis mereka dapat bersungguh-sungguh dalam mengikuti lomba.

"Saya tidak menargetkan kemenangan, yang penting mereka mempunyai pengalaman karena pengalaman itulah yang lebih berharga. Kalah menang Itu persoalan kedua," kata Mundzakir.

Sedangkan menurut Salah satu official lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) H. Saiful Mujab, mengaku kunjungan rektor IAIN Kudus berpengaruh dan sangat bermanfaat untuk semua kontingen IAIN Kudus agar lebih percaya diri. 

"Keberhasilan anak tak lepas dari doa dan dukungan orang tua," jelas Saiful. 

Menurutnya, perlombaan tidak hanya memperhatikan faktor fisik saja, tetapi pembangunan mental terhadap peserta juga diperlukan. 

"Sebagus apapun latihan, apabila tidak ada mental maka beda hasilnya. Pendampingan dan dukungan baik dari Rektor, pelatih maupun official akan menumbuhkan rasa percaya diri dan mental untuk bertanding," jelasnya.

Senada dengan Syaiful, H. Ihsan M.Ag selaku Warek III IAIN Kudus mengatakan bahwa yang terpenting semua kontingen dapat bertanding dengan maksimal. Karena dengan usaha yang maksimal akan menghasilkan hasil yang maksimal juga. 

"Kalau peserta lomba sudah dibebani dengan target juara yang ada malah membebani mental mereka. Yang penting bertanding secara sportif dan berkualitas", Ungkapnya. 

Sedangkan, M. Saiful Anam Perwakilan lomba MTQ putra juga mengaku bahwa dukungan rektor sebelum ia tampil membawa pengaruh yang besar baginya. 

"Tadi sebelum tampil saya disuruh tenang dan jadikan perlombaan ini sebagai pengalaman. Ketika tampil saya jadi semangat dan percaya diri," katanya. (Arum)

MALANG - Hadir sekaligus membuka acara PIONIR ke-IX Menteri Agama, Lukman Hakim Saefuddin mengatakan PIONIR menjadi salah satu kebijakan dan program strategis dalam meningkatkan mutu mahasiswa di bidang olahraga, seni dan Riset. 

"Ketiga hal tersebut yang menjadi dasar terbentuknya PIONIR," jelas Lukman Hakim Saefuddin di lapangan utama kampus 1 UIN Maulana Malik Ibrahim, Senin (15/07/2019).

Menurut Lukman, kajian dan penelitian mengenai olahraga dan seni masih belum banyak dilakukan di kalangan PTKIN. 

"Saya meminta supaya diadakan kajian dan penelitian secara serius dan diikuti program implementasi tentang revitalisasi olahraga dan seni untuk mewujudkan Indonesia yang sehat dan bermartabat," jelasnya.

Ia juga menambahkan PIONIR harus dijadikan momentum rekonsiliasi nasional untuk menguatkan tali kebhinekaan dan menyulam ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. 

"Melalui PIONIR, semoga dapat melahirkan para juara dan mari kita buktikan kepada dunia bahwa mahasiswa PTKIN adalah anak bangsa yang berprestasi. Dari PTKIN untuk NKRI," tegasnya. (Arum)

MALANG- Ada tiga misi utama dalam perhelatan PIONIR Ke-IX dengan tema "Mewujudkan Generasi Bangsa Yang Berkarakter dan Berprestasi" yaitu Memperkuat kebersamaan dan silaturahmi, melahirkan prestasi dan membangun pencitraan serta branding bagi PTKIN. 

Hal tersebut disampaikan oleh Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof Abdul Haris, di Lapangan utama Kampus 1 UIN Maulana Malik Ibrahim dalam pembukaan PIONIR ke IX, Senin (15/07/2019).

Prof Abdul Haris menjelaskan pertama, bahwa PIONIR dapat menjadi sarana untuk memperkuat kebersamaan tali asa, asih dan asuh antar civitas akademika dari 58 PTKIN yang tersebar di 34 Provinsi di Indonesia baik UIN, IAIN maupun STAIN. 

"PIONIR dapat dijadikan sebagai jalur menyatukan kita semua untuk saling mengenal dan berasilaturahmi antar PTKIN," jelasnya.

Kedua, yaitu melahirkan prestasi. Menurut Abdul bertemunya para mahasiswa antar pulau, suku dan etnik ini dapat saling memberikan manfaat dalam bertanding, memberikan prestasi yang membanggakan dan saling menyambung tali kebangsaan 

"PIONIR harus dijadikan tempat strategis unjuk kebolehan, unjuk karya dan unjuk prestasi. Mahasiswa perlu mengembangkan semangat fastabiqul khoirot yang artinya memberikan panggung bagi siapapun dan mencapai misi kualitas," ungkap Abdul.

Terakhir, ia menyampaikan bahwa publik harus diyakinkan mengenai kualitas dan branding dari mahasiswa PTKIN yang tidak kalah dengan mahasiswa Perguruan tinggi Umum dalam hal prestasi, Olahraga, Seni, dan Riset 

"Semoga dengan adanya PIONIR di lingkungan PTKIN, dapat membangun citra positif dan branding akan eksistensi PTKIN dalam kancah nasional maupun internasional," harapnya. 

Sedangkan Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Phil Kamaruddin mengatakan bahwa PTKIN berperan sangat sentral untuk menyiapkan manusia yang berilmu, profesional. Dan menjadikan generasi bangsa Indonesia sebagai generasi yang kreatif, bugar, sehat, serta memiliki daya imajinasi dan apresiasi yang tinggi terhadap seni.

"Mahasiswa sebagai aktor yang penting dalam pengembangan PTKIN. Melalui event ini mahasiswa di dorong untuk memiliki kemampuan menemukan, menciptakan, dan melakukan pembaharuan agar dapat berkompetisi dengan anak bangsa yang lain," jelasnya.

Ia juga berharap dari PIONIR IX tahun 2019 ini, akan muncul ilmuwan, atlet olahraga, seniman dan para peneliti muda yang kompetitif, kreatif dan dapat berkontribusi pada pembangunan bangsa 

"Jadikan PIONIR sebagai piranti untuk mengeksplorasi beragam potensi mahasiswa. Gunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya karena tidak sedikit mahasiswa yang ingin ikut event seprti ini juga," tandasnya. (Arum)

KAMPUS - Rektor IAIN Kudus Dr. Mundzakir melepas 100 kontingen IAIN Kudus yang akan berlaga dalam ajang PIONIR IX 14-21 Juli 2019 yang dilaksanakan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di lapangan kampus timur IAIN Kudus, Minggu (14/07/2019). 

Dalam sambutannya, Mundzakir mengatakan kemenangan apapun harus diraih secara objektif dan normatif tidak boleh ada rekayasa dan sebagainya karena dapat merusak pembentukan karakter yang bernilai islami. 


"Jaga nama baik almamater kita dengan bersifat sportif dalam perlombaan. Segala bentuk kecurangan baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah adalah perbuatan yang tidak baik," jelas Mundzakir.


Menurutnya, ajang PIONIR ini dapat dijadikan sebagai wujud pengalaman dan juga pengenalan terhadap sesama Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) Se-Indonesia. 


"Dengan belajar dari PTKIN yang lain, dapat menjadi tolak ukur supaya IAIN Kudus menjadi lebih baik. Semoga sampai akhir pertandingan, para peserta mendapatkan kemenangan sesuai harapan dan kemampuan masing-masing," harapnya. 


Senada dengan Mundzakir, Wakil Rektor III Dr. Ihsan juga berpesan supaya peserta dapat menjaga almamater dan dapat berkomunikasi baik dengan PTKIN lain guna membangun koneksi sehingga dapat saling mengenal di ajang perlombaan lainnya. 


"Selamat berlaga dan berkompetensi membawa prestasi yg membanggakan. Membangun pribadi yang berkualitas, bertanggung jawab dan bertanding secara objektif. Semoga kontingen pulang dengan prestasi yang membanggakan," tuturnya. 


Ihsan juga berpesan kepada seluruh kontingen PIONIR supaya dapat benar-benar siap dan selalu menjaga kesehatan baik secara fisik maupun mental. 


"Jaga kesehatan mental dan rohani. Agar dalam ajang perlombaan semangat tetap menyertai kalian," pesannya. 


Salah satu peserta lomba PIONIR cabang lomba debat Bahasa Inggris, Fandi Ahmad Fajar mengaku setuju bila seluruh kontingen lomba harus bertanding secara sportif dan  membawa nama baik almamater.


"Semoga dari IAIN Kudus banyak yang menyabet juara di setiap cabang yang diikuti. Pergi untuk berkompetisi dan pulang membawa prestasi," Ungkapnya. (Arum)


KAMPUS -  Kegiatan Kursus Mahir Dasar (KMD) menjadi salah satu syarat kelulusan wisuda yang harus diikuti mahasiswa PGMI IAIN Kudus. 

Kegiatan yang diadakan oleh HMPS PGMI bekerjasama dengan Racana Sunan Kudus-Rabiah al-Adawiyyah IAIN Kudus ini diikuti sekitar 270 peserta dari mahasiswa PGMI IAIN Kudus, mahasiswa kampus lain, dan masyarakat umum yang dilaksanakan di Kampus Timur IAIN Kudus, mulai Senin-Sabtu (8-13/07/2019).

Koplatih, M. Junaidi mengatakan tujuan KMD untuk mendapatkan lisensi sebagai pembina yang baik dan membentuk pembina yang akan mengabdi untuk Negara Indonesia.

"Mahasiswa lulusan PGMI harus mampu menjadi guru yang handal dan pembina yang professional," kata Junaidi dalam sambutannya di acara KMD bertema "Mencetak Pembina yang Berkarakter dan Profesional" di Gedung olahraga (GOR) IAIN Kudus, Senin (08/07/2019). 

Ia juga menjelaskan KMD 2019 berbeda dari KMD sebelumnya karena dikhususkan ke penggolongan siaga, penggalang, dan penegak agar Pembinanya lebih fokus. Sedangkan untuk materi KMD berasal dari perencanaan daerah dan nasional yang sudah ada kurikulumnya. 

“Semua yang ingin menjadi pembina pramuka harus mengikuti KMD. Peserta mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh untuk menjadi pembina dan peserta harus mempunyai tujuan agar ilmunya dapat diamalkan kedepannya," Junaidi.

Sedangkan, reka kerja, Nanang Dwi Praatmana menuturkan urutan untuk menjadi pembina pramuka dimulai dari KMD, KML, KPD,KPL, dan seterusnya. Jika sudah mengikuti KMD bisa dilanjutkan dengan tingkatan selanjutnya.

"Jika ingin menjadi pembina pramuka harus melalui KMD terlebih dahulu untuk bisa diakui sebagai pembina dan perlu adanya bukti sertifikat bahwa sudah melakukan kursus pembina pramuka mahir tingkat dasar," katanya.(Ayu/Nonik)



Paradigma Reaserch Center proudly present LKTI Competition
Tema : Inovasi dan Strategi Pengembangan Ekonomi Kreatif  Berbasis Kearifan Lokal
 Sub tema :
1. Ekonomi
2. Pendidikan
3. Pariwisata
4. Sosial dan Budaya
5. Lingkungan dan Kesehatan
6. Pangan

📆Time Line Lomba
10 Juli – 09 September 2019 Pendaftaran dan Pengumpulan Karya Abstrak
14 September 2019 Pengumuman Abstrak (15 besar)
14 Oktober 2019 Batas Akhir Pengumpulan Full Paper dan Pembayaran
14 Oktober 2019 Konfirmasi Kehadiran Finalis
17 Oktober 2019 Technical Meeting
21 Oktober  2019 Presentasi Finalis dan Pengumuman Juara
.
.
🏆Hadiah
-Juara 1 Uang Pembinaan Trofi Sertifikat
-Juara 2 Uang Pembinaan Trofi Sertifikat
-Juara 3 Uang Pembinaan Trofi Sertifikat
Marchindes + sertifikat untuk Finalis
e-Sertfikat untuk semua peserta

📋Registrasi
Peserta mengisi form pendaftaran https://forms.gle/EEkcWBaWDAh7jKaJA
Panduan Abstrak dapat diunduh pada web www.parit.id dan dikirim ke e-mail risetparadigma@gmail.com
Free Abstrak dan membayar HTM 100 K/karya bagi 15 besar
Registrasi melalui rek.BRI : 001601052828504 a/n Kustina Candra Ningrum
Konfirmasi Pembayaran ke 085842402604(Umi Zakiatun Nafis)

Kunjungi 👉 www.parist.id
.
📞Contact person :
📱0895612382855 (Intan Permatasari)
📱085842402604 (Umi Zakiatun Nafis)

Download panduan disini :
https://drive.google.com/open?id=1CAJrDlxrzIqUGPpgDWiFHQy4JmUBMAJb


✒📣  Paradigma Reaserch Center proudly present Essay Competition 🎊
Tema : Inovasi Pelajar Indonesia dalam Menanggulangi Kerusakan Lingkungan
 .
.
📜Syarat dan ketentuan :
-Peserta adalah pelajar SMA/MA/SMK se Karisidenan Pati
-Lomba bersifat Perseorangan
-Setiap peserta maksimal mengirimkan dua karya
-Naskah essay orisinil karya sendiri
-Format Penulisan sesuai tema,  terdiri dari 500-800 kata, font times new roman, size 12, spasi 1,5, margin 4 4 3 3
-Menyertakan lampiran biodata diri dan scan Kartu Pelajar
-Keputusan panitia dan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
-Hasil karya dikirim ke email: risetparadigma@gmail.com dengan subjek  Esai_Nama Penulis_Asal Sekolah_Judul Esai

 .
📆Time Line Lomba
-Pendaftaran dan Pengumpulan Naskah : 10 Juli – 25 Agustus 2019
-Penjurian Karya : 22 Agustus 2019
-Pengumuman 10 besar :  2 September 2019
-Konfirmasi Kehadiran : 14 September 2019
-Presentasi dan Pengumuman  : 17 September 2019
.
.
🏆Hadiah
-Juara 1 Uang Pembinaan Trofi Sertifikat
-Juara 2 Uang Pembinaan Trofi Sertifikat
-Juara 3 Uang Pembinaan Trofi Sertifikat
e-Sertfikat untuk semua peserta

📋Registrasi
-Peserta Mengisi form pendaftaran di  https://forms.gle/teD7czczmSsZoAX46
-Membayar HTM 20K/esai bagi 10 besar
-Registrasi melalui rek.BRI : 001601052828504 a/n Kustina Candra Ningrum
-Konfirmasi Pembayaran ke 085866652070 (Annisa)

Kunjungi 👉 www.parist.id

📞Contact person :
📱085866652070 (Annisa Rahmawati)
📱085842402604 (Umi Zakiatun Nafis)

Sosialisasi Dana Dipa oleh Pihak Kampus ke Ormawa IAIN Kudus
Parist.id - Dana Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) untuk mahasisa IAIN Kudus turun di pertengahan tahun 2019. Dengan ini semua organisasi mahasiswa bisa segera melakukan pengajuan anggaran untuk melaksanakan kegiatan di sisa waktu 2019 atau pencairan dana dari kegiatan dan acara di awal tahun.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kasubag Kemahasiswaan, Sutanto dalam acara Rapat Koordinasi dan Sosialisasi DIPA IAIN Kudus di aula gedung SBSN Lantai 2 Selasa, (2/07/2019).

Sutanto memaparkan ada 54 organisasi mahasiswa dengan total 405 juta rupiah yang akan didistribusikan. SEMA-DEMA Institut, SEMA-DEMA Fakultas dan UKM/UKK untuk menyusun anggaran belanja dari 5 juta hingga 10 juta dan HMPS sebagai organisasi baru bisa menyusun anggaran kisaran 3 sampai 5 juta untuk melaksanakan kegiatan di periode 2019.

"Jadi sekarang tugas organisasi mahasiswa untuk segera menyusun Rencana Anggaran Belanja (RAB) agar segera bisa mencairkan ke bendahara kampus," katanya.

Ia juga menghimbau agar setiap kegiatan ada dokumentasi yang rapih, proposal dan TOR acara yang jelas.

"Setelah ini tinggal menyusun Surat Pertanggung Jawaban (SPJ). Dan untuk penyerahan SPJ maksimal sepuluh hari setelah acara ini berlangsung," jelasnya

Selain itu, Bendahara IAIN Kudus, Yus menyatakan tertib SPJ berdampak atas kelancaran keuangan yang diterima SEMA-DEMA, UKM dan HMPS. Dana akan keluar 50% setelah proposal masuk dan akan menerima pelunasan setelah SPJ.

"Proposal yang sudah disetujui oleh Wakil Rektor 3 bisa diserahkan ke saya. 50% bisa diterima, sisanya setelah SPJ," jelasnya.

Menanggapi pernyataan tersebut, Wakil Rektor 3, Ihsan berpesan meski dana yang diterima berbeda dengan tahun lalu. Bukan berdasar gradasi organisasi tapi seberapa kualitas dari setiap acara yang dibuat nantinya harus disyukuri

"Saya harap kita semua mensyukuri. Bukan tentang jumlah, tapi bagaimana kita menggunakan uang tersebut untuk melancarkan kegiatan," harapnya.

Senada dengan Ihsan, Wakil Rektor 2, Nor Hadi Menghimbau untuk tidak memandang organisasi besar yang akan mendapat dana paling banyak. Pandangan harus diubah untuk maju. Bukan gradasi, tapi input, output, outcome.

"Siapapun yang bisa menyelenggarakan kegiatan yang berkualitas, itu yang akan didanai," tegasnya. (Fandi)


KAMPUS-  Di abad ke-21 seorang konselor harus bisa menaklukkan sebuah tantangan dan mampu memanfaatkan peluang sehingga profesi konselor dapat eksis, kokoh dan mampu dipercaya masyarakat (Public Trust). Para Konselor juga harus bisa bersaing meningkatkan kualitas diri untuk persaingan antar profesi yang semakin ketat. 

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Guru Besar Bimbingan Konseling (BK) Universitas Negeri Semarang, Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo dalam seminar bertema Pengembangan Profesi Konselor Pendidikan Abad 21, yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (HMPS-BKPI) di Aula SBSN lantai 2, Senin (01/07/2019).

Menurutnya, pada abad sekarang ini atau lebih dikenal dengan disruptive (perubahan) dalam berbagai hal seperti disruptive regulation, culture, mindset dan marketing menjadikan Konselor harus lebih kreatif, inovatif dan kompetitif agar menghasilkan individu yang produktif.

"Konselor harus mampu menampilkan kepribadian yang jujur, konkrit, optimisme dan menyenangkan sehingga terbentuknya sikap, keyakinan dan keterampilan interpersonal dari dalam dirinya," jelas Mungin. 

Mungin menambahkan, Seorang konselor pada abad ke-21 tidak hanya menggunakan Konseling cara tradisional saja, melainkan perlu menggunakan cara modern, yaitu cyber conseling atau konseling online.

"Konselor itu tidak hanya bekerja di sekolah saja, namun bisa lebih luas lagi di luar sekolah hingga ke masyarakat luas. Jadi harus mempunyai kemampuan menggunakan cara modern" tegasnya. 

Berbeda dengan Mungin, Rektor IAIN Kudus Dr. H. Mudzakir mengatakan bahwa Untuk dapat menjadi konselor yang baik seseorang harus mampu menjadikan Alqur’an dan Hadits sebagai konsep atau teori dalam pelaksanaan layanan Konseling. Selain itu harus mampu menerjemahkan pesan atau nilai-nilai yang ada dalam kandungan alqur’an dan Hadits sesuai dengan kondisi dan perkembangan zaman.

"Sebagai mahasiswa PTKIN yang telah dibekali dengan ilmu Islam terapan, para calon Konselor harus dapat merumuskan perubahan-perubahan yang terjadi dengan bersumber dari Alquran dan Hadits," Jelasnya.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Dekan Fakultas Tarbiyah Dr. Abdul Karim, menurutnya potret seorang Konselor harus bisa memberikan bimbingan kepada peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi yang dimiliki baik akal pikiran, kejiwaan, keimanan, keyakinan dan mengurangi problem yang ada di sekolah dan masyarakat dengan baik dan benar secara mandiri berdasarkan Al-quran dan Hadits.

"Apapun terapi Konseling yang digunakan harus merujuk pada keberagamaan. Desain pengembangan dari BKPI yaitu Merumuskan, membentuk konsep dan teknik BKPI yang penguatannya relevan dengan bersumber dari ajaran islam," ungkapnya. (Arum)

Postingan Populer

il mael

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-Bewamtnj73s/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAFU/fJUPS69SUnA/s60-p-rw-no/photo.jpg} Layouter Paradigma Institute {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Paradigma Institute

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-cWUBFHxzqCw/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAA6g/KaPy3MU6IlM/s60-p-rw-no/photo.jpg} Paradigma Institute merupakan media daring dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus. Kami adalah sekumpulan Mahasiswa yang punya tanggung jawab mengabarkan dan membangun wacana untuk Mahasiswa secara umum. {facebook#https://www.facebook.com/parist.id} {twitter#https://twitter.com/followers} {google#https://plus.google.com/+ParadigmaInstitute} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCYPT2Hb0weZPMVWNAofQsPw?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/paragraphfoto/?hl=en}
Diberdayakan oleh Blogger.